Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Jika wahana ini berfungsi, kami semestinya meluncur keluar dari turunan, ke antara Gerbang Asmara Emas dan mendarat aman di kolam keluar. Tetapi, ada masalah. Gerbang Asmara dirantai. Dua perahu yang terhanyut keluar dari terowongan sebelum kami sekarang menumpuk pada barikade itu—satu tenggelam, satu terbelah dua.

“Buka sabuk pengaman,” teriakku kepada Annabeth.

“Kau gila?”

“Kecuali kau mau mati hancur.” Aku mengikatkan perisai Ares ke lenganku. “Kita harus melompat.” Gagasanku sederhana dan gila. Saat perahu menabrak, kami akan menggunakan kekuataannya sebagai papan tolakan untuk melompati gerbang. Aku pernah mendengar orang selamat dari kecelakaan mobil dengan cara itu, terlempar 10-15 meter dari kecelakaan. Kalau beruntung, kami akan mendarat di kolam.

Annabeth tampaknya mengerti. Dia mencengkeram tanganku sementara gerbang semakin dekat.

“Ikuti aba-abaku,” kataku.

“Tidak! Aba-abaku!”

“Apa?”

“Fisika sederhana!” teriaknya. “Gaya kali sudut trayek—”

“Baik!” teriakku. “Ikut aba-aba-mu!”

Dia ragu … ragu … lalu berteriak, “Sekarang!”

Krak!

Annabeth benar. Andaikan kami melompat menuruti pikiranku, kami tentu menabrak gerbang. Dia memungkinkan kami mendapat tolakan maksimum.

Sayangnya, lebih besar daripada yang kami perlukan. Perahu kami menabrak ke tumpukan dan kami terlontar ke udara, lurus melewati gerbang, melewati kolam, dan turun menuju aspal keras.

Sesuatu menangkapku dari belakang.

Annabeth berteriak, “Aduh!”

Grover!

Di tengah udara, dia menyambar kemejaku dan lengan Annabeth, dan berusaha menarik kami agar tidak terbanting, tetapi aku dan Annabeth memiliki momentum.

“Kalian terlalu berat!” kata Grover. “Kita akan terbanting!”

Kami berputar-putar ke tanah, Grover berupaya sekuat tenaga untuk memperlambat jatuh.

Kami menabrak papan foto. Kepala Grover masuk langsung ke lubang di tempat wisatawan menempatkan kepala, berpura-pura menjadi Nu-Nu si Paus Ramah. Annabeth dan aku terguling ke tangah, memar tetapi hidup. Perisai Ares masih terikat di lenganku.

Setelah kami mengatur napas, aku dan Annabeth mengeluarkan Grover dari papan foto dan berterima kasih kepadanya karena menyelamatkan nyawa kami. Aku menoleh kembali ke Wahana Asmara. Airnya sedang menyurut. Perahu kami yang menabrak gerbang hancur berkeping-keping.

Seratus meter dari situ, di kolam masuk, Para Cupid masih memfilmkan kejadian ini. Patung-patung itu berputar sehingga kameranya menyorot langsung kepada kami, lampu sorot menyorot wajah kami.

“Pertunjukan selesai!” teriakku. “Terima kasih! Selamat malam!”

Para Cupid berbalik ke posisi mereka semula. Lampu mati. Taman itu sunyi dan gelap lagi, kecuali cucuran kecil air ke kolam-keluar Wahana Asmara. Aku bertanya-tanya apakah Olympus sekarang menonton iklan, atau apakah peringkat penonton kami tinggi atau tidak.

Aku benci digoda. Aku benci dikelabui. Dan aku punya banyak pengalaman menghadapi penindas yang senang berbuat begitu kepadaku. Aku mengangkat perisai di lenganku dan menoleh kepada teman-temanku. “Kita perlu bicara sedikit dengan Ares.”

16. Kami Membawa Zebra ke Vegas

Sang dewa perang menunggu kami di lapangan parkir restoran.

“Wah, wah,” katannya. “Kalian tidak terbunuh.”

“Kau sudah tahu di sana ada jebakan,” kataku.

Ares menyeringai jail. “Pasti si pandai besi cacat itu kaget sewaktu dia menjaring sepasang anak bodoh. Kalian tampak bagus di televisi.”

Aku menyorongkan perisai kepadanya. “Dasar berengsek.”

Annabeth dan Grover menahan napas.

Ares menyambar perisai itu dan memutarnya di udara seperti adonan pizza. Perisai itu berubah bentuk, meleleh menjadi rompi tahan peluru. Dia menyampirkannya di punggung.

“Lihat truk yang di sana?” Dia menunjuk truk delapan belas roda yang diparkir di seberang jalan restoran. “Itu tumpanganmu. Membawamu langsung ke L.A., dengan singgah sekali di Vegas.”

Truk beroda delapan belas itu memasang tanda di belakang, yang bisa kubaca hanya karena dicetak dengan huruf putih berlatar hitam, kombinasi yang baik untuk pengidap disleksia: WELAS ASIH INTERNASIONAL TRANSPORTASI KEBUN BINATANG YANG MANUSIAWI. AWAS: HEWAN LIAR HIDUP.

Kataku, “Kau pasti bercanda.”

Ares menjentikkan jari. Kunci pintu belakang truk itu terbuka. “Tumpangan gratis ke Barat, Bocah. Berhenti mengeluh. Dan ini sedikit hadiah untuk mengerjakan tugas dariku.”

Dia mengambil ransel nilon biru dari setang motornya dan melemparkannya kepadaku.

Di dalamnya ada pakaian bersih untuk kami semua, uang tunai dua puluh dolar, dan sekantong penuh drachma emas, dan sekantong Oreo Isi Dobel.

Kataku, “Aku nggak mau rongsok—”

“Terima kasih, Tuan Ares,” sela Grover, sambil memberiku tatapan peringatan terbaiknya. “Terima kasih banyak.”

Aku mengertakkan gigi. Menolak pemberian dewa mungkin merupakan hinaan yang membawa maut, tetapi aku tak menginginkan apa pun yang pernah disentuh Ares. Dengan enggan, kusandang ransel itu di bahu. Aku tahu amarahku disebabkan oleh kehadiran si dewa perang, tetapi aku gatal ingin menonjok hidungnya. Dia mengingatkanku akan semua penindas yang pernah kuhadapi: Nancy Bobofit, Clarisse, Gabe si Bau, guru-guru sarkastis—setiap orang berengsek yang pernah mengataiku bodoh di sekolah atau menertawakanku saat aku dikeluarkan.

Aku menoleh ke restoran, yang sekarang hanya berisi beberapa pelanggan. Si pelayan yang menyajikan makanan kami memandang gugup keluar jendela, seolah-olah dia cemas Ares akan menyakiti kami. Dia menyeret si koki penggoreng dari dapur untuk melihat. Dia mengatakan sesuatu kepada si koki. Koki itu mengangguk, mengangkat kamera sekali-pakai yang kecil dan memotret kami.

Bagus, pikirku. Besok masuk koran lagi deh.

Aku membayangkan judul beritanya: PELARIAN DUA BELAS TAHUN MEMUKULI PENGENDARA MOTOR YANG TAK BERDAYA.

“Kau berutang satu hal lagi padaku,” kataku kepada Ares, sambil berusaha menjaga agar suaraku tetap datar. “Kau menjanjikan informasi tentang ibuku.”

“Kau yakin kuat mendengar beritanya?” Dia menstarter motornya. “Dia belum mati.”

Bumi terasa berputar di kakiku. “Apa maksudmu?”

“Maksudku, dia diambil dari si Minotaurus sebelum dia sempat mati. Dia diubah menjadi air mancur emas, kan? Itu metamorfosis. Bukan kematian. Dia ditahan.”

“Ditahan. Kenapa?”

“Kkau perlu belajar tentang perang, Bocah. Sandera. Orang ditahan untuk mengendalikan orang lain.”

“Nggak ada orang yang mengendalikan aku.”

Dia tertawa. “Begitu, ya? Sampai ketemu, Nak.”

Aku mengepalkan tangan. “Kau sok sekali, Tuan Ares, untuk seseorang yang melarikan diri dari patung Cupid.”

Di balik kacamatanya, api berkobar. Terasa angin panas di rambutku. “Kita akan bertemu lagi, Percy Jackson. Lain kali kalau kau berkelahi, berhati-hatilah.”

Dia membunyikan Harley-nya, lalu menderu menyusuri jalan Delancy.

Kata Annabeth, “Itu bukan tindakan cerdas, Percy.”

“Biarin.”

“Jangan cari musuh dengan dewa. Terutama dengan dewa yang itu.”

“Hei, teman-teman,” kata Grover. “Aku nggak ingin menyela, tetapi ….”

Dia menunjuk ke restoran. Di kasir, kedua pelanggan terakhir membayar bon, dua lelaki berbaju monyet hitam yang seragam, dengan logo putih di punggung yang sama dengan logo di truk WELAS ASIH INTERNASIONAL.

“Kalau kita mau menumpang truk kebun binatang kilat,” kata Grover, “kita harus buru-buru.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.