Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku tak menyukainya, tetapi kami tak ada pilihan yang lebih baik. Laig pula, aku sudah kenyang melihat Denver.

Kami berlari menyeberangi jalan dan memanjat bagian belakang truk besar itu, lalu menutup pintunya.

* * *

Hal pertama yang terasa adalah baunya. Seperti kotak pasir kotoran kucing terbesar di dunia.

Bagian dalam truk itu gelap, sampai aku membuka tutup Anaklusmos. Bilahnya menerangi pemandangan yang sangat memilukan dengan cahaya perunggu samar. Dalam sebaris kerangkeng logam kotor, duduklah tiga hewan kebun binatang yang paling mengenaskan yang pernah kulihat: zebra, singa albino jantan, dan semacam antelop aneh yang aku tak tahu namanya.

Seseorang telah melempar sekarung lobak cina kepada si singa. Hewan itu jelas tak mau memakannya. Zebra dan antelop mendapat masing-masing satu nampan gabus yang berisi daging hamburger. Surai si zebra lengket karena permen karet, seolah-olah ada yang iseng meludahinya pada waktu luang. Salah satu tanduk si antelop diikatkan balon ulang tahun perak yang konyol, bertuliskan SUDAH GAEK!

Rupanya, tak ada yang ingin mendekati si singa untuk mempermainkannya, tetapi hewan malang itu mondar-mandir di atas selimut kotor, di ruangan yang terlalu kecil baginya, terengah-engah karena udara panas dan pengap truk itu. Lalat mengerubungi matanya yang merah jambu, dan tulang iganya tampak menonjol pada bulunya yang putih.

“Ini welas asih?” teriak Grover. “Transportasi kebun binatang manusiawi?”

Dia mungkin ingin keluar lagi dan memukuli kedua sopir truk itu dengan seruling, dan aku ingin membantunya, tetapi saat itu mesin truk menggerung menyala, truk mulai berguncang, dan kami terpaksa duduk kalau tidak mau jatuh.

Kami berkumpul di pojok, di atas karung pakan yang berjamur, berusaha mengabaikan bau dan panas dan lalat. Grover berbicara kepada hewan=hewan itu dengan serentetan embik kambing, tetapi mereka hanya menatapnya sedih. Annabeth ingin merusak kerangkeng dan membebaskan mereka saat itu juga, tetapi kuingatkan bahwa hal itu tak ada gunanya sampai truk berhenti bergerak. Lagi pula, aku mendapat perasaan bahwa, bagi si singa, kami mungkin tampak lebih lezat daripada lobak itu.

Aku menemukan kendi air dan mengisi mangkuk mereka, lalu menggunakan Anaklusmos untuk menyeret makanan yang tak cocok itu dari dalam kerangkeng. Kuberikan daging kepada si singa dan lobak kepada si zebra dan antelop.

Grover menenangkan si antelop, sementara Annabeth menggunakan pisaunya untuk memotong balon dari tanduknya. Gadis itu juga ingin memotong permen karet dari surai kuda, tetapi kami memutuskan bahwa itu terlalu berisiko di dalam truk yang berguncang-guncang. Kami meminta Grover berjanji kepada hewan-hewan itu, bahwa kami akan membantu mereka lagi pagi-pagi, lalu kami bersiap tidur malam itu.

Grover meringkuk di atas karung lobak; Annabeth membuka kantong Oreo Isi Dobel dan menggigiti sekeping biskuit dengan setengah hati; aku berusaha menghibur diri dengan berkonsentrasi pada kenyataan bahwa kami sudah setengah jalan ke Los Angeles. Setengah jalan ke tujuan kami. Baru tanggal 14 Juni. Titik balik matahari masih tanggal 21. Kami masih punya banyak waktu.

Di lain pihak, aku tak tahu sama sekali apa yang akan terjadi berikutnya. Para dewa terus mempermainkanku. Setidaknya, Hephaestus cukup berbudi, sehingga jujur ketika melakukannya—dia memasang kamera dan mengiklankan aku sebagai hiburan. Tapi, bahkan saat kamera tidak berputar, aku merasa misiku sedang diamati. Aku menjadi sumber hiburan bagi para dewa.

“Eh,” kata Annabeth, “maaf ya, tadi aku panik di taman air, Percy.”

“Nggak apa-apa.”

“Soalnya ….” Dia menggigil. “Laba-laba.”

“Gara-gara cerita Arachne itu, ya,” tebakku. “Dia diubah menjadi laba-laba karena menantang ibumu berlomba menganyam, ya?”

Annabeth mengangguk. “Sejak itu anak-anak Arachne membalas dendam kepada anak-anak Athena. Kalau ada laba-laba dalam jarak 1 kilometer dariku, pasti dia bisa menemukanku. Aku benci makhluk kecil yang merayap-rayap. Yang pasti, aku berutang budi padamu.”

“Kita satu tim, kan?” kataku. “Lagi pula, Grover yang terbang dengan hebat.”

Kusangka Grover sudah tidur, tetapi dia menggumam dari sudut, “Aku memang cukup hebat, ya?”

Aku dan Annabeth tertawa.

Dia membelah sebuah Oreo, dan memberikan setengahnya kepadaku. “Dalam pesan Iris … apakah Luke benar-benar nggak berkata apa-apa?”

Aku mengunyah kue dan memikirkan cara menjawab pertanyaan itu. Percakapan via pelangi itu menggangguku sepanjang sore. “Kata Luke, kau dan dia sudah lama berteman. Dia juga berkata bahwa kali ini Grover nggak akan gagal. Nggak ada yang akan berubah menjadi pohon pinus.”

Dalam cahaya perunggu remang-remang dari mata pedang, sulit membaca raut muka mereka.

Grover mengembik nelangsa.

“Semestinya sejak awal aku memberitahumu yang sebenarnya.” Suaranya gemetar. “Kupikir, kalau kau tahu seberapa besar kegagalanku, kau nggak akan mau aku ikut.”

“Kau satir yang berusaha menyelamatkan Thalita, putri Zeus.”

Dia mengangguk suram.

“Dan kedua anak blasteran yang menemani Thalia, yang sampai ke perkemahan dengan selamat ….” Aku menatap Annabeth. “Itu kau dan Luke, ya?”

Dia meletakkan Oreo, tanpa dimakan. “Seperti yang kau bilang, Percy, seorang anak blasteran berumur tujuh tahun nggak mungkin bisa berjalan sejauh itu kalau hanya sendirian. Athena membimbingku ke orang yang dapat membantu. Thalita dua belas tahun. Luke empat belas. Mereka berdua kabur dari rumah, sama sepertiku. Mereka dengan senang hati mengajakku. Mereka … petarung monster yang hebat, bahkan tanpa pelatihan. Kami menuju utara dari Virginia tanpa rencana jelas, menghalau monster selama sekitar dua minggu sebelum Grover menemukan kami.”

“Aku ditugasi mengiringi Thalia ke perkemahan,” katanya sambil terisak-isak. “Cuma Thalia. Aku mendapat perintah tegas dari Chiron: jangan melakukan apa pun yang memperlambat penyelamatan. Soalnya, kami tahu Hades mengincar Thalia, tapi aku nggak tega meninggalkan Luke dan Annabeth berdua saja. Kupikir … kupikir aku bisa membimbing ketiga-tiganya hingga selamat. Karena kesalahankulah Makhluk Baik itu bisa mengejar kami. Aku terpaku. Aku ketakutan dalam perjalanan kembali ke perkemahan dan beberapa kali salah belok. Andai saja aku lebih cepat …”

“Hentikan,” kata Annabeth. “Nggak ada yang menyalahkanmu. Thalia juga nggak menyalahkanmu.”

“Dia mengorbankan diri demi menyelamatkan kita,” kata Grover merana. “Dia mati gara-gara aku. Dewan Tetua Berkuku Belah juga bilang begitu.”

“Karena kau tak mau meninggalkan kedua anak blasteran yang lain?” kataku. “Itu nggak adil.”

“Percy benar,” kata Annabeth. “Aku nggak mungkin masih hidup sekarang, kalau bukan berkat dirimu, Grover. Luke juga. Kami nggak peduli apa kata dewan.”

Grover terus terisak-isak dalam gelap. “Peruntunganku memang begitu. Aku satir paling payah sepanjang zaman, tapi malah menemukan dua anak blasteran terkuat abad ini, Thalia dan Percy.”

“Kau tidak payah,” Annabeth bersikeras. “Kau lebih pemberani daripada satir mana pun yang pernah kutemui. Coba sebutkan satu satir lain yang berani pergi ke Dunia Bawah. Aku yakin Percy sangat senang kau sekarang berada di sini.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.