Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Dan, lurus ke depan, ke arah timur, melewati gerbang itu, Langdon dapat melihat monolit istana Renaissance yang telah menjadi museum paling tersohor di dunia.

Musee du Louvre. Langdon merasa takjub ketika matanya tak mampu menangkap keseluruhan bangunan besar itu. Di seberang sebuah plaza yang sangat luas, bagian muka Museum Louvre yang mencolok tampak menjulang bagai benteng, ke langit Paris. Berbentuk seperti tapal kuda raksasa, Louvre merupakan gedung terpanjang di Eropa, merentang lebih panjang daripada tiga kali Eiffel yang dibaringkan. Plaza terbuka seluas sejuta kaki di antara sayapsayap museum bahkan tak dapat menyaingi luas bagian muka museum. Langdon pernah berjalan-jalan di dalam Louvre, dan dia ternyata menempuh tiga mil perjalanan.

Diperkirakan, diperlukan kunjungan lima hari bagi seorang wisatawan untuk dapat menikmati 65.300 benda seni di dalam gedung ini dengan saksama. Namun demikian, umumnya wisatawan memilih pengalaman singkat yang Langdon sebut sebagai “Louvre Lite”—yaitu kunjungan singkat ke museum itu yang Langsung menuju ke tiga objek yang paling tersohor; Mona Lisa, Venusde Milo, dan Winged Victory. Art Buchwald pernah membual bahwa dia melihat ketiga adikarya itu hanya dalam waktu 5 menit dan 56 detik saja.

Agen itu mengeluarkan walkie-talkie genggam dan berbicara dalam bahasa Prancis dengan sangat cepat, memberitahukan bahwa Langdon telah tiba. “MonsieurLangdonestarrive.Deuxminutes.” Sebuah konfirmasi yang tak jelas terdengar. Agen itu menyimpan kembali alat tadi, lalu menoleh kepada Langdon.

“Anda akan bertemu dengan Capitaine di pintu masuk utama.” Agen itu mengabaikan tanda larangan masuk di plaza, menyalakan kembali mesin mobil, dan menjalankan Citroën itu melintasi tepi jalan. Pintu masuk utama Louvre sudah terlihat kini, muncul begitu saja di kejauhan, dikeliingi oleh tujuh kolam segi tiga dengan air mancur yang diterangi cahaya. LaPyramide.

Hampir seperti orang Neanderthal, berpakaian jas double-breast berwama gelap yang tampaknya menutupi kebidangan bahunya. Dia berjalan dengan tungkai-tungkai sangat terlatih dalam berjongkok sehingga menjadi sangat kuat. Dia sedang berbicara lewat telepon selularnya, namun menyelesaikan pembicaraan ketika tiba di depan Langdon. Dia memberi isyarat kepada Langdon untuk masuk.

“Saya Bezu Fache,” katanya ketika Langdon masuk melalui pintu putar. “Kapten Central Directorate Judicial Police.” Nada suaranya pas—bergumam parau … seperti badai yang hendak tiba.

Langdon mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Robert Langdon.”

Tangan Fache yang besar membungkus tangan Langdon dengan sangat kuat.

“Aku sudah melihat foto itu,” ujar Langdon. “Agen Anda mengatakan bahwa Jaques Saunière sendiri yang melakukan—”

“Pak Langdon,” mata hitam Fache menatap. “Apa yang Anda lihat di foto itu baru awal dari apa yang dilakukan Saunière.”

 

4

KAPTEN Bezu Fache bergaya seperti sapi jantan yang sedang marah, dengan bahu bidang yang tertarik ke belakang dan dagu menempel kuat pada dadanya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan minyak, memperjelas anak rambut yang meruncing seperti anak panah pada dahinya yang membagi keningnya yang menonjol dan maju seperti haluan kapal perang. Ketika dia bergerak maju, matanya seperti menghanguskan tanah di depannya, menyinarkan kejernihan yang berapi-api, menggambarkan reputasi keberaniannya yang luar biasa dalam menghadapi segala masalah. Langdon mengikuti kapten itu menuruni anak tangga pualam yang terkenal itu ke dalam atrium di bawah piramid kaca. Saat mereka turun, mereka melewati dua orang agen Polisi Judisial bersenapan mesin. Jelas sudah : tak seorang pun dapat masuk atau keluar malam ini tanpa restu dari Kapten Fache.

Turun ke lantai dasar, Langdon melawan perasaan ragu. Penampilan Fache sama sekali tidak ramah, dan Louvre sendiri beraura makam pada jam seperti ini. Tangga itu, seperti gang gelap dalam gedung bioskop, disinari oleh lampu tapak yang tak kentara yang ditanam pada setiap anak tangganya. Langdon dapat mendengar bunyi langkahnya sendiri menggaung pada kaca di atas kepalanya. Ketika dia melihat ke atas, dia melihat helai-helai kabut yang bersinar dan semprotan air mancur di luar atap tembus pandang itu. “Anda suka?” tanya Fache, menunjuk ke atas dengan dagu lebarnya. Landon mendesah, terlalu letih untuk bermain-main. “Ya, piramid Anda luar biasa.” Fache menggumam. “Merupakan bekas cakaran pada wajah Paris.” Kenakau! Langdon merasa bahwa tuan rumahnya adalah orang yang sulit diambil hati. Dia bertanya-tanya apakah Fache tahu bahwa piramid ini, atas permintaan tegas Presiden Mitterand, jendela—permintaan aneh yang selalu telah dibangun dengan 666 kaca menjadi topik panas di kalangan penggemar konspirasi yang menyatakan bahwa 666 adalah angka setan. Langdon memutuskan untuk tidak membicarakannya. Ketika mereka tiba di serambi bawah tanah, ruangan yang menganga berangsur-angsur muncul dari kegelapan. Dibangun di kedalaman 57 kaki di bawah permukaan tanah, ruang lobi Louvre yang baru dibangun seluas 70.000 kaki persegi itu terentang seperti gua tak berujung. Didirikan dengan pualam berwarna kuning tua yang hangat yang sangat sesuai dengan bebatuan berwarna madu di bagian muka Louvre di atas, ruang bawah tanah ini biasanya hidup dengan cahaya matahari dan para wisatawan. Malam ini, lobinya gelap dan mati, memberi kesan seluruh ruangan ini menjadi dingin dan beratmosfer ruang bawah tanah. “Dan para petugas keamanan museum yang biasa?” tanya Langdon. “En quarantaine,” jawab Fache, dengan suara seolah Langdon telah mempertanyakan integritas anggota timnya. “Tentu saja, seseorang yang tidak boleh masuk telah berhasil masuk malam ini. Semua penjaga malam Louvre sekarang sedang diinterogasi di Sayap Sully. Agen-agenku sendiri telah mengambil alih keamanan museum malam ini.” Langdon mengangguk, bergerak cepat supaya tak tertinggal oleh Fache. “Sejauh mana Anda mengenal Jacques Saunière?” tanya kapten itu. “Sebenarnya saya sama sekali tidak mengenalnya. Kami belum pernah bertemu.” Fache tampak terkejut. “Pertemuan pertama kalian terjadi malam ini, bukan?” “Kami berencana untuk bertemu di lobi penerima tamu Universitas America setelah saya selesai memberikan ceramah, tetapi dia tak pernah muncul.”

Fache menulis beberapa catatan dalam buku kecilnya. Ketika mereka berjalan, Langdon melihat sekilas piramid Louvre yang tak banyak diketahui orang, La Pyramide Inversée—sebuah atap kaca tertelungkup yang besar sekali yang tergantung di langit-langit seperti sebuah stalaktit di tengah sebuah mezanin. Fache membawa Langdon menaiki tangga pendek ke arah mulut gerbang sebuah terowongan. Di atasnya tertulis: DENON. Sayap Denon adalah salah satu dari tiga bagian utama Louvre yang paling ternama.

“Siapa yang meminta pertemuan malam ini?” tanya Fache tiba-tjba. “Anda atau dia?”

Pertanyaan itu terdengar aneh. “Pak Saunière,” jawab Langdon ketika mereka memasuki terowongan itu. “Sekretarisnya menghubungiku beberapa minggu yang lalu lewat e-mail. Katanya kurator itu telah mendengar bahwa saya akan memberikan ceramah di Paris bulan ini dan ingin mendiskusikan sesuatu saat saya di sini.” “Mendiskusikan apa?” “Saya tidak tahu. Seni, kukira. Kami mempunyai minat yang sama.” Fache tampak ragu. “Anda tak tahu akan membicarakan apa pada pertemuan itu?” Langdon memang tidak tahu. Dia juga sangat penasaran saat itu, namun merasa tidak enak menanyakan secara rinci. Jacques Saunière terkenal suka hidup sendiri dan hanya bertemu dengan orang lain beberapa kali saja; Langdon sudah sangat berterima kasih mendapatkan kesempatan bertemu dengannya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.