Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Saat itu Sophie masih kecil … kira-kira satu tahun setelah keluarganya meninggal. Kakeknya membawanya ke Skotlandia pada saat liburan pendek. Mereka mengunjungi Kapel Rosslyn sebelum kembali ke Paris. Saat itu sudah sore, dan kapel sudah tutup. Tetapi mereka masih berada di dalam.

“Kita bisa pulang sekarang, Grand-père?” Sophie memohon karena merasa letih.

“Segera, sayang, sebentar lagi.” Suara kakeknya terdengar sedih. “Masih ada satu hal yang harus kukerjakan di sini. Bagaimana jika kau menunggu di mobil?” “Kau akan melakukan pekerjaan orang dewasa lagi?” Kakeknya mengangguk. “Aku akan cepat. Aku berjanji.” “Aku boleh menebak kode ruang beratap kubah itu lagi? Soalnya asyik.” “Aku tidak tahu. Aku harus keluar. Kau tidak takut di sini sendirian?” “Tentu saja tidak!” katanya dengan gusar. “Ini belum gelap!” Kakeknya tersenyum. “Baiklah jika begitu.” Lalu Saunière mengantarnya ke ruang yang besar itu yang telah diperlihatkannya sebelumnya.

Sophie langsung menjatuhkan diri di atas lantai batu, lalu membaringkan tubuhnya dan menatap lekukan potongan teka-teki di atasnya. “Aku akan memecahkan kode ini sebelum kau kembali!”

“Kalau begitu, kita berlomba.” Saunière membungkuk dan mengecup dahi cucunya, lalu berjalan ke arah pintu di dekatnya. “Aku di luar. Aku akan membiarkan pintu terbuka. Jika kau membutuhkan Kemudian Saunière masuk ke sinar lembut malam. Sophie berbaring di atas lantai, menatap kode aku, panggil saja.”

Matanya terasa mengantuk. Setelah beberapa menit, simbol-simbol itu menjadi pudar, dan kemudian menghilang. Ketika Sophie terbangun, lantai itu terasa dingin. “Grand-père?” Tidak ada jawaban. Lalu Sophie berdiri dan membersihkan pakaiannya. Pintu keluar masih terbuka. Malam mulai menjadi lebih gelap. Dia berjalan keluar dan dapat melihat kakeknya berdiri di beranda rumah batu yang berada tepat di belakang gereja. Kakeknya sedang berbicara dengan seseorang yang hampir tidak terlihat di balik pintu berkasa. “Grand-pere?” Sophie memanggil. Kakeknya menoleh dan melambaikan tangannya, memberi isyarat padanya untuk menunggu sebentar lagi. mengucapkan kata-kata terakhirnya Kemudian, perlahan-lahan, kakeknya kepada orang di balik pintu itu dan melayangkan ciuman ke arah pintu berkasa. Kakeknya datang dengan mata penuh air mata. “Mengapa kau menangis, Grand-père?” Saunière mengangkatnya dan mendekapnya erat. “Oh, Sophie, tahun ini kau dan aku telah mengucapkan selamat tinggal kepada banyak orang. Sulit sekali.”

Sophie ingat pada kecelakaan itu, pada ucapan selamat tinggal kepada ibu, ayah, nenek, dan adik lelakinya yang masih bayi. “Kau tadi mengucapkan selamat tinggal kepada orang lain lagi?”

“Kepada seorang teman dekat yang sangat kucintai,” dia menjawab, suaranya berat karena penuh perasaan. “Dan aku takut tidak akan bertemu lagi dengannya untuk jangka waktu yang lama.” Berdiri di samping pemandu, Langdon telah mengamati dinding-dinding kapel dan mulai merasa menemui jalan buntu. Sophie telah berjalan pergi untuk melihat kode itu dan meninggalkan Langdon memegangi kotak kayu mawar, yang berisi peta Grail yang tampaknya tidak berguna lagi sekarang. Walau puisi Saunière dengan jelas menunjukkan Rosslyn, Langdon tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang setelah mereka tiba di sini. Puisi itu menyebut-nyebut “mata pedang dan cawan”, yang tak terlihat oleh Langdon di mana pun di kapel ini.

Holy Grail menanti dibawah Roslin kuno.

Mata pedang dan cawan berjaga dimuka gerbang-Nya.

Lagi, Langdon merasa masih ada beberapa segi dari misteri ini yang akan terbuka sendiri. “Aku benci mencampuri urusan orang lain,” kata pemandu itu, sambil menatap kotak kayu mawar di tangan Langdon. “Tetapi kotak itu … boleh aku tahu di mana kau mendapatkannya?” Langdon tertawa letih. “Ceritanya sangat panjang.” Lelaki muda itu ragu. Matanya kembali menatap kotak itu lagi. “Aneh. Nenekku juga memiliki sebuah kotak yang betul-betul sama—kotak perhiasan. Kayu mawarnya diplitur sama persis, ukiran mawarnya sama, bahkan kuncinya juga tampak sama.”

Langdon tahu, lelaki muda itu pasti salah lihat. Jika ada kotak yang hanya satu-satunya, itu adalah kotak ini—kotak yang dibuat sesuai pesanan untuk menyimpan batu kunci Biarawan. “Kedua kotak itu mungkin saja sama tetapi—”

Pintu samping tertutup dengan keras, membuat Langdon dan pemuda itu menoleh ke sana. Sophie telah keluar tanpa pamit dan sekarang berjalan ke lereng ke arah rumah batu di dekat gereja. Langdon menatapnya.Mau kemana dia? Sophie telah berlaku aneh sejak mereka memasuki gedung ini. Langdon menoleh kepada pemandu. “Kau tahu itu rumah apa?”

Pemuda itu mengangguk dan tampak bingung juga melihat Sophie berjalan ke sana. “Itu rumah pendeta kapel ini. Kurator kapel tinggal di sana. Dia juga ketua Perserikatan Rosslyn.” Dia terdiam sesaat. “Dan juga nenekku.” “Nenekmu mengetuai Perserikatan Rosslyn?” Pemuda itu mengangguk. “Aku tinggal bersama nenekku di rumah rektori itu sambil membantu merawat kapel dan memandu turis.” Dia menggerakkan bahunya. “Aku hidup di sini seumur hidupku. Nenekku membesarkan aku di rumah itu.”

Karena memikirkan Sophie, Langdon melintasi ruangan itu ke pintu kapel lalu memanggilnya. Sesuatu yang baru saja dikatakan pemuda itu memberi arti tertentu. Nenekku membesarkanaku. Langdon melihat Sophie di tebing, kemudian menatap kotak kayu mawar dalam tangannya. Tidak mungkin. Langdon menoleh pada pemuda itu. “Kau tadi bilang nenekmu memiliki sebuah kotak yang sama dengan ini?” “Hampir identik.” “Di mana dia mendapatkannya?” “Kakekku membuatkan untuknya. Dia meninggal ketika aku masih bayi, tetapi nenekku masih sering membicarakannya. Kata Nenek, Kakek seorang jenius dengan keterampilan tangannya. Dia membuat berbagai macam barang.”

Langdon melihat munculnya sebuah hubungan yang tak terbayangkan. “Kau katakan tadi nenekmu membesarkanmu. Maaf jika aku bertanya, apa yang terjadi dengan orang tuamu?”

Pemuda itu tampak terkejut. “Mereka meninggal ketika aku masih kecil.” Dia terdiam. “Pada hari yang sama dengan kakekku.” Jantung Langdon berdebar keras. “Dalam kecelakaan mobil?” Pemandu itu tersentak. Ada kebingungan dalam mata zaitunnya. “Ya, dalam kecelakaan mobil. Seluruh keluargaku meninggal hari itu. Aku kehilangan kakekku, kedua orang tuaku, dan ….“ Dia ragu-ragu sambil menatap lantai. “Kakak perempuanmu.” Lanjut Langdon.

Sophie berdiri di tebing. Rumah batu itu sama dengan yang diingatnya. Malam tiba, dan rumah itu memancarkan aura hangat dan mengundang. Harum roti berhembus melalui pintu berkasa yang terbuka, dan cahaya keemasan bersinar dari jendela ketika Sophie mendekat, dia dapat mendengar isak tangis lembut dari dalam.

Melalui pintu berkasa, Sophie melihat seorang perempuan tua di ruang masuk. Perempuan itu membelakangi pintu, tetapi Sophie dapat melihat dia menangis. Perempuan itu berambut keperakan yang panjang dan tebal, yang membangkitkan gumpalan kenangan yang tak terduga. Sophie secara tak sadar bergerak mendekat. Dia melangkah hingga ke tangga beranda. Perempuan itu sedang memegang sebuah foto-berbingkai seorang lelaki dan mengusapkan jemarinya pada wajah dalam foto itu dengan penuh kasih dan kesedihan. Sophie mengenal wajah dalam foto itu. Grand-père. Pastilah perempuan itu baru saja mendengar berita sedih tentang kematiannya kemarin malam. Sebuah papan berderit di bawah kaki Sophie, dan perempuan itu menoleh perlahan. Mata sedihnya bertemu dengan mata Sophie. Sophie ingin berlari, namun dia hanya berdiri terpaku. Tatapan perempuan itu kuat tak berkedip ketika dia meletakkan foto itu dan mendekati pintu berkasa. Waktu seperti berjalan sangat lambat ketika keduanya saling menatap melalui kasa tipis itu. Kemudian, seperti ombak lautan yang membesar, wajah perempuan itu berubah dari ketidakpastian … menjadi tidak percaya … berharap …. dan akhirnya, kegembiraan yang memuncak.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.