Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Seracini telah mengungkap tanpa ragu bahwa sketsa Adoration yang berwarna cat kelabu kehijauan memang pekerjaan Da Vinci, namun lukisan itu sendiri bukan karyanya. Yang benar adalah, sebagian pelukis tak dikenal telah menambahi sketsa Da Vinci seperti yang terjadi pada banyak lukisannya setelah dia meninggal. Yang lebih membingungkan adalah apa yang tersimpan dibawah sapuan para penipu itu. Foto-foto yang diambil denganreflectografi infra merah dan sinar X menunjukkan bahwa si pelukis kasar ini, sambil mengisi sketsa Da Vinci, telah membuat perubahan mencurigakan atas gambar aslinya … seolah ia melencengkan maksud Da Vinci yang sesungguhnya. Apa pun yang ada di bawah lapisan itu, lukisan itu harus dipamerkan. Meskipun demikian, petugas Galeri Uffizi di Florence yang merasa malu atas kejadian itu langsung membuang lukisan itu ke pengunjung di galeri Ruang Leonardo gudang di seberang jalan. Para sekarang dapat melihat sebuah pemberitahuan menyesatkan dan tanpa permohonan maaf di tempatAdoration tadinya tergantung.

KARYAINISEDANGDIPROSESTESDIAGNOSTIK

DALAMPERSIAPANUNTUKRESTORASI

Di dunia hitam para pencari Grail modern yang aneh, sosok Leonardo da Vinci tetap merupakan teka-teki besar. Karya-karya seni Da Vinci tampak menyampaikan sebuah rahasia, namun tetap saja tersembunyi, mungkin di bawah lapisan cat, mungkin terkodekan langsung di atas lukisan, atau mungkin tidak di mana pun. Mungkin, kebanyakan dari petunjuk-petunjuk yang memancing minat itu bukan apa-apa, hanya janji kosong yang membuat Orang-orang yang penasaran kecewa dan diejek oleh senyum Mona Lisa yang terkenal itu.

“Mungkinkah,” tanya Sophie, menyadarkan Langdon dan lamunannya, “kunci yang kau pegang itu membawa kita ke tempat Persembunyian Holy Grail?”

Suara tawa Langdon terdengar dipaksakan, juga bagi diri Langdon sendiri. “Aku betul-betul tak dapat membayangkannya. Lagi pula, Grail dipercaya disembunyikan di sekitar Inggris, bukan di Prancis.” Langdon memberi Sophie sejarah singkat.

“Tetapi, Grail tampaknya merupakan satu-satunya hasil akhir yang masuk akal,” tegas Sophie. Kita punya kunci pengaman yang ekstrem, dicap dengan segel Biarawan Sion, diberikan kepada kita oleh anggota Biarawan Sion— sebuah kelompok yang, baru saja kaukatakan, merupakan penjaga Holy Grail.”

Langdon tahu pendapat Sophie itu masuk akal, namun secara naluriah Langdon tidak dapat menerirnanya. Kabar angin menyatakan bahwa anggota Biarawan pernah bersumpah bahwa suatu hari kelak mereka akan membawa Grail kembali ke Prancis, ke tempat peristirahatan terakhir, namun tidak ada bukti sejarah yang tampak bahwa hal itu telah terjadi. Kalaupun Biarawan telah berhasil membawa Grail kembali ke Prancis, alamat Rue Haxo no. 24 di dekat sebuah stadiun tenis sulit diterima sebagai tempat peristirahatan terakhir yang layak baginya. “Sophie, aku betul-betul tidak melihat bagaimana kunci ini memiliki hubungan dengan Grail.” ”Karena Grail itu mungkin masih ada di Inggris?” “Bukan itu saja. Lokasi Holy Grail merupakan rahasia yang paling terjaga dalam sejarah. Anggota Biarawan menunggu berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan diri mereka dapat dipercaya sebelum diangkat ke jajaran yang tertinggi dalam persaudaraan itu dan mengetahui tempat Grail. Rahasia itu terjaga oleh sebuah sistem yang rumit dari pengetahuan yang terbagi-bagi. Dan, walaupun persaudaraan itu sangat besar, hanya empat orang anggota pada setiap zamannya yang tahu di mana Grail disembunyikan—mahaguru dan tiga senechaux-nya, pengawalnya. Kemungkinan bahwa kakekmu salah satu dari mereka adalah sangat tipis.”

Kakekku salah satu dari mereka, pikir Sophie, sambil menekan pedal gas. Dia mempunyai gambaran yang tercetak dalam benaknya bahwa kakeknya memang salah satu anggota persaudaraan itu, tak diragukan lagi.

“Dan, kalaupun kakekmu ada di jajaran tertinggi, dia tidak boleh mengungkap apa pun kepada siapa pun di luar keanggotaan mereka. Tidak mungkin kakekmu memasukkanmu ke dalam lingkaran itu.”

Aku sudahmasukke sana, pikir Sophie, sambil mengingat rijtual di ruang bawah tanah itu. Dia bertanya-tanya, apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Langdon apa yang telah disaksikannya pada malam itu di puri Normandia. Sudah sepuluh tahun sekarang, namun dia masih saja merasa malu untuk mengatakannya. Hanya dengan memikirkannya saja dia sudah merasa ngeri. Suara sirene terdengar dari kejauhan dan dia merasa keletihan yang menyelubunginya semakin tebal.

“Di sana!” kata Langdon merasa sangat gembira melihat kompleks besar stadion tenis Roland Garos di kejauhan.

Sophie mengemudikan mobil meliuk-liuk ke arah arena tenis itu. Setelah melewati beberapa jalan kecil, mereka menemukan persimpangan Rue Haxo. Mereka memasuki dan menelusurinya dari arah nomor bangunan terkecil. Jalan itu telah menjadi daerah industri; di tepi jalan tampak kegiatan bisnis.

Kita mencari nomor 24, Langdon mengingatkan dirinya sendiri setelah diam-diam matanya memindai puncak menara sebuah gereja. Jangan keterlaluan.SebuahgerejaTemplaryangterlantardidaerahini? “Itu dia!” seru Sophie sambil menunjuk. Mata Langdon mengikuti ke sebuah bangunan di depan mereka. Apaitu? Bangunan itu modern. Sebuah benteng penyimpanan dengan sebuah lampu neon berbentuk palang ber1engan seimbang menghiasi bagian depannya. Di bawah palang itu tertera:

BANKPENYIMPANANZURICH

Langdon bersyukur tidak memberi tahu Sophie bahwa tadi dia berharap menjumpai gereja Temp1ar. Kariernya sebagal ahli simbol membuatnya cenderung menarik makna tersembunyi dari setiap keadaan, walau sesungguhnya tidak selalu ada. Dalam hal ini, Langdon betul-betul lupa bahwa salib damai, berlengan seimbang, itu telah diadopsi sebagai simbol sempurna bagi negara netral Swiss. Paling tidak misteri itu sudah terpecahkan. Sophie dan Langdon memegang kunci untuk membuka sebuah kotak penyimpanan pada bank Swiss.

 

41

Di LUAR puri Gandolfo, udara pegunungan berhembus naik ke puncak tebing dan melintasi jurang dalam, mengirimkan udara dingin pada Uskup Aringarosa ketika dia melangkah keluar dari Fiatnya. Seharusnya aku mengenakan pakaian yang lebih hangat daripada jubah ini, pikirnya, sambil melawan refleksnya untuk menggigil. Dia sama sekali iidak boleh tampak lemah dan takut.

Puri itu gelap, kecuali jendela-jendelanya yang terletak di paling atas bangunan itu yang berkilau tak menyenangkan. Perpustakaan itu, pikir Aringarosa. Mereka bangun dan sedang menunggu. Dia menundukkan kepalanya melawan tiupan angin, dan terus berjalan tanpa menoleh, serta hanya mengerling pada kubah gedung observatorium itu.

Pendeta yang menyambutnya di pintu tampak mengantuk. Dia pendeta yang juga menyambutnya lima bulan lalu. Namun malam ini dia menyambut Aringarosa dengan kurang ramah. “Kami mengkhawatirkan Anda, Uskup,” kata pendeta itu, sambil melihat jam tangannya dan lebih tampak gelisah daripada khawatir. “Maafkan saya. Akhir-akhir ini penerbangan tidak dapat dipercaya.” Pendeta itu menggumamkan sesuatu yang tak terdengar, kemudian berkata,

“Mereka menunggu di atas. Saya akan mengawal Anda ke atas.” Perpustakaan itu merupakan ruangan persegi yang luas, dan berlapis kayu warna gelap dari lantai hingga langit-langitnya. Pada semua sisi, menjulang rak-rak buku penuh buku. Lantainya terbuat dari pualam kuning dengan hiásan tepi dari kayu balsa, satu pengingat yang indah bahwa gedung ini pernah berfungsi sebagai istana. “Selamat datang, Uskup,” suara seorang lelaki terdengar dari seberang

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.