Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Pakaian kami basah-kuyup, bahkan pakaianku. Saat perahu Penjaga Pantai muncul, aku berdoa dalam hati agar mereka tidak akan mengangkatku dari air dan menemukanku dalam keadaan kering, yang pastinya akan membuat orang heran. Jadi, aku menyuruh tubuhku agar basah kuyup. Benar saja, sihir tahan airku yang biasa telah hilang. Aku juga bertelanjang kaki, karena sepatuku kuberikan kepada Grover. Lebih baik Penjaga Pantai bertanya-tanya mengapa salah satu dari kami bertelanjang kaki daripada mengapa salah satu dari kami memiliki kaki kambing.

Setelah mencapai tanah kering, kami terseok-seok di sepanjang pantai, mengamati kota terbakar dengan latar matahari terbit yang indah. Aku merasa seperti baru kembali dari kematian—dan memang itulah yang terjadi. Ranselku masih diberati petir asali Zeus. Hatiku bahkan lebih berat lagi karena telah melihat ibuku.

“Aku nggak percaya,” kata Annabeth. “Kita sudah jauh-jauh pergi ke sana.”

“Ini tipuan,” kataku. “Strategi yang sehebat strategi Athena.”

“Hei,” katanya memperingatkan.

“Kau mengerti, kan?”

Dia menundukkan pandangannya, amarahnya memudar. “Iya. Aku mengerti.”

“Aku nggak!” kata Grover mengeluh. “Jelaskan—”

“Percy …” kata Annabeth. “Aku ikut sedih soal ibumu. Sungguh menyesal …”

Aku berpura-pura tak mendengar. Kalau aku membicarakan ibuku, bisa-bisa aku mulai menangis seperti anak kecil.

“Ramalan itu benar,” kataku. “’Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang dewa yang berkhianat.’ Tapi, bukan Hades. Hades nggak menginginkan perang di antara Tiga Besar. Orang lain yang mencuri. Seseorang yang mencuri petir asali Zeus, dan helm Hades, dan memfitnahku karena aku anak Poseidon. Poseidon akan disalahkan oleh kedua sisi. Sebelum matahari terbenam hari ink, akan ada perang segi tiga. Dan akulah penyebabnya.”

Grover menggeleng, bingung. “Siapa yang selicik itu? Siapa yang menginginkan perang seperti itu?”

Aku berhenti berjalan, melihat ke arah pantai. “Aduh, siapa ya, coba kupikir dulu.”

Dan dia pun berdiri di sana, menanti kami, dengan jaket kulit hitam dan kacamata hitam, pemukul bisbol aluminium tersandang di bahu. Sepeda motornya menggemuruh di samping, lampu depannya memerahkan pasir.

“Hei, Bocah,” kata Ares, seolah-olah setulusnya senang bertemu denganku. “Kau seharusnya mati.”

“Kau menipuku,” kataku. “Kau yang mencuri petir asali dan helm itu.”

Ares menyeringai. “Sebenarnya, aku tidak mencurinya sendiri. Dewa mengambil lambang kekuasaan dewa lain—itu larangan besar. Tapi kau bukan satu-satunya pahlawan di dunia ini yang bisa menjalankan tugas.”

“Siapa yang kaugunakan? Clarisse? Dia berada di sana pada titik balik matahari musim dingin.”

Gagasan itu sepertinya membuatnya geli. “Tidak penting. Yang penting, Bocah, kau menghambat upaya perang. Begini, kau harus mati di Dunia Bawah. Lalu, si Ganggang Tua itu akan marah pada Hades karena membunuhmu. Si Napas Bangkai akan memegang petir asali, jadi Zeus akan marah juga padanya. Dan Hades masih mencari ini ….”

Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah topi ski—seperti yang sering dipakai perampok bank—dan meletakkannya di antara setang motor. Langsung saja topi itu berubah menjadi helm perang perunggu yang rumit.

“Helm kegelapan,” dengap Grover.

“Persis,” kata Ares. “Sampai di mana aku tadi? Oh iya, Hades akan marah pada Zeus dan Poseidon, karena dia tak tahu siapa yang mengambil helm ini. Tak lama kemudian, terjadi pesta bogem tiga arah yang mengasyikkan.”

“Tapi, mereka itu keluargamu!” Annabeth protes.

Ares mengangkat bahu. “Jenis perang yang paling bagus. Selalu paling berdarah. Tak ada yang setara asyiknya dengan menonton saudaramu bertempur, itu yang selalu kubilang.”

“Kau memberiku ransel itu di Denver,” kataku. “Selama itu petir asali ada di dalamnya.”

“Ya dan tidak,” kata Ares. “Mungkin terlalu rumit untuk dipahami otak manusiamu yang kecil, tetapi ransel itu sebenarnya sarung petir asali, cuma berubah bentuk sedikit. Petir itu terkait dengannya, mirip-mirip dengan pedangmu itu, Bocah. Pedang itu selalu kembali ke sakumu, kan?”

Aku tak tahu bagaimana Ares tahu soal itu, tapi barangkali seorang dewa perang memang harus berusaha tahu tentang segala macam senjata.

“Pokoknya,” lanjut Ares, “sihirnya kuotak-atik sedikit, supaya petir itu baru kembali ke sarungnya setelah kau mencapai Dunia Bawah. Begitu kau mendekati Hades …. Langsung deh, kiriman posnya sampai. Andai kau mati dalam perjalanan—tak ada yang rugi. Senjata itu masih kupegang.”

“Tapi kenapa tak kau simpan sendiri saja petir asali itu?” tanyaku. “Kenapa dikirim ke Hades?”

Rahang Ares berkedutan. Selama sesaat, dia kelihatan seolah-olah mendengarkan suara lain, jauh di dalam kepalanya. “Kenapa aku tidak … ya … dengan kekuatan api seperti itu ….”

Dia masuk trance itu selama satu detik … dua detik …

Aku bertukar pandangan gugup dengan Annabeth.

Wajah Ares menjadi jernih. “Aku tak ingin repot. Lebih baik kau yang tepergok memiliki benda itu.”

“Kau bohong,” kataku. “Mengirim petir itu ke Dunia Bawah bukan gagasanmu, ya?”

“Tentu saja itu gagasanku!” Asap mengepul dari kacamata hitamnya, seolah-olah akan terbakar.

“Bukan kau yang memerintahkan pencurian itu,” tebakku. “Ada orang lain yang mengirim seorang pahlawan untuk mencuri kedua benda itu. Lalu, ketika Zeus mengutusmu untuk memburunya, kau menangkap pencuri itu. Tapi kau tak menyerahkannya kepada Zeus. Sesuatu meyakinkanmu untuk melepaskan orang itu. Kau menyimpan benda-benda itu sampai ada pahlawan lain yang datang dan bisa mengantarkannya. Makhluk di lubang itu menyuruh-nyuruhmu.”

“Aku Dewa Perang! Aku tak menerima perintah dari siapa pun! Aku tak pernah bermimpi!”

Aku ragu. “Siapa yang menyebut-nyebut mimpi?”

Ares tampak resah, tetapi dia berusaha menutupinya dengan tersenyum mengejek.

“Kita kembali ke masalah sekarang, Bocah. Kau masih hidup. Aku tak bisa membiarkanmu membawa petir itu ke Olympus. Kalau-kalau kau berhasil membuat orang-orang tolol keras kepala itu mendengarmu. Jadi, aku harus membunuhmu. Bukan masalah pribadi.”

Dia menjentikkan jari. Pasir meledak di kakinya dan keluarlah seekor celeng liar, lebih besar dan lebih jelek lagi daripada celeng yang kepalanya tergantung di atas pintu pondok tujuh di Perkemahan Blaster. Makhluk itu mengais-ngais pasir, memelototiku dengan mata manik-manik, sambil menurunkan cula tajam dan menunggu aba-aba membunuh dikeluarkan.

Aku melangkah ke air. “Lawan aku sendiri, Ares.”

Dia tertawa, tetapi aku mendengar nada yang sedikit meninggi dalam tawanya … keresahan. “Kau cuma punya satu bakat, Bocah, yaitu melarikan diri. Kau melarikan diri dari Chimera. Kau melarikan diri dari Dunia Bawah. Kau tak punya nyali.”

“Takut, ya?”

“Enak saja.” Tetapi, kacamatanya mulai meleleh akibat panas matanya. “Tak boleh ada keterlibatan langsung. Maaf, Bocah. Kau tidak selevel denganku.”

Annabeth berkata, “Percy, lari!”

Celeng raksasa itu menerjang.

Tetapi, aku tak mau lagi melarikan diri dari monster. Atau Hades, atau Ares, atau siapa pun.

Sementara celeng itu menyerangku, aku membuka penaku dan bergeser ke samping. Riptide muncul di tanganku. Kuayunkan ke atas. Taring kanan celeng terpotong dan jatuh di kakiku, sementara hewan yang kehilangan arah itu menerjang ke laut.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.