Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku sendiri yang bertahan, tetapi aku harus membayar harganya. Harga yang tinggi.”

aku tak tahu apa yang dia maskud, tetapi aku iba padanya. Kelopak mataku semakin berat, perutku yang kenyang membuatku mengantuk. Nenek malang. Siapa yang tega menyakiti orang yang begitu baik hati?

“Percy?” Annabeth mengguncang tubuhku untuk menarik perhatianku. “Mungkin sebaiknya kita pergi. Maksudku, kepala sirkus pasti menunggu kita.”

Dia terdengar tegang. Aku tak tahu kenapa. Grover sedang makan kertas berlilin dari nampan, tetapi jika Bibi Em merasa itu aneh, dia tidak berkomentar apa-apa.

“Mata abu-abu yang begitu cantik,” kata Bibi Em kepada Annabeth lagi. “Ya, sudah lama aku tidak melihat mata kelabu seperti itu.”

Dia mengulurkan tangan seolah-olah ingin membelai pipi Annabeth, tetapi gadis itu tiba-tiba berdiri.

“Kami benar-benar harus pergi.”

“Ya!” Grover menelan kertas berlilin dan berdiri. “Kepala sirkus menunggu! Benar!”

Aku tak ingin pergi. Aku merasa kenyang dan puas. Bibi Em baik sekali. Aku ingin bersamanya beberapa lama.

“Anak-anak, tolong,” Bibi Em memohon. “Aku jarang sekali bertemu anak-anak. Sebelum kalian pergi, maukah setidaknya kalian duduk untuk berpose?”

“Berpose?” tanya Annabeth curiga.

“Untuk difoto. Nanti kugunakan sebagai model patung yang baru. Anak-anak sangat populer. Semua orang menyukai anak-anak.”

Annabeth memindah-mindahkan berat di antara kedua kakinya. “Rasanya kami tak sempat, Bibi Em. Ayo, Percy.”

“Sempat kok,” kataku. Aku kesal pada Annabeth karena main perintah-perintah dan tidak sopan kepada nenek yang baru saja memberi kami makan secara gratis. “Cuma berfoto saja, Annabeth. Apa ruginya?”

“Ya, Annabeth, dengkur perempuan itu. “Tidak ada ruginya.”

Kelihatan bahwa Annabeth tidak menyukai hal ini, tetapi dia membiarkan Bibi Em mengantar kami keluar pintu depan, ke dalam taman patung.

Bibi Em mengarahkan kami ke bangku taman di sebelah patung satir. “Nah,” katanya, “biar kuatur posisi kalian dulu. Pemudi di tengah-tengah, kurasa, dan kedua pemuda di sebelah-sebelahnya.”

“Cahayanya kurang terang untuk mengambil foto,” komentarku.

“Cukup kok,” kata Bibi Em. “Cukup terang agar kita bisa saling melihat, ya?”

“Di mana kamera Bibi?” tanya Grover.

Bibi Em melangkah mundur, seolah-olah untuk mengagumi foto. “Nah, wajah yang paling sulit. Senyum, ya, anak-anak. Senyum lebar.”

Grover melirik ke satir semen di sebelahnya, dan menggumam, “Patung itu benar-benar mirip Paman Ferdinand.”

“Grover,” tegur Bibi Em, “lihat ke sini, Sayang.”

Dia masih belum memegang kamera.

“Percy—” kata Annabeth.

Suatu naluri memperingatkanku agar mengindahkan Annabeth, tetapi aku sedang melawan rasa kantuk itu, rasa lengah dan nyaman yang ditimbulkan oleh makanan dan suara nenek itu.

“Sebentar, ya,” kata Bibi Em. “Aku tak bisa melihat kalian dengan jelas dalam cadar terkutuk ini ….”

“Percy, ada yang aneh,” Annabeth mendesak.

“Aneh?” kata Bibi Em sambil menaikkan tangan untuk melepaskan balutan dari kepala. “Nggak ada yang aneh kok, Sayang. Aku mendapat teman yang begitu mulia malam ini. Apa yang aneh?”

“Itu memang Paman Ferdinand!” dengap Grover.

“Jangan melihat ke dia!” seru Annabeth. Dia memasang topi Yankees ke kepala dan menghilang. Tangan tak kasat mata mendorongku dan Grover dari bangku.

Aku berada di tanah, menatap kaki Bibi Em yang bersendal.

Kudengar Grover merayap ke satu arah, Annabeth ke arah lain. Tetapi, aku masih terlalu pusing untuk bergerak.

Lalu, terdengar bunyi kasar yang aneh di atasku. Mataku naik ke tangan Bibi Em, yang telah berubah menjadi bertonjol-tonjol dan berkutil, kukunya berubah menjadi cakar perunggu yang tajam.

Aku nyaris melihat lebih ke atas, tetapi di suatu tempat di sebelah kiri, Annabeth berseru, “Jangan! Jangan lihat!”

Bunyi desis lagi—bunyi ular-ular kecil, persis di atasku, dari … dari tempat yang semestinya ditempati kepala Bibi Em.

“Lari!” embik Grover. Kudengar dia berlari di atas bebatuan, berseru, “Maia!” untuk mengaktifkan sepatu terbangnya.

Aku tak bisa bergerak. Aku menatap cakar Bibi Em yang bertonjol-tonjol, dan berusaha melawan rasa pening yang ditimbulkan nenek itu.

“Sayang sekali merusak wajah muda yang tampan,” katanya kepadaku dengan nada membujuk. “Tinggallah bersamaku, Percy. Kau hanya perlu melihat ke atas.”

Kulawan keinginan hati untuk mematuhi. Alih-alih, aku menoleh ke samping dan melihat bola kaca yang sering diletakkan orang di taman—bola ramalan. Kulihat pantulan gelap Bibi Em di kaca jingga; balutan kain kepalanya sudah hilang, menyingkapkan wajahnya sebagai lingkaran pucat berkilauan. Rambutnya bergerak-gerak, menggeliat-geliut seperti ular.

Bibi Em.

Bibi “M”.

Bagaimana aku bisa sebodoh itu?

Coba ingat-ingat, kataku dalam hati. Bagaimana matinya Medusa dalam mitos?

Tetapi, aku tak bisa berpikir. Rasanya, di dalam mitos, Medua sedang tidur saat diserang oleh orang yang namanya dipakai untuk namaku, Perseus. Sekarang dia sama sekali tidak sedang tidur. Kalau mau, dia bisa menggunakan cakar itu sekarang juga dan mengoyak wajahku.

“Si Mata Kelabu yang melakukan ini padaku, Percy,” kata Medusa, tetapi suaranya sama sekali tidak seperti suara monster. Suara itu mengundangku untuk melihat ke atas, untuk bersimpati pada seorang nenek tua yang malang. “Ibu Annabeth, Athena terkutuk itu, mengubahku dari wanita cantik menjadi seperti ini.”

“Jangan dengarkan dia!” suara Annabeth berseru, di suatu tempat di antara patung-patung. “Lari, Percy!”

“Diam!” Medusa mengaum. Lalu, suaranya diatur kembali menjadi dengkur yang menyejukkan. “Kau lihat sendiri, kenapa aku harus menghancurkan gadis itu, Percy. Dia putri musuhku. Aku akan menghancurkan patungnya menjadi debu. Tapi kau, Percy sayang, kau tak perlu menderita.”

“Tidak,” gumamku. Aku berusaha menggerakkan kaki.

“Kau benar-benar ingin membantu para dewa?” tanya Medusa. “Apa kau mengerti apa yang menantimu dalam misi konyol ini, Percy? Apa yang akan terjadi kalau kau sampai ke Dunia Bawah? Jangan mau menjadi pion para dewa Olympia, Sayang. Lebih baik kau menjadi patung saja. Sakitnya lebih sedikit. Sakitnya lebih sedikit.”

“Percy!” Di belakangku, terdengar bunyi dengung, seperti burung kolibri seratus kilogram sedang menukik. Grover berseru, “Membungkuk!”

Aku berbalik, dan ternyata dia berada di langit malam, terbang meluncur dari arah jam dua belas dengan sepatu bersayap mengepak-ngepak, Grover, memegang dahan pohon sebesar pemukul bisbol. Matanya tertutup rapat-rapat, kepalanya berkedut ke kanan-kiri. Dia menentukan arah hanya dengan telinga dan hidung.

“Menunduk!” teriaknya lagi. “Akan kuhantam dia!”

Itu akhirnya menyentakkan diriku agar bertindak. Karena mengenal Grover, aku yakin pukulannya akan meleset dan mengenaiku. Aku menukik ke samping.

Buk!

Pertama-tama, kusangka itu bunyi Grover menabrak pohon. Lalu, Medusa menggeram murka.

“Dasar satir sialan,” geramnya. “Akan kutambahkan kau ke koleksiku!”

“Itu untuk Paman Ferdinand!” Grover balas berteriak.

Aku merangkak pergi dan bersembunyi di antara patung, sementara Grover menukik lagi untuk memukul lagi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.