Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Ng-nggak k-k-keren!” teriaknya, suaranya bergetar akibat pijatan sejuta tangan. “Ng-nggak k-keren s-sama se-sekali!”

Si raksasa memandang Annabeth, lalu menoleh kepadaku dan menyeringai. “Hampir, sialan.”

Aku berusaha menyingkir, tetapi tangannya terjulur dan mencengkeram tengkukku. “Hei, Nak. jangan khawatir. Sebentar saja pasti ketemu yang cocok untukmu.”

“Lepaskan teman-temanku.”

“Nanti juga kulepaskan. Tapi aku harus mencocokkan mereka dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Panjang semua kasur di sini tepat 180 cm, begitu. Teman-temanmu terlalu pendek. Harus dijadikan muat.”

Annabeth dan Grover terus meronta.

“Paling tak tahan, melihat ukuran yang tak sempurna,” gerutu Crusty. “Ergo!”

Tali-tali baru melompatkeluar dari bagian atas dan bawah tempat tidur, membelit pergelangan kaki Grover dan Annabeth, lalu di sekeliling ketiak mereka. Tali itu mulai bertambah erat, menarik teman-temanku dari kedua ujung.

“Jangan khawatir,” kata Crusty kepadaku. “Ini kegiatan peregangan. Tambahan sekitar tujuh sentimeter pada tulang punggung. Bahkan mungkin mereka bisa hidup. Nah, mari kita cari kasur yang kau suka, ya?”

“Percy!” teriak Grover.

Benakku berpacu. Aku tahu aku tak mampu melawan penjual kasur air raksasa ini sendirian. Dia bisa mematahkan leherku sebelum aku sempat mengeluarkan pedang.

“Nama aslimu bukan Crusty, ya?” tanyaku.

“Secara sah, namaku Proscrustes,” dia mengakui.

“Si Peregang,” kataku. Aku ingat ceritanya: raksasa yang berusaha membunuh Theseus dengan keramahan berlebihan, dalam perjalanan Theseus ke Athens.

“Ya,” kata si penjual. “Tapi siapa yang bisa mengucapkan Proscrustes? Tidak bagus untuk bisnis. Nah, ‘Crusty’, semua orang bisa mengucapkannya.”

“Kau benar. Kedengarannya lebih enak.”

Matanya berbinar. “Menurutmu begitu?”

“Oh, benar sekali,” kataku. “Dan pengerjaan tempat tidur ini? Bagus sekali!”

Dia menyeringai lebar, tetapi jarinya di leherku tidak melonggar. “Aku selalu bilang begitu kepada semua pelanggan. Setiap kali. Tak ada yang mau repot-repot memerhatikan pengerjaannya. Berapa banyak kepala ranjang berisi Lampu Lava yang pernah kaulihat?”

“Nggak terlalu banyak.”

“Benar sekali!”

“Percy!” teriak Annabeth. “Kau mau apa?”

“Jangan hiraukan dia,” kataku kepada Proscrustes. “Dia memang merepotkan.”

Si raksasa tertawa. “Semua pelangganku memang begitu. Tak ada yang tepat 180 cm. Tak ada tenggang rasa. Lalu, mereka malah mengeluh soal pencocokan itu.”

“Apa yang kau lakukan kalau pelanggan lebih tinggi daripada 180 cm?”

“Oh, itu sering terjadi. Perbaikannya mudah.”

Dia melepaskan leherku, tetapi sebelum aku sempat bereaksi, dia meraih ke belakang meja kasir di dekat situ dan mengeluarkan kapak kuningan raksasa bermata dua. Katanya, “Aku tinggal meletakkan subjek di tengah-tengah dan memotong apa pun yang menjuntai di kedua ujung.”

“Ah,” kataku, sambil menelan keras. “Masuk akal.”

“Aku senang bisa bertemu pelanggan yang cerdas!”

Tali itu sekarang sudah benar-benar meregangkan teman-temanku. Annabeth memucat. Grover membuat suara-suara menggelegak, seperti angsa yang dicekik.

“Jadi, Crusty …” kataku, berusaha meringankan suara. Aku melirik label harga di kasur Bulan Madu Istimewa yang berbentuk hati. “Apakah yang ini benar-benar memiliki stabilisator dinamis yang menghentikan gerak ombak?”

“Benar. Coba saja.”

“Iya, mungkin aku akan coba. Tapi, apakah tetap berfungsi untuk orang besar sepertimu? Tak ada ombak sama sekali?”

“Dijamin.”

“Masa, sih.”

“Betulan.”

“Coba tunjukkan.”

Dia duduk di tempat tidur itu dengan bersemangat, sambil menepuk kasurnya. “Tak ada gelombang. Lihat kan?”

Aku menjentikkan jari. “Ergo.”

Tali membelit tubuh Crusty dan meratakannya pada kasur.

“Hei!” teriaknya.

“Letakkan dia di tengah-tengah,” kataku.

Tali itu menyesuaikan diri atas perintahku. Seluruh kepala Crusty menonjol di atas. Kakinya menjuntai di bawah.

“Jangan!” katanya. “Tunggu! Ini cuma peragaan.”

Aku membuka tutup Riptide. “Sedikit penyesuaian …”

Aku tak ragu soal apa yang akan kulakukan. Andai Crusty itu manusia, toh aku tak bisa melukainya. Kalau dia memang monster, dia layak dijadikan debu beberapa lama.

“Tawar-menawarmu hebat,” katanya. “Kuberi diskon tiga puluh persen untuk beberapa model pajangan!”

“Kurasa akan kumulai di atas.” Aku mengangkat pedang.

“Tak perlu uang muka! Tak ada bunga selama enam bulan!”

Aku mengayunkan pedang. Crusty berhenti membuat tawaran.

Aku memotong tali di kasur-kasur lain. Annabeth dan Grover berdiri, mengerang dan meringis dan mengutukku banyak-banyak.

“Sepertinya kau tambah jangkung,” kataku.

“Lucu sekali,” kata Annabeth. “Lain kali, lebih cepatlah.”

Aku melihat papan pengumuman di balik meja kasir Crusty. Ada iklan untuk Jasa Pengantaran Hermes, dan satu lagi untuk Kompendium Monster di Area L.A. yang Serba-Baru—”Satu-satunya Buku Alamat Monster yang Anda perlukan!” Di bawah itu, brosur jingga cerah untuk Studio Rekaman DOA, menawarkan komisi untuk jiwa pahlawan. “Kami selalu mencari bakat baru!” Alamat DOA tercantum tepat di bawahnya, disertai peta.

“Ayo,” kataku kepada teman-teman.

“Tunggu sebentar dong,” keluh Grover. “Kami kan hampir diregangkan sampai mati!”

“Kalau begitu, kau siap untuk Dunia Bawah,” kataku. “Cuma satu blok dari sini.”

18. Annabeth Pakar Sekolah Kepatuhan

Kami berdiri dalam bayangan Valencia Boulevard, menatap huruf-huruf emas yang diukir dalam marmer hitam: STUDIO REKAMAN DOA.

Di bawahnya, distensil pada pintu kaca: DILARANG MEMINTA SUMBANGAN. DILARANG BUANG SAMPAH. MAKHLUK HIDUP DILARANG MASUK.

Sudah hampir tengah malam, tetapi lobi terang-benderang dan penuh orang. Di balik meja satpam, duduk seorang satpam tangguh yang memakai kacamata hitam dan earpiece.

Aku menoleh kepada teman-temanku. “Oke. Kalian ingat rencananya.”

“Rencana,” kata Grover sambil menelan ludah. “Ya. Aku suka rencana itu.”

Annabeth berkata, “Bagaimana kalau rencananya gagal?”

“Jangan berpikiran negatif.”

“Baik,” katanya. “Kita mau memasuki Negeri Orang Mati, tapi aku nggak boleh berpikiran negatif.”

Aku mengambil mutiara dari saku, tiga bola warna susu pemberian Nereid di Santa Monica. Mutara itu sepertinya tak akan memberi bantuan yang bagus, kalau terjadi apa-apa.

Annabeth meletakkan tangan di bahuku. “Maaf, Percy. Kau benar, kita pasti berhasil. Segalanya akan lancar.”

Dia menyikut Grover.

“Iya, betul!” dia menceletuk. “Kita sudah sampai sejauh ini. Kita pasti berhasil mencari petir asali dan menyelamatkan ibumu. Enteng.”

Aku memandang mereka berdua, dan merasa sangat bersyukur. Baru saja beberapa menit sebelumnya aku hampir membiarkan mereka teregang sampai mati pada kasur air mewah, tetapi sekarang mereka malah berusaha tabah demi aku, berusaha menghiburku.

Aku memasukkan kembali mutiara itu ke dalam saku. “Mari kita menghajar Dunia Bawah.”

Kita masuk ke lobi DOA.

Musik instrumental lembut beralun dari speaker tersembunyi. Karpet dan dinding berwarna abu-abu baja. Kaktus pensil tumbuh di pojok-pojok seperti tulang kerangka tangan. Perabotnya terbuat dari kulit hitam, dan setiap tempat sudah diduduki. Ada orang yang duduk di sofa, ada yang berdiri, ada yang menatap keluar jendela, atau menunggu lift. Tak ada yang bergerak, atau berbicara, atau melakukan apa pun. Dari sudut mata, aku bisa melihat mereka semua dengan baik, tetapi jika aku berfokus hanya pada salah satu, mereka mulai tampak … tembus pandang. Aku bisa melihat menembus tubuh mereka.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.