Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Mungkinkah itu? Sophie memegang sisi kiri bingkai kayu berukir itu, kemudian menariknya ke arahnya. Lukisan itu sangat belakangnya melentur ketika dia menariknya dari besar dan bagian dinding. Sophie menyelinapkan kepala dan bahunya ke belakang lukisan itu dan menaikkan senternya untuk memeriksa bagian belakangnya.

Hanya dalam beberapa detik, Sophie sudah tahu bahwa dia salah. Punggung lukisan itu pucat dan kosong. Tidak ada teks berwarna ungu di sini, hanya ada warna kecoklatan karena tuanya lukisan itu dan— Tunggu. Mata Sophie terpaku pada sebuah kilatan yang terang dari sebuah benda metal yang tersangkut di dekat sisi dasar pelindung bingkai kayu itu. Benda itu kecil, sebagian terjepit pada celah tempat kanvas bertemu dengan bingkainya. Seuntai rantai emas terjuntai keluar. Yang menghentakkan Sophie, rantai itu menempel pada kunci emas yang pernah dilihatnya. Kepalanya besar dan dipahat membentuk salib, dengan sebuah segel berukir yang tak diihatnya lagi sejak dia berusia sembilan tahun. Sebuah fleur-de-lis dengan inisial P.S. Da!am sekejap, Sophie merasa roh kakeknya berbisik ke telinganya. Ketika tiba waktunya, kunci itu akan menjadi milikmu. Tenggorokannya tercekat ketika ia sadar bahwa kakeknya, bahkan sesudah mati, tetap memenuhi janjinya. Kunci ini untuk membuka sebuahkotak, kata kakeknya,tempatakumenyimpanbanyakrahasia.

Sophie sekarang tahu, semua permainan kata malam ini ditujukan untuk menemukan kunci ini. Kakeknya membawa kunci itu ketika dia dibunuh. Karena tak mau jatuh ke tangan polisj, dia menyembunyikannya di balik lukisan ini. Kemudian kakeknya membuat permainan perburuan harta untuk memastikan Sophie yang akan menemukan kunci itu. “Tolong!” teriak penjaga itu, padawalkie-talkie-nya. Sophie mencabut kunci itu dan menyelipkannya ke dalam sakunya bersama senter pena UV-nya. Setelah keluar dari balik lukisan itu, dia dapat melihat si penjaga terus berusaha keras untuk menghubungi temannya lewat walkietalkie, namun Penjaga itu berdiri di ambang pintu, masih mengarahkan pistolnya pada Langdon. “Tolong!” teriaknya lagi pada radionya. Gangguan pemancar lagi. Dia tak dapat terhubung, Sophie tahu. Dia ingat betapa turis sering menjadi putus asa di ruangan ini ketika mereka usaha menelepon ke rumah lewat handphone untuk menyombongkan diri bahwa mereka sedang melihat MonaLisa. Pemasangan kabel pengawasan tambahan pada dinding betul-betul menghalangi hubungan telepon, kecuali jika berada di gang. Sekarang penjaga itu mundur hingga ke jalan keluar, dan Sophie tahu dia harus segera bertindak.

Sambil menatap lukisan besar tempat dia menyelinap di belakangnya tadi, Sophie sadar bahwa Leonardo da Vinci telah menolongnya, untuk kedua kalinya.

Beberapa meter lagi, Grouard berkata pada dirinya sendiri, tetap mengacungkan pistolnya.

“Berhenti, atau aku akan merusak lukisan ini!” Sophie berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan. Grouard menatapnya dan menghentikan langkahnya. “Ya Tuhan, jangan!” Menembus remang kemerahan, Grouard dapat melihat Sophie benar-benar mengangkat lukisan itu .lepas dari kabelnya dan menjatuhkannya di atas lantai di depannya. Lukisan setinggi lima kaki itu hampir menyembunyikan keseluruhan tubuhnya. Pikiran pertama Grouard adalah bertanya-tanya mengapa kabel-kabel yang terhubung dengan lukisan itu tak mengeluarkan alarm, tetapi tentu saja sensor-sensor kabel pelindung karya seni itu belum dinyalakan kembali malam ini.Apayangperempuanitulakukan! Ketika Grouard melihatnya, darahnya mendingin. Kanvas itu mulai menggelembung bagian tengahnya. Kerangka rapuh dari Perawan Suci Maria, Bayi Yesus, dan Yohanes Pembaptis itu mulai berubah bentuk.

“Jangan!” Grouard menjerit, membeku karena ketakutan ketika dia melihat karya Da Vinci yang tak ternilai harganya itu meregang. Sophie menekankan lututnya pada bagian tengah lukisan itu dari belakang! “JANGAN!”

Grouard berlari maju dan mengarahkan pistolnya pada perempuan itu, dan saat itu juga dia tahu bahwa ini hanya gertak sambal. Kanvas itu hanyalah kain, namun tentu saja dapat tertembus—sebuah pelindung tubuh seharga enam juta dolar Amerika. AkutakdapatmenembakkaryaDaVinci! “Turunkan pistol dan radio Anda,” kata Sophie tenang dalam bahasa Prancis, “atau aku akan melubangi lukisan ini dengan lututku. Saya rasa, Anda tahu bagaimana perasaan kakekku tentang ini.

Grouard merasa puyeng. “Kumohon…jangan. Itu MadonnaoftheRocks.” Dia menjatuhkan pistol dan radionya, lalu mengangkat tangannya ke atas kepala.

“Terima kasih,” kata perempuan itu. “Sekarang lakukan apa yang aku minta, dan segalanya akan beres.” Beberapa saat kemudian, urat nadi Langdon masih berdenyut kuat ketika dia berlari di samping Sophie, menuruni tangga darurat menuju lantai dasar. Tak seorang pun dari mereka yang mengatakan sesuatu sejak mereka meninggalkan penjaga Louvre yang gemetar di Salle des Etats. Pistol penjaga itu sekarang tergenggarn erat dalam tangan Langdon, dan dia tak sabar untuk melepaskannya. Senjata itu terasa berat, asing, dan berbahaya.

Ketika menuruni dua anak tangga sekaligus, Langdon bertanya-tanya apakah Sophie tahu betapa berharganya lukisan yang hampir dirusaknya tadi. Hampir sepertiMonaLisa, karya Da Vinci yang dicengkeramnya itu terkenal keburukannya di kalangan ahli sejarah karena terlalu banyak mengandung simbol-simbol paganisme yang tersembunyi. “Kau memilih sandera yang berharga,” kata Langdon sambil terus berlari. “Madonna of the Rocks,” jawab Sophie. “Tetapi aku tidak memilihnya. Kakekku yang memiih. Dia meninggalkan benda kecil untukku di belakang lukisan itu”

Langdon menatap tajam. “Apa? Tetapi bagaimana kau tahu lukisan yang dipilihnya? MengapaMadonnaoftheRocks?”

“So dark the con of man.” Sophie tersenyum penuh kemenangan pada Langdon. “Aku gagal memecahkan dua anagram terdahulu, Robert. Untuk yang ketiga, aku tidak boleh gagal.

31

“SEMUA TEWAS!” Suster Sandrine tergagap-gagap berbicara melalui telepon di kediamannya di Saint-Sulpice. Dia meninggalkan pesan dalam mesin penjawab. “Kumohon, angkatlah! Mereka semua tewas!”

Tiga nomor telepon pertama dalam daftarnya memberikan basil yang mengerikan…seorang janda histeris, seorang detektif yang kerja lembur di tempat kejadian pembunuhan, dan menghibur keluarga yang sedang seorang pendeta muram yang sedang berduka cita. Ketiga orang yang dihubunginya itu telah meninggal dunia. Dan kini, selagi menghubungi nomor yang keempat, nomor terakhir—nomor yang baru boleh dia putar bila ketiga nomor pertama tak dapat dihubungi—Suster Sandrine terhubung dengan mesin penjawab. Suara di mesin penjawab itu tak memberikan nama, hanya meminta penelepon untuk meninggalkan pesan.

“Panel lantai telah dipecahkan!” dia memohon saat meningga1kan pesannya pada mesin penjawab. “Tiga lainnya telah tewas!”

Suster Sandrine tidak tahu identitas keempat orang yang dilindunginya itu, namun nomor-nomor telepon pribadi itu, yang disembunyikan di bawah tempat tidurnya, hanya boleh dihubungi dengan satu syarat.

Jika panel lantai dipecahkan, kata pembawa pesan yang tak tampak wajahnya kepada Suster Sandrine, itu artinya eselon atas sudah tertembus. Salahsatudarikamitelahdisiksahinggamatidandipaksauntukberbohong. Teleponnomor-nomoritu. Peringatkan yanglain.Janganterlantarkankami dalamhalini.

Itu merupakan alarm tak bersuara. Mudah dan sederhana Rencana itu mengherankannya ketika dia pertama kali mendengarnya. Jika satu saudara diketahui identitasnya, yang bersangkutan boleh berbohong dengan tujuan memperingatkan yang lainnya. Namun, malam ini, tampaknya lebih dari satu saudara telah terbongkar identitasnya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.