Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Ngawur. Barangkali saja emosi satir berbeda dengan emosi manusia. Karena kau salah. Aku nggak peduli bagaimana pendapatnya.”

Grover menaikkan kaki ke atas dahan. “Iya deh. Terserah.”

“Lagi pula, aku belum melakukan apa-apa yang layak disombongkan. Kita nyaris tak bisa keluar dari New York dan kita terperangkap di sini tanpa uang dan tak tahu cara agar sampai ke barat.”

Grover menatap langit malam, seolah-olah merenungkan masalah itu. “Bagaimana kalau aku saja yang berjaga pertama? Kau tidurlah.”

Aku ingin memprotes, tetapi dia mulai memainkan Mozart, lembut dan manis, dan aku berpaling, mataku pedih. Setelah beberapa irama Piano Concerto no. 12, aku tertidur.

* * *

Dalam mimpiku, aku berdiri di sebuah gua gelap, di depan lubang yang menganga. Makhluk-makhluk kabut kelabu bergolak di sekelilingku, rumbai-rumbai asap berbisik, yang entah bagaimana kutahu adalah arwah orang mati.

Mereka menarik-narik bajuku, berusaha menarikku mundur, tetapi aku merasa harus berjalan maju ke tepi jurang itu.

Melihat ke bawah membuatku gamang.

Lubang itu menganga begitu lebar dan begitu gelap, aku pun tahu bahwa lubang itu tak berdasar. Namun, aku mendapat perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang berusaha naik dari jurang, sesuatu yang besar dan jahat.

Si pahlawan kecil, sebuah suara geli menggema jauh di dalam kegelapan. Terlalu lemah, terlalu muda, tapi mungkin kau memadai.

Suara itu terasa purba—dingin dan berat. Suara itu membungkusku seperti lembar-lembar timah.

Mereka menyesatkanmu, Bocah, katanya. Barterlah denganku. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan.

Suatu citra bergetar-getar melayang di atas kehampaan: ibuku, tubuhnya beku dalam pose seperti saat dia larut dalam rintik emas. Wajahnya meringis kesakitan, seolah-olah si Minotaurus masih mencekik lehernya. Matanya menatapku lurus-lurus, memohon: Pergi!

Aku berusaha berseru, tetapi suaraku tak mau keluar.

Tawa dingin menggema dari jurang.

Suatu kekuatan tak kasat mata menarikku maju. Aku bisa terseret ke dalam lubang, kalau tidak berdiri kukuh.

Bantu aku bangkit, Bocah. Suara itu kian lapar. Bawakan petir itu kepadaku. Serang para dewa yang pengkhianat!

Arwah orang mati berbisik di sekelilingku, Jangan! Bangun!

Citra ibuku mulai memudar. Makhluk di dalam lubang mempererat cengkeraman tak kasat matanya padaku.

Kusadari bahwa ia tak berminat menarikku masuk. dia menggunakan aku untuk menghela dirinya keluar.

Bagus, gumamnya. Bagus.

Bangun! Orang-orang mati berbisik. Bangun!

* * *

Ada yang mengguncangku.

Mataku terbuka, dan hari sudah terang.

“Nah,” kata Annabeth,” si mayat hidup masih bisa bangun.”

Tubuhku gemetar gara-gara mimpi itu. Cengkeraman si monster jurang masih terasa di sekeliling dadaku. “Berapa lama aku tidur?”

“Cukup lama, aku sempat memasak sarapan.” Annabeth melemparkan kepadaku sekantong keripik jagung rasa nacho dari kedai camilan Bibi Em. “Dan tadi Grover pergi menjelajah. Lihat, dia menemukan teman.”

Mataku sulit berfokus.

Grover sedang duduk bersila di atas selimut, memangku sesuatu yang berbulu, sebuah boneka binatang dengan warna merah jambu yang dekil dan tak alami.

Bukan. Itu bukan boneka. Itu anjing pudel merah jambu.

Pudel itu menyalak kepadaku dengan curiga. Kata Grover, “Nggak, dia nggak begitu.”

Aku mengerjapkan mata. “Kau … sedang bicara dengan benda itu?”

Pudel itu menggeram.

“Benda ini,” Grover memperingatkan, “adalah karcis kita ke Barat. Baik-baiklah padanya.”

“Kau bisa bicara dengan binatang?”

Grover tak menggubris pertanyaan itu. “Percy, ini Gladiola. Gladiola, Percy.”

Aku menatap Annabeth, menyangka dia akan tertawa karena lelucon yang ditujukan kepadaku ini, tetapi dia tampak serius.

“Aku nggak mau menyapa seekor pudel merah jambu,” kataku. “Lupakan saja.”

“Percy,” kata Annabeth. “Tadi aku menyapa pudel itu. Kau juga harus.”

Si pudel menggeram.

Aku menyapa pudel itu.

Grover menjelaskan bahwa dia bertemu dengan Gladiola di hutan dan mereka mengobrol. Pudel itu kabur dari sebuah keluarga kaya setempat, yang menawarkan hadiah $200 jika orang mengembalikannya. Gladiola sebenarnya tidak ingin kembali ke keluarga itu, tetapi dia bersedia melakukannya jika itu bisa membantu Grover.

“Bagaimana Gladiola bisa tahu soal hadiah itu?” tanyaku.

“Ya dia baca di posternya dong,” kata Grover. “Bego.”

“Iya,” kataku. “Aku yang bego.”

“Jadi, Gladiola kita kembalikan,” Annabeth menjelaskan dalam suara strategi terbaiknya, “kita dapat uang, dan kita beli karcis ke Los Angeles. Sederhana.”

Aku teringat mimpiku—bisikan suara arwah, makhluk di dalam jurang, dan wajah ibuku, bergetar sambil melarut menjadi emas. Semua hal yang mungkin menantiku di Barat.

“Jangan bus lagi,” kataku curiga.

“Setuju,” kata Annabeth.

Dia menunjuk ke bawah bukit, ke arah rel kereta yang tak terlihat tadi malam karena gelap. “Ada stasiun kereta Amtrak tujuh ratus meter ke arah sana. Menurut Gladiola, kereta tujuan Barat berangkat pada tengah hari.

13. Aku Terjun Menuju Kematian

Kami melewatkan waktu dua hari di kereta api Amtrak, menuju Barat dengan menembus perbukitan, menyeberangi sungai, melewati ladang gandum yang berombak merah.

Kami tidak diserang sekali pun, tetapi aku tak bisa tenang. Aku merasa seakan kami bergerak di dalam lemari pajangan, diamati dari atas dan mungkin dari bawah, sementara sesuatu sedang menunggu peluang yang tepat.

Aku berusaha tidak menarik perhatian orang karena nama dan fotoku tersebar di halaman depan beberapa koran Pantai Timur. Trenton Register-News menampilkan foto yang diambil seorang wisatawan ketika aku turun dari bus Greyhound. Tatapan mataku tampak liar. Pedang di tanganku seperti logam yang tampak kabur. Bisa saja dikira pemukul bisbol atau tongkat lacrosse.

Keterangan gambar itu berbunyi:

Percy Jackson, dua belas tahun, yang sedang dicari polisi untuk ditanyai tentang ibunya yang menghilang dua minggu lalu di Long Island, terlihat di sini kabur dari bus, tempat dia menyerang beberapa nenek-nenek yang jadi penumpang. Bus itu meledak di tepi jalan New Jersey Timur tak lama setelah Jackson kabur dari sana. Berdasarkan laporan saksi mata, polisi meyakini anak itu ditemani dua kaki-tangan remaja. Ayah tirinya, Gabe Ugliano, menawarkan hadiah uang tunai untuk informasi yan gmembantu penangkapan Jackson.

“Jangan khawatir,” kata Annabeth. “Polisi manusia tak mungkin bisa menemukan kita.” Namun, suaranya tidak terlalu yakin.

Sepanjang sisa hari itu aku gonta-ganti antara mondar-mandir di sepanjang kereta api (karena aku benar-benar kesulitan duduk diam) dan menatap keluar jendela.

Sekali waktu aku melihat sekeluarga centaurus. Mereka berlari melintasi padang gandum, dengan busur siaga, berburu makan siang. Seorang bocah centaurus, yang berukuran sebesar anak kelas dua yang menunggang kuda poni, menangkap mataku dan melambaikan tangan. Aku melihat ke sekeliling gerbong, tetapi tak ada orang lain yang memerhatikan. Semua penumpang dewasa sedang membenamkan wajah di laptop atau majalah.

Kali lain, menjelang malam, aku melihat suatu benda besar bergerak menembus hutan. Aku berani sumpah benda itu seekor singa, tetapi di Amerika tidak ada singa liar, dan hewan ini seukuran truk Hummer. Bulunya berkilauan emas dalam cahaya senja. Lalu, ia melompat menembus pepohonan dan menghilang.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.