Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Para Dewa

Gunung Olympus

Lantai 600

Empire State Building

New York, NY

Salam manis,

PERCY JACKSON

“Mereka nggak akan suka itu,” Grover memperingatkan. “Mereka akan menganggapmu kurang ajar.”

Aku menuangkan beberapa drachma emas ke dalam kantong kecil. Begitu kututup, terdengar bunyi seperti mesin kasir. Paket itu melayang dari atas meja dan lenyap dengan bunyi pop!

“Aku memang kurang ajar,” kataku.

Aku menatap Annabeth, menunggu dia mengkritikku.

Dia diam. Sepertinya dia sudah pasrah bahwa aku punya bakat besar membuat marah para dewa. “Ayo,” gumamnya. “Kita perlu rencana baru.”

12. Kami Mendapat Nasihat dari Anjing Pudel

Kami cukup sengsara malam itu.

Kami berkemah di hutan, seratus meter dari jalan utama, di lapangan berawa-rawa yang sepertinya digunakan anak-anak setempat untuk berpesta. Kaleng soda gepeng dan bungkus makanan cepat-saji berserakan di tanah.

Kami membawa makanan dan selimut dari tempat Bibi Em, tetapi kami tak berani menyalakan api untuk mengeringkan pakaian yang lembap. Dengan Erinyes dan Medusa, cukuplah kesibukan untuk sehari itu. Kami tak ingin menarik perhatian makhluk lain.

Kami memutuskan untuk tidur bergiliran. Aku sukarela mengambil giliran jaga pertama.

Annabeth meringkuk di selimut dan langsung mendengkur begitu kepalanya menyentuh tanah. Grover melayang-layang dengan sepatu terbang ke dahan pohon terendah, bersandar pada batang, dan menatap langit malam.

“Kau tidur saja,” kataku. “Nanti kubangunkan kalau ada masalah.”

Dia mengangguk, tapi tidak memejamkan mata. “Aku jadi sedih, Percy.”

“Sedih kenapa? Karena kau ikut dalam misi ini?”

“Bukan. Ini yang membuatku sedih.” Dia menunjuk semua sampah di tanah. “Dan langit. Bintang saja nggak kelihatan. Mereka mencemari langit. Ini masa yang buruk untuk hidup sebagai satir.”

“Benar sekali. Kau cocok jadi pejuang lingkungan.”

Dia mendelik kepadaku. “Cuma manusia yang nggak mau menjadi pejuang lingkungan. Spesiesmu menjejali bumi begitu cepat … ah, lupakan. Nggak ada gunanya menceramahi manusia. Kalau begini terus, aku nggak akan pernah menemukan Pan.”

“Pam? Air leding?”

“Pan!” serunya tersinggung. “P-A-N. Dewa besar Pan. Memangnya kau pikir, buat apa aku ingin mendapat izin pencari?”

Semilir aneh berkeresek di lapangan, sesaat mengalahkan bau sampah dan becek. Angin itu membawa bau berry dan bunga liar dan air hujan bersih, hal-hal yang mungkin dulu ada di hutan ini. Tiba-tiba aku merindukan sesuatu yang tak pernah kukenal.

“Ceritakanlah soal pencarian itu,” kataku.

Grover melirikku dengan hati-hati, seolah-olah takut aku cuma mengolok-olok.

“Dewa Alam Liar menghilang dua ribu tahun yang lalu,” katanya. “Seorang pelaut dari lepas pantai Efesus mendengar sebuah suara misterius berseru dari pantai, ‘Beri tahu mereka bahwa dewa besar Pan sudah mati!’ Ketika manusia mendengar berita itu, mereka percaya. Sejak saat itu mereka menjarah kerajaan Pan. Tetapi, bagi bangsa satir, Pan adalah pemimpin dan majikan kami. Dia melindungi kami dan tempat-tempat liar di bumi. Kami tak mau percaya dia sudah mati. Di setiap generasi, para satir yang paling pemberani berikrar akan mengabdikan hidupnya untuk mencari Pan. Mereka mencari di bumi ini, menjelajahi semua tempat terliar, berharap menemukan tempat dia bersembunyi, dan membangunkannya dari tidurnya.”

“Dan kau ingin jadi pencari.”

“Itu impian hidupku,” katanya. “Ayahku pencari. Dan Paman Ferdinand … patung yang kau lihat di sana—”

“Oh iya, ikut sedih.”

Grover menggeleng. “Paman Ferdinand tahu risikonya. Ayahku juga. Tapi aku pasti berhasil. Aku akan menjadi pencari pertama yang pulang hidup-hidup.”

“Tunggu—yang pertama?”

Grover mengeluarkan seruling dari saku. “Belum pernah ada pencari yang pulang. Setelah berangkat, mereka menghilang. Mereka tak pernah lagi terlihat hidup-hidup.”

“Tak sekali pun dalam dua ribu tahun?”

“Tidak.”

“Dan ayahmu? Kau tak tahu apa yang terjadi padanya?”

“Nggak.”

“Tapi kau tetap ingin berangkat,” kataku heran. “Maksudku, kau benar-benar merasa kaulah yang akan menemukan Pan?”

“Aku harus percaya itu, Percy. Semua pencari juga begitu. Itu satu-satunya hal yang membuat kami tak putus asa saat melihat apa yang dilakukan manusia pada dunia. Aku harus percaya bahwa Pan masih bisa dibangunkan.”

Aku menatap kabut jingga di langit dan berusaha memahami bagaimana Grover mau mengejar impian yang tampak begitu sia-sia. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa bedanya dengan aku?

“Bagaimana cara kita masuk ke Dunia Bawah?” tanyaku. “Maksudku, apa mungkin kita bisa melawan seorang dewa?”

“Nggak tahu,” dia mengakui. “Tapi, di tempat Medusa tadi, waktu kau menggeledah kantornya? Annabeth memberitahuku—”

“Iya, ya, aku lupa. Annabeth pasti punya rencana.”

“Jangan terlalu galak sama dia, Percy. Hidupnya sulit, tapi dia anak baik. Lagi pula, dia memaafkan aku …” Suaranya menghilang.

“Apa maksudmu?” tanyaku. “Memaafkanmu untuk apa?”

Tiba-tiba Grover tampak sangat berminat memainkan nada di serulingnya.

“Tunggu sebentar,”kataku. “Tugas penjagamu yang pertama itu lima tahun lalu. Annabeth sudah lima tahun tinggal di perkemahan. Dia bukan … maksudku, tugas pertamamu yang bermasalah—”

“Aku nggak boleh membicarakan itu,” kata Grover. Bibir bawahnya yang bergetar menandakan bahwa dia pasti menangis kalau kudesak. “Tapi seperti yang kubilang, tadi di tempat Medusa, aku dan Annabeth sepakat bahwa ada yang aneh soal misi ini. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya.”

“Itu sih jelas. Aku kan difitnah mencuri petir yang diambil Hades.”

“Maksudku bukan itu,” kata Grover. “Para Erin—Si Baik agak menahan diri. Seperti Bu Dodds di Akademi Yancy … kenapa dia menunggu lama, baru mencoba membunuhmu? Lalu di bus, mereka tidak seagresif yang mereka bisa.”

“Bagiku, kayaknya mereka cukup agresif.”

Grover menggeleng. “Mereka memekik kepada kami: ‘Di mana itu? Di mana?’”

“Menanyakan aku,” kataku.

“Mungkin … tapi aku dan Annabeth mendapat firasat, mereka bukan menanyakan orang. Mereka bilang ‘Di mana itu?’ Mereka sepertinya menanyakan barang.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Aku tahu. Tapi, kalau kita salah memahami sesuatu tentang misi ini, dan kita cuma punya waktu sembilan hari untuk menemukan petir asali ….” Dia menatap-ku seolah-olah mengharapkan jawaban, tapi aku tak punya jawaban apa-apa.

Aku teringat perkataan Medusa: aku dimanfaatkan oleh para dewa. Hal yang menanti di depan itu jauh lebih buruk daripada dijadikan patung. “Selama ini aku nggak jujur padamu,” kataku kepada Grover. “Aku nggak peduli pada petir asali. Aku mau pergi ke Dunia Bawah supaay aku bisa membawa pulang ibuku.”

Grover meniupkan nada lembut di serulingnya. “Aku tahu itu, Percy. Tapi apa kau yakin itu satu-satunya alasan?”

“Ini kulakukan bukan untuk menolong ayahku. Dia nggak peduli padaku. Aku nggak peduli padanya.”

Grover memandang ke bawah dari dahan pohon. “Dengar, Percy, aku nggak sepintar Annabeth. Aku nggak sepemberani dirimu. Tapi aku cukup pandai membaca emosi. Kau senang ayahmu masih hidup. Kau gembira dia mengakuimu, dan sebagian dirimu ingin membuatnya bangga. Itu sebabnya kau mengirimkan kepala Medusa ke Olympus. Kau ingin dia memerhatikan keberhasilanmu.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.