Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku, Annabeth, dan Grover berusaha menyatu dengan orang ramai, memasang mata kalau-kalau ada siluman satpam. Mau tak mau aku encari wajah yang kukenal di antara para arwah Asphodel, tetapi orang mati sulit dilihat. Wajahnya bergetar. Semuanya tampak sedikit marah atau bingung. Mereka mendatangi kami untuk berbicara, tetapi suaranya terdengar seperti ocehan, seperti kelelawar terbang. Begitu dia menyadari kami tidak memahami perkataannya, dia merengut dan pergi.

Kaum mati tidak menakutkan. Hanya menyedihkan.

Kami berjalan perlahan-lahan, mengikut baris pendatang baru yang berkelok-kelok dari gerbang utama menuju paviliun bertenda hitam yang dipasangi bendera yang bertulisan:

PENGHAKIMAN UNTUK ELYSIUM DAN KUTUKAN ABADI

Selamat Datang, Orang Mati Baru!

Dari belakang tenda, keluar dua baris yang jauh lebih kecil.

Di sebelah kiri, arwah yang diapit satpam siluman digiring menuruni jalan berbatu-batu menuju Padang Hukuman yang berpendar dan berasap di kejauhan, tanah gersang luas yang retak-retak, berisi sungai lava dan ladang ranjau dan berkilometer-kilometer kawat berduri yang memisahkan berbagai daerah siksaan. Dari jauh pun, terlihat orang dikejar-kejar anjing neraka, dibakar di tiang, dipaksa berlari telanjang melalui kumpulan kaktus, atau mendengarkan musik operan. Aku dapat melihat sebuah bukit kecil, dengan sosok Sisyphus yang seukuran semut, berusaha mendorong batu besar ke puncak. Dan aku juga melihat banyak siksaan yang lebih buruk—hal-hal yang tak ingin kugambarkan.

Barisan yang keluar di sebelah kanan paviliun penghakiman jauh lebih baik. Yang ini turun menuju sebuah lembah kecil yang dikelilingi tembok—komunitas kompleks perumahan, yang tapaknya merupakan satu-satunya bagian yang menyenangkan di Dunia Bawah. Di balik gerbang satpam, ada beberapa kelompok rumah indah dari setiap zaman dalam sejarah, vila Romawi dan istana abad pertengahan, dan rumah besar bergaya Victoria. Bunga perak dan emas bermekaran di pekarangan. Rumput bergelombang dalam warna-warni pelangi. Terdengar tawa dan tercium bau masakan daging panggang.

Elysium.

Di tengah-tengah lembah itu terdapat sebuah danau biru berkilauan, serta tiga pulau kecil seperti sanggraloka liburan di Kepulauan Bahama. Kepulauan Kaum Diberkahi, untuk orang-orang yang telah memilih dilahirkan kembali tiga kali, dan tiga kali mencapai Elysium. Aku langsung tahu bahwa di sanalah aku ingin tinggal saat aku mati nanti.

“Itulah inti semua ini,” kata Annabeth, seolah-olah membaca pikiranku. “Itulah tempat bagi pahlawan.”

Namun, aku memikirkan betapa sedikitnya orang yang masuk ke Elysium, betapa kecilnya jika dibandingkan dengan Padang Asphodel atau bahkan Padang Hukuman. Begitu sedikit orang yang menjalani hidupnya dengan baik. Bikin depresi saja.

Kami meninggalkan paviliun penghakiman dan semakin dalam memasuki Padang Asphodel. Suasana semakin gelap. Warna-warni pudar dari pakaian kami. Kerumunan arwah yang mengoceh mulai menipis.

Setelah berjalan beberapa kilometer, kami mulai mendengar pekik yang tak asing lagi di kejauhan. Membayangi cakrawala adalah istana dari obsidian hitam berkilauan. Di atas tembok, berputaran tiga makhluk hitam seperti kelelawar: Erinyes. Aku mendapat perasaan bahwa mereka menanti kami.

“Sekarang sudah terlambat untuk berbalik, ya?” kata Grover penuh harap.

“Kita akan baik-baik saja.” Aku berusaha terdengar percaya dir.

“Mungkin sebaiknya kita mencari di tempat lain dulu,” usul Grover. “Misalnya, Elysium ….”

“Ayo, anak kambing.” Annabeth memegang lengan Grover.

Grover memekik. Sepatunya memunculkan sayap dan kakinya melesat ke depan, menariknya dari Annabeth. Dia terjengkang di rumput.

“Grover,” tegur Annabeth. “Jangan main-main.”

“Tapi aku nggak—”

Dia memekik lagi. Sepatunya mengepak-ngepak, seolah-olah sudah gila. Mereka naik dari atas tanah dan mulai menyeretnya menjauhi kami.

“Maia!” dia berteriak, tetapi kata sihir itu tampaknya tidak berpengaruh. “Maia dong! Polisi! Tolong!”

Aku pulih dari rasa tercengang dan meraih tangan Grover, tetapi terlambat. Dia semakin cepat, menuruni bukit seperti dalam kereta luncur.

Kami berlari mengejarnya.

Annabeth berteriak, “Buka tali sepatunya!”

Gagasan yang cerdas, tetapi sepertinya tidak mudah dilakukan, kalau sepatumu sedang menarikmu dengan kecepatan penuh. Grover berusaha duduk, tetapi dia tak berhasil mendekati tali sepatu.

Kami terus mengejarnya, berusaha tetap melihatnya sementara dia melaju di antara kaki para arwah yang mengoceh kepadanya dengan sebal.

Aku yakin Grover akan menerjang gerbang istana Hades, tetapi sepatunya membelok ke kanan dengan tajam dan menyeretnya ke arah yang berlawanan.

Turunan semakin terjal. Grover semakin melesat. Aku dan Annabeth harus berlari untuk mengejarnya. Tembok gua menyempit di kedua sisi, dan kusadari bahwa kami memasuki semacam terowongan samping. Sekarang tidak ada rumput hitam atau pohon, hanya ada batu di bawah kaki, dan cahaya temaram dari stalaktit di atas.

“Grover!” teriakku, suaraku menggema. “Berpegangan pada sesuatu!”

“Apa?” dia balas berteriak.

Dia menyambar kerikil, tetapi tak ada yang cukup besar untuk memperlambat laju tubuhnya.

Terowongan semakin gelap dan dingin. Bulu tanganku merinding. Baunya jahat di bawah sini. Aku jadi memikirkan hal-hal yang semestinya tak kuketahui—darah yang tertumbah di altar batu kuno, napas busuk seorang pembunuh.

Lalu, aku melihat apa yang ada di hadapan kami, dan aku berhenti total di tengah jalan.

Terowongan itu melebar menjadi gua gelap raksasa, dan di tengah-tengahnya ada jurang sebesar blok kota.

Grover meluncur lurus ke tepi jurang.

“Ayo, Percy!” teriak Annabeth, menarik pergelangan tanganku.

“Tapi itu—”

“Aku tahu!” teriak Annabeth. “Tempat yang kau gambarkan di mimpimu. Tapi Grover akan jatuh kalau kita tak menangkapnya.” Dia benar, tentu saja. Kesulitan Grover mendorongku bergerak lagi.

Dia berteriak, mencakar-cakar tanah, tetapi sepatu bersayap itu terus menyeretnya ke arah lubang, dan tampaknya kami tak mungkin mencapai dirinya tepat waktu.

Yang menyelamatkannya adalah kaki kambingnya.

Sepatu terbang itu sejak dulu memang longgar di kakinya, dan akhirnya Grover menabrak batu besar dan sepatu kirinya pun terbang lepas. Sepatu itu melaju ke kegelapan, masuk ke jurang. Sepatu kanannya terus menarik, tetapi tidak secepat sebelumnya. Grover mampu memperlambat lajunya dengan memegang batu besar itu dan menggunakannya sebagai jangkar.

Dia berjarak tiga meter dari tepi lubang ketika kami menangkapnya dan menariknya menaiki tanjakan. Sepatu bersayap yang satu lagi menarik diri hingga lepas, berputar-putar mengelilingi kami dengan marah dan menendangi kepala kami untuk memprotes, sebelum terbang ke dalam jurang untuk bergabung dengan kembarannya.

Kami semua ambruk, lelah, di atas kerikil obsidian. Tangan dan kakiku terasa seperti timah. Bahkan ranselku terasa lebih berat, seolah-olah diisi dengan batu.

Grover luka-luka cukup parah. Tangannya berdarah. Pupil matanya menjadi pipih, seperti kambing, seperti yang selalu terjadi setiap kali dia ketakutan.

“Aku nggak tahu bagaimana …” dia terengah-engah. “Aku nggak ….”

“Tunggu,” kataku. “Dengar.”

Terdengar sesuatu—bisik berat dalam gelap.

Beberapa demikian, Annabeth berkata, “Percy tempat ini—”

“Sst.” Aku berdiri.

Bunyi itu semakin keras, suara jahat yang bergumam, dari jauh, jauh di bawah kami. Berasal dari lubang.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.