Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Di belakang kemudi, Sophie merogoh saku sweternya. Dia mengeluarkan benda kecil dari metal dan mengulurkannya kepada Langdon. “Robert, lihatlah ini. Ini benda yang ditinggalkan kakekku di belakangMadonnaofthe Rocks.”

Langdon merasa menggigil karena sudah menunggu lama. Dia mengambil benda itu dan memeriksanya. Benda itu berat dan berbentuk seperti salib. Naluri pertamanya adalah bahwa pemakaman—sebuah miniatur dari dia sedang memegang sebuah pieu paku besar upacara peringatan yang didesain untuk ditancapkan ke dalam tanah di pemakaman. Namun, dia kemudian melihat, batang dan kunci yang berbentuk salib tersebut berbentuk segi tiga dan prismatik. Batang itu juga memiliki ratusan bercak berbentuk heksagonal yang tampaknya dibuat secara halus dan tersebar acak. “Ini kunci yang dibuat dengan sinar laser,” kata Sophie kepada Langdon.

“Bercak heksagonalnya hanya bisa dibaca dengan mata elektrik.” Sebuahkunci? Langdon belum pernah melihat yang seperti ini. “Lihatlah sisi yang lainnya,” kata Sophie lagi, sambil beralih jalur dan

melewati perempatan. Ketika Langdon memutar kunci itu, dia ternganga. Dia melihat embos melingkar-lingkar di tengah salib, bermodel fleur-de-lis dengan inisial P.S.! “Sophie,” katanya, “ini segel yang pernah kukatakan padamu! Alat resmi dari Biarawan Sion.”

Sophie mengangguk. “Seperti yang pernah kkatakan juga padamu, aku sudah pernah melihat kunci itu sejak dulu. Kakek menyuruhku untuk tidak pernah membicarakannya lagi.”

Mata Langdon masih terpaku pada kunci berembos itu. Pembuatannya dengan teknik tinggi dan simbolisme kunonya memancarkan perpaduan yang menakutkan dari dunia kuno dan modern.

“Kakekku mengatakan bahwa kunci itu untuk membuka sebuah kotak tempat dia menyimpan banyak rahasia.”

Langdon merinding membayangkan rahasia apa yang mungkin disimpan oleh seseorang seperti Jacques Saunière. Apa yang dilakukan oleh sebuah persaudaraan kuno dengan sebuah kunci futuristik? Langdon tidak tahu. Biarawan Sion ada dengan tujuan tunggal: melindungi sebuah rahasia. Sebuah rahasia dari kekuatan yang sangat besar. Mungkinkah kunci ini ada hubungannyadengan itu? Pemikiran itu terasa berlebihan. “Kautahu ini untuk membuka apa?” Sophie tampak kecewa. “Aku baru saja mengharapkan kau yang tahu.”. Langdon terdiam ketika dia memutar tanda salib itu dalam tangannya

untuk memeriksanya lagi. “Tampak seperti lambang Kristen,” desak Sophie. Langdon tidak yakin akan itu. Kepala kunci itu tidak berukuran standar seperti salib Kristen tradisional, tapi lebih berbentuk salib persegi—dengan panjang yang sama dari keempat lengannya—yang telah ada sejak 1.500 tahun sebelum lahirnya agama Kristen. Salib seperti ini berbeda artinya dengan salib dalam Kristen yang berkaitan dengan Salib Latin yang batangnya lebih panjang. Salib yang terakhir ini pertama kali dibuat oleh orang Roma sebagai alat penyiksaan. Langdon selalu terkejut betapa sedikit penganut agama Kristen yang menatap “tanda salib” (crucifix) yang sadar bahwa sejarah kekerasan simbol mereka tercermin dalam nama simbol itu sendiri:cross dan crucifix berasal dari kata kerja bahasa Latincruciare, ‘menyiksa’.

“Sophie,” kata Langdon, “apa yang dapat kukatakan padamu adalah, salib dengan panjang lengan yang sama seperti ini dianggap sebagai salib damai. Konfigurasi perseginya membuatnya tidak mungkin digunakan dalam penyaliban, dan keseimbangan vertikal dan horizontalnya mengandung unsur penyatuan antara lelaki dan perempuan, dan itu membuatnya konsisten secara simbolis dengan filsafat Biarawan. Sophie menatapnya dengan bosan, “Kau tidak tahu artinya, bukan?” Langdon mengerutkan dahinya, “Sama sekali.” “Baiklah, kita harus keluar dari jalan.” Sophie melihat ke kaca spionnya. “Kita butuh tempat aman untuk memikirkan apa yang dapat dibuka dengan kunci itu.”

Langdon sangat merindukan kamarnya yang nyaman di Ritz. Jelas itu tidak termasuk pilihan Sophie. “Bagaimana dengan tuan rumahku di American UniversityofParis?” “Terlalu kentara. Fache pasti akan memeriksa ke sana.” “Kau pasti mengenal orang yang dapat menolong kita. Kau tinggal di sini.” “Fache pasti akan memeriksa catatan telepon dan emailku dan juga berbicara dengan rekan-rekan kerjaku. Rekan-rekanku tak dapat dipercaya. Memesan kamar hotel pun tidak mungkin, karena semua hotel akan meminta identitas tamunya.”

Langdon berpikir-pikir lagi, mungkin sebaiknya tadi dia membiarkan Fache menangkapnya saja di Louvre. “Ayo telepon kedutaan besar. Aku bisa menjelaskan keadaan ini dan meminta mereka mengirim seseorang untuk menjemput kita di mana saja.”

“Menjemput kita?” Sophie berpaling dan menatap Langdon seolah Langdon gila. “Robert, kau mimpi. Kedutaan besarmu tak punya hak hukum kecuali di dalam properti mereka sendiri. Mengirim seseorang untuk menjemput kita akan dianggap menolong buronan pemerintahan Prancis. Itu tidak mungkin. Jika kau berjalan masuk ke kedutaan besarmu dan meminta perlindungan sementara, itu lain hal, tetapi meminta mereka untuk bertindak melawan pelaksanaan hukum Prancis di lapangan?” Sophie menggelengkan kepalanya. “Telepon kedutaan besarmu sekarang, dan mereka akan menyuruhmu untuk tidak memperburuk keadaan dan menyerahkan diri kepada Fache. Kemudian mereka akan berjanji mengusahakan lewat jalur diplomatik untuk memberikan pengadilan yang adil bagimu.” Sophie mengerling pada deretan toko mewah di tepi Jalan Champs-Elysées. “Bawa uang berapa?”

Langdon memeriksa dompetnya. “Satu dolar Amerika. Beberapa euro. Mengapa?” “Kartu kredit?” “Tentu saja.” Ketika Sophie mempercepat laju mobilnya, Langdon merasa Sophie sedang merencakan sesuatu. Pada ujung Champs-Elysées, berdiri Arc de Triomphe— tugu kemenangan setinggi 164 kaki, untuk mengenang kehebatan Napoleon— yang dikelihingi oleh putaran terbesar di Prancis, sebuah putaran raksasa dengan sembilan jalur.

Mata Sophie menatap kaca spion lagi, ketika mereka mendekati putaran itu. “Sementara ini kita bebas dari mereka” katanya, “tetapi tidak akan lebih dari lima menit jika kita terus berada di mobil ini.”

Jadi,curimobillain, Langdon berpikir,bukankahkitasekarangsudahjadi criminal. “Apa yang akan kau lakukan?” Sophie mengarahkanSmartCar ke putaran itu. “Percayalah padaku.” Langdon tak menjawab. Percaya tak membawanya ke mana pun malam ini. Dia menaikkan lengan jasnya, melihat jam tangannya—jam kuno, sebuah jam Mickey Mouse edisi kolektor yang dihadiahkan orang tuanya ketika dia berulang tahun kesepuluh. Walau dia sering dipandang dengan tatapan aneh, Langdon tidak pernah memiliki jam tangan lainnya. Kartun Disney merupakan perkenalan pertamanya dengan keajaiban bentuk dan warna, dan Mickey sekarang merupakan pengingat sehari-harinya supaya tetap berjiwa muda. Waktu itu, lengan-lengan Mickey condong pada sudut yang aneh, menunjukkan waktu yang sama anehnya. 2:51 pagi. “Jam tangan yang menarik,” kata Sophie, ketika mengerling pada jam tangan Langdon, sambil mengelilingi putaran lebar itu melawan arah jarum jam.

“Ceritanya panjang,” kata Langdon sambil menurunkan kembali lengan jasnya.

“Aku bisa membayangkan cerita itu,” kata Sophie sambil tersenyum kecil dan keluar dari putaran itu, mengarah ke utara menjauh dari pusat kota. Setelah barru saja melewati dua lampu hijau, Sophie tiba di perempatan ketiga dan membelok tajam ke kanan, masuk ke Boulevard Malesherbes. Mereka telah meninggalkan area mewah, jalan tiga jalur di sekitar lingkungan diplomatik, dan masuk ke daerah yang lebih gelap, yaitu daerah industri. Sophie membelok cepat ke kiri, dan sesaat kemudian Langdon sadar di mana mereka berada. Gare Saint-Lazare, sebuah stasiun kereta api. Di depan mereka, stasiun kereta api beratap kaca menyamai sebuah hanggar pesawat terbang dan rumah kaca. Stasiun kereta api di Eropa tak pernah tidur. Bahkan pada jam seperti ini, enam buah taksi berderet menunggu dekat pintu masuk. Pedagang bergerobak menjual sandwich dan air mineral, sementara anak-anak lusuh beransel keluar dari stasiun sambi menggosokgosok mata, mengamati sekeliling, seolah mencoba mengingat-ingat di kota mana mereka sekarang. Di jalan, sepasang polisi kota berdiri di tepi jalan memberikan arah kepada beberapa turis yang kebingungan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.