Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dia melolong, wajah reptilnya menjadi cokelat dan hijau karena marah. “Aku paling sebal kalau orang bilang begitu! Aku benci Australia! Menamai hewan konyol itu dengan namaku. Untuk hinaan itu, Percy Jackson, anakku akan menghancurkanmu!”

Chimera itu menyerang, gigi singanya beradu. Aku berhasil melompat ke samping dan menghindari gigitan.

Aku mendarat di dekat keluarga itu dan si penjaga, yang semuanya sekarang menjerit-jerit sambil berusaha membuka pintu keluar darurat.

Aku tak bisa membiarkan mereka terluka. Aku membuka tutup pedangku, berlari ke seberang dek, dan berseru, “Hei, Chihuahua!”

Chimera itu berputar lebih cepat daripada yang kukira.

Sebelum aku sempat mengayunkan pedang, Chimera membuka mulut, mengeluarkan bau seperti lubang panggangan terbesar di dunia, dan menembakkan kolom api tepat ke arahku.

Aku melompat menembus ledakan. Karpet terbakar, panasnya begitu tinggi, sampai-sampai alisku hampir terbakar.

Di tempatku berdiri tadi, ada lubang bergerigi di dinding Gateway Arch. Di sekeliling tepi lubang itu, logam meleleh sambil mengepulkan asap.

Bagus, pikirku. Kami baru saja mengelas sebuah monumen nasional.

Riptide sekarang sudah membentuk pedang perunggu bersinar di tanganku, dan saat Chimera berputar, aku menyabet lehernya.

Itu kesalahan fatal. Pedang itu terpantul kalung anjing tanpa melukai. Aku berusaha berdiri tegak kembali, tetapi aku begitu cemas memikirkan cara membela diri dari mulut berapi si singa, aku lupa sama sekali soal ekor ularnya sampai ular itu berputar dan menghunjamkan taringnya pada betisku.

Seluruh kakiku terasa terbakar. Aku berusaha menikamkan Riptide ke dalam mulut Chimera, tetapi ekor ular itu membeli pergelangan kakiku dan menarikku hingga jatuh. Pedangku terlontar dari tangan, berputar-putar keluar dari lubang di Gateway Arch dan jatuh ke Sungai Mississippi.

Aku berhasil berdiri, tetapi aku tahu aku sudah kalah. Aku tak bersenjata. Terasa olehku racun maut yang berpacu ke dada. Aku ingat Chiron berkata bahwa Anaklusmos akan selalu kembali kepadaku, tetapi di sakuku tak ada pena. Mungkin jatuhnya terlalu jauh. Mungkin hanya kembali kalau sedang berbentuk pena. Aku tak tahu, dan aku tak akan hidup cukup lama untuk mengetahuinya.

Aku mundur ke arah lubang di dinding. Chimera itu maju, menggeram, asap mengepul dari bibirnya. Si wanita ular, Echidna, terkekeh-kekeh. “Pahlawan zaman sekarang tak sehebat dulu, ya, Nak?”

Monster itu menggeram. Tampaknya ia sudah tak tergesa-gesa lagi menghabisiku, karena aku sudah kalah.

Aku melirik si penjaga dan keluarga itu. Bocah kecil itu bersembunyi di balik kaki ayahnya. Aku harus melindungi orang-orang ini. Aku tak bisa cuma … mati. Aku erusaha berpikir, tetapi seluruh tubuhku terasa terbakar. Kepalaku pusing. Aku tak punya pedang. Aku sedang menghadapi seekor monster raksasa yang bernapas api dan ibunya. Dan aku takut.

Aku tak bisa ke mana-mana lagi, jadi aku melangkah ke tepi lubang. Jauh, jauh di bawah, sungai tampak berkilap-kilap.

Kalau aku mati, apakah monster-monster itu akan pergi? Apakah mereka tak akan mengganggu manusia-manusia itu?

“Kalau kau anak Poseidon,” desis Echidna, “kau tak akan takut air. Lompatlah, Percy Jackson. Tunjukkan bahwa air tak akan menyakitimu. Lompat dan ambil pedangmu. Buktikan garis darahmu.”

Enak saja, pikirku. Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa melompat ke air dari ketinggian puluhan lantai itu sama seperti melompat ke aspal. Dari sini, aku pasti mati saat terbanting.

Mulut Chimera berpendar merah, pemanasan untuk menembak lagi.

“Kau tak punya iman,” kata Echidna. “Kau tak memercayai para dewa. Aku tak bisa menyalahkanmu, Pengecut Kecil. Lebih baik kau mati sekarang. Para dewa tak bisa dipercaya. Racun itu berada di hatimu.”

Dia benar: aku sudah sekarat. Aku dapat merasaka napasku melambat. Tak ada yang bisa menyelamatkanku, dewa juga tidak.

Aku mundur dan melihat ke air di bawah. Aku ingat pendar hangat senyuman ayahku sewaktu aku masih bayi. Dia pasti pernah menengokku. Dia pasti pernah mengunjungiku saat aku masih dalam buaian.

Aku ingat trisula hijau berputar-putar yang muncul di atas kepalaku pada malam permainan tangkap bendera, ketika Poseidon mengakuiku sebagai anaknya.

Tapi ini bukan laut. Ini Sungai Mississippi, tepat di tengah-tengah Amerika Serikat. Tak ada Dewa Laut di sini.

“Matilah, orang yang tak percaya,” kata Echidna parau, dan Chimera menembakkan kolom api ke mukaku.

“Ayah, tolong aku,” aku berdoa.

Aku berbalik dan melompat. Dengan pakaian terbakar dan racun menyebar dalam pembuluh darah, aku terjun ke arah sungai.

14. Aku Menjadi Pelarian Terkenal

Maunya sih aku bisa menyombongkan bahwa aku mendapat semacam wahyu agung dalam perjalananku ke bawah, bahwa aku berdamai dengan kefanaanku sendiri, tertawa menghadapi maut, dan seterusnya.

Tapi sebenarnya? Satu-satunya pikiranku cuma: Aaaaakkkhhhhhh!

Sungai berpacu ke arahku secepat truk. Angin merenggut napas dari paru-paruku. Menara dan gedung pencakar langit dan jembatan berguling masuk-keluar pandanganku.

Lalu: Plas!

Awan gelembung udara. Aku tenggelam dalam air keruh, yakin bahwa aku akan terbenam dalam tiga puluh meter lumpur dan hilang selamanya.

Tetapi, perbenturanku dengan air tidak sakit. Aku sekarang jatuh dengan lambat, gelembung air melayang naik melalui jemariku. Aku mendarat di dasar sungai tanpa suara. Seekor ikan lele sebesar ayah tiriku tiba-tiba menghilang ke dalam kelam. Awan pasir dan sampah menjijikkan—botol bir, sepatu tua, kantong plastik—berputar-putar di sekelilingku.

Saat itu aku menyadari beberapa hal: pertama, aku tidak gepeng seperti martabak. Aku tidak terpanggang. Aku bahkan tak bisa lagi merasakan racun Chimera mendidih dalam pembuluh darahku. Aku masih hidup, itu bagus.

Hal kedua yang kusadari: aku tidak basah. Maksudku, aku dapat merasakan dinginnya air. Aku dapat melihat tempat-tempat api yang dipadamkan di pakaianku. Tetapi, ketika kemejaku sendiri kusentuh, rasanya kering.

Aku memandangi sampah yang melayang lewat dan menyambar sebuah pemantik api tua.

Mustahil, pikirku.

Aku menekan tombol nyala. Pemantik itu nyala. Api kecil muncul, di dasar Sungai Mississippi.

Aku menyambar bungkus hamburger basah dari arus dan langsung saja kertas itu menjadi kering. Aku berhasil membakarnya tanpa kesulitan. Begitu kulepaskan, apinya padam. Bungkus kertas itu kembali menjadi carik berlumut. Aneh.

Tapi, pikiran teraneh baru terlintas di benakku terakhir: Aku bernapas. Aku berada dalam air, tetapi aku bernapas secara normal.

Aku berdiri, terbenam lumpur hingga ke paha. Kakiku terasa goyah. Tanganku gemetar. Semestinya aku sudah mati. Kenyataan bahwa aku tidak mati terasa seperti … yah, mukjizat. Aku membayangkan suara seorang wanita, suara yang agak mirip ibuku: Percy, harus bilang apa?

“Eh … terima kasih.” Di dalam air, suaraku seperti suara yang direkam, seperti anak yang jauh lebih tua. “Terima kasih … Ayah.”

Tak ada jawaban. Hanya arus sampah gelap ke hilir, si ikan lele raksasa meluncur lewat, kilas cahaya matahari terbenam di permukaan air jauh di atas, mengubah segalanya menjadi warna selai kacang.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.