Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Ayub.Babtigapuluhdelapan.Ayatsebelas. Walau Silas tak hafal isi ayat sebelas, dia tahu Kitab Ayub menceritakan seorang lelaki yang berhasil mengatasi ujian-ujian dari Tuhan.Tepat, pikirnya, hampir tak sanggup menahan gembiraannya.

Dia melihat ke belakang, menatap ke bawah ke Garis Mawar yang berkilau, dan tak dapat menahan senyum. Di sana, diatas altar utama, di atas penyangga buku, ada sebuah Alkitab bersampul kulit.

Di balkon, Suster Sandrine gemetar. Beberapa saat yang lalu ketika lelaki itu tiba-tiba menanggalkan jubahnya, dia hampir saja berlari dan melaksanakan tugasnya. Ketika dia melihat daging Silas yang seputih pualam, Suster Sandrine bingung. Punggung lebar terbukanya penuh dengan luka-luka parut berdarah merah. Bahkan dari kejauhan pun dia dapat melihat bahwa 1uka itu masih baru. Lelakiinibarusajadicambukidengankejam! Suster Sandrine juga melihat cilice berdarah melekat pada paha lelaki itu, dan luka di bawahnya menetes. Tuhan macam apa yang menghendaki tubuh luka-luka seperti ini? Ritual Dei, Suster Sandrine tahu, adalah sesuatu yang tak akan pernah dia pahami. Namun itu bukan urusannya saat ini. Opus Dei mencari batu kunci itu. Bagaimana mereka tahu, Suster Sandrine tak dapat membayangkannya. Yang dia memikirkannya. Sekarang biarawan berdarah tahu, dia tak punya waktu untuk

itu mengenakan lagi jubahnya, perlahan. Sambil mengempit temuannya, dia bergerak kearah altar, menuju Alkitab itu.

Sambil menahan napas dan tak bersuara, Suster Sandrine meninggalkan balkon dan berlani ke gang menuju kamarnya. Dengan berlutut dan tangannya menahan tubuhnya, dia merogoh ke bawah tempat tidurnya dan menarik sebuah amplop yang telah disembunyikannya selama bertahun-tahun. Dia membukanya, dan menemukan empat nomor telepon Paris. Dengan gemetar, dia mulai menelepon.

Dibawah, Silas meletakkan lempengan batu itu di atas altar dan meraih Alkitab bersampul kulit itu dengan tangan penuh semangat. Jemari putih panjangnya berkeringat ketika dia membalik lembar-lembar halaman Perjanjian Lama itu. Akhirnya, dia menemukan Kitab Ayub. Dia mencari bab 38. Sambil jarinya menyelusuri teks itu, dia mengira-ngira kata-kata yang akan dibacanya. Kata-kataituakanmenunjukkanjalannya! Dia menemukan ayat sebelas, kemudian membacanya. Hanya ada tujuh kata. Merasa bingung, dia membacanya lagi. Dia merasa ada yang sangat salah. Ayat itu berbunyi seperti ini:

SAMPAI DI SINI KAU BOLEH DATANG,

TAPI JANGAN LEWAT.

 

30

CLAUDE GOUARD, penjaga keamanan itu, mendidih marah ketika berdiri di dekat tawanannya yang tak berdaya di depan Mona Lisa. Bajingan ini telah membunuh Jacques Saunière! Saunière sudah seperti ayah bagi GROUARD dan tim keamanannya.

Gouard tak ingin apa pun kecuali menarik pelatuk pistolnya dan mengubur sebutir peluru dalam punggung Robert Langdon. Sebagai penjaga senior, Gouard adalah salah satu dari beberapa penjaga yang membawa pistol berisi peluru. Namun, dia mengingatkan dirinya bahwa membunuh Langdon akan membawanya berhadapan dengan kesengsaraan berhubungan dengan Bezu Fache dan sistem penjara Prancis.

Gouard menarik walkie-talkie-nya dari ikat pinggangnya dan berniat meminta bantuan. Apa yang didengarnya hanyalah gangguan penerimaan. Pengamanan elektronik tambahan di ruangan ini selalu bermasalah dengan komunikasi para penjaga.Akuharusbergeser ke ambangpintu. Dengan masih tetap mengarahkan senjatanya pada Langdon, Gouard mulai bergerak perlahan ke arah pintu masuk. Pada langkah ketiganya, dia melihat sesuatu yang langsung menghentikannya. Apaitu! Sebuah fatamorgana yang tak jelas muncul di dekat tengah ruangan. Sebuah siluet. Ada orang lain lagi di ruangan ini? Seorang perempuan tengah bergerak dalam kegeIapan, berjalan cepat jauh ke arah dinding kiri. Di depannya, sinar keunguan terayun ke depan dan ke belakang di atas lantai, seolah sedang mencani sesuatu dengan menggunakan senter berwarna.

“Siapa itu?” tanya Grouard dalam bahasa Prancis, dengan merasakan adrenalinnya memuncak untuk kedua kalinya dalam tiga puluh detik terakhir ini. Tiba-tiba dia tidak tahu harus membidikkan senjatanya ke mana, atau ke arah mana dia harus bergerak.

“PTS,” jawab seorang perempuan tenang, masih tetap menyinari lantai dengan sentemya.

Police Technique et Scientifique, Grouard sekarang berkeringat. Kupikir semuaagentelahpergi! Sekarang dia mengenali sinar ungu itu sebagai sinar ultra violet, yang biasa dibawa oleh tim PTS. Namun dia tetap tak mengerti mengapa DCPJ mencari bukti diruangan ini.

“Nama Anda!” bentak Grouard, masih dalam bahasa Prancis. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang salah. “Jawab!”

“Ini aku,” ada suara menjawab tenang dalam bahasa Prancis juga. “Sophie Neveu.”

Nama itu ternyata tersimpan dalam benak Grouard. Sophie Neveu? Itu nama cucu perempuan Saunière, bukan? Anak perempuan itu pernah datang ke sini, tetapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Ini tak mungkin dia! Dan kalaupun itu memang Sophie Neveu, dia sulit memercayai perempuan itu; Grouard telah mendengar kabar angin tentang perselisihan Saunière dan cucu perempuannya.

“Anda mengenal saya,” seru perempuan itu. “Dan Robert Langdon tidak membunuh kakekku. Percayalah.”

Penjaga Grourad tidak mau langsung memercayai hal itu. Akumemerlukan dukungan! Kemudian dia mencoba menyalakan walkie-talkie-nya, namun kembali gangguan udara itu lagi yang terdengar. Pintu masuk masih dua puluh yard jauh di be1akangnya. Grouard mulai melangkah ke belakang perlahan-lahan, sambil terus mengarahkan pistolnya pada lelaki itu saja. Ketika Grouard mundur inci per inci, dia dapat melihat perempuan itu melintasi ruangan sambil mengangkat senter UV-nya dan mengarahkannya ke lukisan besar yang tergantung pada dinding di kejauhan ruang Salle des Etats, tepat di seberang lukisanMonaLisa. Grouard terkesiap. Dia tahu, itu lukisan apa. DemiTuhan,apayangsedangdilakukannya?

Di seberang, Sophie Neveu merasa ada keringat dingin meleleh pada dahinya. Langdon masih tiarap dengan kaki-tangan terentang di atas lantai. Tunggulah, Robert. Sebentar lagi sampai. Karena tahu penjaga itu tak akan menembak mereka, Sophie sekarang memusatkan perhatiannya pada hal yang sedang dikerjakannya. Dia menyoroti area di sekitar sebuah adikarya—salah satu karya Da Vinci lainnya. Tapi cahaya UV tidak mengungkap hal yang luar biasa. Tidak di lantai, tidak di tembok, bahkan tidak di kanvas itu sendiri. Pastiadasesuatudisini! Sophie merasa sangat yakin bahwa dia telah mengerti apa yang

dirnaksudkan kakeknya dengan benar. Apalagikira-kirayangdiainginkan? Adikarya yang diamati Spohie itu adalah sebuah lukisan setinggi lima kaki. Da Vinci melukiskan situasi aneh dari Perawan Suci Maria yang sedang duduk dengan Bayi Yesus, Yohanes Pembaptis, dan Malaikat Uriel di atas bebatuan menonjol yang tampak berbahaya. Ketika Sophie masih kanakkanak, setiap kali mereka pergi melihat lukisan Mona Lisa, kakeknya pasti memperlihatkan lukisan yang ini juga. Grand-père,akudisini! Tetapiakutidakmelihatpesanmu! Di belakangnya, Sophie mendengar si penjaga sedang berusaha lagi

menghubungi rekahnya untuk meminta bantuan. Berpikirlah! Sophie membayangkan lagi pesan yang tertulis pada kaca pelindung lukisan Mona Lisa. So dark the con of man. Lukisan di depannya tidak dilindungi kaca yang dapat ditulisi pesan, dan dia tahu kakeknya tidak akan pernah merusak adikarya ini dengan menulis pesan di atasnya. Dia tercenung. Setidaknya, tidak di depannya. Matanya menatap tajam ke atas, merayapi kabel panjang yang menjulur dari langit-langit yang menggantung lukisan itu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.