Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Kau beruntung bertemu denganku, Bocah, dan bukan para dewa Olympia yang lain. Mereka tidak terlalu toleran pada kekurangajaran seperti aku. Kita bertemu lagi di sini setelah kau selesai. Jangan kecewakan aku.”

Setelah itu sepertinya aku pingsan, atau trance, karena saat aku membuka mata lagi, Ares sudah menghilang. Aku ingin saja menganggap percakapan itu cuma mimpi, tetapi air muka Annabeth dan Grover menyatakan itu bukan mimpi.

“Nggak bagus,” kata Grover. “Ares mencarimu, Percy. Ini nggak bagus.”

Aku menatap keluar jendela. Motor itu sudah menghilang.

Apakah Ares benar-benar tahu sesuatu tentang ibuku, atau dia cuma mempermainkanku saja? Sekarang, setelah dia pergi, seluruh amarah surut dari diriku. Aku menyadari bahwa Ares pasti senang mengacaukan emosi orang. Itulah kekuatannya—mendongkrak perasaan menjadi begitu buruk, sehingga mengaburkan kemampuan kita berpikir.

“Ini mungkin semacam jebakan,” kataku. “Lupakan Ares. Kita pergi saja.”

“Kita nggak bisa begitu,” kata Annabeth. “Aku juga membenci Ares, sama seperti orang lain, tapi dewa nggak bisa diabaikan, kecuali kau ingin tertimpa nasib buruk. Dia nggak main-main soal mengubahmu menjadi binatang pengerat.”

Aku menatap cheeseburger-ku, yang tiba-tiba tak terlalu lezat lagi. “Kenapa dia memerlukan kita?”

“Mungkin masalahnya perlu dipecahkan pakai otak,” kata Annabeth. “Ares memiliki kekuatan. Cuma itu yang dia punya. Kekuatan pun kadang harus tunduk pada kearifan.”

“Tapi, taman air ini … tingkahnya hampir seperti dia ketakutan. Apa yang menyebabkan seorang dewa perang kabur seperti itu?”

Annabeth dan Grover saling melirik dengan gugup.

Kata Annabeth,” Sialnya, kita harus mencari tahu.”

* * *

Matahari sudah ulai terbenam di belakang pegunungan saat kami menemukan taman air itu. Menilai dari plangnya, taman itu dulu bernama WATERLAND, tetapi beberapa hurufnya sekarang sudah hancur, sehingga menjadi WAT R A D.

Gerbang utamanya digembok dan bagian atasnya dipasangi kawat berduri. Di dalam, luncuran air dan tabung serta pipa raksasa yang kini kering meliuk-liuk di mana-mana, menuju ke kolam-kolam kosong. Tiket dan iklan lama beterbangan di atas aspal. Dengan malam yang menjelang, tempat itu tampak sedih dan menyeramkan.

“Kalau Ares membawa pacarnya ke sini untuk berkencan,” kataku sambil menatap kawat berduri, “aku benar-benar nggak ingin lihat seperti apa tampang pacarnya itu.”

“Percy,” Annabeth memperingatkan. “Bersikaplah lebih hormat.”

“Kenapa? Bukannya kau membenci Ares?”

“Tetap saja dia itu dewa. Dan pacarnya sangat pemarah.”

“Jangan menghina penampilannya,” tambah Grover.

“Memangnya siapa pacarnya? Echidna?”

“Bukan, Aphrodite,” kata Grover, sedikit mendamba. “Dewi Cinta.”

“Bukannya dia sudah punya suami?” kataku. “Hephaestus.”

“Memangnya kenapa?” tanya Grover.

“Oh.” Tiba-tiba aku merasa perlu mengubah topik. “Jadi, bagaimana caranya kita masuk?”

“Maia!” Sepatu Grover mengeluarkan sayap.

Dia terbang melewati pagar, tanpa sengaja bersalto di tengah udara, lalu terhuyung-huyung saat mendarat di seberang pagar. Dia menepiskan debu dari celana jins, seolah-olah memang sudah merencanakan semua itu. “Kalian ikut?”

Aku dan Annabeth harus memanjat dengan cara kuno, memegangi kawat berduri sementara yang satu memanjat melewatinya.

Bayangan semakin panjang sementara kami berjalan di taman itu, melihat-lihat segala wahana. Ada Pulau Penggigit Pergelangan Kaki, Celana Di Atas Kepala, dan Bung, Mana Baju Renangku?

Tak ada monster yang datang menyerang. Tak ada yang berbunyi sedikit pun.

Kami menemukan toko cendera mata yang dibiarkan terbuka. Dagangan masih mengisi rak: bola kaca berisi salju, pensil, kartu pos, dan beberapa rak—

“Baju,” kata Annabeth. “Baju bersih.”

“Ya,” kataku. “Tapi kita nggak boleh—”

“Bisa saja.”

Dia menyambar sebaris pakaian dari rak dan menghilang ke ruang pas. Beberapa menit kemudian, dia keluar mengenakan celana pendek bercorak bunga Waterland, kaus Waterland merah besar, dan sepatu selancar Waterland edisi kenang-kenangan. Di bahunya tersandang ransel Waterland, jelas diisi dengan barang lain.

“Ya sudahlah.” Grover mengangkat bahu. Tak lama kemudian, kami bertiga berhias seperti iklan berjalan untuk taman bermain almarhum itu.

Kami terus mencari Terowongan Asmara. Aku mendapat firasat bahwa seluruh taman sedang menahan napas. “Jadi, Ares dan Aphrodite,” kataku, agar tak memikirkan kegelapan yang semakin pekat, “mereka pacaran?”

“Itu gosip lama, Percy,” kata Annabeth. “Gosip berusia tiga ribu tahun.”

“Bagaimana dengan suami Aphrodite?”

“Ya, kau tahu,” katanya. “Hephaestus. Si pandai besi. Dia menjadi cacat sewaktu bayi, karena dilempar Zeus dari Gunung Olympus. Jadi, dia nggak terlalu ganteng. Tangannya memang terampil, tetapi Aphrodite bukan tipe orang yang menghargai otak dan bakat, gitu.”

“Tapi kok suka pengendara motor.”

“Ya gitu deh.”

“Hephaestus tahu?”

“Tentu saja tahu,” kata Annabeth. “Dia pernah memergoki mereka berdua. Maksudku, benar-benar menangkap mereka, dalam jala emas, dan mengundang semua dewa datang dan menertawakan mereka. Hephaestus selalu berusaha mempermalukan mereka. Itu sebabnya mereka bertemu di tempat-tempat terpencil, seperti ….”

Dia berhenti, menatap lurus ke depan. “Seperti itu.”

Di depan kami terdapat kolam koson gyang pasti asyik dipakai main skateboard. Lebarnya paling sedikit 50 meter dan berbentuk seperti mangkuk.

Di sekitar tepinya, selusin patung perunggu Cupid berjaga dengan sayap terbuka dan busur siap menembak. Di seberang kami, terbuka sebuah terowongan, mungkin dimasuki aliran air mengalir saat kolam itu penuh. Papan di atasnya berbunyi, WAHANA ASMARA ASYIK: INI BUKAN TEROWONGAN ASMARA KUNO!

Grover merayap ke tepi. “Teman-teman, lihat.”

Di dasar kolam terdampar sebuah perahu yang berisi dua kursi berwarna putih-merah jambu. Bagian atasnya dihiasi kanopi dan seluruh permukaannya dicat hati kecil-kecil. Di kursi kiri ada perisai Ares, lingkaran perunggu yang dipoles, berkilauan dalam cahaya yang memudar.

“Ini terlalu gampang,” kataku. “Jadi, kita tinggal berjalan turun ke situ dan mengambilnya?”

Annabeth mengusap dasar patung Cupid terdekat.

“Ada huruf Yunani terukir di sini,” katanya. “Huruf eta. Aku jadi ingin tahu …”

“Grover,” kataku, “kau mencium bau monster?”

Dia mengendus angin. “Nggak ada.”

“Nggak ada—maksudnya seperti di Gateway Arch dan kau nggak bisa mencium Echidna, atau benar-benar nggak ada?”

Grover tampak tersinggung. “Sudah kubilang, itu di bawah tanah.”

“Oke, maaf.” Aku menghela napas dalam-dalam. “Aku mau turun.”

“Aku ikut.” Grover terdengar tidak terlalu bersemangat, tetapi aku merasa dia berusaha menebus untuk peristiwa di St. Louis.

“Jangan,” kataku. “Aku ingin kau tetap di atas, memakai sepatu terbang. Kau Superman, si jago terbang, ingat? Aku akan mengandalkanmu sebagai bala bantuan, kalau-kalau ada masalah.”

Grover membusungkan dada sedikit. “Tentu. Tapi, masalah apa yang mungkin terjadi?”

“Nggak tahu. Cuma firasat. Annabeth, ikut aku—”

“Kau bercanda?” Dia menatapku seolah-olah aku baru jatuh dari bulan. Pipinya merah cerah.

“Ada apa lagi?’ tanyaku.

“Aku, ikut kau ke … ke ‘Wahana Asmara Asyik’? Malu, tahu. Bagaimana kalau ada yang lihat?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.