Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Marie menguap letih. “Pak Langdon, aku akan mengaku. Aku tidak pernah secara resmi mengetahui letak Grail sekarang. Tetapi, tentu saja, aku dulu menikah dengan seorang yang sangat berpengaruh … dan naluri perempuanku kuat.” Langdon mau bicara, tetapi Marie melanjutkan. “Aku ikut prihatin, karena setelah kerja kerasmu, kau akan meninggalkan Rosslyn tanpa jawaban yang meyakinkan. Namun, aku yakin, kau akhirnya akan menemukan apa yang kaucari. Suatu hari kelak, ia akan menyingsing di hadapanmu.” Marie tersenyum. “Dan ketika itu terjadi, aku percaya bahwa kau, di antara banyak orang, dapat menyimpan rahasia.”

Ada suara orang datang di ambang pintu. “Kalian berdua menghilang,” kata Sophie sambil melangkah masuk.

“Aku baru mau pergi,” jawab neneknya, berjalan melewati Sophie di pintu. “Selamat malam, Putri.” Dia lalu mencium dahi Sophie. “Jangan sampai Pak Langdon kemalaman di sini.”

Langdon dan Sophie menatap Marie berjalan kembali ke rumahnya. Ketika Sophie menoleh pada Langdon, matanya bersinar penuh emosi. “Sama sekali tak kuduga kalau akhirnya begini.”

Aku juga merasa begitu, pikir Langdon. Langdon dapat melihat Sophie sangat gembira. Berita yang diterimanya malam ini telah mengubah segalanya dalam kehidupannya. “Kau tidak apa-apa? Ini luar biasa.”

Sophie tersenyum tenang. “Aku punya keluarga. Dari situ aku mau mulai. Siapa kita dan dari mana kita berasal akan memerlukan waktu.” Langdon tetap diam. “Kau mau tinggal bersama kami malam ini?” tanya Sophie. “Paling tidak untuk beberapa hari?” Langdon mendesah, tidak mau apa-apa lagi: “Kau memerlukan waktu

bersama keluargamu, Sophie. Aku akan kembali ke Paris besok pagi.” Sophie terlihat kecewa tetapi tampak mengerti bahwa itu memang yang harus dilakukan Langdon. Untuk beberapa saat, tidak seorang pun dari mereka berbicara. Akhirnya Sophie mengulurkan tangannya, meraih tangan Langdon, dan menariknya keluar kapel. Mereka berjalan ke arah gundukan kecil di tebing. Dari sini, pedesaan Skotlandia terbentang di depan mereka, berselimut sinar pucat rembulan yang bergeser melewati awan yang terkuak. Mereka berdiri, diam, saling berpegangan tangan, sama-sama berjuang melawan rasa letih yang memuncak.

Gemintang baru saja bermunculan, tetapi di timur, sebuah titik bersinar lebih terang dari yang lainnya. Langdon tersenyum ketika melihatnya. Itu Venus. Dewi kuno itu tersenyum ke bawah dengan sinarnya yang tetap dan sabar.

Malam semakin dingin. Angin sepoi-sepoi bergulung naik dari dataran rendah. Setelah sesaat, Langdan menatap Sophie. Mata Sophie tertutup, bibirnya tenang dengan senyum puas. Langdon dapat merasakan matanya sendiri semakin berat. Dengan Perlahan, Sophie membuka  matanya dan menoleh pada Langdon, dia mengusap tangan Sophie. Wajahnya cantik dalam sinar rembulan. “Sophie?” Dia tersenyum mengantuk pada Langdon. “Hai.”

Tak disangka, Langdon merasa sedih karena harus kembali ke Paris tanpa Sophie. “Aku mungkin sudah pergi sebelum kau bangun besok pagi.” Lalu dia terdiam, tenggorokannya tercekat. “Maaf aku tidak terlalu pandai—”

Sophie mengulurkan tangan lembutnya dan meletakkannya pada wajah Langdon. Kemudian, dia maju ke depan dan mencium pipi Langdon dengan lembut. “Kapan aku dapat bertemu lagi denganmu?”

Langdon terhuyung sesaat, tenggelam dalam tatapan mata hijau Sophie. “Kapan?” Dia terdiam, penasaran apakah Sophie tahu bahwa dia juga menanyakan hal yang sama. “Well, bulan depan aku akan memberi ceramah pada sebuah konferensi di Florence. Aku akan berada di sana selama satu minggu tanpa banyak pekerjaan.” “Apakah ini sebuah undangan?” “Kita akan hidup di Brunelleschi. Mereka memberiku sebuah kamar mewah”  Sophie tersenyum jenaka. “Kau terlalu cepat menyimpulkan, Pak Langdon.”

Langdon menyeringai mendengar nada kata-kata Sophie. “Maksudku—” “Tak ada yang lebih kusukai daripada bertemu denganmu di Florence, Robert. Tetapi dengan satu syarat.” Nadanya serius. “Tidak ada museum, tidak ada gereja, tidak ada makam, tidak ada seni, tidak ada barang peninggalan.” “Di Florence? Selama satu minggu? Tidak ada lagi yang dikerjakan.” Sophie mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencium Langdon lagi, sekarang pada …. Lembut pada awalnya, tapi kemudian …. Ketika Sophie menarik diri, matanya penuh janji. “Baik,” kata Langdon akhirnya. “Ini sebuah kencan.”

EPILOG

ROBERT LANGDON terbangun dengan terkejut. Dia telah bermimpi. Mantel mandinya di sisi tempat tidurnya bermonogram HOTEL RITZ PARIS. Dia melihat lampu redup menyelinap dari balik tirai. Ini sore atau fajar?

Tubuh Langdon terasa hangat dan sangat puas. Dia telah tidur dengan lebih baik sejak dua hari yang lalu. Sambil duduk perlahan di atas pembaringannya, sekarang dia sadar apa yang telah membangunkannya … pikiran yang paling aneh. Selama berhari-hari dia telah berusaha memilah informasi yang datang bertubi-tubi, tetapi sekarang Langdon merasa yakin akan sesuatu yang tak pernah dia perhitungkan sebelumnya. Mungkinkah itu? Dia tetap tak bergerak untuk waktu lama. Lalu dia bergerak turun, kemudian berjalan ke kamar mandi pualam. Langdon melangkahkan kakinya memasuki bilik, membiarkan cucuran air yang deras memijat punggungnya. Namun, pikiran itu masih mengganggunya. Tidak mungkin. Dua puluh menit kemudian, Langdon keluar dari Hotel Ritz memasuki Place Vendôme. Malam turun. Tidur berhari-hari telah membuatnya agak kacau … namun pikirannya terasa encer, anehnya. Dia telah bertekad akan berhenti di lobi hotel untuk minum kopi susu supaya pikirannya menjadi jernih, namun ternyata kakinya langsung membawanya ke pintu depan dan menyatu dengan malam Paris.

Berjalan ke arah timur ke Rue des Petits Champs, Langdon merasa tambah bersemangat. Lalu dia berbelok ke selatan memasuki Rue Richelieu. Di sana udara terasa semerbak oleh aroma melati dari taman-tamàn di Palais Royal.

Dia terus berjalan ke arah utara hingga dia melihat apa yang dicarinya— gang beratap yang megah dan terkenal itu—sebuah pualam hitam berkilap yang luas. Masuk ke dalamnya, Langdon mengamati permukaan di bawah kakinya. Dalam beberapa detik, dia menemukan apa yang dia tahu memang ada di sana—beberapa medali perunggu yang ditanam di lantai, disusun menjadi garis lurus sempurna. Setiap cakram berdiameter lima inci dan diembos dengan huruf N dan S. Nord. Sud. Utara. Selatan Langdon harus berbelok ke selatan, membiarkan matanya mengikuti garis yang tertera yang terbentuk dari deretan medali-medali tersebut. Dia lalu bergerak lagi, mengikuti jalan itu, sambil mengamati tepian jalan. Ketika dia memotong ke sudut ComedyFrançais, ada medali perunggu lain lagi yang dilangkahinya. Ya!

Langdon telah tahu sejak beberapa tahun yang lalu, jalan-jalan di Paris dihiasi 135 penanda dari perunggu ini, yang ditanam di tepi-tepi jalan, halaman-halaman bertembok, dan jalan-jalan, pada poros utara-selatan kota itu. Dia pernah mengikuti garis itu dari Sacré-Coeur, menyeberangi Sungai Seine, dan akhirnya ke Observatorium Paris kuno. Di sana dia menemukan sesuatu yang penting dari jalan suci itu.

Meridian utama bumi yang asli. Bujur nol pertama di dunia. Garis Mawar kuno Paris.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.