Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Fache tampak tegang setelah berbicara dengan Direktur Kriptograf. Setelah menutup telepon, Fache menuju Collet dan memintanya untuk menelepon Agen Neveu. Sekarang Collet tidak berhasil, dan Fache hilir-mudik seperti singa terperangkap. “Mengapa Kripto menelepon, Pak?” Tanya Collet. Fache berpaling. “Untuk mengatakan bahwa mereka tidak menemukan

petunjuk tentang draconia dan orang suci yang lemah.” “Itu saja?” “Tidak, juga untuk mengatakan bahwa mereka baru saja mengenali angkaangka seperti angka-angka Fibonacci, tetapi mereka menduga bahwa deretan itu tak berarti apa-apa.”

Collet bingung. “Tetapi mereka sudah mengirim Agen Neveu untuk mengatakan itu kepada kita.” Fache menggelengkan kepalanya. “Mereka tidak mengirim Neveu.” “Apa?” “Menurut direktur itu, karena permintaanku, dia menyeranta seluruh timnya untuk melihat gambar yang telah kukirimkan padanya. Ketika Agen Neveu tiba, dia melihat salah satu dari foto Saunière dan kode itu, kemudian dia meninggalkan kantor tanpa kata-kata. Direktur itu mengatakan dia tidak heran dengan sikap Neveu. Mungkin saja dia marah karena foto itu.” “Marah? Dia tak pernah melihat foto mayat?” Fache terdiam sesaat. “Aku tidak tahu, dan tampaknya direktur itu juga tidak tahu sampai seorang asistennya mengatakan bahwa tampaknya Sophie Neveu adalah cucu Jacques Saunière.” Collet tak dapat berkomentar. “Direktur itu mengatakan Saunière padanya, dan dia bahwa Sophie menduga bahwa tak pernah menyebut-nyebut Sophie tidak menghendaki perlakuan istimewa karena mempunyai kakek yang ternama.”

Jelassajadiamarahmelihatfotoitu.. Collet hampir tidak bisa memahami kebetulan yang tak menguntungkan yang dialami perempuan muda itu. Dia harus memecahkan kode yang ditulis oleh anggota keluarganya yang mati. Namun, reaksi Sophie tak masuk akal. “Tetapi dia jelas mengenali angkaangka Fibonacci karena dia datang ke sini dan mengatakannya kepada kita. Saya tidak mengerti mengapa dia meninggalkan kantor tanpa mengatakan kepada siapa pun bahwa dia sudah tahu tentang angka-angka itu.”

Collet hanya punya satu skenario tentang perkembangan situasi ini: Suaniére telah menulis kode nomor di atas lantai dengan harapan Fache akan melibatkan kriptografer dalam penyelidikan ini, dengan demikian akan melibatkan juga cucunya. Sedangkan sisa pesannya, apakah itu merupakan cara Saunière berkomunikasi dengan Sophie? Jika demikian, apa sesungguhnya isi pesan itu untuk Sophie? Dan apa hubungannya dengan Langdon?

Sebelum Collet merenung lebih jauh, kesunyian museum dipecahkan oleh suara alarm. Lonceng itu seolah terdengar dari dalam Galeri Agung.

“Alarme!” teriak salah satu agen, sambil melihat pemberi tanda itu, pusat keamanan Louvre.“GrandeGalerie!ToilletsMessiuers!” Fache mendekati Collet. “Di mana Langdon?” “Masih di kamar kecil pria!” Collet menunjuk padi titik merah berkedip pada skema dalam laptopnya. “Dia pasti telah memecahkan jendela!” Collet tahu, Langdon tidak mungkin berlari jauh. Walaupun peraturan kebakaran Paris mensyaratkan bahwa jendela di atas lima belas meter pada gedung umum harus dapat dipecahkan dalam keadaan kebakaran, namun meloncat keluar dari jendela lantai dua Louvre tanpa bantuan tangga dan pengait merupakan bunuh diri. Lagi pula, tak ada pepohonan dan rerumputan di ujung sebelah barat dari Sayap Denon itu untuk membantali orang jatuh. Tepat di bawah jendela kamar kecil, dua jalan kecil Place du Carrousel berada beberapa kaki dari dinding luar. “Ya Tuhan,” seru Collet, sambil menatap layar monitor. “Langdon bergerak ke birai jendela!”

Namun Fache telah bergerak. Sambil menarik pistol Manurhin MR-93 dari tempat pistol di bahunya, sang kapten berlari ke luar kantor.

Collet menatap layar dengan bingung ketika titik berkedip itu tiba di birai jendela dan bertindak yang betul-betul tak terduga. Titik itu bergerak ke luar gedung.

Apayangterjadi? Dia bertanya-tanya.ApakahLangdonmasihdiatas birai atau—

“Yesus!” Collet terloncat bangun dari duduknya ketika titik itu melesat ke luar dinding. Sinyal itu tampak bergetar sebentar, kemudian titik berkedip itu berhenti tiba-tiba pada kira-kira sepuluh yard di luar batas pinggir gedung ini. Sambil meraba-raba tombol-tombol kendali, Collet memunculkan peta jalan Paris dan menyesuaikan kembali GPS-nya. Kemudian dia melakukan zoom in. Sekarang dia dapat melihat beradaan sinyal itu dengan tepat. Sinyal itu tak lagi bergerak. Dia tergeletak dan betul-betul berhenti di tengah-tengah du Carrousel. Langdon telah meloncat.

 

18

FACHE BERLARI ke Galeri Agung ketika radio Collet berbunyi menimpali suara alarm.

“Dia meloncat!” Teriak Collet. “Saya melihat sinyal itu berada di luar Place du Carrousel! Di luar jendela kamar kecil! Dan Sekarang tak bergerak sama sekali! Yesus, saya kira Langdon telah bunuh diri!”

Fache mendengar kata-kata itu, namun itu tidak mungkin. Dia terus berlari. Gang itu terasa tak berujung. Ketika melewati mayat Saunière, dia melirik pada pembatas ruangan di ujung gang Sayap Denon itu. Alarm semakin mengeras.

“Tunggu!” suara Collet berteriak lagi dari radio. “Dia bergerak! Tuhanku, dia hidup. Langdon bergerak!”

Fache terus berlari, sambil menyumpahi panjangnya gang itu di setiap Iangkahnya.

“Langdon bergerak lebih cepat. Dia berlari ke Carrousel. Tunggu … dia semakin cepat. Dia bergerak terlalu cepat!”

Tiba di pembatas ruangan, Fache menyelinap melewatinya, melihat ke pintu kamar kecil, dan berlari ke arahnya.

Suara dari walkie-talkie sudah tak terdengar karena tertimpa suara alarm. “Dia pastilah naik mobil! Saya kira dia di didalam mobil! Saya tak bisa—”

Suara Collet tertelan oleh suara alarm ketika Fache menyerbu ke dalam kamar kecil dengan pistol teracung. Dengan menyipitkan matanya, dia meneliti kamar kecil itu.

Ruangan-ruangan kecil itu kosong. Demikian juga tempat membersihkan diri. Mata Fache segera melihat kaca jendela yang pecah di ujung ruangan. Dia berlari ke tempat terbuka itu dan melihat ke luar. Langdon tak terlihat di mana pun. Fache tak dapat membayangkan ada orang yang berani melakukan ini. Jika jatuh dari ketinggian itu, dia pasti terluka parah.

Akhirnya alarm itu dimatikan, dan suara Collet terdengar lagi dari walkietalkie.

“…bergerak ke selatan … semakin cepat … menyeberangi Seine pada Pont du Carrousel!”

Fache membelok ke kiri. Satu-satunya kendaraan di Pont du Carrousel adalah sebuah truk Trailor bergandengan dua, yang bergerak ke selatan menjauh dari Louvre. Bak besar terbuka truk itu hanya tertutup dengan atap vinyl, tampak seperti tempat tidur ayun raksasa. Fache merinding ketakutan. Truk itu, hanya berapa saat yang lalu, berhenti pada lampu merah tepat di bawah jendela kamar kecil itu.

Risikogila, kata Fache pada dirinya sendiri. Langdon tak mungkin tahu apa yang dimuat truk itu di bawah tutup vinylnya. Bagaimana jika truk itu membawa baja? Atau semen? Atau sampah? Loncat dari ketinggian empat puluh kaki? Itu gila! “Titik itu kembali!” Collet beseru. “Dia kembali ke Pont Saints-Pères!” Tentu saja, truk Traitor yang telah menyeberangi jembatan memperlambat jalannya dan memutar ke Pont des Pères. Jadilah, pikir Fache. Merasa puas, dia melihat truk itu menghilang di tikungan. Collet telah memberi tahu penjaga di luar lewat radio, sehinga mereka segera meninggalkan Louvre dan masuk ke mobil mereka untuk mengejar, sementara dia sendiri terus mengabarkan perubahan arah truk tersebut, seperti sebuah permainan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.