Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dan soal ibuku, dia punya peluang meraih hidup baru. Suratnya tiba seminggu setelah aku sampai di perkemahan. Dia memberitahuku bahwa Gabe pergi secara misterius—bahkan menghilang dari muka bumi. Ibuku melaporkan kehilangan Gabe kepada polisi, tetapi dia mendapat firasat bahwa polisi tak akan pernah berhasil menemukan suaminya itu.

Pada topik yang sama sekali tak berkaitan, ibuku menjual patung beton pertamanya yang sebesar manusia sungguhan, yang berjudul Si Pemain Poker, kepada seorang kolektor melalui galeri seni di Soho. Dia mendapat banyak sekali uang dari hasil penjualan itu, dan membayar uang kuliah semester pertamanya di NYU. Galeri Soho dengan bersemangat meminta karyanya lagi, yang mereka sebut sebagai “langkah besar dalam neorealisme super-jelek.”

Tapi, jangan khawatir, tulis ibuku. Ibu tak akan berurusan lagi dengan patung. Ibu sudah membuang kotak peralatan yang kau tinggalkan. Sudah waktunya Ibu kembali ke penulisan.

Di akhir surat, dia menulis N.B.: Percy, Ibu menemukan sekolah swasta yang bagus di dalam kota. Ibu telah membayar uang muka untuk memesan tempat untukmu, kalau-kalau kau ingin mendaftar untuk kelas tujuh. Kau bisa tinggal di rumah. Tapi kalau kau mau tinggal sepanjang tahun di Bukit Blasteran, Ibu mengerti.

Sura titu kulipat dengan hati-hati dan kuletakkan di meja samping meja. Setiap malam sebelum tidur, aku membacanya lagi, dan berusaha memutuskan bagaimana membalasnya.

* * *

Pada tanggal empat Juli, hari kemerdekaan Amerika Serikat, semua anggota perkemahan berkumpul di pantai untuk menonton kembang api yang dibuat pondok sembilan. Sebagai anak-anak Hephaestus, mereka tidak puas hanya dengan ledakan merah-putih-biru yang basi. Mereka menambatkan sebuah kapal di lepas pantai dan memuatinya dengan roket sebesar misil Patriot. Menurut Annabeth, yang sudah pernah melihat pertunjukan ini tahun lalu, ledakannya demikian beruntun, sehingga terlihat seperti gambar animasi di langit. Katanya, acara puncaknya berupa sepasang pendekar Sparta setinggi tiga puluh meter, yang akan berderak-derak hidup di atas samudra, bertempur, lalu meledak menjadi sejuta warna.

Sementara aku dan annabeth menghamparkan selimut piknik, Grover muncul untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia berpakaian seperti biasa, jins dan kaus dan sepatu kets, tetapi dalam beberapa minggu terakhir dia mulai tampak lebih tua, hampir seusia anak SMA. Janggutnya menebal. Berat tubuhnya bertambah. Tanduknya tumbuh paling sedikit dua sentimeter, sehingga sekarang dia harus memakai topi rasta sepanjang waktu agar tetap mirip manusia.

“Aku berangkat,” katanya. “Aku mampir cuma untuk bilang … yah, kau tahu.”

Aku berusaha merasa bahagia untuknya. Kan tidak setiap hari seorang satir mendapat izin untuk mencari dewa besar Pan. Tetapi, mengucap selamat jalan itu susah. Aku baru kenal Grover setahun, tetapi dia teman terlamaku.

Annabeth memeluknya. Dia menyuruh Grover untuk tetap memakai kaki palsu, dan berjaga-jaga.

Aku bertanya di mana dia akan pertama mencari.

“Itu agak rahasia,” katanya, tampak malu. “Aku ingin sekali kalian bisa ikut denganku, teman-teman, tetapi manusia dan Pan ….”

“Kami mengerti,” kata Annabeth. “Sudah ada cukup persediaan kaleng timah untuk perjalanan ini?”

“Iya.”

“Dan serulingmu nggak lupa dibawa?”

“Ya ampun, Annabeth,” gerutu Grover. “Kau seperti ibu-ibu kambing saja.”

Tetapi, nada suaranya tidak terlalu kesal.

Dia menggenggam tongkat berjalan dan menyandang ransel. Dia mirip pejalan kaki yang meminta tumpangan yang sering terlihat di jalan raya Amerika—sama sekali tak mirip bocah kontet yang dulu sering kubela dari anak penindas di Akademi Yancy.

“Yah,” katanya, “mudah-mudahan aku berhasil.”

Dia memeluk Annabeth lagi. Dia menepuk bahuku, lalu berjalan kembali menuju bukit pasir.

Kembang api meledak dil angit: Hercules membunuh si singa Nemeas, Artemis mengejar celeng. George Washington (omong-omong, dia putra Athena) menyeberangi Sungai Delaware.

“Hei, Grover,” seruku.

Dia berbalik di tepi hutan.

“Ke mana pun kau pergi—mudah-mudahan di sana ada enchilada yang enak.”

Grover menyeringai, lalu dia pergi, pepohonan menutup di belakangnya.

“Kita pasti bertemu lagi dengannya,” kata Annabeth.

Aku berusaha meyakini itu. Kenyataan bahwa tak ada pencari yang pernah kembali selama dua ribu tahun … yah, kuputuskan aku tak mau memikirkan itu. Grover akan menjadi yang pertama. Harus.

* * *

Juli berlalu.

Aku menghabiskan hari-hariku menyusun strategi baru untuk permainan tangkap-bendera dan membuat persekutuan dengan pondok-pondok lain agar bendera itu tidak jatuh ke tangan pondok Ares. Aku akhirnya berhasil mencapai puncak tembok panjat tanpa terbakar lava.

Kadang-kadang aku melewati Rumah Besar, melirik ke jendela loteng, dan memikirkan si Peramal. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ramalannya telah tuntas.

Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang dewa yang berkhianat.

Sudah ke sana, sudah melakukan itu—meskipun si dewa pengkhianat itu ternyata Ares, bukan Hades.

Kau akan menemukan yang dicuri, dan mengembalikannya dengan selamat.

Beres. Satu petir asali sudah diantarkan. Satu helm kegelapan kembali di kepala berminyak Hades.

Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman.

Baris ini masih mengusikku. Ares pernah berpura-pura menjadi temanku, lalu mengkhianatiku. Pasti itu yang dimaksud sang Peramal …

Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting.

Aku memang gagal menyelamatkan ibuku, tetapi hanya karena aku membiarkannya menyelamatkan diri sendiri, dan aku tahu itu keputusan yang tepat.

Jadi, kenapa aku masih resah?

* * *

Malam terakhir sesi musim panas datang terlalu cepat.

Para pekemah bersantap malam bersama untuk terakhir kali. Kami membakar sebagian makanan untuk para dewa. Di api unggun, para Pembina senior menghadiahkan manik-manik akhir musim panas.

Aku mendapat kalung kulit punyaku sendiri. Utnunglah cahaya api menutupi rona pipiku saat aku melihat manik-manik untuk musim panasku yang pertama. Desainnya hitam jelaga, dengan trisula hijau laut berkilauan di tengah-tengah.

“Itu dipilih dengan suara bulat,” Luke mengumumkan. “Manik-manik ini memperingati Putra Dewa Laut pertama di perkemahan ini, dan misi yang diembannya ke bagian tergelap Dunia Bawah untuk menghentikan perang!”

Seluruh perkemahan berdiri dan bersorak-sorai. Bahkan pondok Ares merasa wajib berdiri. Pondok Athena mendorong Annabeth ke depan supaya dia dapat ikut menikmati tepuk tangan.

Rasanya aku belum pernah merasa sebahagia atau sesedih seperti yang kurasakan saat itu. Aku akhirnya menemukan sebuah keluarga, orang-orang yang peduli padaku dan menganggapku pernah melakukan sesuatu dengan benar. Dan esok paginya, sebagian besar orang itu akan pergi selama setahun.

* * *

Keesokan harinya aku menemukan surat standar di meja samping tempat tidur.

Aku tahu pasti Dionysus yang mengisinya, karena dia selalu bersikeras salah menyebut namaku:

Kepada Peter Johnson,

Jika Anda berniat tinggal di Perkemahan Blaster selama setahun, Anda harus memberi tahu Rumah Besar sebelum tengah hari ini. Jika Anda tidak menyatakan niat, kami akan berasumsi bahwa Anda telah meninggalkan pondok atau mati secara mengerikan. Para harpy pembersih akan mulai bekerja saat matahari terbenam. Semua barang pribadi yang ditinggalkan akan dibakar di lubang lava.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.