Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Aku melihat banyak hal di dunia luar, Percy,” kata Luke. “Apa kau tak merasakannya—kegelapan yang berkumpul, monster yang semakin kuat? Apa kau tak menyadari betapa sia-sia semuanya? Semua kepahlawanan—menjadi pion para dewa. Mereka semestinya sudah digulingkan ribuan tahun lalu, tetapi mereka bertahan, berkat kita anak-anak blasteran.”

Aku tak percaya ini terjadi.

“Luke … kau bicara soal orangtua kita,” kataku.

Dia tertawa. “Apakah karena itu aku harus mencintai mereka? ‘Peradaban Barat’ yang mereka cintai itu penyakit, Percy. Peradaban itu membunuh dunia. Satu-satunya cara menghentikannya adalah membakarnya sampai habis, mulai lagi dengan sesuatu yang lebih jujur.”

“Kau sama gilanya dengan Ares.”

Matanya menyala. “Ares itu tolol. Dia tak pernah menyadari siapa majikan sejatinya. Andai aku punya waktu, Percy, aku bisa menjelaskan. Tapi sayangnya, kau tak akan hidup selama itu.”

Kalajengking itu merayap ke celanaku.

Pasti ada jalan keluar dari situasi ini. Aku perlu waktu berpikir.

“Kronos,” kataku. “Dia majikanmu.”

Udara menjadi lebih dingin.

“Kau sebaiknya berhati-hati menyebut nama,” Luke memperingatkan.

“Kronos menyuruhmu mencuri petir asali dan helm. Dia berbicara kepadamu dalam mimpi.”

Mata Luke berkedut. “Dia juga berbicara kepadamu, Percy. Semestinya kau menyimak.”

“Dia mencuci otakmu, Luke.”

“Kau salah. Dia menunjukkan bahwa bakatku disia-siakan. Kau tahu apa misiku dua tahun yang lalu, Percy? Ayahku, Hermes, ingin aku mencuri apel emas dari Taman Hesperides dan mengembalikannya ke Olympus. Setelah semua pelatihan yang kutempuh, itu misi terbaik yang terpikir olehnya.”

“Misimu nggak gampang,” kataku. “Hercules juga melakukan itu.”

“Persis,” kata Luke. “Apa hebatnya mengulang misi yang pernah dilakukan orang lain? Dewa-dewa cuma tahu cara mengulang masa lalu mereka. Aku tak bersemangat mengerjakannya. Naga di taman itu memberiku ini”—dia menunjuk codetnya dengan marah—”dan saat aku kembali, aku cuma dikasihani. Aku ingin meruntuhkan Olympus batu demi batu saat itu juga, tetapi aku bersabar. Aku mulai bermimpi tentang Kronos. Dia meyakinkan aku untuk mencuri sesuatu yang layak, sesuatu yang tak berani diambil pahlawan mana pun. Ketika kami berkaryawisata saat titik balik matahari musim dingin, sementara pekemah lain tidur, aku menyelinap ke ruang singgasana dan mengambil petir asali Zeus langsung dari kursinya. Helm kegelapan Hades juga. Kau pasti tak percaya betapa mudahnya melakukan itu. Para dewa Olympia begitu pongah; mereka tak pernah bermimpi bahwa ada yang berani mencuri dari mereka. Keamanan mereka parah. Aku sudah setengah jalan melintasi New Jersey saat aku mendengar badai menggemuruh, dan aku tahu mereka telah menyadari pencurianku.”

Kalajengking itu sekarang duduk di lututku, menatapku dengan mata berkilauan. Aku berusaha mendatarkan suaraku. “Jadi, kenapa kau tak membawa kedua barang itu ke Kronos?”

Senyum Luke goyah. “Aku … aku terlalu percaya diri. Zeus mengirimkan putra-putrinya untuk mencari petir yang dicuri—Artemis, Apollo, ayahku Hermes. Tapi, Ares-lah yang berhasil menangkapku. Semestinya aku bisa menga-lahkannya, tetapi aku kurang berhati-hati. Dia membuatku kehilangan senjata, mengambil benda-benda ajaib itu, mengancam akan mengembalikannya ke Olympus dan membakarku hidup-hidup. Lalu, suara Kronos mendatangiku dan memberitahuku harus berkata apa. Aku mengusulkan kepada Ares tentang perang besar antara dewa-dewa. Kukatakan, dia hanya perlu menyembunyikan kedua benda itu beberapa lama dan menyaksikan yang lain bertengkar. Mata Ares bersinar jahat. Aku tahu dia terpikat. Dia melepaskanku, dan aku kembali ke Olympus sebelum ada yang menyadari aku menghilang.” Luke menghunus pedang barunya. Jempolnya mengusap badan pedang, seolah-olah dia terhipnotis oleh keindahannya. “Setelah itu, Penguasa Kaum Titan … d-dia menghukumku dengan mimpi buruk. Aku bersumpah tak akan gagal lagi. Setelah kembali di Perkemahan Blasteran, dalam mimpiku, aku diberi tahu bahwa pahlawan kedua akan datang, yang dapat ditipu agar membawa petir dan helm itu sepanjang sisa perjalanan—dari Ares ke Tartarus.”

“Kau yang memanggil anjing neraka, di hutan malam itu.”

“Kami harus membuat Chiron berpikir bahwa perkemahan ini nggak aman untukmu, supaya dia akan memberimu misi. Kami harus memperkuat kecemasannya bahwa Hades mengincarmu. Dan kami berhasil.”

“Sepatu terbang itu dikutuk,” kataku. “Sepatu itu semestinya menyeretku dan ransel itu ke dalam Tartarus.”

“Dan tentu berhasil, andai kau memakainya. Tapi kau malah memberikannya kepada si satir. Itu tidak termasuk rencana kami. Grover mengacaukan segala sesuatu yang disentuhnya. Dia bahkan membingungkan kutukan.”

Luke menatap kalajengking itu, yang sekarang duduk di pahaku. “Kau semestinya mati di Tartarus, Percy. Tapi jangan khawatir, akan kutinggalkan kau bersama teman kecilku untuk mengoreksi situasi ini.”

“Thalia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu,” kataku sambil mengertakkan gigi. “Kau malah membalasnya dengan cara ini?”

“Jangan bicara soal Thalia!” teriaknya. “Para dewa membiarkan dia mati! Itu salah satu dari banyak hal yang harus mereka bayar.”

“Kau dimanfaatkan, Luke. Kau maupun Ares. Jangan dengarkan Kronos.”

“Aku dimanfaatkan?” Suara Luke menjadi melengking. “Lihat dirimu sendiri. Apa yang pernah dilakukan ayahmu untukmu? Kronos akan bangkit. Kau hanya memperlambat rencananya. Dia akan melemparkan dewa-dewi Olympia ke dalam Tartarus dan menggiring umat manusia kembali ke gua-gua. Semua, kecuali yang terkuat—yang akan melayani dia.”

“Hentikan serangga ini,” kataku. “Kalau kau memang kuat, lawan aku sendiri.”

Luke tersenyum. “Usahamu bagus, Percy. Tapi, aku bukan Ares. Kau tak bisa memancingku. Majikanku menunggu, dan dia punya banyak misi yang bisa kulaksanakan.”

“Luke—”

“Selamat tinggal, Percy. Ada Zaman Emas baru yang akan datang. Kau tak akan menikmatinya.”

Dia mengayunkan pedang dengan gerak melengkung dan menghilang dalam riak kegelapan.

Kalajengking itu melompat.

Aku menepisnya dengan tangan dan membuka tutup pedangku. Hewan itu melompat ke arahku dan kubelah dua di tengah udara.

Aku baru saja akan mengucapkan selamat kepada diriku sendiri, tetapi aku melihat ke tanganku. Ada bilur merah besar di telapak tanganku, lendir kuning menetes dan asap keluar dari situ. Rupanya hewan itu berhasil menyengatku.

Telingaku berdentum-dentum. Penglihatanku berkabut. Air, pikirku. Air pernah menyembuhkanku.

Aku berjalan sempoyongan ke sungai dan membenamkan tanganku, tetapi tak ada yang terjadi. Racunnya terlalu kuat. Penglihatanku mulai gelap. Aku hampir tak bisa berdiri.

Enam puluh detik, kata Luke tadi.

Aku harus kembali ke perkemahan. Kalau aku pingsan di sini, tubuhku akan menjadi makan malam monster. Tak ada yang akan tahu apa yang terjadi.

Kakiku berat. Keningku panas. Aku terhuyung-huyung menuju perkemahan, dan kaum peri terusik dari pohon mereka.

“Tolong,” kataku parau. “Tolong …”

Dua peri memegang tanganku, memapahku. Aku ingat sampai ke lapangan, seorang pembina berteriak minta bantuan, seekor centaurus meniup trompet kerang.

Lalu, segalanya menghitam.

* * *

Aku terbangun dengan sedotan di mulut. Aku sedang menyedot sesuatu yang rasanya seperti kue serpih cokelat yang cair. Nektar.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.