Baca Novel Online

The Da Vinci Code

betul.” “Tentu saja betul! Sepuluh angka. Yang mana lagi?” “Terlalu acak urutannya.” Terlalu acak? Langdon sangat tidak setuju. Setiap bank menganjurkan nasabahnya untuk memilih nomor PIN yang acak sehingga tidak seorang pun dapat menerkanya. Tentu saja nasabah di sini juga akan dianjurkan hal yang sama.

Sophie menghapus semua angka yang baru saja diketiknya dan menatap Langdon. Tatapannya sangat percaya diri. “Tidak terlalu kebetulan bila nomor rekening yang acak ini bisa diatur ulang sesuai dengan deret Fibonacci.”

Langdon sadar bahwa Sophie benar. Sebelumnya, Sophie pernah mengatur kembali nomor rekening ini menjadi deret Fibonacci. Sophie kembali pada tombol-tombol itu lagi, memasukkan nomor yang berbeda, seolah semua itu ada dalam benaknya. “Lagi pula, mengingat kakekku mencintai simbolisme dan kode-kodè, wajar saja jika dia memilih nomor rekening yang punya arti baginya, sesuatu yang mudah diingatnya.” dan tersenyum simpul. “Sesuatu yang tidak.” Langdon melihat ke layar. Sophie selesai mengetik deret itu, tampak acak tetapi sesungguhnya

NOMOR REKENING:

1123581321

Langdon segera tahu, begitu dia melihat urutan nomor-nomor itu, Sophie benar. DeretFibonacci 1-1-2-3-5-8-13-21

Jika deret Fibonacci ditulis dalam satu rangkaian nomor sepuluh angka, maka deret itu tidak akan kasat mata. Mudah diingat, tetapi tampak acak. Sebuah kode sepuluh angka yang sangat hebat yang tak akan dilupakan oleh Saunière. Lagi pula itu merupakan penjelasan sempurna mengapa nomornomor acak di atas lantai Louvre dapat diatur kembali untuk membentuk deret yang terkenal itu. Sophie mengulurkan jarinya dan menekan ENTER. Tidak ada yang terjadi. Setidaknya tak ada yang dapat mereka lihat.

Pada saat itu, di bawah mereka, di ruang bawah tanah yang besar dari bank ini, sebuah cakar robot bergerak seperti hidup. Bergeser pada sebuah sistem transport bersumbu ganda yang menempel pada 1angit-langit, robot itu bergerak mencari koordinasi yang sesuai. Pada lantai semen di bawahnya, ratusan peti plastik sama bentuk berjajar … seperti deretan peti mati dalam sebuah ruang bawah tanah.

Cakar robot itu menderum berhenti pada sebuah titik tepat di atas lantai. Cakar itu turun, dan sebuah mata e1ektrik memeriksa urutan kode pada peti di bawahnya. Kemudian, dengan ketepatan komputer, cakar itu mencengkeram hendel berat sambil mengangkat peti itu lurus ke atas. Roda gigi baru tersambung dan cakar itu memindahkan kotak itu ke sisi lain, kemudian ke atas ban berjalan yang diám.

Sekarang, lengan robot meletakkan perlahan-lahan peti itu dan masuk kembali. Begitu lengan itu masuk kembali, ban berjalan menderum hidup…

Di atas, Sophie dan Langdon bernapas lega ketika melihat ban berjalan itu bergerak. Mereka berdiri di samping ban berjalan itu dan merasa seperti turis letih pada ban berjalan di bandara yang menunggu koper misterius yang isinya tak diketahui.

Ban berjalan itu memasuki ruangan pada sisi kanan mereka melalui lubang sempit di bawah pintu geser. Pintu metal itu bergeser dan sebuah kotak plastik terlihat, muncul di atas ban yang berjalan naik. Kotak itu berwarna hitam, dari plastik kaku, dan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Sophie. Ia tampak seperti kotak pembawa hewan peliharaan di bandara, namun tanpa lubang udara. Kotak itu meluncur dan berhenti tepat di depan mereka. Langdon dan Sophie berdiri di sana, diam dan menatap kotak misterius itu. Seperti segala yang ada di bank ini, peti ini buatan pabrik—pengunci metal, stiker kode di atasnya, dan hendel yang kuat. Sophie berpikir kotak itu seperti kotak peralatan raksasa.

Sophie tidak mau membuang waktu. Dia segera melepaskan dua kaitan yang menghadap ke arahnya. Kemudian dia menatap Langdon. Bersama-sama mereka mengangkat tutup berat itu dan membiarkannya jatuh terlentang. Mereka melangkah maju, dan melongok ke dalam peti itu. Pada pandangan pertama, Sophie mengira peti itu kosong. Lalu dia melihat

sesuatu. Berada di dasar peti. Hanya satu benda. Kotak kayu berplitur itu seukuran kotak sepatu. Engselnya berukir. Kayunya berwarna ungu tua mewah, dengan urat kayu yang kuat. Kayu mawar, Sophie tahu. Kayu kesukaan kakeknya. Tutupnya bertatahkan gambar bunga mawar yang indah. Sophie dan Langdon saling bertatapan dengan bingung. Sophie membungkuk dan meraih kotak itu, lalu mengangkatnya keluar. Astaga,berat! Sophie membawanya dengan hati-hati ke meja besar, kemuudian meletakkannya. Langdon berdiri di sampingnya. Mereka menatap kotak harta kecil yang tampaknya telah dikirimoleh kakek Sophie untuk mereka ambil itu.

Langdon menatap dengan kagum pada tutup kotak yang terukir dengan tangan itu—sekuntum mawar dengan lima kelopak. Dia sering melihat jenis mawar seperti itu. “Mawar berkelopak lima,” dia berbisik, “merupakan simbol Biarawan untuk Holy Grail.”

Sophie menoleh dan menatap Langdon. Langdon dapat melihat apa yang dipikirkan Sophie, dan dia ternyata juga memikirkan hal yang sama. Ukuran kotak itu, berat isinya, dan sebuah simbol Biarawan untuk Holy Grail, semuanya tampak menyiratkan satu kesimpulan yang tak dapat diperkirakan. CawanKristusadadidalamkotakkayuini. Lagi-lagi Langdon berkata pada sendiri, itu tidak mungkin. “Ukurannnya sempurna,” bisik Sophie, “untuk menyimpan sebuah cawan.” Tidakmungkinsebuahcawan. Sophie menarik kotak itu ke arahnya di seberang meja, bersiap untuk membukanya. Ketika dia menggerakkannya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kotak itu mengeluarkan suara memancar yang aneh. Langdon heran.Adacairandidalamnya? Sophie juga tampak bingung. “Kaudengar tadi …?“ Langdon mengangguk, bingung. “Cairan?” Sophie perlahan mulai membuka pengaitnya dan mengangkat tutupnya. Benda di dalamnya tidak menyerupai apa pun yang pernah dilihat Langdon. Satu hal segera menjadi jelas bagi mereka berdua, ini jelas-jelasbukan cawan Kristus.

 

45

“Polisi telah memblokir jalan,” kata André Vernet, sambil berjalan masuk ke dalam ruang tunggu itu. “Mengeluarkan kalian akan sulit.” Sambil menutup pintu di belakangnya, Vernet melihat peti plastik yang kuat itu di atas ban berjalan. Ia menghentikan langkahnya. Tuhanku! Mereka telah mengetahui nomorrekeningSaunière?

Sophie dan Langdon berada di meja, merubung apa yang terlihat seperti sebuah kotak perhiasan dari kayu yang besar. Sophie segera menutup kotak itu. “Akhirnya, kami mendapatkan nomor rekeningnya.” katanya.

Vernet tak dapat berkata apa pun. Ini mengubah segalanya. Dengan sopan, dia mengalihkan matanya dari kotak itu dan mencoba memikirkan langkahnya sete!ah ini. Aku harus mengeluarkan mereka dari bank ini! Namun, dengan polisi yang telah memblokir jalan, Vernet hanya dapat membayangkan satu cara untuk keluar. “Mademoiselle Neveu, jika saya berhasil membawa kalian keluar dari bank ini, apakah kalian akan membawa benda itu atau mengembalikannya ke ruang besi?”

Sophie mengerling pada Langdon, kemudian kebali ke Vernet. “Kami perlu membawanya.”

Vernet mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu, apa pun benda itu, saya sarankan untuk membungkusnya di dalam jasmu saat kita bergerak melalui gang-gang itu. Saya akan lebih senang jika tak seorang pun melihatnya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.