Baca Novel Online

The Da Vinci Code

ruangan. Aringarosa mencoba melihat siapa yang baru saja menyapanya namun sinar dalam ruangan itu sangat redup—jauh lebih redup dibandingkan déngan saat kunjungannya yang pertama kali, ketika semuanya terang benderang. Malam kebangunan yang sebenarnya. Malam ini, orang-orang itu duduk dalam keremangan, seolah mereka malu akan apa yang akan segera menjadi jelas terpapar.

Aringarosa masuk perlahan, bahkan seperti raja. Dia dapat melihat bentuk tubuh ketiga orang itu, duduk pada sebuah meja panjang agak jauh ke dalam ruangan itu. Siluet lelaki yang duduk di tengah segera dikenalinya—Sekretaris Vatikan yang sangat gemuk, yang menguasai segala urusan hukum di dalam kota Vatikan. Dua lainnya adalah kardinal tinggi dari Italia.

Aringarosa melintasi ruangan perpustakaan itu menuju kearah mereka. “Dengan rendah hati, saya mohon maaf atas keterlambatan ini. Kita berada dalam zona waktu yang berbeda. Kalian tentu letih.”

“Sama sekali tidak,” kata sekretaris itu, 1engan-1engannya terlipat di atas perut besarnya. “Kami senang Anda telah datang jauh-jauh ke sini. Yang kami lakukan hanyalah bangun dan menemui Anda. Anda mau minum kopi atau penyegar 1ainnya?”

“Saya lebih senang kita tidak menjadikan ini sebagai pertemuan sosial. Saya harus mengejar pesawat yang lainnya. Mari kita segera selesaikan urusan kita.”

“Tentu saja,” kata sekretaris itu. “Anda telah bertindak lebih cepat dari yang kami bayangkan.” “Begitu?” ‘Anda masih punya waktu satu bulan lagi.” “Anda telah menyampaikan maksud Anda lima bulan yang lalu,” kata

Aringarosa. “Mengapa saya harus menunggu lebih lama?” “Memang. Kami sangat senang dengan langkah Anda.” Mata Aringarosa menjelajahi meja panjang itu hingga ke sebuah tas hitam

besar. “Apakah itu yang saya minta?” “Betul.” Suara sekretaris itu teredengar tidak tenang. “Walau harus kami

katakan, kami prihatin pada permintaan itu. Itu tampak terlalu ….“ “Berbahaya,” salah satu kardinal menyelesaikan kalimat itu. “Anda yakin, kami tidak bisa mentransfer ini untuk Anda ke mana saja? Jumlahnya besar sekali.”

Kebebasanmemangmahal. “Saya tidak mengkhawatirkan apa pun. Tuhan bersamaku.” Tuan rumahnya sekarang betul-betul tampak bingung. “Jumlahnya persis sesuai dengan yang saya minta?” tanya Aringarosa. Sekretans itu mengangguk. “Satuan besar surat obligasi ditarik dari Bank Vatikan. Dapat dinegosiasikan untuk diuangkan di mana saja di seluruh dunia.”

Aringarosa benjalan ke ujung meja dan membuka tas itu. Di dalmnya ada dua tumpuk tebal surat obligasi, masing-masing dengan segel Vatikan dan tulisan PORTATORE, membuat obligasi itu dapat diuangkan oleh siapa pun yang membawanya. Sekretaris itu tampak tegang. “Saya harus mengatakan, Uskup, kami semua akan merasa lebih nyaman jika derma ini berupa uang tunai saja.”

Aku tidak bisa mengangkat uang sebanyak itu, pikir Aringarosa sambil menutup tas itu. “Surat berharga dapat dinegosiasikan untuk diuangkan. Anda mengatakannya sendiri begitu tadi.”

Para kardinal saling bertatapan cemas, dan akhirnya salah satu dari mereka berkata, “Ya, tetapi surat-surat ini dapat dilacak langsung ke Bank Vatikan.”

Aringarosa tersenyum dalam hati. Memang inilah alasan Guru menganjurkan Aringarosa mengambil uang dalam bentuk obligasi Bank Vatikan. Terjamin seperti asuransi. Sekarang, kita semua ada di dalamnya bersama-sama. “Ini transaski sah yang sempurna.” Aringarosa membela diri. “Opus Dei merupakan prelatur pribadi Kota Vatikan dan Yang Mulia Sri Paus dapat mengedarkan uang kapan pun dia anggap sesuai. Dalam hal ini tak ada pelanggaran hukum.”

“Betul, tetapi ….“ Sekretaris itu mencondongkan tubuhnya kedepan dan kursinya berderit karena beban di atasnya. “Kami tidak tahu apa yang akan Anda lakukan dengan surat-surat itu, dan jika tindakan itu tidak legal ….“

“Mengingat apa yang Anda minta kepada saya,” Aringarosa menjawab, “apa yang saya lakukan dengan uang ini bukan urusan Anda.” Ruangan itu menjadi sunyi, lama sekali. Merekatahuakubenar, pikir Aringarosa. “Sekarang, saya kira Anda punya

sesuatu untuk saya tanda tangani.” Mereka semua terlonjak, bersemangat mendorong kertas itu ke arah

Aringarosa, seolah mereka mengira ia akan pergi begitu saja. Aringarosa mengamati kertas di depannya. Di atasnya tertera segel

kepausan. “Ini sama dengan salinan surat yang Anda kirimkan kepada saya?” “Betul.” Aringarosa heran betapa dingin perasannya ketika menandatangani

dokumen itu. Bagaimanapun, ketiga tuan rumahnya tampak mendesah lega. “Terima kasih, Uskup,” sekretaris itu berkata. “Pelayanan Anda kepada

Gereja tak akan dilupakan.” Aringarosa mengambil tas itu, merasakan ada janji dan otoritas dalam beratnya. Keempat orang itu saling tatap untuk sesaat, ; janganjangan masih ada yang akan dibicarakan. Namun tampaknya sudah ada lagi. Aringarosa memutar tubuhnya dan melangkah ke arah pintu. “Uskup?” salah satu dari kardinal itu memanggil Aringarosa ketika uskup

itu tiba di ambang pintu. Aringarosa berhenti, menoleh. “Ya?” “Ke mana Anda akan pergi setelah ini?” Aringarosa merasa pertanyaan ini lebih bersifat spiritual daripada geografis. Namun begitu dia tidak berniat untuk berbicara soal moral pada jam seperti ini. “Paris,” katanya, dan pergi ke luar pintu.

42

BANK penyimpanan Zurich adalah bank Geldschrank yang buka 24 jam, menawarkan pelayanan anonim modern dalam tradisi nomor rekening Swiss. Memiliki kantor cabang di Zurich, Kuala Lumpur, New York dan Paris, bank tersebut akhir-akhir ini telah memperluas pelayanannya, menawarkan pelayanan wasiat dengan kode komputer tanpa nama dan backup digital nirwajah.

Nasabah yang ingin menyimpan barang apa pun, dari sertifikat saham hingga lukisan berharga, dapat menyimpannya tanpa nama dengan serangkaian teknologi tinggi yang melindungi rahasia nasabah, dan dapat mengambil simpanannya itu kapan pun, juga tanpa nama.

Ketika Sophie menghentikan taksinya di depan gedung tujuan mereka itu, Langdon menatap arsitektur gedung yang kokoh itu dan merasa bahwa Bank Penyimpanan Zurich merupakan perusahaan yang hanya punya sedikit rasa humor. Gedung itu berbentuk empat persegi panjang tak berjendela, tampak dibuat dari baja. Menyerupai tembok metal yang luar biasa, gedung besar itu berdiri menjorok ke belakang dari jalan raya. Pada bagian depannya terdapat neon berbentuk palang dengan lengan sama panjang setinggi lima belas kaki.

Reputasi Swiss dalam kerahasiaan bank telah menjadi ekspor yang paling menguntungkan bagi negeri itu. Fasilitas seperti ini telah diperdebatkan dalam komunitas seni, karena ia memberikan tempat yang sempurna bagi para pencuri benda seni untuk menyembunyikan barang-barang curian mereka, jika perlu selama bertahun-tahun, hingga pencarian benda hilang itu berhenti. Karena benda-benda simpanan itu terlindungi dari penyelidikan polisi berkat hukum kerahasiaan pribadi dan dikaitkan dengan nomor rekening dan bukannya nama orang, maka para pencuri akan tenang-tenang saja karena tahu benda curian mereka aman dan tak dapat dihubung-hubungkan dengan mereka.

Sophie menghentikan taksinya di depan gerbang yang luar biasa yang memblokir pintu depan bank tersebut—sebuah jalur melandai bertepi semen yang menurun di bawah gedung itu. Sebuah kamera video terpasang di atas, langsung mengarah ke mereka. Langdon merasa bahwa kamera itu, tidak seperti yang terpasang di Louvre, betul-betul asli.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.