Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku tahu tak ada pilihan selain terbang. Aku berharap Zeus bersikap lunak kepadaku, mempertimbangkan situasinya. Tetapi, tetap sulit bagiku untuk memaksa diri menaiki pesawat.

Lepas landasnya seperti mimpi buruk. Setiap turbulensi terasa lebih mengerikan daripada monster Yunani. Aku baru melepaskan cengkeraman pada lengan kursi saat kami mendarat dengan aman di Bandara La Guardia. Pers setempat menunggu kami di luar pos satpam, tetapi kami berhasil menghindari mereka berkat Annabeth, yang berseru memancing mereka sambil memakai topi Yankees halimunan, “Mereka di dekat yoghurt beku! Ayo!” lalu bergabung kembali dengan kami di pengambilan bagasi.

Kami berpisah di halte taksi. Aku menyuruhAnnabeth dan Grover kembali ke Bukit Blasteran dan memberi tahu Chiron apa yang terjadi. Mereka memprotes, dan sulit rasanya melepaskan mereka pergi setelah segala yang kami alami, tetapi aku tahu aku harus melakukan bagian terakhir misi ini sendirian. Jika timbul masalah, jika para dewa tak memercayaiku … aku ingin Annabeth dan Grover masih hidup dan bisa memberitahukan kebenaran kepada Chiron.

Aku naik ke taksi dan menuju Manhattan.

* * *

Tiga puluh menit kemudian, aku masuk ke lobi Empire State Building.

Aku pasti seperti anak gelandangan, dengan pakaian compang-cmaping dan wajah luka-luka. Aku belum tidur setidaknya dua puluh empat jam.

Aku menghampiri satpam di meja depan dan berkata, “Lantai enam ratus.”

Dia sedang membaca buku tebal yang sampulnya bergambar seorang penyihir. Aku tidak terlalu menyukai novel fantasi, tetapi buku itu sepertinya seru, karena si satpam baru mengangkat pandangan setelah agak lama. “Tak ada lantai enam ratus di sini, Nak.”

“Aku perlu bertemu dengan Zeus.”

Dia memberiku senyum hampa. “Maaf?”

“Kau dengar aku.”

Aku sudah hampir menyimpulkan bahwa orang ini cuma manusia biasa, dan sebaiknya aku kabur sebelum dia menelepon rumah sakit jiwa, ketika dia berkata, “Tak ada janji bertemu, tak boleh bertemu, Nak. Dewa Zeus tidak mau menemui siapa pun tanpa pemberitahuan.”

“Oh, kurasa dia akan membuat pengecualian.” Aku menurunkan ransel dan membuka ritsletingnya.

Si satpam melihat silinder logam di dalamnya, dan selama beberapa detik tak mengerti apa benda itu. Lalu, wajahnya memucat.

“Itu bukan ….”

“Benar itu,” aku berjanji. “Kau ingin aku mengeluarkannya dan—”

“Jangan! Jangan!” Dia buru-buru turun dari kursi, mencari-cari kartu kunci di meja, dan menyerahkannya kepadaku. “Masukkan ini ke slot keamanan. Pastikan tak ada orang lain bersamamu di dalam lift.”

Aku mengikuti petunjuknya. Begitu pintu lift tertutup, aku menyelipkan kunci itu ke dalam slot. Kartu itu menghilang dan tombol baru muncul di panel, warna merah yang bertuliskan 600.

Aku menekannya dan menunggu, dan menunggu.

Terdengar musik santai. “Tetes hujan turun menimpa kepalaku ….”

Akhirnya, ding. Pintu terbuka. Aku melangkah keluar dan hampir kena serangan jantung.

Aku berdiri di jembatan batu sempit di tengah-tengah udara. Di bawahku Manhattan, dari ketinggian pesawat terbang. Di depanku, tangga marmer putih memutari tiang awan, ke langit. Mataku mengikuti tangga itu sampai ke ujung, sampai ke tempat yang tak dapat diterima otakku.

Lihat lagi, kata otakku.

Kami melihat, mataku bersikeras. Benar-benar ada.

Dari atas awan, sebuah puncak gunung menjulang, puncaknya terpotong dan berselimut salju. Di lerengnya bertengger belasan istana bertingkat—kota yang berisi rumah-rumah mewah—semuanya memiliki serambi berpilar putih, teras bersepuh emas, anglo perunggu yang bersinar dengan seribu api. Jalan-jalan melingkar liar ke puncak, tempat istana yang terbesar bersinar dengan latar salju. Taman-taman yang bertengger penuh dengan pohon zaitun dan semak mawar yang bermekaran. Aku dapat melihat pasar terbuka yang dipenuhi tenda warna-warni, amfiteater batu yang dibangun di satu lereng gunung, lapangan pacuan kuda dan stadion di sisi lereng lain. Itu kota Yunani Kuno, tetapi tidak berbentuk puing-puing. Kota itu baru, dan bersih, dan warna-warni, sebagaimana penampilan kota Athena dua ribu lima ratus tahun yang lalu.

Tempat ini tak mungkin ada sini, kataku dalam hati. Puncak gunung menggantung di atas Kota New York seperti asteroid sebesar satu miliar ton? Bagaimana sesuatu seperti itu bisa tertambat di atas Empire State Building, di depan mata jutaan orang, dan tidak disadari keberadaannya?

Tetapi, tempat itu ada. Dan di situlah aku berada.

Aku memasuki Olympus dengan linglung. Aku melewati beberapa peri hutan yang cekikikan, melempariku dengan zaitun dari tamanmereka. Penjaja di pasar menawarkan jualan es lilin ambrosia, dan perisai baru, dan replika Bulu Emas yang berkilauan, seperti yang terlihat di TV Hephaestus. Kesembilan Mousai—dewi-dewi musik, lagu, dan tarian—sedang menyetem alat musik untuk konser di taman, mulai dikerumuni beberapa orang—satir dan naiad dan sekelompok remaja rupawan yang ungkin adalah dewa-dewi minor. Tak ada yang tampak mencemaskan tentang perang saudara yang akan terjadi. Bahkan, semua orang tampaknya sedang bersukaria. Beberapa di antaranya menoleh untuk mengamatiku lewat, dan berbisik-bisik sendiri.

Aku mendaki jalan utama, menuju istana besar di puncak. Istana itu tepat kebalikan istana Dunia Bawah. Di sana, segala sesuatu berwarna hitam dan perunggu. Di sini, semuanya berkilauan putih dan perak.

Kusadari bahwa Hades tentu membangun istananya agar mirip dengan yang ini. Dia tidak boleh datang ke Olympus kecuali pada titik balik matahari musim dingin, jadi dia membangun Olympus-nya sendiri di bawah tanah. Meskipun aku berpengalaman buruk dengannya, aku merasa sedikit kasihan. Dibuang dari tempat ini pasti terasa tak adil. Siapa pun pasti menjadi getir kalau mengalaminya.

Undakan itu berujung di sebuah halaman tengah. Setelah itu, ruangan singgasana.

Ruangan sebenarnya bukan kata yang tepat. Dibandingkan dengan tempat itu, Stasiun KA Grand Central jadi seperti lemari sapu. Tiang-tiang besar menjulang hingga ke langit-langit berkubah, yang disepuh dengan rasi-rasi bintang yang bergerak.

Dua belas singgasana, dibangun untuk sosok sebesar Hades, tertata dalam bentuk U terbalik, persis seperti pondok di Perkemahan Blasteran. Api unggun raksasa berderak-derak di lubang perapian di tengah. Semua singgasana itu kosong, kecuali dua yang di ujung: singgasana utama di sebelah kanan, dan singgasana yang persis di sebelahnya. Aku tak perlu diberi tahu siapa kedua dewa yang sedang duduk di sana, menungguku mendekat. Aku menghampiri mereka, dengan kaki gemetar.

Kedua dewa itu berbentuk manusia raksasa, seperti Hades waktu itu, tetapi seitap kali melihat mereka tubuhku terasa kesemutan, seolah-olah mulai terbakar. Zeus, Pemimpin Para Dewa, mengenakan setelan jas biru tua bergaris-garis. Dia duduk di singgasana sederhana yang terbuat dari platinum padat. Janggutnya tercukur rapi, berwarna abu-abu bercampur hitam seperti awan badai. Wajahnya angkuh dan tampan dan suram, matanya abu-abu hujan. Sementara aku berjalan mendekat, udara berderak dan berbau ozon.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.