Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku berteriak, “Ombak!”

Langsung saja sebuah ombak melambung entah dari mana dan menelan celeng itu, membungkusnya seperti selimut. Makhluk itu mendecit ketakutan satu kali. Lalu hilang, ditelan oleh laut.

Aku kembali menghadap Ares. “Kau mau melawanku sekarang?” tanyaku. “Atau mau bersembunyi lagi di balik babi piaraan?”

Wajah Ares ungu karena murka. “Hati-hati, Bocah. Aku bisa mengubahmu menjadi—”

“Kecoak,” kataku. “Atau cacing pita. Iya, aku yakin. Itu tak akan membuat pantat dewamu dirotan, kan?”

Api menari-nari di sepanjang tepi atas kacamatanya. “Astaga, kau benar-benar minta dibakar hingga musnah.”

“Kalau aku kalah, ubah aku menjadi apa pun yang kauinginkan. Ambil petir itu. Kalau aku menang, helm dan petir itu menjadi milikku dan kau harus pergi.”

Ares mencibir.

Dia mengayunkan pemukul bisbol dari bahunya. “Kau ingin dilumatkan dengan cara apa: klasik atau modern?”

Aku mengacungkan pedang padanya.

“Boleh, bocah mampus,” katanya. “Klasik saja.” Pemukul bisbol itu berubah menjadi pedang besar yang dipegang dengan dua tangan. Gagangnya berupa tengkorak perak besar, mulutnya menggigit batu mirah.

“Percy,” kata Annabeth. “Jangan lakukan ini. Dia itu dewa.”

“Dia pengecut,” kataku kepadanya.

Annabeth menelan ludah. “Setidaknya, pakai ini. Supaya mujur.”

Dia melepaskan kalungnya, dengan manik-manik perkemahan untuk lima tahun dan cincin dari ayahnya, dan mengikatkannya di leherku.

“Perdamaian,” katanya. “Athena dan Poseidon bersama-sama.”

Mukaku terasa sedikit hangat, tetapi aku berhasil tersenyum. “Makasih.”

“Dan ambil ini,” kata Grover. Dia memberiku kaleng timah gepeng yang mungkin disimpannya di saku selama seribu kilometer. “Kaum satir mendukungmu.”

“Grover … aku nggak tahu harus berkata apa.”

Dia menepuk bahuku. Aku memasukkan kaleng timah itu di saku belakang.

“Sudah selesai berpamitan?” Ares mendekatiku, jaket kulit hitamnya melambai-lambai di belakang, pedangnya berkilauan seperti api tertimpa cahaya matahari terbit. “Aku sudah bertempuk selama semenjak dunia ada, Bocah. Kekuatanku tak terbatas dan aku tak bisa mati. Kau punya apa?”

Ego yang lebih kecil, pikirku, tetapi tak mengatakan apa-apa. Aku tetap berpijak dalam ombak, mundur ke dalam air hingga setinggi pergelangan kaki. Aku teringat perkataan Annabeth di restoran Denver, sudah begitu lama: Ares punya kekuatan. Cuma itu yang dia punya. Kekuatan sekalipun kadang-kadang harus tunduk kepada kearifan.

Dia mengayunkan pedangnya membelah kepalaku, tetapi aku sudah berpindah tempat.

Tubuhku berpikir untukku. Air seolah-olah mendorongku ke udara dan aku bersalto melewati kepala Ares, sambil mengayunkan pedang saat aku turun. Tetapi, Ares sama cepatnya. Dia berputar, dan tusukan yang semestinya bersarang di tulang punggungnya ditangkis dengan ujung gagang pedang.

Dia menyeringai. “Lumayan, lumayan.”

Dia membacok lagi dan aku terpaksa melompat ke tanah kering. Aku berusaha menyamping untuk kembali ke air, tetapi Ares tampaknya tahu apa yang kuinginkan. Geraknya lebih unggul, mendesak begitu keras sehingga aku harus memusatkan seluruh perhatianku agar tidak tercincang. Aku terus mundur dari laut. Aku tak bisa menemukan peluang untuk menyerang. Pedangnya bisa menjangkau beberapa kaki lebih jauh daripada Anaklusmos.

Dekati lawan, Luke pernah berkata kepadaku, dulu saat belajar bermain pedang. Kalau pedangmu lebih pendek, dekati lawan.

Aku melangkah masuk sambil menusuk, tetapi Ares sudah menebak gerakan itu. Dia memukul pedangku hingga terlepas dari tangan dan menendang dadaku. Aku terbang—enam, mungkin sembilan meter. Punggungku barangkali sudah patah andai aku tidak mendarat di bukit pasir yang empuk.

“Percy!” teriak Annabeth. “Polisi!”

Penglihatanku mendua. Dadaku seperti baru dihantam dengan balok pendobrak, tetapi aku berhasil berdiri.

Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari Ares, takut dia membelahku jadi dua, tetapi dari sudut mataku terlihat lampu merah berdenyar dari jalan sepanjang pantai. Pintu mobil dibanting.

“Di sana, Pak Polisi!” seseorang berteriak. “Lihat, kan?”

Suara seorang polisi yang parau: “Sepertinya anak di televisi itu … apa-apaan….”

“Pria itu bersenjata,” kata seorang polisi lain. “Panggil bala bantuan.”

Aku berguling ke samping sementara pedang Ares membacok pasir.

Aku berlari ke tempat pedangku, menyambarnya, lalu menebas ke muka Ares, tetapi ditangkis lagi.

Ares sepertinya tahu persis apa yang akan kulakukan persis sebelum kulakukan.

Aku melangkah kembali ke ombak, memaksanya ikut.

“Akuilah, Bocah,” kata Ares. “Kau tak mungkin menang. Aku cuma bermain-main denganmu.”

Indraku bekerja lembur. Sekarang aku memahami perkataan Annabeth, bahwa GPPH membantu kita bertahan hidup dalam pertempuran. Aku terjaga penuh, memerhatikan setiap detail.

Aku bisa melihat bagian tubuh Ares mana yang menegang. Aku bisa tahu ke mana dia akan menyerang. Pada saat yang sama, aku sadar akan Annabeth dan Grover, sepuluh meter di sebelah kiri. Aku melihat mobil polisi kedua berhenti, sirenenya meraung-raung. Para penonton orang yang keluyuran di jalan akibat gempa bumi, mulai berkerumun. Di antara kerumunan, aku merasa melihat beberapa orang yang berjalan dengan langkah berderap aneh, khas kaum satir. Juga ada sosok-sosok arwah yang berkilau, seolah-olah kaum mati telah bangkit dari Hades untuk menonton pertempuran. Aku mendengar kepak sayap berkulit melingkar-lingkar di suatu tempat di atas.

Sirene lagi.

Aku melangkah lebih jauh ke dalam air, tetapi Ares bergerak cepat. Ujung pedangnya merobek lengan baju dan menggores lenganku.

Suara polisi di megafon berkata, “Jatuhkan senapan! Letakkan di tanah. Sekarang!”

Senapan?

Aku melihat senjata Ares, yang tampak menggeriap; kadang terlihat seperti pistol, kadang pedang dua tangan. Aku tak tahu apa yang dilihat manusia di tanganku, tetapi aku cukup yakin benda itu tak akan membuat mereka menyukaiku.

Ares menoleh dan melotot kepada penonton. Aku mendapat waktu sesaat untuk bernapas. Sekarang ada lima mobil polisi, dan barisan polisi yang mendekam di belakangnya, mengarahkan pistol kepada kami.

“Ini masalah pribadi!” bentak Ares. “Enyahlah!”

Dia menyapukan tangan, dan sebuah tembok api merah bergulir di mobil-mobil patroli. Para polisi nyaris tak sempat melompat berlindung sebelum mobil mereka meledak. Kerumunan di balik mereka bercerai-berai, menjerit-jerit.

Ares tertawa menggelegar. “Nah, pahlawan kecil. Ayo ikut masuk ke panggangan ini.”

Dia membacok. Aku menangkis pedangnya. Akhirnya cukup dekat untuk menyerang, kulancarkan gerak tipuan untuk mengecoh, tetapi pedangku tertangkis. Ombak menampar-nampar punggungku sekarang. Ares sudah masuk ke air hingga sepaha, mengarung mengejarku.

Aku merasakan irama laut, ombaknya semakin besar karena air pasang naik, dan tiba-tiba aku mendapat ide. Ombak kecil, pikirku. Dan air di belakangku sepertinya menyurut. Aku menahan air pasang dengan kekuatan niat, tetapi energi air terkumpul, seperti soda di balik sumbat botol.

Ares maju, menyeringai dengan percaya diri. Aku menurunkan pedang, seolah-olah terlalu letih untuk meneruskan. Tunggu saat yang tepat, kataku kepada laut. Tekanannya sekarang hampir mengangkatku dari tanah. Ares mengangkat pedang. Aku melepaskan air pasang dan melompat, membubung tepat di atas Ares dengan meniti ombak.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.