Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Siapa yang bakal lihat?” Tapi sekarang mukaku juga terbakar. Cewek memang jago memperumit masalah. “Baiklah,” kataku. “Aku sendirian saja.” Tetapi, ketika aku mulai menuruni sisi kolam, dia mengikutiku sambil menggerutu bahwa cowok selalu mengacaukan situasi.

Kami sampai di perahu. Perisai itu disandarkan pada satu kursi, dan di sebelahnya ada selendang sutra perempuan. Aku berusaha membayangkan Ares dan Aphrodite di sini, sepasang dewa-dewi yang bertemu di wahana taman bermain yang bobrok. Kenapa? Lalu, aku memerhatikan sesuatu yang tak terlihat dari atas: cermin di seluruh dinding kolam, menghadap ke tempat ini. Kami dapat melihat bayangan kami ke mana pun kami memandang. Pasti karena ini. Sementara Ares dan Aphrodite bermesraan, mereka dapat melihat idola mereka: diri mereka sendiri.

Aku memungut selendang itu. Warnanya berkilau-kilau merah jambu, dan parfumnya tak tergambarkan—mawar, atau kalmia. Bau yang enak. Aku tersenyum, agak termimpi-mimpi, dan hendak menggosokkan selendang itu pada pipi ketika Annabeth merebutnya dari tanganku dan menjejalkannya ke dalam saku. “Nggak boleh. Jangan dekat-dekat sihir cinta itu.”

“Apa?”

“Ambil saja perisainya, Otak Ganggang, lalu kita keluar.”

Begitu perisai itu kusentuh, aku langsung tahu kami bermasalah. Tanganku memutuskan sesuatu yang menghubungkan perisai itu pada perahu. Jaring laba-laba, pikirku, tetapi lalu kulihat seutas benda itu pada telapak tangan dan ternyata benda itu semacam benang logam, begitu halus sehingga hampir tak terlihat. Kawat jebakan.

“Tunggu,” kata Annabeth.

“Terlambat.”

“Ada huruf Yunani lain di sisi perahu, huruf eta lagi. Ini perangkap.”

Bunyi meletus di sekeliling kami, bunyi sejuta gigi-gigi berputar, seolah-olah seluruh kolam berubah menjadi satu mesin raksasa.

Grover berteriak, “Teman-teman!!”

Di atas tepi kolam, patung-patung Cupid menarik busur ke posisi tembak. Sebelum aku sempat mengusulkan untuk berlindung, mereka memanah, tetapi tidak ke arah kamik. Mereka saling memanah, melintasi tepi kolam. Kabel-kabel bagai sutra mengikuti panah, melengkung di atas kolam dan menjadi jangkar di tempat menancapnya, sehingga membentuk bintang emas raksasa. Lalu, benang-benang logam yang lebih kecil mulai menganyam di antara benang-benang utama, membentuk jaring.

“Kita harus keluar,” kataku.

“Ya iyalah!” kata Annabeth.

Aku menyambar perisai itu dan kami berlari, tetapi menaiki tanjakan kolam tidak semudah menuruninya.

“Ayo!” teriak Grover.

Dia berusaha membuka satu bagian jaring untuk kami, tetapi di mana pun ia menyentuhnya, benang-benang emas itu mulai membelit tangannya.

Kepala-kepala Cupid membuka. Keluarlah kamera-kamera video. Lampu sorot keluar di sekeliling kolam renang, terang menyilaukan, dan suara loudspeaker bergemuruh: “Siaran langsung ke Olympus satu menit lagi … Lima puluh sembilan detik, lima puluh delapan ….”

“Hephaestus!” jerit Annabeth. “Bodoh sekali aku! Huruf eta itu huruf ‘H’. Dia membuat jebakan ini untuk memergoki istrinya dengan Ares. Sekarang kita akan disiarkan langsung ke Olympus dan tampak seperti orang bodoh!”

Kami hampir mencapai tepi ketika baris cermin itu membuka seperti tingkap dan ribuan … benda logam kecil mengalir keluar.

Annabeth menjerit.

Pasukan serangga yang bisa diputar: tubuh perunggu bergigi, kaki kerempeng, mulut bercapit kecil, semuanya merayap ke arah kami, dalam gelombang logam yang berderak dan berputar.

“Laba-laba!” kata Annabeth. “La—la—aaaah!”

Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Dia terjengkang ketakutan dan hampir dikerubungi robot laba-laba itu sebelum aku menariknya berdiri dan menyeretnya kembali ke arah perahu.

Benda-benda itu keluar dari seluruh dinding kolam sekarang, jutaan, membanjir ke tengah kolam, benar-benar mengepung kami. Aku menghibur diri, bahwa mereka mungkin tidak diprogram untuk membunuh, hanya mengepung kami dan menggigit kami dan membuat kami tampak bodoh. Tetapi, kalau dipikir lagi, jebakan ini dimaksudkan untuk dewa-dewa. Dan kami bukan dewa.

Aku dan Annabeth memanjat masuk ke dalam perahu. Aku mulai menendangi laba-laba yang berbondong-bondong naik. Aku berteriak kepada Annabeth agar membantuku, tetapi dia terlalu lumpuh untuk melakukan apa-apa selain menjerit.

“Tiga puluh, dua puluh sembilan,” kata speaker.

Laba-laba mulai meludahkan helai-helai benang logam, berusaha mengikat kami. Benang itu cukup mudah diputuskan pada mulanya, tetapi jumlahnya begitu banyak, dan laba-laba itu terus berdatangan. Aku menendang satu dari kaki Annabeth dan capitnya memotong sedikit sepatu selancarku yang baru.

Grover melayang-layang di atas kolam renang dengan sepatu terbang, berusaha menarik lepas jaring itu, tetapi jaring itu tak bergeming.

Pikir, kataku dalam hati. Pikir.

Pintu masuk Terowongan Asmara berada di bawah jaring. Kami bisa menggunakannya sebagai jalan keluar, tetapi terowongan itu dihalangi sejuta laba-laba robot.

“Lima belas, empat belas,” kata speaker.

Air, pikirku. Dari mana asal air wahana ini?

Lalu kulihat semua: pipa-pipa air raksasa di belakang cermin, tempat semua laba-laba ini berasal. Dan di atas jaring, di sebelah salah satu Cupid, bilik berjendela kaca yang pasti merupakan pos si pengendali.

“Grover!” teriakku. “Masuk ke bilik itu! Cari tombol ‘nyala’!”

“Tapi—”

“Cepat!” Ini harapan gila, tetapi satu-satunya peluang kami. Laba-laba itu sekarang menutupi haluan kapal. Annabeth menjerit-jerit. Aku harus membawa kami keluar dari sini.

Grover sekarang sudah berada di balik pengendali, menghantam-hantam tombol.

“Lima, empat—”

Grover menatapku putus asa, mengangkat tangan. Dia memberitahuku bahwa dia telah menekan setiap tombol, tetapi tetap tak terjadi apa-apa.

Aku memejamkan mata, dan berpikir tentang ombak, air melanda, Sungai Mississippi. Aku merasakan sentakan akrab di perutku. Aku berusaha membayangkan bahwa aku menyeret samudra sampai ke Denver.

“Dua, satu, nol!”

Air meledak keluar dari pipa. Air itu bergemuruh ke dalam kolam, menyapu semua laba-laba. Aku menarik Annabeth ke kursi di sebelahku mengencangkan sabuk pengamannya sementara ombak pasang menghantam perahu kami, menaikinya, menyapu semua laba-laba dan membuat kami basah kuyup, tetapi tidak menggulingkan kami. Perahu itu berputar, terangkat dalam banjir, dan berputar-putar di pusaran.

Air itu penuh dengan laba-laba yang korsleting, sebagian dari mereka menabrak tembok beton kolam dengan begitu kuat, sehingga meledak.

Lampu sorot menerangi kami. Kamera Cupid sudah berputar, siaran langsung ke Olympus.

Tetapi, aku hanya bisa berkonsentrasi pada mengendalikan perahu. Aku menyuruhnya mengikuti arus, menjauhi tembok. Mungkin hanya imajinasiku, tetapi perahu itu tampaknya menanggapi. Setidaknya, perahu itu tidak hancur berkeping-keping. Kami berputar sekali lagi, tingkat air sekarang hampir cukup tinggi untuk mencacah kami pada jaring logam. Lalu, hidung perahu membelok ke arah terowongan dan kami melaju ke kegelapan.

Aku dan Annabeth berpegangan erat, menjerit, sementara perahu itu melesat di belokan dan menyerempet tikungan dan menukik 45 derajat melewati gambar-gambar Romeo dan Juliet serta banyak hal yang berkaitan dengan Hari Valentine.

Lalu, kami keluar dari terowongan, udara malam bersiul melalui rambut kami sementara perahu menerjang lurus ke pintu keluar.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.