Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Gabe cuma bingung, Sayang,” kata ibuku. “Nanti Ibu bicara lagi dengannya. Ibu yakin segalanya akan beres.”

“Bu, keadaan nggak akan pernah beres. Selama Gabe masih berada di sini.”

Ibuku meremas-remas tangannya dengan gugup. “Ibu bisa … Ibu bisa membawamu ke tempat kerja selama sisa musim panas ini. Pada musim gugur, mungkin ada sekolah asrama lain—”

“Bu.”

Dia menurunkan pandangan. “Ibu berusaha, Percy. Ibu cuma … Ibu perlu waktu.”

Sebuah paket muncul di tempat tidurku. Setidaknya, aku berani sumpah paket itu tadinya tidak berada di situ.

Sebuah kotak kardus penyok yang ukurannya pas untuk muat bola basket. Alamat di label suratnya adalah tulisan tanganku sendiri:

Para Dewa

Gunung Olympus

Lantai 600

Empire State Building

New Yor, NY

Salam manis,

PERCY JACKSON

Di bagian atasnya, tulisan lelaki berupa huruf cetak yang jelas dan tegas, ditulis dengan spidol hitam, adalah alamat apartemen kami, dan kata-kata: KEMBALIKAN KE PENGIRIM.

Tiba-tiba aku memahami perkataan Poseidon di Olympus.

Paket. Keputusan.

Apa pun yang kaulakukan, ketahuilah bahwa kau anakku. Kau adalah putra sejati sang Dewa Laut.

Aku menatap ibuku. “Bu, apakah Ibu ingin Gabe dienyahkan?”

“Percy, masalahnya tak sesederhana itu. Ibu—”

“Bu, bilang saja. Bajingan itu suka memukuli Ibu. Ibu mau dia pergi atau tidak?”

Ibuku ragu, lalu mengangguk sedikit sekali. “Ya, Percy. Ibu mau. Dan Ibu sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahunya. Tapi kau jangan melakukan ini demi Ibu. Kau tak bisa menyelesaikan masalah Ibu.”

Aku menatap kotak itu.

Aku bisa menyelesaikan masalah Ibu. Aku ingin mengiris paket itu terbuka, meletakkannya di meja poker, dan mengeluarkan isinya. Aku bisa mulai membuat taman patung sendiri, tepat di ruang tamu.

Itulah yang dilakukan pahlawan Yunani di cerita-cerita, pikirku. Itulah yang layak diterima Gabe.

Tetapi, kisah pahlawan selalu berakhir dengan tragedi. Poseidon memberitahuku itu.

Aku ingat Dunia Bawah. Aku membayangkan arwah Gabe melayang selamanya di Padang Asphodel, atau dihukum dengan siksaan mengerikan di balik kawat berduri Padang Hukuman—selamanya bermain poker sambil duduk di dalam minyak mendidih sedalam pinggang, mendengarkan musik opera. Apakah aku berhak mengirim seseorang ke sana? Gabe sekalipun?

Sebulan yang lalu, aku tentu tak akan ragu. Sekarang ….

“Aku bisa,” kataku kepada ibuku. “Sekali lihat ke dalam kotak ini, dan dia nggak akan menggangu Ibu lagi.”

Ibuku melirik paket itu, dan tampaknya langsung memahami. “Tidak, Percy,” katanya sambil melangkah menjauh. “Kau tak bisa.”

“Poseidon menyebut Ibu seorang ratu,” kataku. “Katanya, dia belum pernah bertemu perempuan seperti Ibu selama seribu tahun.”

Pipinya merona. “Percy—”

“Ibu berhak menerima lebih daripada ini. Ibu harus kuliah, meraih gelar sarjana. Ibu bisa menulis novel, mungkin bertemu lelaki yang baik, tinggal di rumah bagus. Ibu nggak perlu melindungiku lagi dengan tetap menjadi istri Gabe. Biar kusingkirkan dia.”

Ibuku menghapus air mata dari pipi. “Bicaramu mirip sekali ayahmu,” katanya. “Dia pernah menawarkan untuk menghentikan air pasang bagi Ibu. Dia menawarkan membangunkan istana untuk Ibu di dasar laut. Dipikirnya dia bisa menyelesaikan semua masalah Ibu dengan melambaikan tangan.”

“Apa salahnya?”

Matanya yang warna-warni tampak menjelajahi hatiku. “Ibu rasa kautahu, Percy. Ibu rasa kau cukup mirip dengan Ibu, dan mengerti. Agar hidup Ibu berarti, Ibu harus menjalaninya sendiri. Ibu tak bisa membiarkan semua masalah Ibu diurus oleh seorang dewa … ataupun oleh anak sendiri. Ibu harus … menemukan keberanian sendiri. Misimu mengingatkan Ibu tentang itu.”

Terdengar suara keping poker dan umpatan, ESPN dari televisi ruang tamu.

“Kotak ini kutinggalkan,” kataku. “Kalau dia mengancam Ibu ….”

Ibuku tampak pucat, tetapi dia mengangguk. “Kau mau ke mana, Percy?”

“Bukit Blasteran.”

“Selama musim panas … atau selamanya?”

“Kayaknya itu tergantung.”

Kami bertemu mata, dan aku merasa kami mencapai kesepakatan. Kami akan menunggu perkembangan situasi hingga akhir musim panas.

Dia mengecup keningku. “Kau akan menjadi pahlawan, Percy. Kau akan menjadi pahlawan terhebat.”

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarku terakhir kali. Aku merasa tak akan pernah melihatnya lagi. Lalu, aku berjalan bersama ibuku ke pintu depan.

“Kok buru-buru pergi, Anak Ingusan?” seru Gabe kepadaku. “Enyahlah.”

Aku merasa ragu sekali lagi. Bagaimana aku bisa menolak peluang sempurna untuk membalas dendam kepadanya? Aku malah meninggalkan tempat ini tanpa menyelamatkan ibuku.

“Hei, Sally,” teriak Gabe. “Mana daging panggangnya?”

Tatapan amarah sekeras baja berkobar di mata ibuku, dan kupikir, mungkin saja aku meninggalkan ibuku di tangan yang tepat. Tangannya sendiri.

“Daging panggangnya sebentar lagi siap, Sayang,” katanya kepada Gabe. “Daging panggang kejutan.”

Dia menoleh kepadaku, dan mengedipkan mata.

Hal terakhir yang kulihat saat pintu itu berayun tertutup adalah ibuku menatap Gabe, seolah-olah mempertimbangkan bagaimana kira-kira penampilan suaminya sebagai patung taman.

22. Ramalan Itu Terjadi

Kami adalah pahlawan pertama yang kembali hidup-hidup ke Bukit Blasteran sejak Luke, jadi tentu saja semua orang memperlakukan kami seolah-olah kami baru memenangkan sayembara televisi. Menurut tradisi perkemahan, kami memakai mahkota daun dafnah untuk menghadiri perjamuan besar yang diadakan untuk menghormati kami, lalu memimpin arak-arakan ke api unggun, dan di sana kami boleh membakar kain kafan yang dibuatkan pondok masing-masing selagi kami pergi.

Kain kafan Annabeth sangat indah—sutra abu-abu bersulam burung hantu—kubilang padanya, sayang juga dia tidak dikuburkan dengan itu. Dia menonjokku dan menyuruhku tutup mulut.

Sebagai putra Poseidon, aku tak punya teman sepondok, jadi anak-anak pondok Ares secara sukarela membuatkan kain kafanku. Mereka menggunakan seprai tua dan melukis tepinya dengan wajah senyum bermata X, dan kata PECUNDANG yang dicat besar-besar di tengah.

Nikmat rasanya membakar itu.

Sementara pondok Apollo memimpin acara bernyanyi dan membagikan s’more, aku dikelilingi teman-teman lamaku dari pondok Hermes, teman-teman Annabeth dari pondok Athena, dan sobat-sobat satir Grover, yang mengagumi izin pencari baru yang diterimanya dari Dewan Tetua Berkuku Belah. Dewan itu menyebut penampilan Grover dalam misi ini “Berani sampai mengakibatkan sakit perut. Setanduk-dan-sejanggut lebih tinggi daripada apa yang pernah kami lihat di masa lalu.”

Satu-satunya kelompok anak yang tidak berselera berpesta adalah Clarisse dan teman-teman pondoknya. Tatapan beracun mereka memberitahuku bahwa mereka tak akan pernah memaafkanku karena telah mempermalukan ayah mereka.

Aku sih oke-oke saja.

Bahkan pidato sambutan Dionysus tidak cukup untuk meredam semangatku. “Iya deh, benar, anak manja itu tidak terbunuh dan sekarang dia akan semakin besar kepala. Hore. Pengumuman lainnya, lomba kano Sabtu ini ditiadakan ….”

Aku pindah kembali ke pondok tiga, tetapi sekarang tidak terasa terlalu sepi. Aku punya teman berlatih pada siang hari. Pada malam hari, aku berbaring terjaga dan mendengarkan lautan, tahu bahwa ayahku berada di luar sana. Mungkin dia belum terlalu yakin soal aku, mungkin dia bahkan tak menginginkan aku lahir, tetapi dia mengamatiku. Dan sejauh ini, dia bangga akan sepak-terjangku.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.