Baca Novel Online

The Da Vinci Code

dianggap angka tercantik di dunia ini.” Tawa itu langsung berhenti, dan Stettner pun pongah. Ketika Langdon mengisi proyektor slidenya, dia menjelaskan bahwa PHI diperoleh dari deret Fibonacci—sebuah deret yang terkenal bukan hanya karena jumlah dari angka yang berdekatan sama dengan angka setelahnya, tetapi juga karena hasil bagi dari angka-angka yang berdekatan memilikisifat yang mengagumkan mendekati angka 1,618—PHI!

Lepas dari muasal matematis PHI yang tampak mistis, Langdon menjelaskan, aspek menggelitik akal yang sesungguhnya adalah perannya sebagai dasar dari balok bangunan dalam alam. Tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia, semua memiliki sifat dimensional yang melekat dengan kualitas keakuratan pada rasio PHI banding 1.

“Keberadaan PHI yang tersebar di alam,” kata Langdon, sambil mematikan lampu, “jelas lebih dari kejadian kebetulan saja, dan begitu pula para pendahulu kita, menganggap angka PHI pastilah telah ditakdirkan oleh sang Pencipta alam ini. Para ilmuwan terdahulu menyebarluaskan satu-komaenam-satu-delapan sebagaiProporsiAgung.”

“Tunggu dulu,” kata seorang perempuan muda di deretan depan. “Saya jurusan biologi dan saya tidak pernah melihat proporsi agung dalam alam.”

“Tidak?” Langdon tersenyum. “Pernah belajar hubungan antara betina dan jantan dalam komunitas lebah madu?”

“Tentu. Lebah betina selalu berjumlah lebih banyak daripada lebah jantan.”

“Benar. Dan tahukah Anda jika Anda membagi jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang lebah di dunia ini, Anda akan mendapatkan hasil yang sama?” “Benar?” “Ya. PHI.” Gadis itu terkesiap. “TIDAK MUNGKIN!” “Mungkin saja!” Langdon balas berteriak, sambil tersenyum ketika

mengeluarkan selembar slide bergambar kerang laut spiral. “Kenal ini?” “Itu sebuahnautilus,” kata gadis jurusan biologi lagi. “Sebuahcephalopod mollusk yang memompa gas ke dalam kerang berongganya untuk menyeimbangkan kemampuan mengapungnya.”

“Benar. Dan dapatkah Anda menerka apa rasio setiap diameter spiral ke spiral berikutnya?”

Gadis itu tampak tak yakin ketika dia melihat lengkung-lengkung konsentris dari kenang nautilus spiral itu.

Langdon mengangguk. “PHI. Proporsi agung. Satu-koma-satu-enamdelapan banding satu.” Gadis itu tampak tercengang. Langdon melanjutkan dengan slide berikumya—sebuah tampak dekat dari sebuah kepala biji bunga matahari. “Biji bunga matahari tumbuh dengan melawan spiral. Anda dapat menerka rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikumya?” “PHI?” semua berkata. “Tepat sekali.” Langdon mulai memperlihatkan beberapa slide sekarang— bunga cemara berspiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga. Semuanya memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan pada Proporsi Agung. “Ini mengagumkan!” seseorang berseru. “Ya,” yang lainnya berkata, “tetapi apa hubungannya denganseni?” “Aha!” kata Langdon. “Senang Anda bertanya begitu.” Dia mengambil sebuah slide lagi—selembar kertas perkamen bergambar lelaki bugil karya Da Vinci yang terkenal itu—the Vitruvian Man— Yang didasarkan pada Marcus Vitruvius, seorang arsitek Roma yang sangat pandai yang memuja Proporsi Agung dalam teksDe Architectura. “Tak seorang pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci tentang struktur agung dalam tubuh manusia. Da Vinci bahkanmenggali mayat manusia untuk mengukur proporsi struktur tulang manusia yang tepat. Dialah orang pertama yang memperlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari balokbalok bangunan yang rasio proporsionalnya selalu sama dengan PHI.” Semua yang berada di kelas itu menatapnya ragu. “Tidak percaya padaku?” Langdon menantang. “Lain kali, jika Anda

sedang mandi, bawa pita ukuran.” Sepasang pemainfootball mengikik. “Bukan hanya kalian berdua,” Langdon menyarankan, “tetapi semuanya. Lelaki dan perempuan. Cobalah ukur jarak dari puncak kepala Anda ke lantai. Kemudian bagi dengan jarak dari pusar ke lantai. Terka, angka berapa yang Anda dapat?” “Bukan PHI!” salah satu olahragawan itu berseru tak percaya. “Ya, PHI!” jawab Langdon. “Satu-koma-satu-enam-delapan. Mau contoh lain? Ukur jarak dari bahu Anda ke ujung jari Anda, kemudian bagi dengan jarak dari siku Anda ke ujung jari Anda. PHI lagi. Yang lain? Paha ke lantai dibagi dengan lutut ke lantai. PHI lagi. Ruas jari. Jemari kaki. Divisi tulang belakang. PHI. PHI. PHI. Kawan-kawan, masing-masing Anda merupakan penghormatan berjalan terhadap Proporsi Agung.”

Bahkan dalam kegelapan, Langdon dapat melihat semuanya tercengang. Dia merasakan kehangatan yang sudah biasa di dalamnya. Karena itulah dia suka mengajar. “Kawan-kawan, seperti yang dapat Anda lihat, kekacauan di dunia ini punya keteraturan yang mendasar. Ketika orang-orang dahulu menemukan PHI, mereka yakin telah tersandung pada balok bangunan Tuhan untuk dunia, karena itu kemudian mereka memuja Alam. Dan orang dapat mengerti mengapa Tangan Tuhan jelas dalam Alam. Dan bahkan sampai sekarang jejak-jejak pagan, agama-agama yang mengacu pada Ibu Bumi, masih ada. Banyak di antara kita mengenal alam seperti kaum pagan, namun tidak menyadarinya. Perayaan di bulan Mei adalah contoh sempurna, perayaan musim semi … bumi hidup kembali untuk mengeluarkan karunianya. Keajaiban misterius yang melekat dengan Proporsi Agung ditulis pada awal waktu. Manusia hanya bermain dalam hukum Alam, dan karena seni adalah cara manusia untuk meniru keindahan tangan Pencipta, Anda dapat membayangkan kita mungkin dapat melihat banyak contoh Proporsi Agung dalam seni pada semester ini.”

Melewati setengah jam berikutnya, Langdon memperlihatkan kepada mereka slide-slide dari karya seni Michelangelo, Albrecht Durer, Da Vinci, dan banyak yang lainnya lagi, mempertunjukkan maksud setiap seniman dan keterkaitannya dengan Proporsi Agung dalam layout karangannya. Langdon mengupas PHI dalam dimensi arsitektur Parthenon Yunani, piramid-piramid Mesir, dan bahkan Gedung PBB di New York. PHI muncul dalam struktur organisasional sonata-sonata Mozart, Fifth Symphony karya Beethoven, juga pada karya-karya Bartok, Debussy, dan Schubert. Angka PHI, kata Langdon pada mereka, bahkan juga digunakan oleh Stardivarius untuk menghitung penempatan yang tepat untuk lubang f dalam konstruksi biola-biolanya yang tersohor itu.

“Sebagai penutup,” kata Langdon, sambil berjalan ke papan tulis, “kita kembali ke simbol-simbol.” Dia menarik lima garis saling berpotongan yang membentuk bintang lima titik. “Simbol ini merupakan salah satu gambaran terkuat yang akan kalian lihat pada masa perkuliahan ini. Dikenal secara resmi sebagai pentagram—atau pentakel, seperti yang disebut orang dulu—simbol ini dipandang agung dan juga ajaib oleh banyak budaya. Ada yang bisa mengatakan mengapa begitu?”

Stettner, jurusan matematika, mengangkat tangannya. “Karena jika Anda menggambar pentagram, garis-garis itu secara otomatis membagi dirinya sendiri menjadi segmen sesuai dengan Proporsi Agung.”

Langdon memberi anggukan bangga pada anak itu. “Bagus sekali. Ya, rasio dari segmen garis dalam pentakel semua sama dengan PHI, sehingga membuat simbol ini jadi ekspresi yang pokok. Untuk alasan ini, bintang lima titik ini telah selalu menjadi simbol kecantikan dan diasosiasikan dengan sempurna dengan dewi dan perempuan suci.”

Gadis-gadis di kelas senang. “Satu catatan, kawan-kawan. Kita baru menyentuh sedikit Da Vinci hari ini tetapi kita akan bertemu dengannya lebih banyak lagi semester ini. Leonardo adalah seorang yang terdokumentasi dengan baik sebagai penganut setia jalan kuno dari sang dewi. Besok, saya akan memperlihatkan kepada Anda lukisan dindingnya,TheLastSupper, yang merupakan salah satu penghormatan paling menakjubkan bagi perempuan suci yang pernah Anda lihat.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.