Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sophie baru saja ingin mengajukan sebuah pertanyaan ketika telepon berdering. Lelaki itu tampak bingung dan malu. “Maaf.” Lalu, dia menghampiri telepon yang terletak di meja, di samping kopi dan Perrier tadi. “Oui?” jawabnya. Alisnya berkerut ketika mendengarkan suara penelepon itu. “Oui …oui … d’accord.” Dia meletakkan telepon, dan tersenyum kaku pada tamunya. “Maaf, saya harus meninggalkan anda sekarang. Anggaplah seperti rumah sendiri.” Dia bergerak cepat menuju pintu. “Maaf,” seru Sophie. “Dapatkah Anda menjelaskan sebelum pergi? Anda

tadi mengatakan bahwa kami harus memasukkan nomorrekening?” Orang itu berhenti di pintu, tampak pucat. “Tentu saja. Seperti bank-bank Swiss lainnya, kotak penyimpanan kami terhubung dengan sebuah nomor rekening, bukan nama orang. Anda punya kunci dan nomor rekening pribadi yang diketahui oleh Anda sendiri. Kunci itu hanya merupakan setengah dari pengenal Anda. Nomor rekening adalah setengah lainnya. Kalau tidak, maka jika Anda kehilangan kunci itu, orang lain dapat menggunakannya.”

Sophie ragu-ragu. “Dan, jika pewarisku tidak memberiku nomor rekening?”

Jantung pegawai bank itu berdetak keras. Kalau begitu Anda tidak punya urusan di sini! Dia melontarkan senyum tenang. “Saya akan meminta orang lain untuk membantu Anda. Dia akan segera datang.”

Sambil pergi, pegawai bank tadi menutup pintu dan memutar kunci besar, mengurung mereka di dalam.

Di kota, Collet sedang berdiri di terminal kereta api Gare du Nord ketika teleponnya berdering.

Dari Fache. “Interpol sudah mendapatkannya,” katanya. “Lupakan kereta api itu. Langdon dan Neveu baru saja memasuki Kotak Penyimpanan Zurich cabang Paris. Aku mau orang-orangmu kesana sekarang.”

“Sudah ada petunjuk tentang apa yang Saunière coba katakan kepada agen Neveu dan Langdon?”

Suara Fache terdengar dingin. “Jika kau dapat menangkapnya, Letnan Collet, aku dapat menanyakan itu secara pribadi pada mereka.”

Collet mencatat petunjuk. “Rue Haxo nomor 24. Segera, Kapten.” Kemudjan dia memutuskan hubungan dan mengontak anggotanya melalui radio.

 

43

ANDRE VERNET—Presiden Bank Penyimpanan Zurich cabang Paris— tinggal di flat mewah di atas bank tersebut. Walau dia mendapatkan akomodasi mewah, dia masih saja memimpikan memiliki apartemen di tepi sungai di L’ile Saint-Louis, tempat dia dapat berhandai-handai dengan kalangan cognoscenti sejati, bukannya di sini, tempat dia hanya bertemu dengan orang-orang kaya bertangan kotor.

Saat aku pensiun nanti, Vernet berkata pada dirinya sendiri, aku akan mengisi gudang bawah tanahku dengan anggur Bordeaux yang langka, menghiasi ruang dudukku dengan sebuah karya Fraginard dan mungkin sebuah Boucher, dan menghabiskan hari-hariku dengan berburu perabotan antikdanbuku-bukulangka diQuartierLatin.

Malam ini, Vernet baru terbangun enam setengah menit yang lalu. Walau begitu, dia kini sudah harus bergegas melewati koridor bawah tanah bank tersebut. Toh, dia tampil begitu berkilau, seakan penjahit dan rambut pribadinya baru saja mendandaninya. Ia berbusana tanpa cela dalam setelan sutera. Sambil berjalan ia menyemprotkan pewangi napas dan mengeratkan dasinya. Terbiasa dibangunkan untuk melayani nasabah internasional yang memiliki zona waktu berbeda, Vernet telah mengatur kebiasaan tidurnya mengikuti cara para prajurit Maasai— sebuah suku Afrika yang terkenal karena kemampuan mereka untuk terbangun dari tidur yang terlelap sekalipun dan, dalam sekejap sudah siap total untuk maju berperang.

Siap tempur, pikir Vernet, sambil takut jika perbandingan itu benar-benar tepat untuk malam ini. Kedatangan seorang nasabah kunci emas selalu menuntut perhatian tambahan, tapi kedatangan seorang nasabah kunci emas yang dicari Polisi Judisial akan menjadi masalah yang sangat rumit. Bank ini sudah cukup sering berkelahi dengan penegak hukum tentang hak kerahasiaan nasabah mereka yang tanpa bukti dituduh sebagai penjahat.

Limamenit, Vernet berkata pada dirinya sendiri.Akuharusmengeluarkan orang-oranginidaribankkusebelumpolisidatang.

Vernet dapat mengatakan kepada polisi bahwa buronan itu memang telah masuk ke banknya, seperti yang dilaporkan, tetapi karena bukan nasabah dan tidak punya nomor rekening, mereka diusir keluar. Dia berharap penjaga sialan itu tidak menelepon interpol. Bijaksana rupanya tidak termasuk ke dalam kosa kata seorang penjaga malam yang dibayar 15 euro per jam.

Dia berhenti di ambang pintu, lalu menarik napas panjang dan mengendurk.an otot-ototnya. Kemudian dia memaksakan Senyuman segar, membuka pintu, dan menyelinap ke dalam ruangan itu seperti angin hangat.

“Selamat malam,” katanya, menatap nasabahnya. “Saya André Vernet. Ada yang dapat Perempuan baginya. saya ban ….“ Sisa kalimatnya tertahan di di depannya sama sekali merupakan tamu antara jakunnya. yang tak terduga “Maaf, apakah kita saling kenal?” tanya Sophie. Dia tidak mengenal bankir itu, namun bankir itu tampak seperti baru saja melihat hantu. aia

“Tidak …,“ presiden bank itu bergagap. “Saya rasa … Tidak, pelayanan kami anonim.” Dia menghembuskan napas dan memaksakan senyuman. “Asisten saya mengatakan bahwa Anda memiliki kunci emas tetapi tidak punya nomor rekening? Boleh saya tahu bagaimana Anda mendapatkan kunci itu?”

“Kakekku memberikannya padaku,” jawab Sophie sambil menatap tajam lelaki itu. Kegugupannya semakin jelas sekarang.

“Betulkah? Kakek Anda memberikan kunci itu tetapi tidak memberikan nomor rekening?” “Saya rasa dia tidak punya waktu,” kata Sophie. “Dia dibunuh malam ini.” Kata-kata Sophie membuat orang itu terhuyung ke belakang. “Jacques Saunière meninggal?” tanyanya, matanya penuh ketakutan. “Tetapi … bagaimana?”

Sekarang Sophie yang terhuyung, termangu karena sangat tertkejut. “Anda mengenal kakek saya?”

Bankir André Vernet juga tampak heran, kemudian dia berpegang pada bibir meja untuk menahan tubuhnya. “Jacques dan aku bersahabat dekat. Kapan ini terjadi?” “Malam tadi. Di dalam Louvre.” Vernet berjalan ke arah bangku kulit dan duduk diatasnya. “Aku harus bertanya kepada kalian berdua, sangat penting.” Dia menatap Langdon dan kembali ke Sophie. “Apakah kalian ada hubungannya dengan kematiannya?” “Tidak!” aku Sophie. “Sama sekali tidak.” Wajah Vernet muram, dan dia berhenti sejenak, mempertimbangkan sesuatu. “Foto kalian sudah disebar oleh Interpol. Karena itülah aku mengenalimu. Kau dicari karena pembunuhan.”

Sophie merosot. Fache telah menyiarkan melalui interpol? Tampaknya sang kapten lebih bersemangat daripada yang diperkirakan Sophie. Sophie kemudian dengan cepat mengatakan kepada Vernet siapa Langdon dan apa yang terjadi di dalam Louvre malam ini.

Vernet tampak kagum. “Dan, dalam keadaan sekarat, kakekmu masih sempat meninggalkan pesan dan menyuruhmu mencari Langdon?”

“Ya. Dan kunci ini.” Sophie meletakkan kunci itu di atas meja di depan Vernet, dengan segel Biarawan Sion menghadap ke bawah.

Vernet menatap kunci itu namun tidak bergerak untuk menyentuhnya. “Dia hanya meninggalkanmu kunci ini? Tidak ada lagi? Tidak secarik kertas?”

Sophie tahu, dia begitu tergesa-gesa ketika di dalam Louvre, namun dia yakin tidak melihat apa pun lagi di balik Madonna of the Rocks. “Tidak. Hanya kunci ini.”

Vernet mendesah putus asa. “Aku khawatir, setiap kunci secara elektronik dipasangkan dengan sepuluh angka yang berfungsi sebagai password. Tanpa nomor itu, kuncimu tidak ada artinya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.