Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Sepanjang malam ini, Langdon telah menduga bahwa nenek Sophie berhubungan erat dengan kegiatan Biarawan. Lagi pula, Biarawan selalu punya anggota perempuan. Empat dari mahaguru adalah perempuan. Sénéchaux biasanya memang lelaki—para penjaga—namun perempuan menduduki status yang jauh lebih terhormat di dalam Biarawan dan dapat naik ke posisi tertinggi dari tingkatan mana pun.

Langdon ingat pada Leigh Teabing dan Biara Westminster. Langdon merasa kejadian itu seperti sudah lama sekali. “Apakah Gereja memaksa suamimu untuk tidak membuka dokumen-dokumen Sangreal pada Hari Akhir?”

“Ya ampun, tidak. Hari Akhir adalah legenda orang-orang yang berpikiran paranoid. Dalam doktrin Biarawan, tidak ada hari tertentu yang mengharuskan dibukanya Grail. Kenyataannya, Biarawan selalu menjaga sehingga Grailtidak akanpernah diungkap.” “Tidak akan pernah?” “Misterinya dan keanehan itulah yang bermanfaat bagi jiwa kita, bukan Grail itu sendiri. Keindahan Grail terdapat pada kehalusannya.” Marie Chauval menatap ke kapel Rosslyn sekarang. “Bagi beberapa orang, Grail adalah cawan yang akan memberikan kehidupan abadi bagi mereka. Bagi yang lainnya, itu merupakan pencarian dokumen-dokumen yang hilang dan sejarah rahasia. Dan bagi kebanyakan orang, aku menduga Holy Grail hanya merupakan gagasan mulia … harta yang megah dan tak dapat diraih yang memberikan inspirasi bagi kita walau di dunia yang penuh kekacauan ini.”

“Tetapi jika dokumen-dokumen Sangreal tetap tersembunyi, kisah tentang Maria Magdalena akan hilang selamanya,” kata Langdon.

“Betulkah? Lihat di sekitarmu. Kisahnya diceritakan melalui seni, musik, dan buku-buku. Makin banyak setiap hari. Pendulum berayun. Kita mulai merasakan bahaya sejarah kita … dan jalan kita yang destruktif. Kita mulai merasakan perlunya memperbaiki perempuan suci.” Dia terdiam. “Kau tadi mengatakan sedang menulis naskah tentang simbol-simbol perempuan suci, bukan?” “Betul.” Marie tersenyum. “Selesaikanlah, Pak Langdon. Nyanyikan lagu Maria Magdalena. Dunia memerlukan troubadour modern.” Langdon terdiam, merasakan beban dari pesan perempuan tua itu. Di seberang area terbuka, bulan baru muncul di atas. garis pepohonan. Sambil mengalihkan tatapannya pada Rosslyn, Langdon merasakan gelitik kekanakannya untuk tahu rahasia perempuan itu. Jangan bertanya, katanya pada diri sendiri. Ini bukan waktu yang tepat. Dia menatap kertas papirus dalam tangan Marie, kemudian kembali ke Rosslyn.

“Tanyakan saja, Pak Langdon,” kata Marie, tampak senang. “Kau berhak atas kebenaran itu.” Langdon merasa malu. “Kau ingin tahu apakah Grail ada di Rosslyn?” “Kau dapat memberi tahu aku?” Marie mendesah, pura-pura jengkel. membiarkan Grail berisitirahat?” Lalu “Mengapa orang tidak dapat Marie tertawa, merasa senang menggoda Langdon. “Mengapa kau merasa dia ada di sini?”.

Langdon menunjuk papirus pada tangan Marie. “Puisi suamimu menyebut Rosslyn secara khusus, walau juga menyebutkan bahwa sebuah mata pedang dan cawan menjaga Grail. Aku tidak melihat adanya simbol mata pedang dan cawan di sana.”

“Mata pedang dan cawan?” tanya Marie. “Seperti apa persisnya simbol itu?”

Langdon merasa Marie sedang bercanda dengannya, tetapi Langdon meladeninya luga. Dia mendeskripsikan simbol-simbol itu dengan cepat.

Sebuah kenangan samar-samar tampak muncul pada wajah Marie. “Ah, ya, tentu saja. Mata pedang mewakili segala yang maskulin. Aku yakin bentuknya seperti ini, bukan?” Dengan menggunakan jari telunjuknya, Marie menggoreskan sebuah bentuk pada telapak tangannya.

“Ya,” kata Langdon. Marie baru saja menggambarkan bentuk “tertutup” pedang yang jarang dikenali, walau Langdon pernah melihat simbol itu digambarkan dengan bentuk terbuka juga.

“Dan kebalikannya,” lanjut Marie, lalu menggambarkan lagi di telapak tangannya, “adalah cawan, yang mewakili perempuan.”

“Tepat,” kata Langdon. “Dan tadi kau bilang bahwa dari simbol yang ada di Kapel Rosslyn, tidak ada bentuk seperti ini?” “Aku tidak melihatnya.” “Dan jika aku memperlihatkannya padamu, kau akan tidur?” Sebelum Langdon dapat menjawabnya, Marie Chauvel sudah melangkah keluar beranda rumahnya menuju ke kapel. Langdon segera bergegas menyusulnya. Ketika memasuki gedung kuno itu, Marie menyalakan lampu dan menunjuk pada bagian tengah lantai sanktuari. “Itu dia, Pak Langdon. Mata pedang dan cawan itu.” Langdon menatap lantai batu yang lecet-lecet itu. Dia tidak melihat apa-apa. “Tidak ada apa-apa di sini ….“ Marie mendesah dan mulai menapaki garis jalan yang terkenal di atas lantai kapel, jalan yang sama yang dilihat Langdon ketika para turis menapakinya tadi. Ketika matanya akhirnya melihat simbol raksasa itu, dia masih saja merasa bingung. “Tetapi itu adalah Bintang Dav—” Langdon tiba-tiba terdiam, bungkam kagum ketika dia mulai mengerti.

Mata pedang dan cawan. Menyatu. Bintang David … penyatuan sempurna dari lelaki dan perempuan … Segel Salomo … menandai Ruang Mahakudus, tempit lelaki dan perempuan yang bersifat ketuhanan—Yahweh dan Shekinah—diperkirakan tinggal.

Langdon memerlukan satu menit untuk menemukan kata-katanya. “Puisi itu menunjuk ke Rosslyn di sini. Lengkap. Sempurna.” Marie tersenyum. “Rupanya begitu.” Implikasinya menakutkan bagi Langdon. “Jadi, Holy Grail berada dalam ruang bawah tanah di bawah kita?” Marie tertawa. “Hanya dalam semangat. Satu dari tugas Biarawan yang paling kuno adalah mengembalikan Grail ke rumahnya di Prancis, tempat dia dapat beristirahat selamanya. Selama berabad-abad, demi keselamatannya, Grail telah diseret-seret melintasi berbagai daerah pedalaman. Sangat tidak terhormat. Tugas Jacques ketika dia menjadi mahaguru adalah memulihkan kehormatan Grail dengan cara mengembalikannya ke Prancis dan membangun tempat istirahat yang sesuai untuk seorang ratu.” “Dan dia berhasil?” Sekarang wajah Marie menjadi serius. “Pak Langdon, mengingat apa yang telah kaulakukan malam ini, dan kedudukanku sebagai kurator Perserikatan Rosslyn, aku dapat mengatakan dengan pasti bahwa Grail tidak ada lagi di sini.”

Langdon memutuskan untuk mendesak. “Tetapi batu kunci seharusnya menunjukkan di mana Holy Grail disembunyikan sekarang. Mengapa puisi itu menunjuk ke Rosslyn?”

“Mungkin kau salah membaca artinya. Ingat, Grail dapat memperdayakan. Seperi juga mendiang suamiku.”

“Tetapi seberapa jelas lagi dia dapat mengatakannya?” gugat Langdon. “Kita sekarang sedang berdiri di atas sebuah ruang bawah tanah yang ditandai oleh simbol mata pedang dan cawan, di bawah langit-langit penuh bintang, dikelilingi oleh seni ciptaan para Master Mason. Semuanya mengacu ke Rosslyn.”

“Baiklah, biarkan aku melihat puisi misterius itu lagi.” Marie membuka gulungan kertas papirus itu dan membaca puisi itu keras-keras dengan nada yang jelas.

Holy Grail menanti dibawah Roslin kuno. Mata pedang dan cawan berjaga dimuka gerbang-Nya. Berhiaskan adikarya para seniman ulung, Diamembujur. Dia bersemayam dibawah angkasa penuh bintang.

Ketika Marie selesai, dia terdiam beberapa detik, hingga akhirnya sebuah senyuman pemahaman terkembang pada bibirnya. “Ah, Jacques.” Langdon menatapnya penuh harap. “Kaumengerti ini?” “Seperti yang telah kaulihat pada lantai kapel, Pak Langdon, ada banyak cara untuk melihat hal-hal sederhana.”

Langdon mulai mengerti. Segalanya tentang Jacques Saunière tampak memiliki arti ganda, namun Langdon tidak dapat melihat lebih jauh lagi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.