Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Rapormu sudah sampai, Sok Pintar!” serunya mengikutiku. “Nggak usah sombong begitu!”

Aku membanting pintu kamarku, yang sebenarnya bukan kamarku. Pada bulan-bulan sekolah, kamar itu menjadi “ruang kerja” Gabe. Dia tidak mengerjakan apa-apa di sini, selain membaca majalah mobil tua, tetapi dia senang menjejalkan barang-barangku ke dalam lemari, meninggalkan sepatu bot berlumpur di ambang jendela, dan berupaya keras menjadikan tempat itu berbau seperti cerutu dan bir basi dan kolonyenya yang busuk.

Kujatuhkan koper di atas tempat tidur. Rumahku istanaku.

Bau Gabe hampir lebih buruk daripada mimpi buruk tentang Bu Dodds, atau bunyi genting si nenek buah itu memutus benang.

Tapi, begitu aku teringat hal itu, kakiku terasa lemas. Aku ingat tampang panik Grover—bagaimana dia memaksaku berjanji bahwa aku tak akan pulang tanpa dia. Rasa dingin tiba-tiba melanda tubuhku. Aku merasa seolah-olah seseorang—atau seseorang—sedang mencariku saat ini, mungkin tergopoh-gopoh menaiki tangga, sementara cakarnya yang panjang dan mengerikan itu tumbuh.

Lalu, terdengar suara ibuku. “Percy?”

Dia membuka pintu kamar, dan rasa takutku meleleh.

Ibuku bisa membuatku merasa enak, hanya dengan memasuki ruangan. Matanya berbinar dan berubah-ubah warna dalam cahaya. Senyumnya sehangat selimut. Ada beberapa helai uban di antara rambutnya yang cokelat panjang, tetapi aku tak pernah menganggapnya tua. Saat dia memandangku, rasanya seperti dia melihat semua hal baik pada diriku, dan tak melihat satu pun yang buruk. Aku tak pernah mendengarnya membentak atau mengucapkan hal jahat kepada siapa pun, bahkan tidak padaku atau Gabe sekalipun.

“Oh, Percy.” Dia memelukku erat-erat. “Ibu hampir tak percaya. Kau sudah bertambah besar sejak Natal!”

Seragam Sweet on America-nya yang berwarna merah-putih-biru mengeluarkan bau hal-hal terbaik di dunia: cokelat, permen hitam licorice—akar manis, dan semua hal lain yang dijualnya di toko permen di Grand Central. Dia membawakanku sekantong besar “sampel gratis”, seperti yang selalu dilakukannya saat aku di rumah.

Kami duduk berdua di pinggir tempat tidur. Sementara aku mengganyang permen masam rasa blueberry, dia membelai rambutku dan ingin tahu segala hal yang tidak kuceritakan dalam surat-suratku. Dia tak menyinggung-nyinggung soal aku dikeluarkan. Dia tampak tak peduli soal itu. Tapi, apakah aku baik-baik saja? Apakah anak kesayangannya tak apa-apa?

Aku bilang, dia membuatku gerah dengan perhatiannya, dan memintanya jangan dekat-dekat, tetapi dalam hati aku benar-benar senang bertemu dengannya.

Dari kamar sebelah, Gabe berteriak, “Hei, Sally—bikinkan saus kacang!”

Aku mengertakkan gigi.

Ibuku perempuan paling baik di dunia. Semestinya dia menikah dengan miliarder, bukan orang berengsek seperti Gabe.

Demi dia, aku berusaha bersikap ceria tentang hari-hari terakhirku di Akademi Yancy. Kubilang aku tak terlalu kecewa soal dikeluarkan. Kali ini aku berhasil bertahan hampir sepanjang tahun. Aku mendapat beberapa teman baru. Nilaku cukup bagus dalam bahasa Latin. Dan sejujurnya, perkelahian-perkelahian itu tidak seburuk yang diceritakan kepala sekolah. Aku suka Akademi Yancy. Sungguh. Aku menggambarkan tahun ajaran itu begitu menyenangkan, aku sendiri hampir percaya. Tenggorokanku terasa tersumbat, saat aku memikirkan Grover dan Pak Brunner. Bahkan Nancy Bobofit tiba-tiba terasa tidak terlalu menyebalkan.

Hingga perjalanan ke museum itu ….

“Apa?” tanya ibuku. Matanya menyentak-nyentakkan nuraniku, berusaha mengorek semua rahasia. “Ada yang membuatmu takut?”

“Nggak, Bu.”

Aku merasa tak enak berbohong. Aku ingin bercerita kepada ibuku soal Bu Dodds dan tiga nenek dengan benang, tetapi kupikir cerita itu akan terdengar konyol.

Dia mengerucutkan bibirnya. Dia tahu aku belum menceritakan semua, tetapi dia tidak mendesak.

“Ibu punya kejutan untukmu,” katanya. “Kita akan ke pantai.”

Mataku melebar. “Montauk?”

“Tiga malam—pondok yang sama.”

“Kapan?”

Dia tersenyum. “Begitu Ibu salin pakaian.”

Aku tak percaya. Aku dan ibuku sudah dua musim panas tidak ke Montauk, karena kata Gabe, uangnya tidak cukup.

Gabe muncul di pintu dan menggeram, “Saus kacang, Sally. Kau nggak dengar, ya?”

Aku ingin menonjoknya, tetapi aku bertemu mata dengan ibuku dan aku mengerti bahwa dia menawariku perjanjian: bersikaplah baik kepada Gabe sebentar saja. Cuma sampai ibuku siap berangkat ke Montauk. Setelah itu, kami bisa pergi dari sini.

“Sebentar lagi kubuatkan, Sayang,” katanya kepada Gabe. “Kami cuma membicarakan perjalanan itu.”

Mata Gabe menyipit. “Perjalanan itu? Maksudmu, kau serius soal itu?”

“Sudah kuduga,” gerutuku. “Dia tak memperbolehkan kita pergi.”

“Tentu saja boleh,” kata ibuku tenang. “Ayah tirimu hanya khawatir soal uang. Itu saja. Lagi pula,” tambahnya, “Gabriel nggak akan cuma punya saus kacang. Ibu akan membuatkannya saus tujuh lapis cukup banyak untuk persediaan akhir pekan. Lalu, guacamole. Krim masam. Semuanya.”

Gabe melunak sedikit. “Jadi, uang untuk perjalananmu ini … diambil dari anggaran pakaianmu kan?”

“Iya, Sayang,” kata ibuku.

“Dan kau tak akan membawa mobilku ke mana-mana, selain ke sana lalu pulang lagi.”

“Kami akan sangat berhati-hati.”

Gabe menggaruk dagunya yang berlipat. “Barangkali kalau kau bisa cepat membuat saus tujuh lapis itu …. Dan kalau anak itu minta maaf karena mengganggu permainan pokerku.”

Mungkin kalau kau kutendang di tempat lemahmu, pikirku. Akan membuatmu bernyanyi sopran selama seminggu.

Tapi mata ibuku memperingatkanku agar tak membuat Gabe marah.

Kenapa ibuku bertahan dengan lelaki ini? Aku ingin menjerit. Mengapa ibuku peduli apa pendapatnya?

“Maaf,” gumamku. “Aku benar-benar menyesal, mengganggu permainan pokermu yang sangat penting. Silakan kembali bermain.”

Mata Gabe menipis. Otaknya yang mungil barangkali berusaha mendeteksi sarkasme dalam pernyataanku.

“Yah, terserah deh,” katanya memutuskan.

Dia kembali ke permainannya.

“Terima kasih, Percy,” kata ibuku. “Begitu sampai di Montauk, kita bisa mengobrol lebih banyak soal … apa pun yang lupa kauceritakan, oke?”

Sesaat kupikir kulihat kecemasan dalam matanya—rasa takut seperti yang kulihat dalam Grover pada perjalanan bus—seolah-olah ibuku juga merasakan udara dingin yang aneh.

Tetapi lalu dia tersenyum kembali, dan kusimpulkan aku pasti keliru. Dia mengacak rambutku dan keluar untuk membuatkan saus tujuh lapis untuk Gabe.

* * *

Sejam kemudian, kami siap berangkat.

Gabe berhenti bermain poker sebentar, cukup lama untuk melihatku menyeret tas-tas ibuku ke dalam mobil. Dia terus berkeluh-kesah soal kehilangan masakan ibuku—dan lebih penting lagi, Camaro ’78-nya—selama satu akhir pekan penuh.

“Jangan sampai tergores sedikit pun, anak genius,” dia mengingatkanku saat aku menaikkan tas terakhir. “Satu gores pun.”

Padahal kan bukan aku yang bakal menyetir. Umurku kan baru dua belas tahun. Tapi itu tak ada bedanya buat Gabe. Andai seekor burung camar buang air di atas cat mobilnya, dia pasti bisa mencari cara untuk menyalahkanku.

Saat melihatnya tersaruk-saruk kembali ke arah gedung apartemen, aku merasa sangat marah, sehingga melakukan sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Saat Gabe sampai ke pintu, aku meniru gerakan tangan yang kulihat dibuat Grover di atas bus. Tangan membentuk cakar di atas jantung, lalu bergerak mendorong ke arah Gabe. Pintu kawat terbanting tertutup begitu keras, sehingga memukul pantatnya dan membuatnya terpelanting ke atas tangga, seolah-olah dia ditembakkan dari meriam. Mungkin sebenarnya itu cuma angin, atau kecelakaan aneh akibat engsel, tapi aku tidak tinggal cukup lama untuk mengetahuinya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.