Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sophie menatap sesaat dan tertawa. Grand-père-ku,seorangpertapayang terkenal! Ternyata Jacques Saunière bukanlah seorang Pertapa yang sesungguhnya. Jelas, dia sedang berpesta dengan tamu-tamunya saat Sophie kuliah di luar negeri, dan dari jenis mobil yang terlihat, tamu kakek Sophie adalah orang-orang terpandang di Paris. Karena sangat ingin mengejutkan kakeknya, Sophie bergegas menuju pintu depan. Namun, ketika tiba di sana, dia mendapati pintu tersebut terkunci. Dia mengetuknya. Tak seorang pun membukakan pintu itu. Dengan bingung, dia berjalan memutar dan mencoba pintu belakang. Terkunci juga. Tak ada jawaban.

Dengan terheran-heran, dia berdiri sebentar dan mencoba mendengarkan. Saat itu, satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah desau angin Normandia yang sejuk, terdengar seperti rintihan rendah ketika berhembus melintasi lembah itu. Tak ada suara musik. Tak ada suara orang berbicara. Tak ada apa pun. Dalam kesunyian hutan, Sophie bergegas ke samping dan memanjat tumpukan kayu api, mengintai dari jendela ruang duduk. Apa yang dilihatnya di dalam sama sekali tak masuk akal. “Tak ada seorang pun di sini!” Keseluruhan lantai bawah tampak kosong dan sunyi. Kemanaorang-orangitu? Dengan jantung berdebar kuat, Sophie berlari ke gudang dan mengambil kunci cadangan yang disembunyikan kakeknya di bawah kotak kayu. Dia berlari ke pintu depan dan masuk. Ketika dia melangkah ke ruangan depan yang sangat sunyi, panel aman mulai berkedip merah—peringatan bagi siapa pun yang masuk untuk segera memasukkan kode yang tepat sebelum alarm menyala. Kakekmengaktifkanalarmsaatpesta? Sophie segera memasukkan kode dan mematikan sistem alarm. Sophie melangkah semakin dalam, dan melihat ternyata tak ada orang di seluruh rumah ini. Juga di atas. Ketika dia turun lagi ke ruangan kosong, dia berdiri sebentar dalam keheningan dan bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi di sini. Pada saat itulah ia kemudian mendengarnya. Suara sayup-sayup. Dan, tampaknya berasal dari bawah. Sophie tak bisa mengerti. Sambil merundukkan badannya, ia menempelkan kupingnya ke lantai dan mendengarkan. Ya itu benar-benar berasal dari bawah. Suara itu seperti bernyanyi atau … mengalunkan lagu-lagu pujian? Sophie ketakutan. Yang lebih rnenakutkan lagi, Ia tahu bahwa rumah ini tak punya ruang bawah tanah. Setidaknyaakubelumpernahmelihatnya. Sophie berpaling dan mengamati ruang duduk. Matanya menangkap satusatunya benda yang tidak berada pada tempat biasanya…permadani antik dari Aubuson kesayangan kakeknya, sekarang terhampar di lantai. Biasanya permadani itu tergantung menutupi dinding timur di samping perapian, namun malam ini permadani itu ditarik turun dari gantungan kuningannya, sehingga dinding di belakangnya terlihat.

Sophie berjalan ke arah dinding kayu telanjang itu, dan dia mendengar nyanyian itu semakin keras. Dengan ragu, dia menempelkan telinganya pada dinding kayu itu. Suara itu lebih jelas sekarang. Orang-orang itu betul-betul sedang menyanyi…melantunkan kata-kata yang tak dapat dimengerti Sophie. Adaruangandibalikdindingini? Dia meraba-raba tepian panel-panel itu dan menemukan lubang sebesar jemari. Lubang itu dikerat tak kentara. Sebuab pintu geser. Dengan jantung berdebar keras, dia memasukkan jarinya ke lubang itu dan menggeser pintunya. Tanpa bunyi sama sekali, dinding berat itu bergeser membuka. Dari kegelapan, suara itu bergema.

Sophie menyelinap melalui pintu itu dan menapaki anak tangga batu kasar yang melingkar ke bawah. Dia sudah datang ke rumah ini sejak masih kanakkanak dan tak pernah tahu akan keberadaan tangga batu ini!

Ketika dia turun, udara menjadi lebih dingin. Suara-suara itu menjadi lebih jelas. Sekarang dia dapat mendengar suara lelaki dan perempuan. Jarak pandangannya terbatas karena terhalang oleh lingkar tangga itu, namun pada anak tangga terakhir dia dapat melihat lebih jelas. Dia dapat melihat sebidang lantai—dari batu, diterangi oleh sinar jingga yang berkilauan dari api unggun.

Sambil menahan napas, Sophie turun beberapa langkah lagi, dan berjongkok untuk melihat. Dia membutuhkan beberapa detik untuk mengerti apa yang sedang dilihatnya.

Ruangan itu merupakan sebuah gua—sebuah ruangan dinding kasar yang tampaknya diambil dari granit sisi bukit. Satu-satunya cahaya berasal dari obor-obor yang menempel di dinding. Di bawah cahaya obor itu, sekitar tiga puluh orang berdiri membuat lingkaran di tengah ruangan.

Aku sedang bermimpi, kata Sophie pada dirinya sendiri. Sebuah mimpi. Apalagikalaubukanmimpi?

Semua orang dalarn ruangan itu menggunakan topeng. Yang perempuan mengenakan gaun panjang putih halus dan bersepatu keemasan. Mereka mengenakan topeng berwarna putih sambil membawa bola emas. Sedangkan yang lelaki mengenakan tunik panjang hitam dan topeng berwarna hitam. Mereka tampak seperti buah-buah catur di atas papan catur raksasa. Semua orang dalam lingkaran itu bergoyang ke depan dan ke belakang dan bernyanyi sebagai penghormatan kepada sesuatu yang ada di di lantai hadapan mereka … sesuatu yang tak dapat dilihat Sophie.

Nyanyian itu kembali mengeras. Menjadi lebih cepat. Menggelegar. Lebih cepat. Dan lebih cepat lagi. Orang-orang bertopeng itu maju selangkah, kemudian berlutut. Saat itu juga Sophie akhirnya dapat melihat apa yang dihadapi oleh orang-orang bertopeng itu. Dia terhuyung ke belakang karena ketakutan. Dia merasa gambaran itu akan menggenang dalam kenangannya selamanya. Dia merasa mual dan kemudian berpaling. Dengan berpegangan padá dinding batu, dia bergerak naik. Setelah mendorong kembali pintu itu hingga tertutup, Sophie segera berlari meninggalkan rumah sunyi itu, dan mengemudikan mobilnya dengan air mata berderai, kembali ke Paris.

Malam itu juga, Sophie merasa hidupnya kekecewaan dan pengkhianatan. Dia kemudian hancur berkeping karena mengepak segala benda miliknya dan meninggalkan rumahnya. Di meja makan, dia meninggalkan pesan untuk kakeknya. AKU TADI KE SANA. JANGAN COBA CARI AKU.

Di samping pesan itu, dia meletakkan kunci cadangan yang tadi diambilnya

dari gudang puri kakeknya.

“Sophie!” suara Langdon terdengar. “Berhenti! Berhenti!”

Terjaga dari kenangannya, Sophie menginjak pedal rem, menurunkan kecepatan, kemudian berhenti. “Apa? Ada apa?!” Langdon menunjuk ke depan. Ketika Sophie melihatnya, darahnya menjadi dingin. Seratus yard ke depan, perempatan telah diblokir oleh dua mobil polisi DCPJ, diparkir menyerong. Tujuan mereka sudah jelas.MerekateiahmenutupAvenueGabriel!

Langdon mendesah muram. “Kukira kedutaan besar sudah terhalang bagi kita malam ini.”

Di jalan, dua petugas DCPJ yang berdiri di samping mobil mereka menatap ke arah Sophie dan Langdon. Tampaknya mereka curiga karena mobil dengan lampu besar menyala itu berhenti tiba-tiba, di jalan yang mereka jaga. Baik,Sophie,berputarlahdengansangatlambat.. Sophie memundurkanSmartCarnya, lalu melesat. Ketika itu juga terdengar

ban mobil lain berdecit di belakang mereka. Kemudian suara sirene meraung. Sambil mengumpat, Sophie mengganti gigi persenelingnya. SMARTCAR SOPHIE membelah

33

area diplomatik, berkelok-kelok melalui beberapa kedutaan besar dan konsulat, sampai akhirnya melesat ke luar tepi jalan dan berbelok ke kanan, ke jalan utama Champs-Elysées.

Langdon duduk di kursi penumpang dengan pucat pasi. Ia menoleh ke belakang mengamati tanda-tanda keberadaan polisi di belakang mereka. Tibatiba Langdon menyesal telah melarikan diri. Kau tidak melarikan diri, dia mengingatkan dirinya. Sophie telah membuatkan keputusan itu baginya ketika perempuan itu membuang keping GPS melatui jendela kamar kecil pria. Sekarang, ketika mereka melesat menjauh dari kedutaan besar, berkelok-kelok melintasi lalu lintas yang masih sepi di Champs-E1ysees, Langdon merasa pilihannya semakin memburuk. Walau saat ini, paling tidak untuk sementara ini, Sophie berhasil lolos dari kejaran polisi, Langdon meragukan nasib baik mereka akan dapat bertahan lama.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.