Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Semoga hari Anda menyenangkan!

Pak D. (Dionysus)

Direktur Perkemahan, Dewa Olympia #12

Itulah salah satu masalah lain akibat GPPH. Tenggat tidak terasa nyata bagiku hingga sudah sampai di depan mata. Musim panas sudah berakhir, dan aku masih belum juga membalas surat ibuku, atau perkemahan, tentang apakah aku akan tetap di sini. Sekarang aku hanya punya waktu beberapa jam untuk memutuskan.

Keputusan itu semestinya mudah. Maksudku, sembilan bulan pelatihan pahlawan atau sembilan bulan duduk di ruang kelas—jelas dong.

Tetapi, ibuku harus dipertimbangkan. Untuk pertama kalinya, aku punya kesempatan tinggal bersamanya selama setahun penuh, tanpa Gabe. Aku punya kesempatan tinggal di rumah dan berkeliling kota di waktu luang. Aku ingat perkataan Annabeth selagi mengemban misi, dulu sekali: Di dunia nyatalah monster berada. Di sanalah kau tahu apakah kau berguna atau tidak.

Aku teringat nasib Thalia, putrid Zeus. Aku bertanya-tanya berapa banyak monster yang akan menyerangku kalau aku meninggalkan Bukit Blasteran. Kalau aku tinggal di satu tempat selama setahun ajaran penuh, tanpa dibantu Chiron atau teman-teman, apakah aku dan ibuku masih bisa hidup sampai musim panas berikutnya? Itu dengan asumsi bahwa aku tidak mati duluan akibat ujian mengeja dan esai lima paragraf. Aku memutuskan untuk turun ke arena dan berlatih pedang sebentar. Mungkin itu akan membantu menjernihkan pikiran.

Sebagian besar tanah perkemahan lengang, berkemendang dalam panas Agustus. Semua pekemah berada di pondok, berkemas, atau berlari-lari membawa sapu dan pel, bersiap-siap untuk pemeriksaan terakhir. Argus membantu beberapa anak Aphrodite menggotong koper Gucci dan kotak rias menaiki bukit. Di sanalah bus pekemahan akan menanti untuk mengantar mereka ke bandara.

Jangan pikirkan soal pergi dulu, kataku dalam hati. Berlatih saja dulu.

Aku sampai di arena ahli pedang dan menemukan bahwa Luke berpikiran sama. Tas olahraganya teronggok di tepi panggung. Dia sedang berlatih sendirian, memukuli boneka target dengan pedang yang belum pernah kulihat. pedang itu tentunya pedang baja biasa, karena dia memenggal kepala-kepala boneka itu, menusuk perut jerami mereka. Kemeja pembinanya yang berwarna jingga itu menetes-neteskan keringat. Raut wajahnya begitu serius, seolah-olah hidupnya memang terancam bahaya. Aku menonton dengan kagum, sementara dia merusak perut sebaris boneka, memotong tangan dan kaki dan menjadikan mereka setumpuk jerami dan baju zirah.

Mereka hanya boneka, tetapi aku tetap terkagum-kagum pada keterampilan luke. Dia petarung yang hebat. Lagi-lagi aku merasa heran, bagaimana dia bisa sampai gagal dalam misinya.

Akhirnya dia melihatku, dan berhenti di tengah-tengah gerakannya. “Percy.”

“Eh, maaf,” kataku, malu. “Aku cuma—”

“Nggak apa-apa,” katanya sambil menurunkan pedang. “Cuma berlatih terakhir kali.”

“Boneka-boneka itu tak akan mengganggu orang lagi.”

Luke mengangkat bahu. “Kita membuat boneka baru setiap musim panas.”

Karena sekarang pedangnya tidak berputar-putar, aku bisa melihat keanehannya. Pedang itu terdiri atas dua jenis logam—satu matanya terbuat dari perunggu, satu lagi baja.

Luke memerhatikan aku menatap pedang itu. “Oh, ini? Mainan baru. Ini Backbiter—Pemfitnah.”

“Backbiter?”

Luke memutar pedang itu dalam cahaya sehingga berkilap jahat. “Satu sisi terbuat dari perunggu langit. Sisi lain baja tempaan. Bisa untuk melawan manusia maupun dewa.”

Aku teringat perkataan Chiron saat aku memulai misi—bahwa seorang pahlawan tak boleh mencederai manusia kecuali benar-benar perlu.

“Aku baru tahu senjata seperti bisa dibuat.”

“Mungkin biasanya tak bisa,” Luke sepakat. “Ini langka.”

Dia tersenyum kecil, lalu menyarungkan pedang. “Dengar, kebetulan tadi aku mau mencarimu. Kita ke hutan sekali lagi yuk, mencari makhluk untuk lawan.”

Aku tak tahu kenapa aku ragu. Semestinya aku merasa lega bahwa Luke bersikap begitu ramah. Aku cemas dia membeciku gara-gara semua perhatian yang kuperoleh.

“Kayaknya sebaiknya jangan deh,” tanyaku. “Maksudku—”

“Ayolah.” Dia menggeledah tas olahraganya dan mengeluarkan setengah lusin Coke. “Minumnya aku yang traktir.”

Aku menatap Coke itu, bertanya-tanya dari mana dia mendapatkannya. Tak ada soda manusia biasa di toko perkemahan. Tak mungkin diselundupkan, kecuali mungkin kalau bagi satir.

Tentu saja gelas minum ajaib bisa diisi apa saja dengan yang kauinginkan, tetapi rasanya tetap tak sama dengan Coke betulan yang diminum langsung dari kalengnya.

Gula dan kafeina. Kekuatan tekadku runtuh.

“Oke,” kuputuskan. “Kenapa nggak?”

Kami berjalan ke hutan dan mencari-cari monster untuk dilawan, tetapi hawa terlalu panas. Semua monster yang punya otak pasti sedang tidur sore di gua yang sejuk.

Kami menemukan tmepat teduh di pinggir sungai, tempat aku mematahkan tombak Clarisse pada permainan tangkap-bendera pertamaku. Kami duduk di atas batu besar, minum Coke, dan menonton cahaya matahari di hutan.

Setelah beberapa lama, Luke berkata, “Apa kau rindu mengemban misi?”

“Diserang monster setiap satu meter? Kau bercanda?”

Luke menaikkan sebelah alis.

“Iya, rindu juga,” aku mengakui. “Kau?”

Bayang-bayang melintasi wajahnya.

Aku terbiasa mendengar soal betapa tampannya Luke dari para cewek, tetapi saat itu dia tampak lelah; dan marah, dan sama sekali tidak tampan. Rambut pirangnya terlihat abu-abu dalam cahaya matahari. Codet di mukanya tampak lebih dalam dari biasanya. Aku dapat membayang mukanya kalau dia tua nanti.

“Aku tinggal sepanjang tahun di Bukit Blasteran sejak umur empat belas,” dia bercerita. “Sejak Thalia … yah, kau tahu. Aku berlatih, dan berlatih, dan berlatih. Aku tak pernah mendapat kesempatan menjadi remaja normal, di luar sana di dunia nyata. Lalu, mereka memberiku misi, dan sewaktu aku pulang, sikap mereka seolah-olah, “Oke, main-mainnya sudah selesai. Selamat menjalankan sisa hidupmu.”

Dia meremas kaleng coke dan melemparkannya ke dalam sungai, sesuatu yang benar-benar membuatku terperanjat. Salah satu hal pertama yang dipelajari di Perkemahan Blasteran adalah: Jangan membuang sampah sembarangan. Nanti diomeli dari kaum peri dan naiad. Mereka akan membalas. Kau akan merangkak ke tempat tidur suatu malam dan mendapati sepraimu diisi lipan dan lumpur.

“Persetan dengan mahkota daun dafnah,” kata Luke. “Aku tak mau menjadi piala berdebu di loteng Rumah Beasr.”

“Kau bicara seolah-olah kau mau pergi.”

Luke tersenyum miring. “Memang benar, aku mau pergi, Percy. Aku mengajakmu ke sini untuk berpamitan.”

Dia menjentikkan jari. Sebuah api kecil membakar lubang di tanah di dekat kakiku. Sesuatu yang hitam berkilauan merayap keluar, kira-kira sebesar tanganku. Kalajengking.

Aku bergerak meraih pena.

“Jangan,” Luke memperingatkan. “Kalajengking lubang dapat melompat hingga lima meter. Sengatnya dapat menembus pakaian. Kau pasti mati dalam enam puluh detik.”

“Luke, apa—”

Lalu, aku tersadar.

Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman.

“Kau,” kataku.

Dia berdiri dengan tenang dan mengusap-usap jinsnya.

Kalajengking itu tak memedulikannya. Dia terus menatapku dengan mata manik hitamnya, mengatup-ngatupkan capit sambil merayap ke sepatuku.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.