Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Tapi, satu hal yang pasti: Grover dan Pak Brunner membicarakanku diam-diam. Mereka berpendapat bahwa aku terancam suatu bahaya.

* * *

Keesokan sorenya, saat aku hendak keluar dari ruang ujian bahasa Latin, dengan mata terbayang-bayang semua nama Yunani dan Romawi yang salah kueja, Pak Brunner memanggilku masuk lagi.

Aku sempat khawatir bahwa dia tahu aku menguping tadi malam, tetapi sepertinya masalahnya bukan itu.

“Percy,” katanya. “Jangan berkecil hati soal meninggalkan Yancy. Ini … ini jalan keluar terbaik.”

Nadanya ramah, tetapi kata-kata itu tetap membuatku jengah. Meskipun dia berbicara lirih, anak-anak lain yang sedang menyelesaikan ujian bisa mendengar. Nancy Bobofit tersenyum mengejek dan membuat gerakan mengecup-ngecup sarkastis.

Aku menggumam. “Oke, Pak.”

“Maksudku …” Pak Brunner menggulirkan kursi roda maju-mundur, seolah-olah tidak yakin harus berkata apa. “Tempat ini tidak cocok untukmu. Sebenarnya ini tinggal tunggu waktu.”

Mataku pedih.

Guru favoritku memberitahuku di depan kelas, bahwa aku tak mampu menangani semua ini. Setelah sepanjang tahun dia berkata dia yakin akan kemampuanku, sekarang dia bilang aku memang ditakdirkan dikeluarkan dari sekolah.

“Benar,” kataku gemetar.

“Bukan, bukan,” kata Pak Brunner. “Oh, sial. Maksudku tadi … kau tidak normal, Percy. Itu bukan hal yang –”

“Ya,” cetusku. “Terima kasih banyak, Pak, sudah mengingatkan saya.”

“Percy—”

Namun aku sudah pergi.

* * *

Pada hari terakhir semester, kujejalkan baju-bajuku ke dalam koper.

Anak-anak lain saling bercanda, membicarakan rencana liburan. Ada yang akan mendaki gunung ke Swiss. Ada yang akan naik kapal pesiar ke Karibia selama sebulan. Mereka remaja bermasalah seperti aku, tetapi mereka remaja bermasalah yang kaya. Ayah mereka eksekutif, atau duta besar, atau selebriti. Aku bukan siapa-siapa, dari keluarga yang bukan siapa-siapa.

Mereka menanyakan apa kegiatanku musim panas ini, dan aku memberitahu-kan bahwa aku akan pulang ke kota.

Namun aku tidak cerita bahwa aku harus mencari pekerjaan musim panas, misalnya membawa anjing berjalan-jalan atau menjual langganan majalah. Bahwa aku akan mengisi waktu luang dengan mencemaskan ke mana aku akan berseko-lah musim gugur nanti.

“Oh,” kata salah satu anak. “Itu juga oke.”

Mereka kembali mengobrol seolah-olah aku tak pernah ada.

Satu-satunya orang yang membuatku enggan mengucapkan selamat berpisah adalah Grover, tetapi ternyata tak perlu. Dia memesan tiket bus Greyhound ke Manhattan yang sama denganku, jadi kami pun ke kota bersama-sama lagi.

Sepanjang perjalanan bus, Grover terus-menerus melirik gugup ke lorong, mengamati penumpang lain. Aku jadi teringat bahwa dia selalu gugup dan gelisah setiap kali kami meninggalkan Yancy, seolah-olah menduga akan terjadi peristiwa buruk. Sebelumnya, aku selalu berasumsi bahwa dia cemas soal dipermainkan anak lain. Tapi di Greyhound ini tak ada orang yang menggodanya.

Akhirnya, aku tak tahan lagi.

Kataku, “Mencari Makhluk Baik?”

Grover hampir terlompat dari kursinya. “Apa—apa maksudmu?”

Aku mengaku soal menguping pembicaraan antara dia dan Pak Brunner pada malam sebelum ujian.

Mata Grover berkedut. “Berapa banyak yang kaudengar?”

“Nggak banyak kok. Tenggat titik balik matahari musim panas itu apa?”

Dia meringis. “Percy, dengar … Aku cuma khawatir mengenaimu saja. Maksudku, berhalusinasi tentang guru matematika iblis ….”

“Grover—”

“Dan aku bilang pada Pak Brunner, barangkali kau terlalu stres atau apa, karena nggak ada orang yang namanya Bu Dodds, dan …”

“Grover, kau benar-benar tak ahli berbohong.”

Telinganya memerah.

Dari saku kemejanya, dia merogoh selembar kartu nama kecil. “Pokoknya ambil saja ini, oke? Kalau-kalau kau perlu aku musim panas ini.”

Kartu itu bertulisan indah, yang sulit kubaca dengan mataku yang disleksia, tetapi akhirnya aku bisa membaca:

Grover Underwood

Penjaga

Bukit Blasteran

Long Island, New York

(800) 009-0009

“Apaan tuh Bukit Blas—”

“Jangan dibaca keras-keras!” pekiknya. “Itu, eh … alamat liburanku.”

Hatiku melesak. Grover punya alamat libur. Selama ini aku tak pernah terpikir bahwa keluarganya mungkin saja kaya seperti anak-anak lain di Yancy.

“Oke,” kataku muram. “Jadi, misalnya, kalau aku ingin bertamu ke istanamu.”

Dia mengangguk. “Atau … atau kalau kau perlu aku.”

“Buat apa aku memerlukanmu?”

Ucapan itu keluar dengan nada lebih kasar daripada yang kuniatkan.

Grover merona sampai ke jakun. “Dengar Percy, sebenarnya, aku—aku itu bertugas melindungimu.”

Aku menatapnya.

Sepanjang tahun aku terlibat perkelahian gara-gara menghalau para penindas dari Grover. Aku susah tidur gara-gara memikirkan bahwa dia akan dipukuli tahun depan kalau tak ada aku. Dan sekarang dia malah bertingkah seolah-olah dia yang selama ini melindungi aku.

“Grover,” kataku, “kau melindungiku dari apa persisnya?”

Terdengar bunyi menggerinda yang gaduh dari kolong bus. Asap hitam menguar dari dashboard dan seluruh bus dipenuhi bau telur busuk. Si sopir mengumpat dan menepikan Greyhound ke tepi jalan raya.

Setelah beberapa menit mengotak-atik ruang mesin, si sopir mengumumkan bahwa kami semua harus turun. Aku dan Grover berbaris keluar bersama penumpang lain.

Kami berada di jalan pedesaan—tempat yang tak pernah diperhatikan kalau orang tidak mogok di sini. Di sebelah jalan sini, tidak ada apa-apa selain pohon mapel dan sampah dari mobil-mobil yang lewat. Di tepi jalan raya sebelah sana, di seberang empat lajur aspal yang berkemendang sore, ada kios buah kuno.

Buah yang dijual tampak lezat sekali: bertumpuk-tumpuk peti apel dan ceri yang merah darah, kenari dan abrikos1[1], berkendi-kendi sari buah dalam bak berkaki cakar yang penuh es. Tidak ada pelanggan, hanya tiga orang nenek yang duduk di kursi goyang di bawah bayangan pohon mapel, merajut sepasang kaus kaki terbesar yang pernah kulihat.

Maksudku, kaus kaki ini seukuran sweter, tetapi bentuknya jelas kaus kaki. Nenek sebelah kanan merajut sebelah. Nenek sebelah kiri merajut sebelah lagi. Nenek di tengah-tengah memegang sekeranjang raksasa berisi benang warna biru-elektrik.

Ketiga nenek itu kelihatan sudah sepuh. Wajah mereka pucat dan keriput seperti kulit buah, rambut berubah diikat ke belakang dengan bandana putih, tangan kerempeng mencuat dari gaun katun yang dikelantang.

Yang paling aneh, mereka tampaknya menatap tepat ke arahku.

Aku menoleh kepada Grover, hendak mengomentari hal ini. Tapi, kulihat bahwa darah telah tersirap dari wajahnya. Hidungnya berkedutan.

“Grover?” kataku. “Eh, sobat—”

“Katakan mereka tidak sedang menatapmu. Mereka menatapmu, ya?”

“Iya. Aneh, ya? Apa menurutmu kaus kaki itu muat untukku?”

“Nggak lucu, Percy. Nggak lucu sama sekali.”

Si nenek di tengah mengeluarkan sebuah gunting besar—emas dan perak, bermata panjang, seperti gunting kebun. Kudengar Grover berdengap.

“Ayo naik ke bus,” suruhnya kepadaku. “Ayo.”

“Apa?” kataku. “Panasnya seribu derajat di dalam.”

“Ayo!” Dia menarik pintu terbuka, dan memanjat masuk, tetapi aku tidak ikut.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.