Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku menelan ludah. Ini berjalan selancar yang kutakutkan.

Aku melirik ke singgasana kosong yang lebih kecil di sebelah Hades. Bentuknya seperti bunga hitam, bersepuh emas. Andai saja Ratu Persephone ada di sini. Aku ingat dalam mitos, bahwa dia dapat menenangkan suasana hati suaminya. Tetapi, sekarang sedang musim panas. Tentu saja Persephone berada di atas, di dalam dunia cahaya bersama ibunya, dewi pertanian, Demeter. Kunjungan Persephone-lah, bukan kemiringan planet, yang menciptakan musim.

Annabeth berdeham. Jarinya menyodok punggungku.

“Dewa Hades,” kataku. “Dengar, di antara dewa tak boleh ada perang. Kalau terjadi, pasti … buruk hasilnya.”

“Sangat buruk,” tambah Grover membantu.

“Kembalikanlah petir asali milik Zeus kepadaku,” kataku. “Tolong, Paman. Biarlah kubawa ke Olympus.”

Mata Hades tahu-tahu berbinar berbahaya. “Kau berani terus berpura-pura ya, setelah melakukan perbuatanmu?”

Aku melirik teman-temanku. Mereka tampak sama bingungnya denganku.

“Eh … Paman,” kataku. “Paman terus berkata ‘setelah melakukan perbuatan-mu.’ Apa persisnya yang telah kuperbuat?”

Ruangan singgasana berguncang dengan getaran yang sangat kuat, pasti terasa sampai ke Los Angeles. Puing-puing jatuh dari langit gua. Pintu terempas terbuka di sepanjang tembok, dan pendekar tengkorak berderap masuk, ratusan jumlahnya, dari setiap zaman dan bangsa dalam peradaban Barat. Mereka mengelilingi ruangan, menghadang semua jalan keluar.

Hades berteriak, “Kaupikir aku ingin perang, anak dewa?”

Aku ingin berkata, Yah, orang-orang ini bukan tipe aktivis perdamaian, kan? Tetapi, kupikir jawaban itu mungkin berbahaya.

“Kau Penguasa Orang Mati,” kataku dengan hati-hati. “Perang kaan memperluas kerajaanmu, bukan?”

“Khas perkataan kakak-adikku! Kau pikir aku perlu bawahan lebih banyak? Apakah kau tidak melihat luasnya Padang Asphodel?”

“Yah ….”

“Apakah terbayang olehmu seberapa besar pembengkakan kerajaanku selama abad terakhir ini saja, berapa banyak subdivisi yang terpaksa kubuka selama ini?”

Aku membuka mulut untuk menjawab, tetapi Hades sedang panas sekarang.

“Tambahan satpam siluman,” erangnya. “Masalah kemacetan di paviliun penghakiman. Uang lembur berlipat untuk staf. Aku mengendalikan semua logam mulia di bawah bumi. Tapi pengeluaranku!”

“Charon ingin kenaikan gaji,” cetusku, baru saja teringat hal itu. Begitu aku mengatakannya, aku ingin sekali bisa menjahit mulutku.

“Jangan sampai aku mulai mengeluh tentang Charon!” bentak Hades. “Dia rewel sejak menemukan setelan jas Italia! Masalah di mana-mana, dan semuanya harus langsung kutangani sendiri. Lamanya pulang-pergi dari istana ke gerbang saja sudah cukup untuk membuatku gila! Dan kaum mati terus saja berdatangan. Tidak, anak dewa. Aku tak perlu bantuan memperoleh bawahan! Bukan aku yan gmeminta perang ini.”

“Tapi kau mengambil petir asali milik Zeus.”

“Dusta!” Gemuruh lagi. Hades bangkit dari singgasananya, menjulang hingga setinggi tiang bendera. “Ayahmu mungkin bisa mengelabui Zeus, Bocah, tapi aku tidak sebodoh itu. Aku bisa menebak rencananya.”

“Rencananya?”

“Kaulah si pencuri pada titik balik matahari musim dingin,” katanya. Ayahmu berniat terus merahasiakanmu. Dia memberimu petunjuk ke ruang singgasana di Olympus. Kau mengambil petir asali dan helmku. Andai aku tidak mengirim Erinyes untuk menemukanmu di Akademi Yancy, Poseidon mungkin berhasil menyembunyikan muslihatnya untuk memulai perang. Tapi sekarang kau telah dipaksa untuk muncul di permukaan. Kau akan dibeberkan sebagai pencuri suruhan Poseidon, dan aku ingin helmku dikembalikan!”

“Tapi …” kata Annabeth. Aku bisa menduga bahwa benaknya berpacu sejuta kilometer per jam. “Dewa Hades, helm kegelapanmu juga hilang?”

“Jangan pura-pura bodoh, Bocah. Kau dan satir ini telah membantu pahlawan ini—datang ke sini, pasti untuk mengancamku atas nama Poseidon—untuk memberiku ultimatum. Apa Poseidon menyangka, aku bisa diperas agar mendukungnya?”

“Tidak!” kataku. “Poseidon tidak—aku tidak—”

“Selama ini aku tak mengatakan apa-apa tentang hilangnya helm itu,” Hades menggeram, “karena aku tidak punya pikiran muluk bahwa akan ada orang di Olympus yang mau menawariku keadilan sedikit pun, bantuan sedikit pun. Akulah yang rugi jika tersebar kabar bahwa senjata angkerku yang paling sakit itu hilang. Jadi, aku sendiri yang mencarimu, dan ketika sudah jelas kau akan mendatangiku untuk menyampaikan ancaman, aku tidak berusaha menghentikanmu.”

“Kau tidak berusaha menghentikan kami? Tapi—”

“Kembalikan helmku sekarang, atau aku akan menghentikan kematian,” ancam Hades. “Itu tawaran dariku. Aku akan membuka bumi dan membiarkan kaum mati membanjir kembali ke dunia. Aku akan menjadikan negeri-negerimu mimpi buruk. Dan kau, Percy Jackson—tengkorakmu akan memimpin pasukanku keluar dari Hades.”

Semua tentara tengkorak maju satu langkah, menyiapkan senjata.

Pada titik itu, mungkin seharusnya aku ketakutan. Anehnya, aku merasa tersinggung. Aku paling marah kalau dituduh melakukan sesuatu yang tak kulakukan. Aku sudah sering mengalami itu.

“Kau sama buruknya dengan Zeus,” kataku. “Kaupikir aku mencuri darimu? Itu sebabnya kau mengutus Erinyes untuk mengejarku?”

“Tentu saja,” kata Hades.

“Dan monster-monster lain?”

Hades mengerutkan bibir. “Aku tak berkaitan dengan mereka. Aku tak ingin kau mati cepat—aku ingin kau dibawa ke hadapanku hidup-hidup supaaya kau bisa menghadapi setiap siksa di Padang Hukuman. Pikirmu kenapa aku membiarkanmu masuk kerajaanku begitu mudah?”

“Mudah?”

“Kembalikan barangku!”

“Tapi aku tak memegang helmmu. Aku datang untuk meminta petir asali.”

“Yang sudah kaumiliki!” teriak Hades. “Kau datang ke sini dengan membawanya, Bocah Tolol, menyangka kau dapat mengancamku!”

“Tapi akunggak bawa petir!”

“Coba buka tasmu.”

Firasat buruk melandaku. Berat di ranselku, seperti bola boling. Mustahil ….

Aku menurunkan ransel itu dan membuka ritsletingnya. Di dalamnya terdapat silinder logam sepanjang 60 sentimeter, kedua ujungnya tajam, mendengung dengan energi.

“Percy,” kata Annabeth. “Bagaimana—”

“Ng—nggak tahu. Aku nggak ngerti.”

“Kalian pahlawan selalu sama saja,” kata Hades. “Kepongahan membuatmu tolol, menyangka kau dapat membawa senjata seperti itu ke hadapanku. Aku tidak meminta petir asali Zeus, tetapi karena sudah berada di sini, kau akan menyerahkannya kepadaku. Aku yakin ini bisa menjadi alat tawar-menawar yang baik. Dan sekarang … helmku. Mana helmku?”

Aku terdiam seribu bahasa. Aku tak punya helm. Aku tak tahu sama sekali bagaimana petir asali itu bisa masuk ke dalam ranselku. Aku ingin berpikir bahwa Hades sedang bermuslihat. Hades itu tokoh jahat. Tetapi, tiba-tiba dunia jungkir balik. Kusadari bahwa aku telah dipermainkan. Zeus, Poseidon, dan Hades telah diadu domba oleh orang lain. Petir asali itu berada di ransel, dan aku mendapatkan ransel itu dari …

“Dewa Hades, tunggu,” kataku. “Ini semua kekeliruan.”

“Kekeliruan?” Hades menggelegar.

Para kerangka tulang mengarahkan senjata. Dari ketinggian di atas, terdengar kepakan sayap berkulit, dan tiga Erinyes menukik lalu bertengger di punggung singgasana majikan mereka. Erinyes yang berwajah seperti Bu Dodds menyeringai kepadaku dengan bersemangat dan melecutkan cambuknya.

“Tak ada kekeliruan,” kata Hades. “Aku tahu mengapa kaudatang—aku tahu alasan sesungguhnya kau membawa petir itu. Kau datang untuk tawar-menawar soal dia.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.