Baca Novel Online

The Da Vinci Code

“Saunière menggenggamnya ketika kami menemukannya,” ujar Fache sambil meninggalkan Langdon dan bergerak beberapa yard mendekati meja yang dapat dipindah-pindahkan, yang tertutup dengan peralatan investigasi, kabel-kabel, dan berbagai macam peralatan elektronik. “Seperti yang saya katakan kepada Anda,” ujarnya sambil mengobrak-abrik di sekitar meja itu, “kami tidak menyentuh apa pun. Anda sering melihat pena semacam itu?” Langdon berlutut untuk melihat mereknya. STYLO DE LUMIERE NOIRE. Dia melihat ke atas dengan terkejut. Pena sinar hitam atau watermark stylus merupakan sebuah pena berujung felt istimewa, pertama kali dirancang oleh museum-museum, para ahli restorasi lukisan, dan polisi bagian pemalsuan untuk memberikan tanda tak terlihat pada benda-benda. Spidol ini dapat dituliskan dengan tinta nonkorosif, tinta pijar berbahan dasar alkohol sehingga hanya dapat dilihat dalam sinar hitam. Kini petugas-petugas pemeliharaan museum membawa marker seperti ini pada hari-hari tugasnya untuk memberi tanda pada bingkai dan lukisan yang memerlukan restorasi.

Ketika Langdon berdiri, Fache berjalan ke lampu sorot dan mematikannya. Galeri itu tiba-tiba menjadi sangat gelap.

Langdon seperti buta sesaat, dan merasa tak yakin. Bayangan Fache muncul, disinari cahaya ungu terang.. Dia mendekat membawa lampu senter, yang menyelubunginya dengan sinar ungu.

“Mungkin Anda tahu,” ujar Fache, matanya bercahaya dalam sinar ungu, “polisi menggunakan penerangan cahaya hitam untuk mencari bercak darah pada tempat kejadian kriminal dan bukti-bukti forensik lainnya. Jadi Anda dapat membayangkan keterkejutan kami ….“ Dengan tiba-tiba, dia mengarahkan cahaya itu ke mayat Saunière.

Langdon melihat ke bawah dan terloncat ke belakang karena sangat terguncang.

Jantungnya berdebar cepat ketika dia menangkap sinar aneh yang sekarang berkilau di depannya di atas lantai parket. Goresan cakar ayam yang ternyata adalah tulisan tangan, dan merupakan pesan terakhir kurator itu, berkilauan ungu di samping mayatnya. Ketika Langdon menatap tulisan berkilauan itu, dia merasa kabut yang mengambang di sekitarnya menjadi lebih tebal. Langdon membaca pesan itu lagi dan menatap Fache. “Apa artinya ini?” Mata Fache bersinar putth.“Itu, Monsieur, adalah pertanyaan yang harus Anda jawab di sini.”

Tak jauh dari situ, di dalam kantor Saunière, Letnan Collet telah kembali ke Louvre dan mengutak-kutik seperangkat audio console di atas meja kurator yang besar sekali itu. Walau patung kesatria abad pertengahan yang seperti robot dan mengerikan itu seolah menatapnya dari sudut meja Saunière, Collet tampak nyaman saja. Dia mengatur headphone AKG-nya dan memeriksa input level pada perangkat keras sistem perekam itu. Semua sistem berfungsi. Mikrofon-mikrofon berfungsi sempurna, dan pengeras suaranya sejernih kristal. Lemomentdeverité, katanya dalam hati. Sambil tersenyum, dia memejamkan matanya dan bersiap menikmati sisa percakapan dari Galeri Agung yang sekarang direkam.

 

7

KEHIDUPAN SEDERHANA di dalam Gereja Saint Sulpice berada di lantai dua dalam gereja itu sendiri, di sebelah kiri balkon paduan suara. Suite dua kamar dengan lantai batu dan berperabotan minim telah menjadi rumah bagi Suster Sandrine Bieil selama lebih dari sepuluh tahun. Biara yang berada di dekat gereja merupakan tempat tinggal resminya, jika ada yang bertanyá, tetapi dia lebih senang dengan ketenangan di dalam gereja dan merasa nyaman di lantai atas dengan satu pembaringan, telepon, dan piring panas.

Sebagai conservative d’affair dari gereja tersebut, Suster Sandrine bertanggung jawab untuk mengawasi segala aspek nonreligus dari kegiatan gereja—perawatan umum gereja, menyewa tenaga bantuan dan pemandu, mengamankan gedung pada jam tutup, dan memesan pasokan seperti anggur komuni dan wafer. Malam ini, saat tidur di atas pembaringannya yang kecil, dia terbangun karena teleponnya. Dengan letih, dia mengangkat teleponnya. “Souer Sandrine, Eglise Saint-Suplice.” “Halo, Suster,” sapa seseorang dalam bahasa Prancis. Suster Sandrine duduk tegak. Jam berapa sekarang? Walau dia mengenali suara pimpinannya, dalam lima belas tahun ini dia tak pernah dibangunkan oleh suaranya. Abbé atau kepala biara wanita itu adalah seorang lelaki yang betul-betul saleh yang langsung pulang setelah misa.

“Aku minta maaf jika membangunkanmu, Suster,” kata pimpinannya itu, suaranya sendiri terdengar bergetar dan gugup. “Aku ingin minta tolong. Aku baru saja menerima telepon dari seorang uskup penting Amerika. Mungkin kau mengenalnya? Manuel Aringarosa?”

“Pimpinan Opus Dei?” Tentu saja aku mengenalnya. Siapa di lingkungan gereja yang tak mengenalnya? Prelatur konservatif Aringarosa telah berkembang semakin kuat dalam tahun-tahun terakhir ini. Rel kehormatan mereka melompat pada tahun 1982 ketika Paus Johanes Paulus II secara tak terduga mengangkat mereka menjadi “prelatur pribadi Paus”, yang secara resmi mendukung semua kegiatan mereka. Keadaan itu menjadi mencurigakan karena kenaikan Opus Dei terjadi bersamaan dengan kejadian sekte kaya itu mentransfer satu juta dolar ke Institut Vatikan untuk Kegiatan Religius— umumnya dikenal kebangkrutan yang sebagai Vatikan Bank—untuk melindunginya dari memalukan. Dalam manuvernya yang kedua, yang membuat orang mengangkat alis, Paus menempatkan pendiri Opus Dei di “jalur cepat” untuk menjadi orang suci. Seharusnya untuk dinobatkan menjadi Santo harus menunggu selama satu abad, namun yang ini dipercepat menjadi dua puluh tahun. Suster Sandrine tak bisa lain kecuali merasa bahwa keberadaan Opus Dei di Roma itu mencurigakan, namun tak ada yang dapat menentang Holy See.

“Uskup Aringarosa menelepon untuk meminta bantuanku,” abbé berkata kepada Sandrine, suaranya terdengar panik. “Salah satu anggotanya berada di Paris malam ini ….“

Ketika Suster Sandrine mendengar permintaan aneh itu, dia merasa bingung sekali. “Maaf, Anda mengatakan kunjungan salah satu anggota Opus Dei tak dapat ditunda hingga besok pagi?”

“Aku khawatir demikian. Pesawatnya berangkat sangat awal. Dia selalu memimpikan untuk melihat Saint-Sulpice.”

“Tetapi gereja ini jauh lebih menarik pada siang hari. Sinar matahari yang menerobos melalui oculus, bayangan yang terbagi-bagi pada gnomon, inilah yang membuat Saint-Sulpice unik”

“Suster, aku setuju, tetapi aku ingin menganggap ini sebagai permintaan pribadi, jika kau bisa membiarkannya masuk malam ini. Dia akan berada di sana pada pukul … mungkin pukul satu? Berarti dalam dua puluh menit ini.” Suster Sandrine mengerutkan alisnya. “Tentu saja. Dengan senang hati.” Abbé berterima kasih dan menutup teleponnya. Dengan kebingungan, Suster Sandrine masih tetap duduk di atas pembaringannya yang hangat, mencoba mengusir sisa-sisa tidurnya. Tubuh enam puluh tahunnya tidak dapat terjaga secepat dulu, walau telepon malam ini betul-betul membangunkan pikirannya. Opus Dei selalu membuatnya tak tenang. Di luar kesetiaan prelatur itu pada ritual rahasia pematian raga, pandangan Opes Dei pada perempuan tak terlalu baik. Suster Sandrine sangat terkejut mengetahui bahwa anggota perempuan dipaksa membersihkan tempat tinggal anggota lelaki tanpa dibayar sementara anggota-anggota lelaki melakukan misa; anggota perempuan tidur di atas pembaringan kayu keras, sementara anggota lelaki tidur di atas kasur jerami; dan anggota perempuan juga dipaksa melaksanakan ritus pematian raga tambahan … semua itu sebagai hukuman atas dosa asal. Tampaknya kesalahan Eva (Hawa) memakan buah apel tanpa sepengetahuannya telah menjadi hutang perempuan yang harus dibayar selamanya. Sedihnya, saat Gereja Katolik pada umumnya berangsurangsur bergerak ke arah kanan dengan menghargai hak kaum perempuan, Opus Dei berlaku sebaliknya. Walaupun demikian, Suster Sandrine harus melaksanakan perintah tadi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.