Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sophie cemberut dan terus berjalan. Ketika mereka memasuki Salle des Etats, mata Sophie mengamati ruangan sempit itu dan berhenti pada titik kehormatan yang pasti—tepat di tengah dinding sebelah kanan, tergantung sendirian di belakang dinding kaca Plexi yang aman. Kakeknya berhenti di ambang pintu dan menunjuk pada lukisan itu.

“Silakan, Sophie. Tidak semua mengunjunginya sendirian.” Sophie menelan ketakutannya. Dia orang punya kesempatan untuk bergerak perlahan menyeberangi ruangan itu. Setelah segala apa yang pernah didengarnya tentang Mona Lisa, dia merasa seperti sedang mendekati seorang bangsawan. Tiba di depan kaca pelindung Plexi, Sophie menahan napasnya dan menatap ke atas, langsung melihatnya.

Sophie tidak yakin apa yang seharusnya dia rasakan, namun yang pasti tidak seperti ini. Tidak ada perasaan kagum. Tidak ada keheranan. Wajah tersohor itu tampak seperti apa yang dilihatnya dalam buku. Sophie berdiri, diam, lama sekali, menunggu ada yang terjadi.

“Nah, bagaimana pendapatmu?” bisik kakeknya, mendekati dari belakangnya. “Cantik, bukan?” “Dia terlalu kecil.” Saunière tersenyum. “Kau kecil dan kau cantik.” Aku tidak cantik, pikirnya. Sophie membenci rambut merah dan bintikbintik pada pipinya, dan dia lebih tinggi daripada semua anak lelaki di kelasnya. Dia memperhatikan Mona Lisa lagi dan menggelengkan kepalanya. “Dia bahkan lebih jelek daripada yang ada di buku. Wajahnya …brumeux.” “Berkabut,” kakeknya memberi petunjuk. “Berkabut,” Sophie mengulangi, karena dia tahu, percakapan mereka tidak

akan berlanjut sebelum dia mengulangi kata tadi. “Itu disebut gaya lukisansfumato,” katanya, “dan itu sulit sekali. Leonardo

da Vinci adalah yang terbaik dalam gaya ini dibanding siapa pun.” Sophie masih tidak suka pada lukisan itu. “Dia tampaknya mengetahui

sesuatu … seperti anak-anak di sekolah ketika punya sesuatu.” Kakeknya tertawa. “Itu bagian dari mengapa dia begitu kenal. Orang-orang

senang menerka mengapa dia tersenyum. “Kakek tahu mengapa dia tersenyum?” “Mungkin.” Kakeknya mengedip. “Suatu hari nanti akan kuceritakan semuanya.” Sophie menghentakkan kakinya. “Aku sudah bilang, aku tidak suka rahasia!”

“Putri,” kakeknya tersenyum. “Hidup ini berisi banyak rahasia. Kau tidak bisa mempelajarinya semua sekaligus.”

“Aku masuk lagi,” kata Sophie, suaranya terdengar dalam di ruang tangga. “KeMonaLisa?” tanya Langdon kecut.“Sekarang?” Sophie menghitung-hitung risikonya. “Aku bukan tersangka pembunuhan. Aku akan mengunakan kesempatanku. Aku harus tahu apa yang ingin kakekku sampaikan padaku.” “Bagaimana dengan kedutaan besar?” Sophie merasa bersalah karena telah membuat Langdon menjadi pelarian dan kemudian meninggalkannya, namun dia tak punya pilihan. Dia menunjuk ke bawah pada pintu besi. “Pergilah melalui pintu itu, dan ikuti tanda keluar yang menyala. Kakekku pernah membawaku melalui jalan itu. Tanda-tanda itu akan membawamu ke pintu putar. Pintu itu satu arah dan terbuka.” Dia memberikan kunci mobilnya kepada Langdon. “Mobilku SmartCar merah di tempat parkir pegawai. Tepat di luar dinding ini. Kau tahu jalan ke kedutaan besar?” Langdon mengangguk, menatap kunci di tangannya. “Dengar,” kata Sophie, suaranya melembut. “Kupikir kakekku mungkin meninggalkan pesan padaku di Mona Lisa—semacam petunjuk seperti siapa pembunuhnya. Atau mengapa aku dalam bahaya.”Atauapayangterjadipada keluargaku. “Aku harus pergi dan melihatnya.”

“Tetapi jika dia ingin mengatakan mengapa kau dalam bahaya, mengapa dia tidak menuliskannya di atas lantai tempat dia tewas. Mengapa dengan permainan kata yang rumit?” “Apa pun yang ingin disampaikan kakekku, kupikir dia tidak mau seorang pun mengetahuinya, tidak juga polisi.” Jelas, kakeknya telah melakukan segalanya dengan sisa kekuatannya untuk menyampaikan pesan rahasia langsung pada Sophie. Dia telah menulisnya dalam kode, termasuk inisial rahasia Sophie, dan menyuruhnya untuk mencari Robert Langdon—perintah yang bijak, mengingat simbolog Amerika ini telah berhasil memecahkan kodenya. “Betapa pun aneh kedengarannya,” kata Sophie, dia ingin aku pergi keMonaLisa sebelum orang lain ke sana.” “Aku akan ikut.” “Jangan! Kita tidak tahu sampai berapa lama Galeri Agung akan tetap

kosong. Kau harus pergi.” Langdon tampak ragu, seolah rasa keingintahuan akademisnya tertantang untuk mengabaikan pertimbangan yang logis dan membiarkan dirinya kembali ke dalam cengkeraman Fache.

“Pergi, sekarang!” Sophie tersenyum lebar. “Kita bertemu di kedutaan besar, Pak Langdon.”

Langdon tampak tidak senang. “Aku akan bertemu denganmu di sana dengan satu syarat.” Sophie terhenti, terkejut. “Apa itu?” “Jangan panggil akuPak Langdon.” Sophie melihat ada senyum tersembunyi pada wajah Langdon, dan dia membalasnya. “Semoga berhasil, Robert.”

Ketika Langdon tiba di lantai bawah, hidungnya mencium aroma yang pasti dari minyak jerami dan debu dinding. Didepannya, tanda SORTIE / EXIT menyala dengan gambar anak panah menunjuk ke bawah sepanjang koridor itu. Langdon melangkah dalam gang. Di sebelah kanan terbuka sebuah studio perbaikan. Di dalamnya tampak sederet patung yang sedang diperbaiki. Di sebelah kiri, dia melihat sebuah deretan studio-studio yang sama dengan kelas-kelas seni di Harvard—deretan para-para, lukisan-lukisan, palet-palet, peralatan kumpulan benda-benda seni.

Ketika dia berjalan di sepanjang gang, mungkinkah dia saat ini tiba-tiba terbangun di pembingkaian—sederetan

Langdon bertanya-tanya, atas tempat tidurnya di Cambridge. Sepanjang malam ini seolah mimpi aneh. AkuakankeluardariLouvre …sebagaiburon. Pesan anagram Saunière yang cerdas masih tetap dalam benaknya, dan Langdon bertanya-tanya apa yang akan ditemukan Sophie padaMona Lisa … bisa apa saja. Sophie begitu yakin bahwa kakeknya menginginkannya untuk pergi ke lukisan tersohor itu sekali lagi. Walau tafsir ini masuk akal, tampaknya Langdon sekarang merasa dihantui oleh sebuah paradoks yang membingungkan. P.S.CariRobertLangdon. Sauniène telah menuliskan namanya di atas lantai, memerintahkan Sophie untuk mencarinya. Tetapi mengapa? Hanya supaya Langdon membantunya memecahkan anagram? Tampaknya tak masuk akal. Lagi pula, Saunière tidak punya alasan untuk tahu bahwa Langdon ahli dalam anagram. Kami tidak pernah bertemu. Lebih penting lagi, Sophie begitu yakin dia bisa rnemecahkan anagram itu sendiri. Sophielah yang melihat deret angka Fibonacci, dan, tak diragukan, jika diberi sedikit waktu lebih; dia akan sanggup memecahkan kode itu tanpa bantuan Langdon.

Sophie memang seharusnya memecahkan anagram itu sendiri. Langdon tiba-tiba merasa lebih yakin tentang itu, namun kesimpulannya meninggalkan pertanyaan tentang tindakan Saunière.

Mengapa aku? Langdon bertanya-tanya, sambil terus berjalan di gang. Mengapa pesan terakhir Sauniere menyuruh cucunya yang tak mengenalku ituuntukmencariku?MenurutSaunière,apayangakutahu?

Tiba-tiba Langdon berhenti. Dengan mata terbelalak dia merogoh sakunya dan menarik keluar kertas tadi. Dia menatap baris terakhir pesan Saunière. PS.CariRobertLangdon Dia punya firasat pada dua huruf itu. PS. Saat itu juga, Langdon merasa bahwa simbolisme Saunière yang memusingkan mulai tampak jelas. Seperti kilatan petir, sebuah simbologi dan sejarah yang senilal karier bertahun-tahun menyambar di sekitarnya. Segala yang Jacques Saunière lakukan malam ini tiba-tiba jelas sekali.

Pikiran Langdon seperti berpacu ketika dia mencoba mengumpulkan implikasi-implikasi dari semuanya ini. Sambil terus berlari, Langdon menatap ke arah dia datang tadi. Masihadakahwaktu? Dia tahu, itu tidak penting. Tanpa ragu, Langdon berlari cepat kembali ke tangga tadi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.