Baca Novel Online

The Da Vinci Code

Atas usul Rémy, Silas telah melepaskan senjatanya dan membuangnya melalui sebuah lubang saluran pembuangan. Dia senang terbebas dari benda itu. Dia merasa lebih ringan. Kakinya masih terasa sakit karena selalu terikat tadi, tetapi Silas sudah pernah mengalami kesakitan yang lebih pedih. Dia bertanya-tanya tentang Teabing, yang diikat Remy dan ditinggalkan di bagian belakang limusin itu. Orang Inggris itu pastilah sedang merasa kesakitan sekarang. “Mau kauapakan dia?” tanya Silas kepada Rémy ketika mereka menuju kesini tadi. Rémy menggerakkan bahunya. “Guru yang harus memutuskannya.” Ada

nada aneh pada akhir kalimatnya. Ketika Silas mendekati gedung Opus Dei, hujan mulai bertambah deras, membasahi jubah beratnya, dan memedihkan luka yang dideritanya sejak kemarin. Dia sudah siap meninggalkan dosa-dosanya pada 24 jam terakhir, dan jiwanya sudah bersih. Pekerjaannya telah selesai.

Silas bergerak melintasi sebuah halaman kecil menuju pintu depan. Dia tidak heran melihat pintunya tidak terkunci. Dia membukanya dan melangkah memasuki ruang depan yang sederhana. Sebuah bel listrik terdengar di atas ketika Silas melangkah di atas permadani. Bel itu perlengkapan biasa di gedung ini, karena para penghuninya menggunakan sebagian besar waktu mereka untuk berdoa di kamar. Silas dapat mendengar gerakan di atas pada lantai kayu yang berderit.

Seorang lelaki berjubah datang ke bawah. “Bisa kubantu?” Matanya ramah, tampaknya tidak terkesan pada penampilan fisik Silas yang menakutkan. “Terima kasih. Namaku Silas. Aku anggota Opus Dei.” “Warga negara Amerika?” Silas mengangguk. “Aku di kota ini hanya satu hari ini. Boleh beristirahat

di sini?” “Kau tidak perlu bertanya. Ada dua kamar kosong pada lantai tiga. Mau

dibawakan teh dan roti?” “Terima kasih.” Silas memang sangat kelaparan. Lalu dia pergi ke atas ke sebuah kamar yang sederhana dengan satu jendela. Silas menanggalkan jubah basahnya, lalu berlutut untuk berdoa dengan baju dalamnya saja. Dia mendengar tuan rumahnya naik dan meninggalkan nampan di luar pintu. Setelah selesai berdoa, Silas mengambil makanan dan memakannya, lalu berbaring untuk tidur.

Tiga lantai di bawah, sebuah telepon berdering. Seorang anggota Opus Dei yang tadi menenima Silas mengangkatnya.

“Ini polisi London,” kata penelpon itu. “Kami sedang mencari seorang biarawan albino. Kami mendapat informasi bahwa dia mungkin ada di sana. Anda melihatnya?” Anggota Opus Dei itu terkejut. “Ya, dia di sini. Ada masalah?” “Dia di sanasekarang?” “Ya, di lantai atas lagi berdoa. Ada apa? “Biarkan dia tetap di tempatnya,” petugas itu “Jangan katakan apa pun kepada siapa pun. Aku akan mengirim petugas ke sana.”

94

TAMAN ST. James’s adalah area hijau di tengah kota London, sebuah taman umum yang membatasi istana-istana Westminster, Buckingham, dan St. James’s. Pernah ditutup oleh Raja Henry VIII dan diisi dengan rusa-rusa untuk diburu, Taman St. James’s sekarang dibuka untuk umum. Pada sore yang cerah, penduduk London berpiknik di bawah pepohonan willow dan memberi makan pelikan yang menghuni danau di situ. Nenek moyang pilikan-pelikan itu adalah pemberian Charles II dari kedutaan besar Rusia.

Guru tidak melihat pelikan hari ini. Cuaca yang berangin keras membawa burung-burung layang-layang dari laut. Lapangan rumputnya tertutup oleh burung-burung itu—ratusan burung putih menghadap ke arah yang sama, meniti angin lembab dengan sabar. Walau pagi ini berkabut, taman itu tetap saja menyuguhkan pemandangan yang indah dari Gedung Parlemen dan Big Ben. Menatap lapangan rumput landai, melewati danau bebek dan siluet lembut dari pepohonan willow yang menangis, Guru dapat melihat menaramenara dari gedung berisi makam kesatria itu—itulah alasan sesungguhnya dia meminta Rémy untuk datang ke sini.

Ketika Guru mendekati pintu penumpang depan dari limusin yang terparkir, Rémy mencondongkan tubuhnya ke samping untuk membuka pintu mobil itu. Guru berhenti di luar, meneguk dari sebotol cognac yang dibawanya. Setelah mengusap mulutnya, ia masuk ke mobil dan duduk di samping Rémy, kemudian menutup pintu.

Remy memegang batu kunci seperti memegang sebuah trofi. “Ini hampir hilang.” “Kau telah berhasil,” kata Guru. “Kita telah berhasil,” balas Rémy, sambil meletakkan kunci itu pada tangan Guru yang penuh hasrat.

Guru mengaguminya dengan lama, lalu tersenyum. “Dan senjatanya? Kau sudah mengelapnya?”

“Ya, dan sudah kukembalikan ke kotak sarung tangan tempat aku menemukannya.”

“Bagus sekali.” Guru meneguk cognac lagi dan memberikan botol kecil itu kepada Rémy. “Mari minum untuk keberhasilan kita. Akhir itu sudah dekat.”

Rémy menerima botol itu dengan rasa terima kasih. Cognac itu terasa asin, tetapi Rémy tidak peduli. Dia dan Guru betul-betul menjadi rekanan sekarang. Dia dapat merasakan dirinya naik ke posisi yang lebih tinggi.Aku tidak akan menjadi pelayan lagi. Ketika Rémy menatap ke bawah ke arah tanggul di danau bebek itu, Puri Villette terasa bermil-mil jauhnya.

Rémy meneguk lagi minuman itu, lalu dia dapat merasakan cognac itu menghangatkan darahnya. Kehangatan pada tenggorokan Rémy berubah dengan cepat menjadi panas yang meresahkan. Sambil mengendurkan dasi kupu-kupunya, dia merasakan seperti pasir yang tidak menyenangkan, lalu memberikan botol itu kepada Guru. “Mungkin aku sudah cukup minumnya,” katanya, lemah.

Sambil mengambil botol itu, Guru berkata, “Rémy, seperti yang kautahu, kau satu-satunya yang mengetahui wajahku. Aku sangat mempercayaimu.”

“Ya,” kata Rémy, merasa demam ketika dia melonggarkan dasinya lebih lebar. “Dan identitasmu akan ikut bersamaku ke kuburku.”

Guru terdiam lama. ‘Aku percaya padamu.” Setelah mengantongi batu kunci dan botol itu, Guru mengulurkan tangannya ke tempat penyimpanan sarung tangan lalu mengeluarkan revolver Medusa yang kecil tadi. Sesaat, Rémy merasa takut, tetapi Guru hanya menyelipkan pistol itu ke saku celananya. Apayangdilakukannya? Tiba-tiba Rémy merasa berkeringat. “Aku tahu, aku menjanjikan kebebasan padamu,” kata Guru, suaranya terdengar sesal. “Tetapi mengingat keadaanmu, ini adalah yang terbaik yang dapat kulakukan padamu.”

Tenggorokan Rémy membengkak tiba-tiba. Dia jatuh ke depan di tempat kemudi sambil mencengkeram lehernya dan merasakan muntahnya pada kerongkongannya yang menyempit. Dari tenggorokannya, keluar suara jeritan yang terjepit, tidak cukup keras untuk terdengar dari luar mobil. Pengasin dalamcognac itu sekarang bereaksi. Akudibunuh! Dengan tak percaya, Rémy menoleh melihat Guru yang duduk di sampingnya dengan tenang, menatap lurus ke depan melewati kaca depan. Pandangan mata Rémy mengabur, dan dia megap-megap mencari udara. Aku sudah membuat segalanya mungkin baginya! Tega sekali dia melakukan ini! Apakah Guru memang sudah berniat membunuh Rémy sejak lama atau apakah karena tindakan Rémy di Gereja Kuil yang membuat Guru kehilangan kepercayaan, Rémy tidak tahu. sekarang. Rémy mencoba untuk Ketakutan menyergap dan kemarahan menjalarinya Guru, tetapi tubuhnya yang menjadi kaku tak lagi dapat bergerak. Aku telah mempercayakan segalanya padamu!

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: November 14, 2015 16:43

    anjarsaridwi

    The da vinci code....wajib dibaca.
  • Posted: January 24, 2016 19:01

    WayZone

    good, unbelieveble, abis ini ada yg mempermasalahkan agama lain ngga ya?
  • Posted: March 3, 2016 07:37

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya....
  • Posted: December 7, 2017 14:46

    Adam

    Novel Luar Biasa. Walaupun penerjemahannya banyak kesaahan editing.. tapi masih tetap menyajikan sebuah kisah semi nyata sekaligus semi fiksi yang mendebarkan. Saluut to Dan Brown.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.