Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Pendeta itu menatapnya dengan aneh. “Maaf?” Aringarosa mengibaskan tangannya, memutuskan untuk tidak mengeluarkan masalah yang menyinggung perasaan lagi malam ini. Vatikan sudah gila. Laksana orang tua malas yang merasa lebih mudah jika menyetujui protes anak manja daripada bersikap tegas dan mengajarkan nilai-nilai padanya, Gereja terus melunak pada setiap masalah, mencoba menemukan kembali jati dirinya untuk mengakomodasi kebudayaan yang mulai tersesat.

Koridor lantai paling atas lebar, mengandung banyak petunjuk, dan hanya menuju ke satu arah—ke arah pintu besar dari kayu ek dengan tanda dari kuningan.

BIBLIOTECAASTRONOMICA

Aringarosa telah mendengar tentang tempat ini—perpustakaan Astronomi Vatikan—yang dirumorkan memiliki lebih dan 25 ribu judul buku, termasuk karya-karya luar biasa dari Copernicus. Galileo, Kepler, Newton dan Secchi. Diduga, tempat ini merupakan tempat para pejabat tertinggi Paus mengadakan rapat-rapat pribadi … mereka lebih suka mengadakan pertemuan-pertemuan seperti itu tidak di dalam dinding-dinding kota Vatikan.

Ketika mendekati pintu itu, Uskup Aringarosa tidak akan pernah membayangkan berita yang mengejutkan yang akan dengarnya di dalam, atau rantai kejadian mematikan yang akan dilaksanakan. Satu jam kemudian, ketika dia keluar linglung dari ruang rapat, dampak yang merusak itu ditetapkan. Enambulandarisekarang! pikirnya.Tuhan,tolongkami!

Sekarang, duduk di dalam Fiat, Uskup Aringarosa mengepalkan tinjunya begitu memikirkan pertemuan pertama itu. Dia kemudian melepaskan cengkeramannya dan memaksa untuk bernapas dengan lebih lambat, menenangkan otot-ototnya.

Semuanya akan beres, katanya pada diri sendiri ketika Fiat itu menanjak lebih tinggi ke atas gunung. Dia tetap berharap handphone—nya akan berdering. Mengapa Guru belum menelponku? Silas seharusnya sudah mendapatkanbatukunciitusekarang

Mencoba menenangkan syarafnya, sang uskup bermeditasi pada batu ametis ungu yang menempel pada cincinnya. Dia merasakan tekstur darimitrecrozier appliqué, kopiah keuskupan, dan faset-faset berliannya. Dia mengingatkan dirinya bahwa cincin ini rnerupakan simbol dari kekuasaan yang jauh lebih kecil daripada yang akan segera didapatkannya.

.

35

BAGIAN DALAM stasiun Saint-Lazare tampak sama dengan stasiun Iainnya di Eropa, sebuah gua besar di luar dan di dalam ruangan yang terbuka lebar yang ditandai dengan berbagai hal yang biasa gelandangan yang memegangi tanda dari karton, juga … ge1andangansekumpulan mahasiswa bermata muram yang tidur di atas ransel besar dan asyik mendengarkan musik dari pemutar MP3 portable, dan kelompok pembawa barang berseragam biru yang sedang merokok.

Sophie menatap ke atas ke papan pengumuman keberangkatan yang besar. Informasi dalam huruf hitam dan putih itu beralih bergantian, menggulung ke bawah jika info baru muncul. Ketika pergantian itu selesai, Langdon menatap informasi yang baru. Baris terbaru menyatakan: LILLE—RAPIDE—3:06 “Aku harap kereta api itu akan berangkat lebih awal. Tetapi, Lille akan

berhasil. Lebih awal? Langdon melihat jam tangannya, 2:59 pagi. Kereta api itu akan berangkat tujuh menit lagi, dan mereka belum juga membeli tiket.

Sophie membawa Langdon ke loket tiket dan berkata, “Beli dua tiket untuk kita dengan kartu kreditmu.” “Kupikir menggunakan kartu kredit akan dapat terlacak—” “Tepat.” Mulai saat itu, Langdon memutuskan untuk tidak mengajari Sophie Neveu lagi. Menggunakan kartu Visa-nya, Langdon membeli dua tiket ke Lille dan memberikannya kepada Sophie.

Sophie membawa Langdon keluar ke arah rel kereta, dimana peluit yang biasa dibunyikan dan pengumuman dari P.A. sudah terdengar yang memberikan panggilan terakhir untuk segera masuk ke gerbong untuk berangkat ke Lille. Enam belas jalur terpisah berpencaran di depan mereka. Di kejauhan, sebelah kanan, pada peron tiga, kereta api ke Lille sedang mendengus dan mendesah-desah, bersiap untuk berangkat. Namun, Sophie justru menggandeng tangan Langdon dan membawanya ke arah yang berlawanan. Mereka berjalan cepat melintasi sisi lobi, melewati kafe 24 jam, dan akhirnya keluar dari pintu samping ke jalan kecil yang sunyi di sebelah barat stasiun itu. Sebuah taksi terparkir sendirian di depan pintu. Pengemudinya melihat Sophie dan mengedipkan lampu besar mobilnya. Sophie melompat masuk ke bangku belakang. Langdon mengikutinya. Ketika taksi itu meninggalkan stasiun, Sophie mengeluarkan tiket mereka

yang tadi dibeli dan menyobeknya. Langdon mendesah.Tujuhpuluhdolar,terbuangsia-sia. Setelah taksi mereka meluncur tenang ke tepi utara yang mendengung monoton di Rue de Clichy, barulah Langdon merasa benar-benar terbebas. Dari jendelanya ke sebelah kanan, dia dapat melihat Montmartre dan kubah Sacré-Coeur yang indah. Pemandangan itu terganggu oleh kilatan lampu mobil polisi yang melaju disamping taksi mereka ke arah yang bertawanan. Langdon dan Sophie merunduk hingga suara sirene itu menjauh. Sophie telah mengatakan kepada pengemudi taksi itu untuk keluar kota, dan ketika Langdon melihat rahang Sophie yang mengeras, dia tahu Sophie sedang memikirkan langkah berikutnya.

Langdon memeriksa kunci berbentuk salib itu lagi, dengan memeganginya ke arah jendela, mendekatkannya ke matanya untuk menemukan tanda apa saja di atas kunci tersebut yang menunjukkan di mana kunci itu dibuat. Dalam kilau yang hilang-timbul dari lampu jalanan, Langdon tak dapat menemukan tanda kecuali segel Biarawan tadi. “Tak masuk akal,” katanya akhirnya. “Yang mana?” “Bahwa kakekmu begitu bersusah payah memberimu sebuah kunci yang

kau tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya’ “Setuju.” “Kauyakin dia tidak menulis apa pun di balik lukisan itu?” “Aku sudah memeriksa seluruh area. Hanya ada ini. Kunci ini, terjepit di belakang lukisan itu. Aku melihat segel Biarawan itu, menyimpan kunci ini dalam sakuku, kemudian kita pergi.”

Langdon mengerutkan dahinya, sekarang mengamati ujung tumpul dari batang segi tiga kunci itu. Tidak ada apa-apa. Dengan memicingkan matanya, dia mendekatkan kunci tersebut ke matanya dan memeriksa tepian kepalanya. Juga tidak ada apa-apa “Kupikir kunci ini baru saja dibersihkan.” “Mengapa?” “Baunya seperti baru digosok dengan alkohol.” Sophie menoleh. “Maaf?” “Tampaknya ada yang mengolesnya dengan cairan pembersih.” Langdon mendekatkan kunci itu ke hidungnya dan mengendus “Tercium lebih tajam di sisi yang lain.” Dia membalik kunci itu. “Ya, cairan berbahan dasar alkohol, sepertinya baru saja dibersihkan dengan cairan pembersih atau—” Langdon terdiam. “Apa?” Langdon rnengarahkan kunci itu ke arah cahaya dan melihat permukaannya yang rata pada lengan salib yang lebar. Tampak berkilat di beberapa tempat … seperti basah. “Apakah kau menelitinya sebelum memasukkannya ke dalam saku?” “Apa? Aku tidak menelitinya dengan baik. Aku tergesa-gesa.” Langdon menoleh padanya. “Kau masih menyimpan senter hitam tadi?” Sophie merogoh sakunya dan mengeluarkan senter pena UV. Langdon mengambilnya dan menyalakannya. Ia menyorot bagian punggung kunci tersebut.

“Nah,” kata Langdon, tersenyum. .“Kukira kita tahu alkohol apa yang tercium tadi.” Sophie menatap kagum pada tulisan ungu di punggung kunci itu.

24 Rue Haxo

Sebuahalamat!Kakekkumenuliskansebuahalamat! “Di mana itu?” tanya Langdon. Sophie tidak tahu. Kemudian dia menatap ke depan lagi, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan dengan riang bertanya kepada pengemudi taksi itu.“Connaissez-vouslaRueHaxo?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.