Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Empat puluh yard ke timur beranda, sebuah pintu lengkung tampak di sebelah kiri mereka, membawa ke gang lainnya. Walau ini merupakan pintu masuk yang mereka cari, bagian terbukanya ditutup dengan sebuah lempengan besi berlubang-lubang dan ada tanda yang tampak resmi: TUTUP UNTUK RENOVASI RUANG PYX KAPELST. FAITH CHAPTERHOUSE Koridor sunyi yang panjang di balik tutup besi itu dikotori oleh banyak sobekan kain dan tangga perancah. Tepat di belakang tutup besi, Langdon dapat melihat pintu masuk ke Ruang Pyx dan Kapel St. Faith di sebelah kanan dan kiri. Pintu masuk ke Chapter House masih lebih jauh lagi, yaitu di ujung gang yang panjang itu. Bahkan dari sini pun Langdon dapat melihat pintu kayunya yang berat terbuka lebar, dan bagian dalamnya yang luas berbentuk segi delapan disinari oleh sinar kelabu alami dari jendela besar ruangan itu yang menghadap ke Taman College.Pergilah melewati Chapter House, keluar ke pintu selatan, ketaman umum.

“Kita baru saja meninggalkan beranda timur,” kata Langdon, “jadi pintu keluar selatan ke taman pastilah ke sana lalu ke kanan.” Sophie telah melangkahi lempengan besi itu dan berjalan ke depan. Ketika mereka bergegas melintasi koridor gelap itu, suara angin dan hujan dari beranda terbuka memudar di belakang mereka. Chapter House merupakan semacam struktur satelit—sebuah ruang tambahan yang berdiri sendiri pada ujung gang yang panjang untuk memastikan privasi Parlemen ketika sedang bekerja di ruangan ini. “Tampak besar,” bisik Sophie ketika mereka mendekati ruangan itu. Langdon sudah lupa betapa besar ruangan ini. Walau dari luar pintu masuk, Langdon dapat melihat melintasi lantai yang luas itu ke jendela-jendela mengagumkan pada sisi lain yang jauh dari ruangan oktagonal ini. Jendela-jendela itu menjulang hingga ke lantai lima dan menyentuh langit-langit tertutup. Mereka pasti dapat melihat taman dengan jelas dari dalam sini.

Ketika melewati ambang pintu, baik Langdon maupun Sophie mengedip. Setelah tadi melewati beranda yang suram, Chapter House terasa seperti sebuah solarium. Mereka masuk sepuluh kaki ke dalam ruangan itu, dan mencari dinding selatan. Namun mereka tidak dapat menemukan pintu yang mereka cari. Mereka berdiri di jalan buntu yang sangat luas. Suara derit pintu berat di belakang mereka membuat mereka menoleh, bertepatan dengan saat pintu itu tertutup dengan suara berdebum dan slotnya jatuh ketempat semula. Seorang lelaki yang dibelakang pintu itu tampak tenang ketika sejak tadi berdiri sendirian dia mengacungkan revolver kecilnya pada Langdon dan Sophie. Lelaki itu agak gemuk dan berdiri dengan bantuan sepasang penopang dari alumunium. Untuk sesaat Langdon mengira dirinya sedang bermimpi. Leigh Teabing berdiri menodongkan pistolnya kepadanya.

 

99

SIR Leigh Teabing merasa menyesal ketika dia menatap Robert Langdon dan Sophie Neveu melalui laras pistol medusanya. “Teman-temanku,” katanya, “sejak kalian datang kerumahku, aku telah berusaha sekuat diriku untuk tidak melukai kalian. Tetapi tekad kalian telah menempatkanku di posisi yang sulit.”

Teabing dapat melihat ekspresi wajah Langdon dan Sophie yang merasa dikhianati, namun Teabing yakin teman-temannya itu akan mengerti rantai peristiwa yang telah membawa mereka ke persimpangan jalan yang tak terduga ini.

Ada banyak yang harus kukatakan pada kalian berdua … begitu banyak yangkalianberduabelummengerti.

“Percayalah,” kata Teabing. “Aku tidak pernah punya niat melibatkan kalian. Kalian datang kerumahku. Kalian datang mencari aku.”

“Leigh?” akhirnya Langdon mampu berkata. “Apa yang kaulakukan? Kami pikir kau dalam bahaya. Kami kesini untuk menolongmu!”

“Aku percaya kalian akan berbuat begitu,” jawab Teabing. “Kita punya banyak hal untuk didiskusikan.”

Langdon dan Sophie tampak tidak dapat mengalihkan mata mereka dari pistol yang membidik mereka.

“Ini hanya untuk mendapatkan perhatian penuh kalian saja,” kata Teabing. “Jika aku memang berniat untuk melukai kalian, kalian sudah mati sekarang. Ketika kalian datang ke rumahku kemarin malam, aku mempertaruhkan segalanya untuk hidup kalian. Aku lelaki terhormat, dan aku bersumpah, dengan kesadaran yang paling dalam, hanya akan melukai orang yang mengkhianati Sangreal.” “Apa maksudmu?” tanya Langdon. “Mengkhianati Sangreal?”

“Aku telah menemukan kebenaran yang mengerikan,” kata Teabing, sambil mendesah. “Aku menemukan mengapa dokumen-dokumen Sangreal tidak pernah dibuka pada dunia. Aku tahu Biarawan telah memutuskan untuk tidak membuka kebenaran itu pada akhirnya. Karena itulah milenium berlalu tanpa ada pembukaan rahasia, tanpa ada yang terjadi ketika kita memasuki Hari akhir.” Langdon menarik napas, tanpa berkomentar. “Biarawan Sion,” lanjut Teabing, “telah diberikan tugas suci untuk berbagi kebenaran itu. Untuk membuka dokumen-dokumen Sangreal ketika Hari Akhir tiba. Selama berabad-abad, orang seperti Da Vinci, Botticelli, dan Newton mempertaruhkan segalanya untuk melindungi melaksanakan tugas itu. Dan sekarang, pada dokumen-dokumen itu dan waktu yang penting untuk membuka kebenaran itu, Jacques Saunière mengubah pikirannya. Lelaki yang diberkati dengan kewajiban tertinggi di dalam sejarah Kristen itu mengelak dari kewajibannya. Dia memutuskan bahwa waktunya tidak tepat.” Teabing menoleh kepada Sophie “Dia telah mengecewakan Grail. Dia telah mengecewakan Biarawan. Dan dia mengecewakan semua generasi yang telah berusaha untuk memungkinkan saat itu tiba.”

“Kau?” Sophie berseru, mata hijaunya menatap Teabing penuh kemarahan. “Kau yang bertanggung jawab atas kematian kakekku?”

Teabing cemberut. “Kakekmu dan senéchaux-nya adalah pengkhianat Grail.” Sophie merasa kemarahannya memuncak.Diaberbohong! Suara Teabing tanpa belas kasihan. “Kakekmu bisa dibeli oleh Gereja.

Jelas mereka menekannya untuk tidak menyebarkan kebenaran itu.” Sophie menggelengkan kepalanya. “Gereja tidak punya pengaruh apa pun

pada kakekku!” Teabing tertawa dingin. “Sayangku, Gereja memiliki dua ribu tahun pengalaman menekan orang yang mengancam akan membuka kebohongan mereka. Sejak zaman Konstantine, Gereja telah berhasil menyembunyikan kebenaran tentang Maria Magdalena dan Yesus. Kita tidak perlu heran jika sekarang sekali lagi, mereka menemukan jalan untuk tetap membuat dunia ini gelap. Gereja mungkin saja tidak lagi mempekerjakan pasukan salib untuk membantai orang-orang kafir, tetapi meyakinkan. Tidak kurang busuknya.” pengaruh mereka tidak kurang Dia terdiam sesaat, seolah untuk mempertajam maksud berikutnya. “Nona Neveu, sudah beberapa waktu kakekmu ingin mengatakan kebenaran tentang keluargamu.” Sophie terpaku. “Bagaimana kautahu itu?” “Metodeku tidak penting. Yang penting untuk kaudengar sekarang adalah ini.” Dia menarik napas dalam. “Kematian ibumu, ayahmu, nenekmu, dan adik lelakimu bukan suatu kecelakaan.”

Kata-kata itu membuat Sophie terguncang. Dia membuka mulutnya, namun tak dapat mengatakan apa-apa. Langdon menggelengkan kepalanya. “Apa maksudmu?” “Robert, ini menjelaskan segalanya. Semua potongan peristiwa cocok. Sejarah berulang dengan sendirinya. Gereja sudah pernah membunuh ketika itu menyangkut kerahasiaan Sangreal. Dengan mendekatnya Hari Akhir, membunuh orang-orang yang dicintai oleh Mahaguru memberikan pesan yang jelas: diamlah, atau kau dan Sophie menyusul.”

“Itu kecelakaan mobil.” Sophie menghentakkan kakinya, merasakan kesedihan masa kanak-kanaknya muncul kembali. “Sebuah kecelakaan!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.