Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Akhirnya si pelayan datang. Dia mengangkat alis dengan skeptis. “Bagaimana?”

Kataku, “Kai, eh, mau memesan makanan.”

“Kalian anak-anak punya uang untuk membayar?”

Bibir bawah Grover gemetar. Aku khawatir dia akan mulai mengembik, atau lebih buruk lagi, mulai mengunyah linoleum. Annabeth kelihatannya sudah hampir pingsan kelaparan.

Aku berusaha memikirkan kisah memelas untuk si pelayan, ketika suara gemuruh mengguncang seluruh bangunan; sebuah sepeda motor sebesar bayi gajah masuk ke tempat parkir.

Semua percakapan di restoran itu berhenti. Lampu depan motor itu menyala merah. Tangki gasnya dicat gambar api, dan sarung senapan dipasang di kedua sisi, lengkap dengan senapannya. Sadelnya terbuat dari kulit—tetapi kulit yang mirip … yah, kulit manusia kulit putih.

Lelaki di atas motor itu bisa membuat para pegulat profesional kabur berlindung di ketiak ibu mereka. Dia memakai kaus merah tanpa lengan, jins hitam, dan jaket kulit hitam, sementara pisau berburu terikat pada pahanya. Dia mengenakan kacamata gaya warna merah, dan dia memiliki wajah paling brutal dan paling kejam yang pernah kulihat—tampan juga, barangkali, tapi jahat—dengan rambut krukat hitam berminyak dan pipi bercodet dari sangat banyak perkelahian. Anehnya, aku merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat.

Saat dia masuk ke restoran, angin kering dan panas bertiup ke semua tempat. Semua orang bangkit, seolah-olah dihipnotis, tetapi si pengendara motor melambaikan tangan mengabaikan dan mereka semua duduk lagi. Semua orang kembali mengobrol. Si pelayan mengerjapkan mata, seolah-olah ada yang menekan tombol rewind di otaknya. Dia menanyai kami lagi, “Kalian anak-anak punya uang untuk membayarnya?”

Si pengendara motor berkata, “Aku yang bayar.” Dia menyelinap masuk ke bilik kami, yang terlalu kecil baginya, dan mendesak Annabeth ke jendela.

Dia menatap si pelayan, yang terbeliak memandangnya, dan berkata, “Kau masih di sini?”

Dia menunjuk si pelayan, dan tubuh perempuan itu pun menjadi kaku. Dia berbalik seolah-olah tubuhnya diputar, lalu berderap kembali ke dapur.

Si pengendara motor menatapku. Aku tak bisa melihat matanya di balik kacamata merah, tetapi firasat buruk mulai bergolak di perutku. Amarah, benci, getir. Aku ingin menonjok tembok. Aku ingin mengajak orang berkelahi. Memangnya orang ini pikir dia siapa?

Dia menyeringai jail kepadaku. “Jadi kau anak si Ganggang tua ya?”

Semestinya aku kaget, atau takut, tetapi aku malah merasa seolah-olah sedang menatap ayah tiriku, Gabe. Aku ingin mencabut kepala orang ini. “Memangnya apa urusanmu?”

Mata Annabeth memancarkan peringatan kepadaku. “Percy, ini—”

Si pengendara motor mengangkat tangan.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Aku nggak keberatan dengan sikap kurang ajar sedikit. Asalkan kau ingat siapa yang berkuasa di sini. Kau tahu siapa aku, Sepupu Cilik?”

Lalu, aku teringat mengapa orang ini tampak tak asing lagi. Dia memiliki seringai jahat yang sama dengan beberapa anak di Perkemahan Blaster, anak-anak yang berasal dari pondok lima.

“Kau ayah Clarisse,” kataku. “Ares, Dewa Perang.”

Ares menyeringai dan mencopot kacamatnaya. Di tempat yang semestinya ditempati matanya, hanya ada api, lubang kosong yang menyala dengan ledakan-ledakan nuklir mini. “Benar, Anak Ingusan. Kudengar kau mematahkan tombak Clarisse.”

“Dia yang mencari gara-gara.”

“Mungkin. Keren juga. Aku tak mau mewakili anak-anakku berkelahi, kau tahu? Aku di sini karena—kudengar kau sedang di sini. Aku ada tawaran kecil untukmu.”

Si pelayan kembali membawa nampan berisi penuh tumpukan makanan—cheeseburger, kentang goreng, cincin bawang bombai, dan milkshake cokelat.

Ares memberikan beberapa drachma emas kepadanya.

Si pelayan menatap koin itu dengan gugup. “Tapi, ini bukan …”

Ares menghunus sebilah belati besar dan mulai membersihkan kuku jari. “Ada masalah, Manis?”

Si pelayan menelan ludah, lalu pergi membawa emas itu.

“Kau tak boleh begitu,” kataku kepada Ares. “Kau tak boleh mengancam orang dengan pisau begitu saja.”

Ares tertawa. “Kau bercanda, ya? Aku suka negara ini. Tempat terbaik sejak Sparta. Kau tak bawa senjata, Bocah Ingusan? Mestinya bawa. Dunia ini berbahaya. Dan kembali lagi ke tawaranku. Aku perlu bantuanmu.”

“Bantuan apa yang bisa kulakukan untuk seorang dewa?”

“Sesuatu yang tak sempat dikerjakan dewa seorang diri. Nggak susah kok. Aku meninggalkan perisaiku di taman air terbengkalai di kota ini. Tadi aku sedang … berkencan dengan pacarku. Kami diganggu. Perisaiku tertinggal. Aku ingin kau mengambilkannya untukku.”

“Kenapa tak kauambil sendiri saja?”

Api di lubang matanya menyala lebih panas.

“Kenapa nggak kuubah saja kau menjadi anjing padang rumput dan menggilasmu dengan Harleyku? Karena aku sedang malas saja. Seorang dewa sedang memberimu peluang untuk membuktikan diri, Percy Jackson. Apakah kau akan membuktikan bahwa kau pengecut?” Dia memajukan tubuh. “Atau mungkin kau cuma berani bertempur kalau bisa terjun ke sungai, supaya ayahmu bisa melindungimu?”

Aku ingin menonjok orang ini, tetapi entah bagaimana, aku tahu dia menantikan itu. Kekuatan Areslah yang menyebabkan amarahku. Dia senang kalau aku menyerang. Aku tak mau membuatnya puas.

“Kami nggak tertarik,” kataku. “Kami sudah punya misi.”

Mata berapi Ares membuatku melihat hal-hal yang tak ingin kulihat—darah dan asap dan mayat-mayat di arena peperangan. “Aku tahu persis soal misimu. Bocah. Saat barang itu pertama kali dicuri, Zeus mengutus bawahan terbaiknya untuk mencarinya: Apollo, Athena, Artemis, dan tentu saja aku. Kalau aku tak bisa mengendus senjata sekuat itu ….” Dia menjilat bibir, seolah-olah bayangan petir asali itu saja sudah membuatnya haus. “Nah … kalau aku saja tak bica mencarinya, kau mana ada harapan. Meskipun begitu, aku berusaha membiarkanmu membuktikan diri. Aku dan ayahmu sudah lama berteman. Lagi pula, akulah yang memberi tahu dia tentang kecurigaanku soal si Napas Bangkai Tua itu.”

“Kau yang memberi tahu dia bahwa Hades yang mencuri petir?”

“Tentu saja. Memfitnah orang untuk memicu perang. Tipuan lama. Aku langsung mengenalinya. Boleh dibilang, kau harus berterima kasih kepadaku atas misi itu.”

“Trims,” gerutuku.

“Hei, aku ini murah hati. Kau lakukan saja tugas kecil dariku ini, maka aku akan membantu perjalananmu. Aku akan mengurus tumpangan ke barat untukmu dan teman-temanmu.”

“Kami baik-baik saja sendiri.”

“Betul. Tak ada uang. Tak ada kendaraan. Tak punya gambaran soal apa yang kalian hadapi. Bantulah aku, mungkin aku bisa memberitahumu sesuatu yang perlu kalian ketahui. Sesuatu tentang ibumu.”

“Ibuku?”

Dia menyeringai. “Nah, begitu dong. Jadi, taman air itu satu setengah kilometer di sebelah barat Delancy. Tak mungkin terlewat. Cari wahana Terowongan Cinta.”

“Apa yang mengganggu kencanmu?” tanyaku. “Ada yang membuatmu ketakutan?”

Ares memamerkan giginya, tetapi aku sudah pernah melihat tampang mengancam seperti itu pada wajah Clarisse. Ada yang palsu dalam tampang itu, hampir seolah-olah dia gugup.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.