Baca Novel Online

The Da Vinci Code

“Aku tidak melihat seorang pemandu pun,” kata Sophie. “Mungkin kita dapat mencari sendiri makam itu?”

Tanpa kata-kata, Langdon membawa Sophie melangkah lagi ke bagian pusat biara dan menunjuk ke kanan.

Sophie terkesiap ketika dia melihat ke ruang tengah yang panjang. Sekarang tampaklah kemegahan gedung itu. “Aah,” katanya. “Ayo, kita cari seorang pemandu.” Pada saat itu, seratus yard dari bagian tengah gereja, terhalang oleh layar tempat paduan suara, makam Isaac Newton sedang dikunjungi oleh seorang pengunjung. Guru telah selama sepuluh menit mengamati makam itu.

Makam Newton terdiri atas peti-jenazah batu dari pualam hitam. Di atasnya berdiri patung Sir Isaac Newton, yang mengenakan pakaian tradisional sambil bersandar bangga pada tumpukan buku-bukunya sendiri—Divinity, Chronology, Opticles, and Philosophiae Naturalis Principia Mathematica. Pada kakinya berdiri dua orang anak laki-laki bersayap yang memegangi sebuah gulungan kertas. Di belakang Newton yang berbaring, berdiri tegak sebuah piramid yang keras. Walau piramid itu sendiri tampak aneh, namun yang paling menarik perhatian Guru adalah sebentuk raksasa yang setengah jalan menaiki piramid itu. Sebuahbola. Guru merenungkan kembali teka-teki Saunière yang memperdayakan. Kau mencari bola yang seharusnya ada di atas makamnya. Bola besar itu muncul dari bagian muka pyramid, diukir tipis dan menggambarkan berbagai macam bentuk benda langit—perbintangan, lambing-lambang zodiak, kometkomet, bintang-bintang, dan planet-planet. Di atasnya terdapat gambar dewo astronomi di bawah hamparan bintang-bintang. Bola-bolayangtakterhitung. Tadinya Guru yakin, begitu dia menemukan makam itu, akan mudah dia menemukan bola yang hilang. Sekarang dia tidak yakin lagi. Dia menatap peta langit yang rumit. Apakah ada planet yang hilang? Apakah ada bola astronomi yang hilang dari kumpulan benda-benda langit ini? Dia tidak tahu. Walau begitu, Guru yakin bahwa jawaban teka-teki ini pastilah sesuatu yang sangat mudah dan jelas—”seorang kesatria yang seorang paus kuburkan.” Bola apa yang kucari? Jelas, pengetahuan mendalam tentang astrofisika tidak diperlukan untuk menemukan Holy Grail, bukan? ItumengatakantentangragaRosydanrahimyangterbuahi. Konsentrasi Guru terpecah karena kedatangan beberapa orang turis. Dia lalu memasukkan cryptex itu ke dalam sakunya lagi, dan menatap waspada kepada para pengunjung di meja yang tak jauh darinya. Para turis itu memberikan uang sumbangan ke dalam sebuah cawan dan mendapankan alat menjiplak-kubur yang disediakan oleh biara ini. Dengan membawa pensil arang baru dan kertas besar yang berat, turis-turis itu bergerak ke bagian depan biara, mungkin ke Sudut Pujangga untuk memberi penghormatan kepada Chaucer, Tennyson, dan Dickens dengan cara menggosoki makam-makam mereka dengan bersemangat.

Setelah sendiri lagi, Guru melangkah lebih dekat pada makam itu, mengamatinya dari bawah ke atas. Dia memulainya dari kaki yang mencengkeram di bawah peti-jenazah baru itu, bergerak ke atas melintasi patung Newton, melalui buku-buku ilmiahnya, melewati kedua anak lelaki bersayap dengan gulungan kertas matematika, naik ke bagian muka piramid, lalu ke bola raksasa dengan sekumpulan benda-benda langitnya, dan akhirnya naik ke kanopi ceruk yang penuh bintang.

Bolaapayangseharusnyaadadisini …namuntidakada? Dia menyentuhcryptex yang berada dalam sakunya seolah dia dapat menerka jawaban dari pualam berukir milik Saunière itu. Hanyalimahuruf yangmemisahkankudariGrail.

Guru lalu berjalan ke sudut dari layar tempat paduan suara. Dia menarik napas panjang dan menatap ke bagian tengah yang panjang itu ke altar utama di kejauhan. Tatapannya berpindah dari altar yang berkilauan itu ke seorang pemandu biara yang berjubah kemerahan cerah. Dua orang yang sangat dikenalinya sedang memanggil pemandu itu dengan lambaian tangan mereka. Langdon dan Neveu. Dengan tenang, Guru mengambil dua langkah mundur di belakang layar tempat paduan suara.Inicepat. Dia telah menduga bahwa Langdon dan Neveu akan mampu memecahkan arti puisi itu dan datang ke makam Newton, tetapi ini lebih cepat dari yang dibayangkannya. Sambil menarik napas dalam-dalam, Guru memikirkan pilihan lain. Dia terbiasa dengan hal-hal tak terduga. Akumemegang cryptex. Lalu Guru merogoh ke dalam sakunya. Dia menyentuh benda kedua yang memberinya rasa percaya: revolver Medusa. Seperti yang diduganya, pendeteksi metal gereja ini berbunyi nyaring ketika dia melewatinya dengan pistol di dalam saku. Juga seperti yang telah diduganya, para penjaga langsung mundur ketika Gutu mendelik marah dan menunjukkan kartu identitasnya. Orang berpangkat tinggi selalu mendapatkan penghormatan yang sepantasnya.

Walau pada awalnya Guru berharap mengungkap cryptex ini sendirian dan menghindari kerumitan lebih lanjut, dia sekarang merasa bahwa kedatangan Langdon dan Neveu merupakan perkembangan yang menyenangkan. Mengingat kegagalannya untuk mengerti arti rujukan “bola”, mungkin saja dia dapat memanfaatkan keahlian mereka. Lagi pula, jika Langdon telah memecahkan teka-teki puisi itu untuk menemukan makam ini, ada kemungkinan dia juga mengerti tentang bola itu. Dan jika Langdon tahu kata kuncinya, itu berarti yang harus dikerjakan selanjutnya hanyalah menekan mereka dengan benar. Tidakdisini,tentusaja. Ditempatyanglebihpribadi. Guru ingat pada pengumuman kecil yang dilihatnya di jalan masuk gereja

ini tadi. Tiba-tiba dia tahu tempat yang tepat untuk pertemuan mereka. Satu-satunya pertanyaan adalah … bagaimana cara memancing mereka.

 

98

LANGDON DAN Sophie perlahan-lahan bergerak turun ke gang utara, sambil tetap berada di bawah bayangan di belakang banyak pilar yang memisahkan gang itu dari bagian tengah yang terbuka. Walau mereka telah menempuh lebih dari separuh perjalanan menuju ke bagian tengah biara itu, mereka belum juga dapat melihat makam Newton. Peti batu itu terletak di dalam sebuah ceruk, tersembunyi dari sudut miring ini. “Paling tidak, tidak ada orang lain disana,” bisik Sophie. Langdon mengangguk, lega. Keseluruhan bagian tengah yang dekat makam Newton tampak sunyi. “Aku akan ke sana,” bisik Langdon. “Kau tetaplah bersembunyi, kalau-kalau ada orang—”

Sophie telah terlanjur keluar dari kegelapan, dan mulai melangkah untuk melintasi lantai ruangan terbuka itu.

“—melihat,” desah Langdon, lalu segera menyusul temannya itu. Mereka melintasi bagian tengah yang lebar itu secara diagonal. Langdon dan Sophie tetap tak bersuara ketika makam besar itu menampakkan diri dengan hiasan-hiasan yang mencolok … peti batu dari pualam hitam, patung Newton yang sedang membungkuk … dua anak lelaki bersayap … sebuah piramid besar … dansebuah bolabesar. “Kau sudah tahu itu?” kata Sophie, terdengar terkejut. Langdon menggelengkan kepalanya, juga terkejut. “Di sana tampak ada ukiran benda-benda langit,” kata Sophie. Ketika mereka mendekati ceruk itu, Langdon merasakan ada perasaan tenggelam pada dirinya. Makam Newton tertutup oleh bola-bola—bintangbintang, komet-komet, planet-planet. Kau mencari bola yang seharusnya ada pada makamnya? Terapi ini tampaknya akan menjadi pencarian sehelai daun rumput di lapangan golf.

“Benda-benda astronomi,” kata Sophie, sambil menatap dengan perhatian. “Dan banyak”

Langdon mengerutkan dahinya. Satu-satunya rantai penghubung antara planet-planet dan Grail yang dapat dibayangkan Langdon adalah bintang lima sudut Venus, namun dia telah mencoba kata kunci “Venus” dalam perjalanan ke Gereja Kuil tadi

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.