Baca Novel Online

The Da Vinci Code

“Aku sedang sibuk sekarang,” jawabnya dengan nada kesal karena larangannya dilanggar. “Katakan kepada kriptografer itu untuk menungguku di pos komando. Aku akan berbicara kepada lelaki itu jika aku sudah selesai.” “Perempuan,” suara itu mengoreksi. “Ini Agen Neveu.” Kemarahan Fache karena telepon itu semakin menjadi. Sophie Neveu adalah salah satu kesalahan terbesar DCPJ. Sophie adalah seorang perempuan muda Paris dechiffreuse yang belajar kriptografi di Inggris pada Royal Holloway. Sophie Neveu telah disisipkan di departemen Fache dua tahun yang lalu sebagai bagian dari program menteri untuk lebih banyak menggunakan tenaga kerja perempuan di kepolisian. Pemaksaan kementerian dengan tujuan politik itu, menurut Fache, telah memperlemah departemennya. Perempuan tidak hanya lemah tubuhnya untuk pekerjaan seorang polisi, tetapi penampilan mereka merupakan pengganggu konsentrasi kerja yang berbahaya bagi lelaki di lapangan. Seperti yang dikhawatirkan Fache, Sophie Neveu tengah membuktikan bahwa dia merupakan pengganggu yang luar biasa.

Sebagai perempuan 32 tahun, Sophie sangat keras kepala. Semangatnya untuk mengadopsi metodologi kriptologi baru Inggris terus-menerus merepotkan para kriptografer veteran Prancis yang berada di atasnya. Dan yang paling mengganggu Fache adalah sebuah kebenaran universal yang tak dapat dihindari, bahwa di sebuah kantor yang penuh lelaki separuh baya, seorang perempuan cantik selalu mengalihkan perhatian mereka dari pekerjaan yang tengah dihadapi.

Orang di telepon itu berkata lagi, “Agen Neveu berkeras untuk berbicara dengan Anda segera, Kapten. Saya mencoba menghalanginya, tetapi dia sekarang sedang menuju ke sana.” Fache tersentak, tak percaya. “Tidak bisa! Aku sudah menegaskan…”

Untuk sesaat Langdon mengira bahwa Bezu Fache terkena stroke. Kalimatnya terputus ketika gerahamnya berhenti bergerak dan matanya terbelalak. Tatapan berapi-apinya tampak terpaku pada sesuatu di belakang Langdon. Sebelum Langdon dapat memutar tubuhnya untuk melihatnya, dia mendengar suara seorang perempuan bergema di belakangnya. “Excusez-moi,messieurs.” Langdon melihat seorang perempuan muda berjalan mendekat. Dia melangkah di galeri itu dengan ayunan panjang, mengalir gayanya sungguh tak terlupakan. Berbusana menarik dan tampak santai, dalam sweter Irlandia sepanjang lutut, dia berusia sekitar tiga puluhan. Rambut merah kecoklatannya yang lebat jatuh begitu saja di atas bahunya, membingkai wajahnya yang hangat. Tak seperti perempuan berambut pirang yang suka berpura-pura yang menghiasi dinding asrama Harvard, perempuan ini sehat dengan kecantikan yang tak perlu riasan dan kemurniannya memancarkan rasa percaya diri yang memesona.

Langdon terkejut karena perempuan itu langsung berjalan kearahnya dan mengulurkan tangannya dengan sopan.“Monsieur Langdon, saya Agen Neveu dari Departemen Kriptologi DCPJ.” Kata-katanya meliuk indah di dalam aksen campuran Anglo— Franconya. “Senang berkenalan dengan Anda.”

Langdon menjabat tangan lembut itu dan sadar bahwa dia terpaku sejenak pada tatapan kuat perempuan itu. Matanya berwarna hijau buah zaitun—tajam dan bening. Fache menarik napas kemurkaan, jelas bersiap untuk marah. “Kapten,” ujar Sophie, sambil berpaling cepat dan membuat Fache

terkesiap, “maafkan gangguan ini, tetapi—” “Cen’estpaslemoment!” sembur Fache. “Saya mencoba menelepon Anda,” lanjut Sophie dalam bahasa Inggris, untuk menghormati Langdon. “Tetapi handphone Anda dimatikan.” “Aku mematikannya karena ada alasan,” Fache mendesis. “Aku sedang berbicara dengan Pak Langdon.” “Saya sudah memecahkan kode angka itu,” ujar Sophie datar. Jantung Langdon berdebar semakin cepat karena kegirangan. Dia memecahkan kode itu? Fache tampak tak yakin bagaimana menanggapinya. “Sebelum saya menjelaskan,” kata Sophie, “saya punya pesan penting untuk Pak Langdon.” Tarikan wajah Fache berubah menjadi perhatian. “Untuk Pak Langdon?” Sophie mengangguk, kembali berpaling ke arah Langdon. “Anda harus menghubungi Kedutaan Besar Amerika Serikat, Pak. Mereka mempunyai pesan untuk Anda dari Amerika Serikat.”

Langdon terkejut. Kegirangannya tentang kode itu tergantikan dengan riak perhatian tiba-tiba. Sebuah pesan dari Amerika Serikat? Dia mencoba membayangkan siapa yang berusaha menghubunginya. Hanya sedikit dari temannya yang tahu dia ada di Paris.

Geraham Fache yang lebar mengetat karena berita itu. “Kedutaan Besar AS?” tanyanya, terdengar curiga. “Bagaimana mereka tahu Pak Langdon ada disini?” Sophie menggerakkan bahunya. “Tampaknya mereka menelepon hotel Pak Langdon, dan penerima tamu mengatakan bahwa Pak Langdon dijemput oleh petugas DCPJ.”

Fache tampak bingung. “Dan Kedutaan Besar menghubungi Kriptografi DCPJ?”

‘Tidak, Pak,” kata Sophie, suaranya tegas. “Ketika saya menelepon operator telepon DCPJ untuk menghubungi Anda, mereka mengatakan bahwa mereka punya pesan untuk Pak Langdon dan meminta saya untuk menyampaikannya jika saya berjumpa dengan kalian.”

Alis Fache berkerut, tampak bingung. Dia membuka mulutnya untuk berbicara, namun Sophie telah beralih ke Langdon lagi.

“Pak Langdon,” dia melaporkan sambil menarik secarik kertas kecil dari sakunya, “ini nomor telepon pelayanan pesan dari Kedutaan Besar Anda. Mereka ingin Anda sesegera mungkin menelepon.” Dia memberikan kertas tersebut dengan tatapan tajam. “Sementara saya menjelaskan tentang kode itu kepada Kapten Fache, Anda harus menelepon.”

Langdon mempelajari kertas itu. Tertera nomor telepon Paris dan nomor ekstensi. “Terima kasih,” katanya, sekarang dia merasa khawatir. “Di mana aku bisa menelepon?”

Sophie mulai mengeluarkan handphone dari saku sweternya, tetapi Fache mengibaskan tangannyá kepada Sophie. Sekarang Fache tampak seperti gunung Vesuvius yang siap meletus. Tanpa mengalihkan tatapan dari Sophie, dia mengeluarkan handphone-nya dan memberikannya kepada Langdon. “ini aman, Pak Langdon. Pakailah.”

Langdon merasa bingung dengan kemarahan Fache pada perempuan muda itu. Dengan merasa tak enak, dia menenima hand-phone sang kapten. Fache langsung menarik Sophie beberapa langkah menjauh dan mulai memarahinya dengan berbisik-bisik. Langdon merasa semakin tak menyukai kapten itu, dan menyingkir dari pertengkaran aneh itu untuk kemudian segera menyalakan handphone. Sambil melihat kertas yang diberikán Sophie, Langdon memutar nomor tersebut. Sambungan itu mulai berdering. Dering pertama … dering kedua … dering ketiga. Akhirnya tersambung. Langdon mengira akan mendengar suana operator Kedutaan Besar, namun tennyata hanya suara dari sebuah mesin penjawab. Anehnya, suara itu terdengar tak asing. Itu suara Sophie Neveu.

“Bonjour, vous étes bien chez Sophie Neveu,” kata suara perempuan itu. “Jesuisab sent pour1e moment, mais…” Dengan bingung, Langdon beralih ke Sophie lagi. “Maaf, Nona Neveu? Saya kira Anda telah memberikan—” “Tidak, itu memang nomornya,” sela Sophie cepat, seolah sudah mengira Langdon akan bingung. “Kedutaan Besar punya sistem pesan otomatis. Anda harus memutar kode akses untuk mendengarkan pesan Anda.” Langdon menatap. “Tetapi—” “Tiga nomor kode pada kertas yang saya berikan pada Anda itu” Langdon membuka mulutnya untuk menjelaskan kesalahan yang aneh itu, namun Sophie mendelik padanya sekejap. Mata hijaunya mengirimkan pesan yang sangat jelas. Jangan bertanya. Lakukan saja. Dengan bimbang, Langdon memutar nomor ekstensi yang tertera pada kertas itu. 454. Pesan suara Sophie langsung terputus, dan Landon mendengar suara elektronik dalam bahasa Prancis. “Anda punya satu pesan baru.” Tampaknya 454 adalah kode akses Sophie untuk mendengarkan pesan ketika dia tidak di rumah. Aku mendengarkan pesan milik perempuan itu? Langdon dapat mendengar suara pita yang sekarang diputar balik. Akhirnya berhenti dan mesin itu tersambung. Langdon mendengarkan pesan itu. Lagi, pesan itu dalam suara Sophie.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.