Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Yang putih itu. Di Inggris kita menyebutnya bunga lili.” “Aku tahu itu! Kesukaanku juga!” “Kalau begitu, aku akan buat kesepakatan denganmu. Alis kakek Sophie terangkat, seperti biasanya jika dia sedang menantang Sophie. “Jika kau dapat menyimpan rahasia kunciku dan tak pernah membicarakannya lagi, denganku atau dengan siapa, saja suatu hari ketak aku akan memberikannya kepadamu.” Sophie tak dapat mempercayai telinganya. “Benarkah?” “Aku berjanji. Jika waktunya tiba, kunci itu menjadi milikmu. Ada

namamu di atasnya.” Sophie cemberut. “Tidak. Hurufnya P.S. Namaku P.S.!” Kakeknya merendahkan suaranya dan melihat kesekelilingnya seolah untuk meyakinkan tak seorang pun mendengarnya. “Baik, Sophie, kau harus tahu, P.S. adalah sebuah kode. Itu inisial rahasiamu.” Mata Sophie membesar. “Aku punya inisial rahasia?” “Tentu saja. Cucu selalu punya inisial rahasia yang diketahui kakeknya.” “P.S.?” Kakeknya menggelitiknya.“PrincesseSophie.” Sophie terkekeh. “Aku bukan putri!” Kakeknya mengedipkan matanya. “Bagiku kau seorang putri.” Mulai hari itu, mereka tidak pernah membicarakan kunci itu lagi. Dan Sophie menjadi Putri Sophie bagi kakeknya.

Di dalam Salle des Etats, Sophie berdiri terdiam dan merasa sakit karena sangat kehilangan.

“Inisial itu,” Langdon berbisik, sambil menatapnya aneh. “Kau pernah melihatnya?” Sophie merasa mendengar suara kakeknya berbisik di gang museum ini. “Jangan pernah membicarakan kunci itu, Sophie. Tidak denganku, atau siapa pun.” Dia tahu, dia sudah pernah mengkhianatinya dan dimaafkan, dan sekarang Sophie bertanya-tanya apakah dia boleh melanggar kepercayaannya lagi. PS. Cari Robert Langdon. Kakeknya ingin Langdon menolongnya. Sophie mengagguk “Ya, aku pernah melihat inisial P.S. Ketika aku masih kecil.” “Di mana?” Sophie ragu. “Di atas sebuah benda yang sangat pentmg baginya.” Langdon menatap tajam pada mata Sophie. “Sophie, ini sangat penting.

Apakah inisial itu ada bersama sebuah simbol? Sebuah fleur-de-lis?” Sophie merasa limbung karena sangat heran. “Tetapi … bagaimana kautahu

itu?” Langdon menarik napas dan merendahkan suaranya. “Aku sangat yakin, kakekmu anggota dari perkumpulan rahasia. Sebuah kelompok persaudaraan yang sudah sangat lama dan tertutup.”

Sophie merasa tegang pada perutnya. Dia juga yakin itu. Selama sepuluh tahun dia mencoba melupakan kejadian yang telah membuatnya yakin akan hal itu. Dia telah menyaksikan sesuatu Yang tak masuk akal.Yangtakterlupakan. “Fleur-de-lis itu,” kata Langdon, “jika dikombinasikan dengan inisial P.S., merupakan tanda keanggotaan bagi mereka. Lambang mereka. Logo mereka.” “Bagaimana kautahu itu?” Sophie berdoa, semoga Langdon bukan mau

bilang bahwa ia sendiri anggota dari perkumpulan itu. “Aku pernah menulis tentang kelompok itu,” kata Langdon, suaranya bergetar karena gembira sekali. “Meneliti simbol-simbol rahasia adalah keahlianku. Anggota perkumpulan itu menamakan diri mereka Prieuré de Sion, ‘Biarawan Sion’. Mereka berbasis di Prancis sini, dan menarik orangorang kuat dari seluruh Eropa sebagai anggota. Mereka salah satu perkumpulan rahasia tertua yang bertahan di bumi ini.” Sophie tak pernah mendengarnya. Sekarang Langdon berbicara dengan sangat cepat. “Keanggotaan biarawan itu terdiri atas orang-orang penting dalam sejarah, seperti Botticelli, Sir Isaac Newton, Victor Hugo.” Dia berhenti, sekarang suaranya bernada akademisi. “Dan Leonardo da Vinci.” Sophie terkejut. “Da Vinci anggota kelompok rahasia itu?” “Da Vinci mengetuai Biarawan sebagai mahaguru dari persaudaraan tersebut dari tahun 1510 hingga 1519. Karena itulah, mungkin, kakekmu begitu menyukai karya Leonardo da Vinci. Keduanya memiliki ikatan persaudaraan historis. Dan sangat sesuai dengan kekaguman mereka pada ikonologi kedewian, paganisme, ketuhanan perempuan, dan kebencian pada gereja. Biarawan memiliki acuan sejarah perempuan suci yang terdokumentasi dengan baik.” “Maksudmu, perkumpulan ini merupakan kelompok sebuah dewi pagan?” “Lebih tepatnya, kelompok pemuja dewi pagan itu. Lebih penting lagi, mereka terkenal sebagai para penjaga sebuah rahasia kuno. Sebuah rahasia yang membuat mereka begitu berkuasa.

Walau mata Langdon bersinar begitu meyakinkan, Sophie tidak mempercayainya. Sebuah kelompok pagan rahasia? Dan dikepalai oleh Leonardo daVinci? Itu semua terdengar aneh sekali.

Dan walau Sophie tak mau menerimanya, kenangannya kembali pada peristiwa sepuluh tahun silam—pada suatu malam saat dia secara tak sengaja memergoki kakeknya dan menyaksikan sesuatu yang hingga kini tak dapat diterimanya.Dapatkahitumenjelaskan—?

“Identitas para anggota Biarawan yang masih hidup terjaga kerahasiaannya,” kata Langdon, “tetapi inisial P.S. dan fluer-de-lis yang kau lihat ketika masih kecil itu adalah bukti. Itu hanya dapat dihubungkan dengan Biarawan.”

Sekarang Sophie sadar bahwa Langdon tahu jauh lebih banyak daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Orang Amerika ini pastilah punya banyak hal yang dapat dibagikan kepadanya, namun di sini bukanlah tempat yang tepat. “Aku tak akan membiarkan mereka menangkapmu, Robert. Banyak yang harus kita diskusikan. Kau harus pergi!”

Langdon mendengar hanya gumam tak jelas dari suara Sophie. Dia tak pergi ke mana pun. Dia kini seperti tersesat ke tempat lain. Tempat rahasia-rahasja kuno muncul ke permukaan. Tempat sejarah~sejarah yang terlupakan muncul dari bayang-bayang.

Perlahan, seperti bergerak di dalam air, Langdon memalingkan kepalanya dan menatap remangan merah, ke arahMonaLisa. Thefleur-de.-lis ….bungaLisa …MonaLisa. Itu semua saling berkaitan, sebuah simfoni diam namun menggemakan rahasia-rahasia dari Biarawan Sion dan Leonardo da Vinci. Beberapa mil dari Louvre, di tepi sungai melewati Les Invalides, pengemudi truk gandengan Trailor kebingungan ketika dia berdiri di bawah ancaman pistol dan diawasi oleh seorang kapten Polisi Judisial, yang menyemburkan kemarahan dan kemudian melemparkan sepotong sabun ke dalam Sungai Seine yang lebar.

 

24

MENATAP ke depan ke obelisk Saint-Sulpice, yang setinggi pilar pualam besar. Ototnya menegang karena letih. Dia mengerling ke sekelilingnya sekali lagi untuk meyakinkan dia memang sendirian. Kemudian dia berlutut di depannya, bukan karena sedang menghormat namun dia memerlukannya begitu. BatukunciitutersembunyidibawahgarisMawar. PadadasarobeliskSulpice. Sekarang dia berlutut, tangannya menggerayangi lantai batu itu. Dia tak melihat adanya retakan atau tanda-tanda keramik yang dapat digerakkan. Kemudian dia mulai ngetuk-ngetuk dengan tulang tinjunya pada lantai. Dia mengikuti garis kuningan yang makin mendekati obelisk. Dia mengetuk setiap lantai yang berdekatan dengan garis kuningan ke obelisk. Akhimya, salah satu dari lantai itu bergema aneh. Adaruangandibawahlantaiini! Silas tersenyum. Para korbannya telah mengatakan yang sebenarnya. Dia kemudian berdiri, dan mencari sesuatu di sekitar ruangan itu yang dapat digunakan untuk memecahkan lantai itu.

Tinggi di atas Silas, di atas balkon, Suster Sandrine menahan sengal napasnya. Sesuatu yang paling ditakutkannya telah terbukti. Tamunya ini bukanlah tamu sesungguhnya. Seorang biarawan misterius Opus Dei telah datang ke SaintSulpice untuk tujuan yang berbeda. Sebuah tujuan rahasia. Kaubukanlahsatu-satunyayangpunyarahasia, pikirnya. Suster Sandrine Bicil lebih dari sekadar pemelihara gereja. Dia juga pengaman gereja ini. Dan malam ini, roda kuno itu telah dipasang untuk digerakkan. Kedatangan orang asing di bawah obelisk itu merupakan tanda dari kelompok persaudaraan itu. Ituadalahseruanmintatolongyanghening.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.