Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Grover duduk tegak. “Bu—bunyi apa itu?”

Annabeth juga mendengarnya sekarang. Terlihat di matanya. “Tartarus. Pintu masuk ke Tartarus.”

Aku membuka tutup Anaklusmos.

Pedang perunggu itu membesar, bersinar dalam kegelapan, dan suara jahat itu tampaknya ragu, sesaat saja, sebelum melanjutkan celotehnya.

Aku hampir bisa menangkap kata-katanya sekarang, kata yang sangat kuno, bahkan lebih kuno daripada bahasa Yunani. Seolah-olah ….

“Sihir,” kataku.

“Kita harus keluar dari sini,” kata Annabeth.

Bersama-sama kami menyeret Grover berdiri dan mulai mundur menyusuri terowongan. Kakiku terasa lambat sekali. Ranselku memberatiku. Suara itu semakin lantang dan marah di belakang kami, dan kami pun berlari.

Waktunya tepat sekali.

Tiupan angin dingin menarik punggung kami, seolah-olah seluruh lubang itu sedang mengisap napas. Selama satu detik yang mengerikan, aku terpeleset, kakiku tergelincir di kerikil. Andai kami lebih dekat ke tepi, kami pasti sudah tersedot masuk.

Kami terus berjuang maju, dan akhirnya mencapai puncak terowongan, dan gua itu melebar ke Padang Asphodel. Angin itu berhenti. Lolongan ukra menggema dari kejauhan terowongan. Sesuatu merasa tidak senang bahwa kami lolos.

“Apa sih itu tadi?” Grover terengah-engah, saat kami ambruk dalam keamanan relatif sekelompok poplar hitam.

“Salah satu piaraan Hades?”

Aku dan Annabeth saling pandang. Aku tahu dia sedang menimbang-nimbang suatu pikiran,, mungkin pikiran yang sama dengan yang diperolehnya dalam perjalanan taksi ke L.A., tetapi dia terlalu takut untuk menceritakannya. Itu saja sudah cukup untuk membuatku ngeri.

Aku menutup pedang, memasukkan pena itu kembali ke saku. “Mari kita lanjut.” Aku menatap Grover. “Kau bisa berjalan?”

Dia menelan ludah. “Iya, tentu. Dari dulu juga aku nggak suka sepatu itu.”

Dia berusaha terdengar tabah, tetapi dia gemetar sama parahnya dengan aku dan Annabeth. Apa pun yang berada di lubang itu bukan piaraan siapa pun. Dia sangat tua dan kuat. Echidna sekalipun tidak menimbulkan perasaan seperti itu. Aku hampir merasa lega memunggungi terowongan itu dan menuju istana Hades.

Hampir.

* * *

Para Erinyes mengitari kota mara, tinggi di dalam kekelaman. Tembok luar benteng itu berkilauan hitam, dan gerbang perunggu setinggi dua lantai itu terbuka lebar.

Setelah dekat, kulihat bahwa ukiran pada gerbang itu adalah adegan-adegan kematian. Beberapa berasal dari zaman modern—bom atom yang meledak di sebuah kota, parit yang berisi tentara bertopeng gas, antrean korban kelaparan Afrika yang menunggu sambil membawa mangkuk kosong—tetapi semua adegan itu sepertinya diukir pada perunggu itu ribuan tahun yang lalu. Aku bertanya-tanya apakah aku sedang melihat ramalan yang telah terjadi.

Di dalam pekarangan, ada taman teraneh yang pernah kulihat. Jamur warna-warni, semak beracun, dan tanaman bercahaya ajaib yang tumbuh tanpa sinar matahari. Permata mulia mengimbangi ketiadaan bunga, tumpukan batu mirah delima sebesar-besar kepalanku, tumpukan intan merah. Di sana-sini, berdiri patung-patung taman Medusa seperti tamu pesta yang membeku—anak-anak, satir, dan centaurus yang dijadikan batu—semuanya tersenyum mengerikan.

Di tengah-tengah taman terdapat kebun pohon delima, bunga jingganya cerah seperti neon dalam gelap. “Kebun Persephone,” kata Annabeth. “Terus berjalan.”

Aku mengerti mengapa dia ingin cepat-cepat lewat. Bau kecut delima itu sangat santer. Aku tiba-tiba ingin melahapnya, tetapi lalu aku ingat kisah Persephone. Segigit makanan Dunia Bawah, dan kami tak akan pernah bisa pergi. Aku menarik Grover menjauh agar dia tidak memetik sebuah delima besar yang merekah basah.

Kami menaiki tangga ke istana, di antara tiang hitam, melalui serambi marmer hitam, dan memasuki rumah Hades. Aula masuknya berlantai perunggu berkilat, yang seakan-akan mendidih dalam cahaya obor yang terpantul. Tak ada langit-langit, hanya atap gua, jauh di atas. Kukira mereka tak pernah harus mencemaskan hujan di bawah sini.

Setiap pintu samping dijaga oleh satu kerangka yang berpakaian militer. Beberapa memakai baju zirah Yunani, beberapa seragam jaket merah Inggris, sebagian baju loreng tentara dengan bendera Amerika yang koyak di bahu. Mereka membawa tombak atau senapan atau M-16. Tak ada yang mengganggu kami, tetapi lubang mata mereka yang hampa itu mengikuti kami berjalan di aula, menuju sepasang pintu besar di ujung seberang.

Dua kerangka Marinir A.S. menjaga pintu. Mereka menyeringai kepada kami, sambil memegang peluncur RPG di depan dada.

“Eh,” gumam Grover, “pasti Hades tak pernah di ganggu wiraniaga yang datang ke rumah.”

Ranselku terasa seberat satu ton sekarang. Aku tak tahu kenapa. Aku ingin membukanya, memeriksa apakah aku entah bagaimaan ditumpangi bola boling yang tersesat, tetapi sekarang bukan waktunya.

“Nah, teman-teman,” kataku. “Barangkali sebaiknya kita … mengetuk?”

Angin panas bertiup di koridor, dan pintu itu berayun terbuka. Kedua penjaga itu melangkah ke samping.

“Kukira itu berarti silakan masuk,” kata Annabeth.

Ruangan di dalam mirip dengan ruangan di mimpiku, tetapi kali ini singgasana Hades diduduki.

Dia dewa ketiga yang pernah kutemui, tetapi dewa pertama yang benar-benar tampak seperti dewa bagiku.

Tinggi tubuhnya saja paling sedikit tiga meter, dan dia berpakaian jubah sutra hitam dan mahkota emas berjalin. Kulitnya putih albino, rambutnya sebahu dan hitam legam. Dia tidak berotot seperti Ares, tetapi memancarkan aura kekuasaan. Dia duduk santai di atas singgasananya yang terbuat dari paduan tulang manusia, tampak lentur, anggun, dan berbahaya seperti macan kumbang.

Aku langsung merasa seperti dia semestinya memberi titah. Dia lebih tahu daripada aku. Dia semestinya menjadi majikanku. Lalu, aku menyuruh diriku agar sadar.

Aura Hades memengaruhiku, sama seperti aura Ares waktu itu. Sang Penguasa Orang Mati mirip dengan gambar-gambar Adolf Hitler, atau Napoleon, atau pemimpin teroris yang mengarahkan pengebom bunuh diri. Hades memiliki mata sengit yang sama, karisma jahat memukau yang sama.

“Kau pemberani, telah datang ke sini, Putra Poseidon,” katanya dengan suara licin. “Setelah melakukan perbuatanmu, benar-benar sangat berani. Atau mungkin kau hanya sangat bodoh.”

Rasa kebas merayapi sendi-sendiku, menggodaku untuk berbaring dan tidur sebentar di kaki Hades. Meringkuk di sini dan tidur selamanya.

Kulawan perasaan itu dan aku melangkah maju. Aku tahu apa yang harus kukatakan. “Dewa dan Paman, aku datang membawa dua permintaan.”

Hades mengangkat sebelah alis. Dia memajukan tubuh di atas singgasananya, wajah-wajah berbayang muncul dalam lipatan jubah hitamnya, wajah-wajah tersiksa, seolah-olah kain itu dijahit dari jiwa-jiwa terperangkap di Padang Hukuman, berusaha keluar. Bagian GPPH dalam diriku bertanya-tanya, tak ada hubungannya dengan situasi saat ini, apakah semua pakaian Hades dibuat dengan cara yang sama. Hal-hal mengerikan paa yang harus dilakukan orang dalam hidupnya supaya dapat dianyam menjadi celana dalam Hades?

“Hanya dua permintaan?” kata Hades. “Anak pongah. Seolah-olah yang kauambil belum cukup. Bicaralah. Aku belum berkenan membunuhmu.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.