Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Kenapa Poseidon menyelamatkanku? Semakin kupikirkan, aku semakin malu. Beberapa kali sebelumnya aku kebetulan saja mujur. Melawan makhluk seperti Chimera, aku tak punya peluang menang. Orang-orang malang di Gateway Arch pasti sudah menjadi panggangan. Aku tak bisa melindungi mereka. Aku bukan pahlawan. Mungkin sebaiknya aku tinggal di bawah sini saja bersama si ikan lele, bergabung dengan pemakan dasar sungai.

Bam-bam-bam. Roda lambung kapal sungai berputar di atasku, mengaduk-aduk pasir.

Di sana, tak sampai dua meter di depanku, ada pedangku, gagang perunggunya yang berkilauan mencuat dari lumpur.

Aku mendengar suara wanita itu lagi: Percy, ambillah pedang itu. Ayahmu meyakini kemampuanmu. Kali ini aku tahu suara itu bukan khayalanku saja. Aku tidak mengada-ada. Suaranya seolah-olah datang dari semua tempat, beriak melalui air seperti sonar lumba-lumba.

“Kau di mana?” seruku keras-keras.

Lalu, melalui kekelaman, kulihat dia—wanita yang sewarna dengan air, hantu dalam arus, melayang tepat di atas pedang. Rambutnya panjang melayang-layang, dan matanya, yang nyaris tak terlihat, berwarna hijau seperti mataku.

Ganjalan terbentuk di leherku. Kataku, “Ibu?”

Bukan, Nak, hanya utusan, meskipun nasib ibumu belum seburuk yang kau yakini. Pergilah ke pantai di Santa Monica.

“Apa?”

Itu kehendak ayahmu. Sebelum turun ke Dunia Bawah, kau harus pergi ke Santa Monica. Tolong, Percy, aku tak bisa lama-lama. Sungai di sini terlalu kotor bagi kehadiranku.

“Tapi …” Aku yakin perempuan ini ibuku, atau setidaknya bayangannya. “Siapa—bagaimana kau—”

Tapi, begitu banyak yang ingin kutanyakan, kata-katanya tersumbat di tenggorokanku.

Aku harus pergi, sang pemberani, kata wanita itu. Dia mengulurkan tangan, dan kurasakan arus air mengusap wajahku seperti belaian. Kau harus ke Santa Monica! Dan Percy, jangan percayai hadiah ….

Suaranya menghilang.

“Hadiah?” tanyaku. “Hadiah apa? Tunggu!”

Dia mencoba berbicara sekali lagi, tetapi suaranya hilang. Sosoknya lenyap. Kalau itu ibuku, aku kehilangan dia lagi.

Aku merasa ingin menenggelamkan diri. Satu-satunya masalah: Aku tak bisa tenggelam.

Ayahmu meyakini kemampuanmu, kata wanita itu.

Dia juga menyebutku pemberani … kecuali kalau dia tadi berbicara dengan si ikan lele.

Aku mengarung ke arah Riptide dan mencengkeram gagangnya. Chimera mungkin masih berada di atas sana bersama ibu ularnya yang gembrot, menunggu menghabisiku. Setidaknya polisi manusia akan datang, berusaha menyelidiki siapa yang melubangi Gateway Arch. Kalau mereka menemukanku, mereka pasti punya banyak pertanyaan.

Aku menutup pedang, memasukkan pena ke saku. “Terima kasih, Ayah,” kataku lagi kepada air gelap.

Lalu, aku menolakkan tubuh pada lumpur dan berenang ke permukaan.

* * *

Aku mendarat di sebelah McDonald’s terapung.

Satu blok dari situ, semua kendaraan darurat di St. Louis mengelilingi Gateway Arch. Beberapa helikopter polisi berputar-putar di udara. Kerumunan penonton yang penuh sesak mengingatkanku pada Times Square pada malam Tahun Baru.

Seorang anak perempuan berkata, “Mama! Anak itu berjalan keluar dari sungai.”

“Bagus, Sayang,” kata ibunya, yang menjulurkan leher untuk menonton ambulans.

“Tapi dia kering!”

“Bagus, Sayang.”

Seorang penyiar perempuan berbicara di depan kamera: “Kami diberi tahu bahwa ini mungkin bukan serangan teroris, tetapi penyelidikan saat ini masih pada tahap yang sangat awal. Seperti yang Anda lihat, kerusakannya parah. Kami berusaha mendekati beberapa orang yang selamat, untuk menanyai mereka mengenai laporan saksi tentang seseorang yang jatuh dari Gateway Arch.”

Orang yang selamat. Aku merasa lonjakan rasa lega. Mungkin si penjaga dan keluarga itu keluar dengan selamat. Kuharap Annabeth dan Grover baik-baik saja.

Aku berusaha menembus keramaian untuk melihat apa yang terjadi di dalam pita polisi.

“… remaja lelaki,” seorang wartawan lain berkata. “Saluran Lima mendapat informasi bahwa kamera pengintai menunjukkan seorang remaja lelaki tiba-tiba mengamuk di dek observasi, lalu entah bagaimana memicu ledakan aneh ini. Sulit dipercaya, John, tetapi itulah yang kami dengar. Sekali lagi, tak ada korban jiwa …”

Aku mundur, berusaha menunduk. Aku harus mengambil jalan memutar ke sekeliling batas polisi. Polisi berseragam dan wartawan ada di mana-mana.

Aku hampir putus asa bisa menemukan Annabeth dan Grover, ketika sebuah suara akrab mengembik, “Perrr-cy!”

Aku berputar dan dihantam oleh pelukan erat Grover. Katanya, “Kami sangka kau sudah pergi ke Hades lewat jalan pintas!”

Annabeth berdiri di belakangnya, berusaha tampak marah, tetapi dia pun kelihatan lega bertemu denganku. “Kau ini memang nggak bisa ditinggal, biar cuma lima menit! Apa yang terjadi?”

“Aku jatuh.”

“Percy! Dua ratus meter?”

Di belakang kami, seorang polisi berseru, “Buka jalan!” Orang membuka jalan, dan beberapa paramedis bergegas keluar, mendorong seorang wanita dalam usungan. Aku segera mengenalinya sebagai ibu si bocah kecil di dek observasi. Katanya, “Lalu ada anjing raksasa, Chihuahua raksasa yang bernapas api—”

“Oke, Bu,” kata si paramedis. “Tenang dulu. Keluarga Ibu baik-baik saja. Obat itu mulai bekerja.”

“Saya tidak gila! Anak itu melompat keluar lewat lubang dan monster itu menghilang.” Lalu dia melihatku. “Itu dia! Itu anaknya!”

Aku cepat-cepat berbalik dan menarik Annabeth dan Grover bersamaku. Kami menghilang ke dalam keramaian.

“Ada apa sih?” tanya Annabeth. “Yang dia maksud itu, Chihuahua dalam lift tadi?”

Aku menceritakan semuanya tentang Chimera, Echidna, terjun bebasku, dan pesan dari wanita bawah air.

“Wah,” kata Grover. “Kita harus cepat-cepat ke Santa Monica! Kau tak boleh mengabaikan panggilan dari ayahmu.”

Sebelum Annabeth sempat menanggapi, kami melewati seorang wartawan lain yang memberitakan peristiwa ini, dan aku hampir terpaku di tengah jalan ketika dia berkata, “Percy Jackson. Benar, Dan. Saluran Dua Belas mendapat tahu bahwa anak yang mungkin menyebabkan ledakan ini memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan remaja yang dicari polisi untuk kecelakaan bus yang parah di New Jersey tiga hari lalu. Dan anak itu diyakini bergerak ke arah Barat. Untuk permisa di rumah, inilah foto Percy Jackson.”

Kami menunduk mengitari van berita dan menyelinap ke dalam gang.

“Yang paling penting dulu,” kataku kepada Grover. “Kita harus keluar dari kota ini!”

Entah bagaimana, kami berhasil kembali ke stasiun Amtrak tanpa dikenali. Kami naik kereta api persis sebelum kereta itu berangkat menuju Denver. Kereta itu meluncur ke Barat sementara kegelapan tiba, lampu polisi masih berdenyar-denyar dengan latar pemandangan kota St. Louis di belakang kami.

15. Seorang Dewa Mentraktir Kami Cheeseburger

Sore berikutnya, tanggal 14 Juni, tujuh hari sebelum titik balik matahari, kereta kami memasuki Denver. Kami belum makan sejak malam sebelumnya di gerbong restoran, di suatu tempat di Kansas. Kami belum mandi sejak dari Bukit Blasteran, dan aku yakin itu terlihat dari penampilan kami.

“Ayo kita coba hubungi Chiron,” kata Annabeth. “Aku ingin menceritakan pembicaraanmu dengan arwah air itu.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.