Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Hades melepaskan sebuah bola api keemasan dari telapak tangannya. Bola itu meledak di atas tangga di depanku, dan di sana ada ibuku, beku dalam hujan emas, persis seperti keadaannya saat si Minotaur mulai mencekiknya hingga mati.

Lidahku kelu. Aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, tetapi cahayanya sepanas api unggun.

“Ya,” kata Hades dengan puas. “Aku yang mengambilnya. Aku tahu, Percy Jackson, pada akhirnya kau akan datang untuk tawar-menawar denganku. Kembalikan helmku, maka mungkin aku akan melepaskannya. Dia tidak mati, kautahu. Belum. Tapi kalau kau tak menyenangkan hatiku, itu akan berubah.”

Aku teringat pada mutiara di saku. Mungkin mutiara itu bisa menolongku keluar dari masalah ini. Kalau aku bisa membebaskan ibuku ….

“Ah, mutiara itu,” kata Hades, dan darahku membeku. “Ya, kakakku dan muslihat-muslihat kecilnya. Keluarkan, Percy Jackson.”

Bertentangan dengan keinginanku, tanganku bergerak dan mengeluarkan mutiara-mutiara itu.

“Hanya tiga,” kata Hades. “Sayang sekali. Kau tahu, kan, setiap mutiara itu hanya dapat melindungi satu orang. Kalau begitu, cobalah ambil ibumu, Anak Dewa Cilik. Dan temanmu yang mana yang akan kautinggalkan untuk menjalani keabadian bersamaku? Ayo. Pilihlah. Atau beri aku ransel itu dan terima syaratku.”

Aku menoleh kepada Annabeth dan Grover. Wajah mereka suram.

“Kita ditipu,” kataku kepada mereka. “Dijebak.”

“Iya, tapi kenapa?” tanya Annabeth. “Dan suara di dalam lubang—”

“Aku belum tahu,” kataku. “Tapi aku mau bertanya.”

“Putuskan, Bocah!” bentak Hades.

“Percy.” Grover meletakkan tangan di bahuku. “Kau nggak boleh memberinya petir itu.”

“Aku tahu.”

“Tinggalkan aku di sini,” katanya. “Gunakan mutiara ketiga untuk ibumu.”

“Tidak!”

“Aku seorang satir,” kata Grover. “Kami tak punya jiwa seperti manusia. Dia bisa menyiksaku sampai aku mati, tapi dia tak akan mendapatkanku selamanya. Aku hanya akan direinkarnasi sebagai bunga atau apa. Ini cara terbaik.”

“Jangan.” Annabeth menghunus belati perunggunya. “Kalian pergi saja. Grover, kau harus melindungi Percy. Kau harus mendapatkan izin pencarimu dan memulai misimu mencari Pan. Bawa ibunya dari sini. Aku akan melindungimu. Aku berencana mati dengan berjuang.”

“Nggak mau,” kata Grover. “Aku saja yang di sini.”

“Pikir lagi, Anak Kambing,” kata Annabeth.

“Hentikan, kalian berdua!” Aku merasa seakan-akan hatiku dikoyak menjadi dua. Mereka berdua telah menemaniku menghadapi begitu banyak hal. Aku ingat Grover menukik memukul Medusa di taman patung, dan Annabeth menyelamatkan kami dari Cerberus; kami berhasil bertahan hidup di wahana Waterland milik Hephaestus, Gateway Arch di St. Louis, Kasino Teratai. Aku menempuh ribuan kilometer dengan cemas, bahwa aku akan dikhianati seorang teman, tetapi teman-temanku yang ini tak akan pernah melakukan itu. Mereka hanya pernah menyelamatkanku, berulang-ulang, dan sekarang mereka ingin mengorbankan nyawa demi ibuku.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan,” kataku. “Ambil ini.”

Aku memberi mereka masing-masing sebutir mutiara.

Kata Annabet, “Tapi, Percy …”

Aku berbalik dan menghadap ibuku. Aku sangat ingin mengorbankan diriku sendiri dan menggunakan mutiara terakhir itu untuknya, tetapi aku tahu apa yang pasti dikatakannya. Dia pasti tidak memperbolehkan aku melakukan ini. Aku harus membawa petir itu kembali ke Olympus dan memberi tahu Zeus keadaan sebenarnya. Aku harus menghentikan perang. Ibuku tak akan memaafkanku kalau aku malah menyelamatkan dia. Aku teringat pada ramalan di Bukit Blaster, yang terasa terjadi sejuta tahun yang lalu. Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting.

“Maaf,” kataku kepadanya. “Aku akan kembali. Akan kucari caranya.”

Tampang sombong pada wajah Hades memudar. Katanya, “Anak dewa …?”

“Akan kutemukan helmmu, Paman,” kataku kepadanya. “Akan kukembalikan. Ingat soal kenaikan gaji Charon.”

“Jangan menentangku—”

“Dan nggak ada ruginya Paman bermain dengan Cerberus sekali-sekali. Dia suka bola karet merah.”

“Percy Jackson, kau tak boleh—”

Aku berseru, “Sekarang, teman-teman!”

Kami membanting mutiara di kaki. Selama satu detik yang mengerikan, tak terjadi apa-apa.

Hades berteriak, “Hancurkan mereka!”

Pasukan kerangka tulang bergegas maju, pedang terhunus, senapan berbunyi klik menjadi otomatis penuh. Erinyes menerjang, cambuk mereka berkobar.

Persis ketika para kerangka tulang itu menembak, keping-keping mutiara di kakiku meletus dengan ledakan cahaya hijau dan tiupan angin laut yang segar. Aku terselubung dalam bola putih seperti susu, yan gmulai melayang dari tanah.

Annabeth dan Grover berada tepat di belakangku. Tombak dan pedang membal begitu kena gelembung mutiara, sementara kami melayang naik. Hades berteriak dengan begitu marah, seluruh benteng berguncang dan aku tahu L.A. tak tidur lelap malam itu.

“Lihat ke atas!” teriak Grover. “Kita akan menabrak!”

Benar saja, kami melaju tepat ke arah stalaktit, yang kupikir akan meledakkan gelembung dan menusuk kami.

“Bagaimana cara mengendalikan ini?” teriak Annabeth.

“Kayaknya nggak bisa dikendalikan!” aku balas berteriak.

Kami menjerit sementara gelembung menabrak ke langit-langit dan … Gelap.

Apakah kami mati?

Tidak, aku tetap dapat merasakan sensasi gerakan. Kami naik, menembus batu padat, semudah gelembung udara menembus air. Itulah keajaiban mutiara itu, kusadari—Apa yang milik laut akan selalu kembali ke laut.

Selama beberapa saat, aku tak bisa melihat apa-apa di luar tembok bola yang mulus, lalu mutiara itu menembus ke dasar laut. Dua bola susu lain, Annabeth dan Grover mengikutiku sementara kami membubung menembus air. Dan—plas!

Kami meledak ke permukaan, di tengah-tengah Teluk Santa Monica, menyenggol seorang peselancar dari papannya yang berseru sebal, “Hei!”

Aku menyambar Grover dan menariknya ke pelampung laut. Aku menangkap Annabeth dan menyeret dia juga. Seekor hiu yang penasaran mengitari kami, hiu putih besar sepanjang sekitar tiga meter.

Aku berkata, “Pergi sana.”

Hiu itu berbalik dan bergegas pergi.

Si peselancar berteriak tentang keracunan jamur basi dan mendayung menjauhi kami secepatnya.

Entah bagaimana, aku tahu jam berapa saat itu: dini hari, 21 Juni, hari titik balik matahari musim panas.

Di kejauhan, Los Angeles kebakaran, asap mengepul dari berbagai tempat di seluruh kota. Ternyata benar, telah terjadi gempa, dan itu salah Hades. Dia mungkin sedang mengirim pasukan kaum mati mengejarku.

Tapi saat ini, Dunia Bawah bukan masalah terbesarku.

Aku harus ke pantai. Aku harus membawa petir Zeus kembali ke Olympus. Dan yang terpenting, aku harus bicara serius dengan dewa yang menipuku.

20. Aku Bertempur dengan Kerabatku yang Brengsek

Sebuah perahu Penjaga Pantai menjemput kami, tetapi mereka terlalu sibuk sehingga tak menahan kami lama-lama, tidak pula bertanya-tanya bagaimana tiga anak berpakaian biasa bisa sampai ke tengah-tengah teluk. Ada bencana yang harus ditangani. Radio mereka mendapat panggilan darurat tanpa henti.

Mereka mengantarkan kami di Dermaga Santa Monica, dengan handur tersampir di bahu dan botol air yang bertuliskan AKU PENJAGA PANTAI JUNIOR! dan melaju pergi untuk menyelamatkan orang lagi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.