Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sebelum melangkah masuk, Sophie sadar harus membawa sesuatu, senter sinarhitam. Dia mengamati gang tempat kakeknya tergeletak di bawah lampu sorot di kejauhan, dikelilingi peralatan elektronik. Jika dia telah menulis sesuatu di sini, hampir pasti dia menulisnya dengan spidolstylus.

Dengan menarik napas dalam, Sophie bergegas ke tempat kejadian perkara itu. Dia tak sanggup melihat tubuh kakeknya; dia hanya memusatkan perhatiannya pada peralatan PTS. Kemudian dia menemukan senter pena ultra violet, dan menyelipkan ke dalam saku sweternya, lalu bergegas kembali ke gang dan menuju ke pintu terbuka Salle des Etats.

Sophie membelok dan melangkahi ambang pintu. begitu masuk, suara langkah kaki terdengar mendekatinya dari dalam ruangan. Ada orang di sini! Sesosok menyerupai hantu muncul dari remang kemerahan. Sophie terloncat mundur.

“Nah, kau di sini!” suara Langdon serak berbisik, ketika bayangannya berhenti di depan Sophie.

Perasaan lega Sophie hanya sebentar. “Robert, aku bilang kau harus pergi dari sini! Jika Fache—” “Tadi kau kemana?” “Aku harus mengambil senter sinar hitam,” bisiknya sambil memperlihatkan senter itu. “Jika kakekku menuliskan pesan—“

“Sophie, dengar,” Langdon menahan napasnya ketika mata birunya menatap Sophie tajam. “Huruf P.S. … Apa itu berarti lain lagi bagimu? Apa saja!?”

Karena takut suara mereka akan menggema di gang, Sophie menarik Langdon masuk ke ruangan Salle des Etats dan perlahan menutup pintu kembarnya, kemudian menguncinya. “Aku sudah jelaskan, inisial itu berarti Putri Sophie.”

“Aku tahu, tetapi pernahkah kau melihatnya di tempat lain lagi? Kakekmu menggunakan P.S. untuk yang lainnya? Sebagai monogram, atau mungkin pada alat-alat tulisnya, atau perlengkapan pribadinya?”

Pertanyaan itu mengejutkan Sophie. Bagaimana Robert tahu itu? Sophie memang pernah melihat inisial P.S. sebelum itu, dalam bentuk monogram. Pada satu hari sebelum hari ulang tahunnya yang kesembilan, Sophie diamdiam menyelusuri rumahnya mencari hadiah tersembunyi. Sophie tak pernah suka ada rahasia tensembunyi darinya. Apa yang diberikan kakek untukku tahun ini? Dia menggerayangi laci dan lemari. Apakah kakek memberiku boneka yang kuinginkan? Di mana disembunyikannya?

Karena tak menemukan apa pun diseluruh rumah, Sophie memberanikan diri menyelinap ke kamar tidur kakeknya. Kamar itu sesungguhnya terlarang baginya, namun kakeknya sedang tertidur di sofa di lantai bawah.

Akuhanyaakanmengintipsebentar! Sophie kemudian berjingkat di atas lantai kayu yang berderit. Dia mengintai kedalam rak-rak di balik pakaian kakeknya. Tak ada apa pun. Kemudian dia mencari di bawah tempat tidur. Masih belum ada apa pun. Dia bergerak ke ruang kerjanya, dan membuka laci-lacinya satu per satu dan menggerayanginya. Pasti ada sesuatu di sini! Ketika dia mencapai ke dasar laci, dia masih tak menemukan tanda-tanda adanya sebuah boneka. Dengan kecewa dia membuka laci terakhir dan menarik selembar pakaian hitam yang belum pernah dia melihat dikenakan kakeknya. Baru saja akan menutup laci itu, dia melihat kilau emas di bagian belakang. Tampaknya seperti kantong jam saku, namun dia tahu kakeknya tak berdebar ketika dia mulai menerka apa isinya. Seuntaikalung! menggunakan itu. Jantungnya Dengan berhati-hati Sophie menarik rantai itu dari laci. Dia terkejut sekali ketika akhirnya dia melihat sebuah kunci emas yang berkilauan. Berat dan berkilauan. Dia memegangnya dengan penuh pesona. Dia belum pernah melihat kunci seperti itu. Umumnya kunci pipih bergerigi, namun yang ini mempunyai batang segi tiga dipenuhi bercak-bercak. Kepala besar emasnya berbentuk salib, namun tidak seperti biasanya. Yang ini bahkan seperti tanda tambah. Di tengahnya, tercetak menonjol, sebuah simbol aneh, dua huruf saling membelit dengan gambar semacam bunga.

“PS.,” dia berbisik membaca huruf-huruf itu sambil cemberut. “Apakah artinyaini?” “Sophie?” panggil kakeknya dari ambang pintu. Dengan terkejut, Sophie menoleh, dan menjatuhkan kunci itu ke atas lantai dengan suara keras. Dia menatap kunci itu, takut menatap wajah kakeknya. “Aku … sedang mencari hadiah ulang tahunku,” katanya, sambil menunduk, tahu bahwa dia telah rnengkhianati amanat kakeknya.

Seolah sudah lama sekali kakeknya berdiri diam di ambang pintu. Akhirnya, kakeknya menghembuskan napas berat. “Pungut kunci itu, Sophie.” Sophie memungut kunci itu. Kakeknya masuk “Sophie, kau harus menghormati rahasia pribadi orang lain.” Dengan lembut, kakeknya berjongkok dan mengambil kunci dari tangan Sophie. “Kunci ini sangat istimewa. Jika kau menghilangkannya …“

Suara tenang kakeknya justru membuat perasaan Sophie menjadi lebih bersalah. “Maafkan aku, Grand-père. Aku sangat menyesal.” Dia berhenti. “Kukira itu kalung hadiah ulang tahunku.”

Kakeknya menatapnya beberapa detik. “Aku katakan ini sekali lagi, Sophie, karena ini sangat penting. Kau harus menghormati rahasia pribadi orang lain.” “Ya, Grand-pere’.” “Kita akan membicarakan ini lain kali. Sekarang, taman kita perlu

dipotong rumputnya.” Sophie bergegas keluar kamar untuk mengerjakan tugasnya. Keesokan harinya, Sophie tak menerima hadiah ulang tahun dari kakeknya. Dia memang tak mengharapkannya setelah apa yang dilakukannya kemarin. Namun kakeknya bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya sepanjang hari itu. Dengan sedih, dia naik ke tempat tidurnya malam itu. Ketika itu dia menemukan sehelai kartu dengan catatan tergeletak di atas bantalnya. Pada kartu itu tertulis teka-teki sederhana. Sebelum memecahkan teka-teki itu, dia tersenyum. Aku tahu apa ini! Kakeknya pernah melakukan ini di pagi hari Natal. Perburuanhartakarun! Dengan bersemangat dia membaca dengan teliti teka-teki itu hingga dapat memecahkannya. Jawaban itu membawanya ke bagian lain di rumah itu, yang ternyata ada teka-teki lainnya. Dia berhasil menerkanya juga, dan segera mengejar kartu berikutnya. Dia berlari dengan riang, dan cepat keluar masuk ruangan dalam rumah itu, dari satu petunjuk ke petunjuk lainnya. Dan akhirnya dia menemukan sebuah petunjuk yang membawanya kembali ke kamar tidurnya, dan berhenti mendadak. Di tengah kamarnya berdiri sebuah sepeda merah berkilap dengan pita terikat pada setangnya. Sophie berteriak kegirangan.

“Aku tahu kau menginginkan sebuah boneka,” kakeknya berkata, tersenyum dari sudut kamar. “Kupikir, mungkin kau akan lebih menyukai ini.”

Keesokan harinya, kakeknya mengajari Sophie mengendarai sepeda dengan berlarian di sampingnya di kaki lima. Ketika Sophie melindas rumput tebal, dia kehilangan keseimbangannya. Mereka berdua terguling jatuh ke rumput, bergulingan, dan tertawa.

“Aku tahu, Sayang. Kau sudah kumaafkan. Aku tak bisa marah terus menerus kepadamu. Kakek dan cucu selalu saling memaafkan.”

Sophie tahu dia seharusnya tak bertanya, namun dia tak dapat menahannya. “Kunci itu untuk membuka apa? Aku belum pernah melihat kunci seperti itu. Sangat cantik.”

Kakeknya terdiam lama, dan Sophie melihat kakeknya ragu-ragu menjawabnya.Grand-peretakpernahberbohong. “Kunci itu untuk membuka sebuah kotak,” katanya akhirnya. “Tempat menyimpan banyak rahasia.” Sophie cemberut. “Aku benci rahasia!” “Aku tahu, tetapi ini rahasia penting. Dan suatu hari kau akan belajar

menghargainya, seperti aku.” “Aku melihat huruf-huruf dan bunga.” “Ya, itu bunga kesukaanku. Namanya fluer-de-lis. Kita punya di taman.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.