Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Ke mana lagi aku akan berlari? Pikir Langdon. Komunitas sejarawan Grail kecil saja, dan Teabing dan aku punya hubungan pertemanan.

Sekarang Teabing tampak puas. “Ketika aku tahu bahwa Saunière meninggalkan pesan terakhir padamu, aku punya perkiraan bagus bahwa kau mempunyai informasi yang penting tentang Biarawan. Apakah itu batu kunci itu sendiri atau inforrnasi tentang di mana menemukannya, aku tidak yakin. Tetapi karena polisi mengejarmu, aku punya firasat, kau akan datang ke rumahku.” Langdon mendelik. “Dan jika kami tidak ke rumahmu?” “Aku berencana untuk mengulurkan tangan menolongmu. Entah bagaimana caranya, batu kunci harus datang ke Puri Villette. Kenyataan kau membawanya ke tanganku yang telah menunggunya hanya membuktikan bahwa tujuanku benar.” “Apa!” Langdon sangat terkejut. “Silas seharusnya masuk ke rumahku dan mencuri batu kunci darimu di Pun Villette—sehingga menghapusmu dari keikutsertaanmu dalam kasus ini tanpa menyakitimu, dan membebaskan aku dari segala kecurigaan yang merepotkan. memutuskan pencarianku. Namun, ketika aku melihat kerumitan kode Saunière, aku untuk melibatkan kalian berdua lebih lama lagi dalam Aku dapat menyuruh Silas untuk mencuri batu kunci itu kemudian, begitu aku sudah cukup tahu untuk melanjutkannya sendiri.”

“Gereja Kuil,” kata Sophie, suaranya terdengar gemetar karena pengkhianatan itu. Cahayafajarmulaimenyingsing, pikir Teabing. Gereja Kuil adalah tempat yang sempurna untuk mencuri batu kunci dari Robert dan Sophie. Sangkut pautnya yang nyata dengan puisi itu telah menjadikannya sebagai perangkap yang masuk akal. Perintah kepada Rémy sudah jelas, jangan ikut campur ketika Silas mengambil batu kunci itu. Celakanya, ancaman Langdon untuk menghancurkan batu kunci pada lantai kapel telah membuat panik Rémy. Seandainya Remi tidak memperlihatkan dirinya, pikir Teabing dengan sesal, sambil mengingat penculikan pura-pura terhadap dirinya. Rémy adalah satu-satunya penghubungku, dan dia memperlihatkan wajahnya!

Untungnya, Silas tetap tidak tahu identitas Teabing yang sesungguhnya dan dengan mudah ditipu oleh penculikannya di gereja itu, apalagi kemudian Silas melihat betapa Rémy mengikatnya di belakang limusin. Dengan kaca pemisah yang tertutup, Teabing dapat menelepon Silas yang duduk di bangku depan. Teabing menggunakan aksen Prancis Guru, dan memerintahkan Silas untuk langsung pergi ke Opus Dei. Lalu, sebuah pesan tak bernama kepada polisi menghapus Silas dari permainan ini. Satuujungkendurtelahdiikat. Satu ujung yang kendur lagi lebih sulit. Remy. Teabing berjuang untuk memutuskannya, tetapi pada akhirnya Rémy telah membuktikan bahwa dirinya tidak dapat dipercaya. Setiap pencarian Grail memintapengorbanan. Solusi terbersih telah tersedia di depan wajah Teabing dari bar minuman di limousinnya—sebuah botol, cognac, dan sekaleng kacang. Bubuk di dasar kaleng sudah lebih dari cukup untuk memicu alergi Rémy yang mematikan. Ketika Rémy memarkir limonya di Horse Guard Parade, Teabing merangkak ke luar dari belakang mobil, berjalan ke pintu sisi penumpang dan duduk di depan, di samping Rémy. Beberapa menit kemudian Teabing keluar dari mobil, masuk ke bagian beakang lagi, membersihkan bukti, dan akhirnya muncul lagi untuk melanjutkan babak terakhir dari misinya.

Biara Westminster tidak jauh dari situ. Dan walaupun penopang kaki, tongkat, dan senjata Teabing telah membunyikan pendeteksi metal, polisi sewaan di biara itu tidak dapat berbuat apa-apa. Apakah kita harus memintanya untuk melepaskan penopang kakinya dan menyuruhnya merangkak melalui pintu pendeteksi metal? Apakah kita harus menggeledah tubuhnyayangcacat? Teabing menawarkan solusi yang lebih mudah bagi para polisi yang kebingungan itu—sebuah kartu berembos sebagai tanda bahwa dia seorang kesatria kerajaan. Para polisi itu saling menginjak kaki temannya sambil mengantarkannya masuk.

Sekarang, sambil menatap Langdon dan Sophie yang kebingungan, Teabing menahan keinginan untuk menceritakan bagaimana dia telah dengan sangat pandai melibatkan mengakibatkan kehancuran Opus Dei dalam persekongkolan yang akan seluruh Gereja ini. Cerita itu harus ditunda. Sekarang ada kerjaan yang harus dikerjakàn.

“Mesamis,” kata Teabing dalam bahasa Prancis yang sempurna,“vousne trouvez pas le Saint-Graal, c’est le Saint-Graal qui vous trouve.” Dia tersenyum, “Jalan bersama kita sudah sangat jelas. Grail telah menemukan kita.” Bungkam. Teabing lalu berbicara dengan mereka dalam bisikan. “Dengar. Kalian dapat mendengarnya? Grail sedang berbicara kepada kita dari seberang abad. Dia memohon untuk diselamatkan dari kebodohan Biarawan. Aku memohon dengan sangat kepada kalian berdua untuk memanfaatkan kesempatan ini. Kapan lagi tiga orang yang mampu punya kesempatan berkumpul untuk memecahkan kode terakhir dan membuka cryptex itu?” Teabing terdiam sejenak, matanya bersinar. “Kita harus bersumpah bersama. Berjanji setia satu sama lain. Sebuah kesetiaan seorang kesatria untuk membuka kebenaran dan menyebarluaskannya.”

Sophie menatap tajam mata Teabing sangarttegas. “Aku tidak akan bersumpah dan berbicara dengan suara bersama dengan orang yang membunuh kakekku. Kecuali sebuah sumpah yang akan membuatmu masuk penjara.”

Hati Teabing menjadi muram, kemudian marah. “Aku menyesal kau merasa seperti itu, Mademoiselle” Lalu dia menoleh kepada Langdon dan mengarahkan senjatanya kepada Langdon. “Dan kau Robert? Kau bersamaku atau melawanku?”

100

TUBUH Uskup Manuel Aringarosa telah pernah menderita berbagai macam rasa sakit, namun panas yang membakar dari luka karena peluru pada dadanya sekarang terasa asing sekali baginya. Begitu dalam dan menyedihkan. Bukan luka pada dagingnya … tetapi lebih ke jiwanya.

Dia membuka matanya, mencoba untuk melihat, tetapi air hujan pada wajahnya membuat pandangan matanya mengabur. Aku dimana? Dia dapat merasakan ada tangan kuat memeluknya, mengangkat tubuh lemasnya seperti sebuah boneka kain, dengan jubah hitamnya yang berkibar-kibar.

Aringarosa mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya. Dia dapat melihat, lelaki yang menggendongnya adalah Silas. Lelaki albino yang besar itu berjuang berjalan di atas tepian jalan yang berkabut, berteriak minta dibawa ke rumah sakit. Suaranya memilukan meneriakkan penderitaan. Mata merahnya terpusat ke depan saja. Air mata membanjiri wajahnya yang pucat dan bersimbah darah. “Anakku,” bisik Aringarosa, “kau terluka.” Silas menatap ke bawah. Wajahnya berubah karena kesedihan. “Aku sangat

menyesal, Bapa.” Silas tampak terlalu sakit untuk berbicara. “Tidak, Silas,” jawab Aringarosa. “Akulah yang menyesal. Ini kesalahanku.” Guru berjanji padaku tidak akan ada pembunuhan dan aku mengatakan padamu untuk benar-benar mematuhinya. “Aku terlalu bersemangat. Terlalu takut. Kau dan aku ditipu.” Guru tidak akan pernah memberikanHolyGrailkepadakita.

Terayun-ayun di dalam gendongan lelaki yang selalu bersamanya selama bertahun-tahun, Uskup Aringarosa merasa terseret ke belakang lagi. Ke Spanyol. Ke masa-masa awalnya yang sederhana, ketika membangun gereja Katolik kecil di Oviedo bersama Silas. Dan kemudian, ke New York City, kota tempat dia telah menyatakan kebesaran Tuhan dengan membangun gedung tinggi Pusat Opus Dei di Lexington Avenue.

Lima bulan yang lalu, Aringarosa telah menerima berita yang menghancurkan. Pekerjaan seumur hidupnya dalam bahaya. Dia mengingat, dengan sangat rinci, pertemuan di dalam Puri Gandolfo yang telah mengubah hidupnya … berita yang telah mengubah ketenangannya menjadi gerak aktif.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.