Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Dia lalu mendorong pintu itu, keluar, mengulurkan tangan lembutnya, dan memeluk Sophie yang sangat terkejut. “Oh, sayangku …!“

Walau Sophie tidak mengenalinya, dia tahu siapa perempuan itu. Dia mencoba berbicara, tetapi bahkan bernapas pun dia tak mampu. “Sophie,” perempuan itu terisak, lalu mencium dahi Sophie. Kata-kata Sophie keluar sebagai bisikan yang tersendat. “Tetapi …Grand

père mengatakan, kau ….“ “Aku tahu.” Perempuan itu meletakkan tangan lembutnya pada bahu Sophie dan menatapnya dengan tatapan ramah. “Kakekmu dan aku telah dipaksa untuk mengatakan banyak hal. Kami melakukan apa yang kami pikir benar. Aku sangat menyesal. Itu hanya untuk keamananmu, Putri.”

Sophie mendengar kata terakhir perempuan itu, lalu dia langsung berpikir tentang kakeknya, yang telah selalu memanggilnya putri selama bertahuntahun. Suara kakeknya sekarang seperti menggema dalam batu-batu kuno Rosslyn, menembus tanah lalu bergetar dalam lubang yang tak dikenal di bawah.

Perempuan itu melingkarkan lengannya pada Sophie. Air matanya bercucur lebih deras. “Kakekmu sangat ingin mengatakan segalanya kepadamu, tetapi urusan antara kau dan kakekmu menjadi sulit. Dia mencoba dengan keras. Ada banyak hal yang perlu dijelaskan. Sangat banyak.” Dia mencium dahi Sophie sekali lagi, kemudian berbisik pada telinganya. “Tidak ada lagi rahasia, Putri. Sudah waktunya kau mengetahui yang sebenarnya tentang keluarga kita.”

Sophie dan neneknya sedang duduk di anak tangga di beranda sambil berpelukan dan menangis ketika pemandu muda itu bengegas melintasi halaman rumput. Matanya bersinar penuh harap dan tak percaya. “Sophie?” Sambil berurai air mata, Sophie mengangguk dan berdiri. Dia tidak mengenali wajah pemuda itu, tetapi ketika mereka saling berpelukan, dia dapat merasakan kekuatan dari aliran darah yang mengaliri nadi pria itu … darah yang sekarang Sophie tahu mereka miliki bersama. Ketika Langdon berjalan melintasi halaman dan bergabung hersama mereka, Sophie tak dapat membayangkan bahwa baru kemarin dia merasa begitu sendirian di dunia. Dan sekarang, di tempat asing ini, dengan ditemani oleh tiga orang yang hampir tak dikenalnya, dia merasa nyaman seperti di rumah.

 

105

MALAM TELAH turun menyelimuti Rosslyn.

Robert Langdon berdiri sendirian di beranda rumah batu itu, menikmati suara tawa dari pertemuan kembali yang mengalir melalui pintu berkasa di belakangnya. Mug berisi kopi Brazil yang keras dalam tangannya membuat keletihannya yang semakin memuncak itu sedikit tertangguhkan, namun dia tahu penangguhan itu hanya sesaat. “Kau diam-diam keluar,” suara di belakangnya terdengar. Langdon menoleh. Nenek Sophie muncul. Rambut peraknya bercahaya di kegelapan malam. Selama dua puluh tahun terakhir, nama nenek Sophie adalah Marie Chauvel.

Langdon tersenyum letih. “Aku ingin memberi keluargamu waktu untuk bersama-sama.” Lewat jendela, Langdon dapat melihat Sophie sedang berbincang dengan adiknya.

Marie mendekat dan berdiri di samping Langdon. “Pak Langdon, ketika aku pertama kali mendengar kematian Jacques, aku sangat ketakutan akan keselamatan Sophie. Saat melihatnya berdiri di ambang pintu tadi adalah saat paling lega sepanjang hidupku. Aku sangat berterima kasih padamu.”

Langdon tidak tahu bagaimana menanggapinya. Walau dia telah memberi Sophie dan neneknya kesempatan untuk berbicara berdua saja, Marie memintanya untuk masuk dan ikut mendengarkan juga. Suamiku betul-betul mempercayaimu,PakLangdon,begitu.juga aku.

Berdiri di sebelah Sophie, Langdon dengan diam dan heran mendengarkan Marie bercerita tentang mendiang orang tua Sophie. Luar biasa, ternyata keduanya berasal dari keluarga Merovingian—keturunan langsung Maria Magdalena dan Yesus Kristus. Orang tua Sophie dan nenek moyangnnya, demi perlindungan, telah mengganti nama keluarga Plantard dan Saint-Clair menjadi nama lainnya. Anak-anak mereka merupakan darah biru yang paling murni yang hidup, dan karena itu mereka dijaga dengan sangat hati-hati oleh Biarawan. Ketika dua orang tua Sophie terbunuh dalam kecelakaan mobil yang akibatnya tak dapat dipastikan itu, Biarawan mengira identitas keturunan bangsawan ini telah diketahui.

“Kakekmu dan aku,” Marie menjelaskan dengan suara tersendat karena kesedihan, “harus menerima telepon. membuat keputusan yang menyedihkan begitu kami Mobil orang tua kalian ditemukan di sungai.” Marie mengusap air matanya. “Semuanya, kami berenam—termasuk kalian, dua cucu kami—seharusnya malam itu pergi bersama-sama dalam mobil itu. Untunglah kami mengubah rencana ketika akan berangkat, dan kedua orang tua kalian saja yang pergi. Waktu mendengar kecelakaan itu, Jacques dan aku tidak punya jalan untuk tahu apa sesungguhnya yang terjadi … atau apakah ini betulbetul sebuah kecelakaan.” Marie menatap Sophie. “Kami tahu, kami harus melindungi cucu-cucu kami, dan kami melakukan apa yang kami pikir terbaik. Jacques melaporkan kepada polisi bahwa adikmu dan aku juga ada di-mobil itu … dan jenazah kami mungkin terbawa arus. Kemudian adikmu dan aku hidup di tempat terpencil, bersembunyi bersama Biarawan. Jacques, karena menjadi orang penting, tidak dapat menghilang begitu saja. Jadi, sewajarnyalah jika Sophie, sebagai cucu tertua, tinggal di Paris, dididik dan dibesarkan oleh Jacques, dekat dengan jantung dan perlindungan Biarawan.” Suara Marie menjadi bisikan. “Memisahkan keluarga merupakan hal terberat yang harüs kami lakukan. Jacques dan aku bertemu sangat jarang, dan selalu di tempat yang sangat rahasia … di bawah perlindungan Biarawan. Ada upacaraupacara tertentu yang selalu dihadiri anggota persaudaraan itu dengan setia.”

Langdon merasa cerita itu makin dalam, namun dia juga merasa tidak berhak mendengarnya. Maka, dia melangkah keluar. Sekarang, sambil menatap menara kapel Rosslyn, Langdon masih belum dapat membebaskan diri dari misteri Rosslyn yang belum terungkap. Apakah Grail memang benar ada di Rosslyn? Dan jika begitu, di mana mata pedang dan cawan yang disebutkan Saunière dalam puisinya?”

“Aku akan membawanya,” kata Marie sambil menunjuk ke tangan Langdon.

“Oh, terima kasih,” kata Langdon sambil menyodorkan cangkir kopinya yang sudah kosong. Marie menatapnya. “Maksudku, yang di tangan satu lagi, Pak Langdon.” Langdon melihat ke bawah dan menyadari bahwa dia sedang memegang lembaran papirus Saunière. Dia telah mengambilnya dari dalam cryptex itu sekali lagi dengan harapan akan melihat sesuatu yang tak dilihatnya tadi. “Tentu saja, maaf.”

Marie tampak senang ketika dia mengambil gulungan kertas itu. “Aku mengenal seorang lelaki di bank di Paris yang mungkin sangat berhasrat melihat kembalinya kotak kayu mawar ini. André Vernet adalah sahabat Jacques, dan Jacques sangat mempercayainya. André akan melakukan apa saja untuk menghormati permintaan Jacques menjaga kotak ini.” Termasuk menembakku, kenang Langdon, seraya memutuskan untuk tidak mengatakan bahwa mungkin saja dia telah mematahkan hidung pria malang itu. Berpikir tentang Paris, Langdon teringat pada tiga sénéchaux yang terbunuh kemarin malam. “Dan bagaimana dengan Biarawan? Apa nasibnya sekarang?”

“Roda itu sudah berputar lagi, Pak Langdon. Perkumpulan itu sudah bertahan selama berabad-abad, dan akan tetap bertahan kali ini. Selalu ada yang menunggu untuk menggantikan dan membangun kembali.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.