Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Aringarosa memasuki Perpustakaan Astronomi Gandolfo dengan kepala tegak terangkat tinggi, penuh harapan akan disambut hangat, ditepuk punggungnya oleh semua orang karena pekerjaannya yang sangat berhasil menyebarkan agama Katolik di Amerika. Tetapi hanya tiga orang yang hadir saat itu. Sekretaris Vatikan. Gemuk sekali. Berwajah masam. Dua petinggi Kardinal Italia. Berlagak suci. Puas diri. “Sekretaris?” kata Aringarosa, bingung. Pengawas urusan hukum yang gemuk itu menjabat tangan Aringarosa dan

menunjuk pada kursi di seberangnya. “Silakan, yang nyaman saja.” Aringarosa duduk. Dia merasakan ada yang tidak beres di sini. “Saya tidak pandai berbasa-basi, Uskup,” kata sekretaris itu, “jadi izinkan

saya untuk berterus terang tentang alasan kunjungan Anda ke sini.” “Silakan. Bicaralah dengan terbuka.” Aringarosa mengerling pada kedua kardinal, yang tampak menilai dirinya dengan tatapan seolah hanya mereka yang benar.

“Seperti yang telah Anda ketahui,” kata sekretaris itu, “Paus dan juga yang lainnya di Roma akhir-akhir ini telah prihatin akan perselisihan politis akibat praktek-praktek Opus Dei yang tambah kontroversial.”

Aringarosa tiba-tiba merasa merinding. Dia sudah sering mengalami hal seperti ini dengan paus baru yang sangat mengesalkan baginya, karena paus itu memiliki gagasan baru yang sangat menekankan perubahan liberal dalam Gereja.

“Saya ingin meyakinkan Anda,” sekretaris itu menambahkan dengan cepat, “bahwa Paus tidak akan mengubah cara Anda menjalankan gereja Anda.” Tentusajaakutidakberharapdemikian! “Jadi, untuk apa saya di sini?” Lelaki gemuk itu mendesah, “Uskup, saya tidak tahu bagaimana mengatakan ini dengan halus, jadi saya akan mengatakannya langsung saja. Dua hari yang lalu, Dewan Sekretariat telah mengambil suara bulat untuk mencabut dukungan Vatikan terhadap Opus Dei.” Aringarosa yakin dia telah salah dengar. “Maaf?” “Telah diputuskan begitu saja, enam bulan mulai hari ini, Opus Dei tidak lagi dianggap sebagai prelature dari Vatikan. Gerejamu akan berdiri sendiri. Keuskupan Suci akan dengan sendirinya memutuskan hubungan denganmu. Paus setuju dan kita sudah menulis surat resmi untuk itu.” “Tetapi … ini tidak mungkin!” “Sebaliknya, ini sangat mungkin. Dan penting. Paus sudah menjadi tidak nyaman karena cara-cara perekrutan kalian yang agresif dan praktek pematian jasmani.” Dia terdiam sejenak, lalu, “Juga perlakuan kalian terhadap perempuan. Terus terang, Opus Dei telah menjadi perkumpulan yang cenderung memalukan.”

Uskup Aringarosa terheran-heran. “Sebuah perkumpulan yang memalukan?” “Seharusnya kau tidak perlu heran hal ini akan terjadi.” “Opus Dei adalah satu-satunya organisasi Katolik yang anggotariya

semakin banyak! Kami sekarang memiliki lebih dari seribu seratus pendeta!” “Betul. Isu yang mengganggu kami semua.” Aringarosa berdiri dengan cepat. “Tanyakan kepada Paus, apakah Opus Dei juga memalukan pada tahun 1982 ketika kami membantu bank Vatikan!”

“Vatikan akan selalu berterima kasih karenanya,” kata sekretaris itu, nada suaranya tenang, “namun ada yang percaya bahwa kemurahan hati kalian pada tahun 1982 merupakan satu-satunya alasan kalian diberi status prelatur pada tempat pertama.” “Itu tidak benar!” Sindiran itu sangat menyinggung perasaan Aringarosa. “Apa pun masalahnya, kami merencanakan untuk berlaku adil. Kami sedang menyusun surat pemutusan dan di dalamnya termasuk pembayaran kembali uang itu. Pengembalian uang tersebut akan dibayarkan dengan mencicilnya sebanyak lima kali.”

“Kau menyuapku?” tanya Aringarosa. “Membayarku untuk tutup mulut? Opus Dei adalah satu-satunya perkumpulan yang memiliki akal sehat sekarang ini!”

Salah satu dari kardinal itu menatapnya. “Maaf, kau bilang akalsehat?” Aringarosa mencondongkan tubuhnya ke arah meja, mempertajam nada suaranya supaya jelas maksudnya. “Kau benar-benar bertanya-tanya mengapa pemeluk Katolik akhirnya meninggalkan Gereja? Lihatlah di sekelilingmu, Kardinal. Orang-orang telah kehilangan rasa hormat. Keyakinan yang kuat telah hilang. Doktrin agama telah menjadi meja prasmanan. Pantangan, pengakuan dosa, komuni, pembaptisan, misa—pilih yang kausuka—mereka dapat memilih kombinasi yang paling menyenangkan dan meninggalkan yang lainnya. Bimbingan spiritual seperti apa yang ditawarkan Gereja?”

“Hukum yang berusia tiga abad,” kardinal kedua berkata, “tidak dapat digunakan lagi oleh pengikut Kristus modern. Hukum-hukum tersebut tidak lagi berlaku dalam masyarakat sekarang.” “Tetapi hukum tersebut berlaku bagi Opus Dei!” “Uskup Aringarosa,” kata sekretaris itu, suaranya terdengar menyimpulkan. “Dengan rasa hormat pada hubungan organisasimu dengan paus sebelumnya, Paus memberikan waktu enam bulan bagi Opus Dei untuk melepaskan diri secara sukarela dari Vatikan. Aku sarankan kau menyatakan perbedaan pendapatmu dengan Keuskupan Suci dan menetapkan diri sebagai organisasi Kristen sendiri.”

“Aku menolak!” kata Aringarosa. “Dan aku akan mengatakan padanya secara pribadi!” “Aku kira Paus tidak mau berternu denganmu lagi.” Aringarosa berdiri. “Dia tidak akan berani meniadakan seorang prelatur pribadi yang dikukuhkan oleh paus terdahulu!” “Maaf” Mata sekretaris itu tidak berkedip. “Tuhan memberikan, dan Tuhan mengambil kembali.” Aringarosa meninggalkan Sekembalinya ke New York, pertemuan itu dengan bingung dan panik. Aringarosa menatap langit dengan kecewa selama berhari-hari, sangat sedih memikirkan masa depan Kristen.

Beberapa minggu kemudian, dia menerima telepon yang mengubah segalanya. Penelepon itu terdengar beraksen Prancis dan memperkenalkan dirinya sebagai Guru—sebuah gelar yang umum dalam kependetaan yang tinggi. Dia mengaku tahu tentang rencana Vatikan untuk menarik dukungannya pada Opus Dei.

Bagaimanadiabisatahuitu? Aringarosa bertanya-tanya. Sebelumnya, dia mengira bahwa hanya beberapa orang makelar kekuasaan saja yang tahu tentang rencana penarikan dukungan Vatikan itu. Tampaknya informasi itu telah bocor. Memang, jika menyangkut desas-desus, tidak ada dinding di dunia ini yang semudah-tembus dinding Vatikan City.

“Aku punya telinga di mana-mana, Uskup,” Guru berbisik, “dan dengan telinga-telinga itu aku telah mendapatkan pengetahuan tertentu. Dengan bantuanmu, aku dapat menyibak tempat tersembunyi benda-benda suci yang dapat memberikan kekuasaan yang sangat besar … cukup bertenaga untuk membuat Vatikan membungkuk di depanmu. Cukup sakti untuk menyelamatkan Iman.” Dia terdiam sejenak. “Tidak saja untuk Opus Dei. Tetapi untuk kita semua.”

Tuhan mengambil … dan Tuhan memberi. Aringarosa merasakan sinar harapan yang benderang. “Ceritakan rencanamu.”

Uskup Aringarosa tidak sadar ketika pintu-pintu Rumah Sakit St. Maria mendesis terbuka. Silas berjalan cepat memasuki gang masuk, agak mengigau karena letih. Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis minta tolong. Semua orang yang berada di ruang penerima pasien terkesiap terheran-heran karena melihat seorang lelaki setengah telanjang menggendong seorang pendeta yang berlumuran darah.

Dokter yang menolong Silas mengangkat uskup yang demam itu ke atas troli tampak muram ketika dia meraba nadi Aringarosa. “Dia kehilangan banyak darah. Aku tidak terlalu berharap.”

Mata Aringarosa berkedip. Dia sadar sesaat, dan matanya menemukan Silas. “Anakku ….“

Jiwa Silas bergemuruh dengan penyesalan dan kemarahan. “Bapa, jika aku harus mengorbankan jiwaku, aku akan menemukan orang yang menipu kita, dan aku akan membunuhnya.”

Aringarosa menggelengkan kepalanya, tampak sedih ketika para petugas rumah sakit bersiap untuk membawanya pergi. “Silas … jika kau belum belajar apa-apa dariku, … harap kau ingat ini.” Dia mengambil tangan Silas dan menggenggamnya erat. “Maaf adalah karunia Tuhan yang terbesar.” “Tetapi Bapa …“ Aringarosa menutup matanya. “Silas, kau harus berdoa.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.